
~ Tiga Sekawan ~
Hyuna Isvara ( Vara )
Cewek, 18 tahun, ceria, cerewet, galak dikit, berprestasi, tingginya sekitar 160-an cm, berambut lurus sebatas bahu dan berponi tipis, punya lesung pipi.
Frissly Veronica ( Lily )
Cewek, 17 tahun, agak pemalas, cerewet, tau semua gosip terbaru, ngambekan, tingginya sekitar 158 cm, berambut panjang hitam bergelombang, suka pakai penjepit rambut.
Anindya Alyssa ( Anin )
Cewek, 18 tahun, pendiam, si bodo amat,rajin, suka baca buku, kemana-mana pasti bawa buku, tingginya sekitar 160-an cm, rambutnya hitam lurus dan panjang, berkacamata.
*****
Hari ini di SMA ADIJAYA adalah hari yang paling di tunggu-tunggu oleh para siswa dan siswi.Akhirnya setelah melewati ujian kenaikan kelas hasilnya akan diumumkan hari ini. Dan setelah ini akan libur sekolah.
Sebagian siswa siswi mengkhawatirkan apakah mereka naik kelas atau tidak. Yang bisa bersaing mengkhawatirkan peringkat mereka apakah meningkat, bertahan atau menurun.Tentunya beda orang beda kecemasan pula.
Di kelas XI MIPA 1.
" Ya Allah semoga saya naik kelas, dan semoga juga saya masih di sepuluh besar. Itu aja sih permintaan saya sekarang." Lily menadahkan tangannya dan memejamkan mata sambil merapalkan doa.
Vara dan Anin mengerutkan kening.
" Kalian berdua nggak khawatir apa?!." Lily membuka mata dan melihat temannya berekspresi heran.
" Lo nanya siapa, Vara?. Dia kan nggak usah ditanya Ly." Anin menunjuk orang yang ada di depannya.
" Gue tau. Maksud gue Lo." tanya Lily pada Anin.
Anin membenarkan kaca matanya." Gue yakin seratus persen naik kelas dan masuk sepuluh besar di kelas." Jawab Anin dengan yakin.
" Hmm kayaknya gue doang nih yang bakal kelempar dari sepuluh besar." Ucap Lily sok sedih dan menopang dagunya.
"Kenapa Lo khawatir sih?." tanya vara.
Ia heran, pasalnya Frissly ini juga cukup pintar di kelas walaupun ya agak malas. Kalau nggak dipaksa nggak selesai-selesai tugasnya.
" Lo nggak tau si kembar yang pindahan itu. Mereka berdua kan pintar. Otak gue nggak bisa bersaing sama mereka." Jawab Lily serius agak berbisik. Soalnya orang yang dia maksud baru saja masuk kelas.
" Iya juga sih." Vara membenarkan fakta bahwa murid pindahan yang kembar identik itu memang cukup pintar di kelas mereka.
Anin mengusap-usap lengan Lily seakan mengatakan 'Yang sabar yah bestie'.
Lily menepis tangan Anin." Jangan kasihani gue. Belum pasti juga gue keluar dari sepuluh besar." Ucapnya setengah kesal. Anin hanya mengangguk sambil mengulum senyum.
"Kali ini, ancamannya apa, Ly?." Tanya Vara.
Mengeluarkan tas make up."Ini."
"Oh em ji. Gue nggak bisa bayangin muka gue tanpa ini." ucap Lily seraya memeluk tas make up nya.
"Lebay!." Anin menyahut.
"Apasih, Lo."
" Sudah-sudah, berdoa aja, Ly." Ucap Vara niatnya untuk menenangkan.
" Astaga tadi itu gue ngapain?. Gue udah berdoa dari tadi, ya ampun. Udahlah." Lily memegang kepalanya. Kesal. Kemudian dia memasang headsetnya dan mendengarkan musik.
" Ra, menurut Lo mereka sepintar itu nggak sih?. Yang gue liat sih cuma kakaknya yang pintar. Adeknya itu cuma ikut-ikutan." Anin mengambil buku di depan Lily dan membukanya.
Vara mengangkat bahu." Liat ajalah nanti." Ucapnya. Dia tidak ingin ambil pusing masalah itu.
*****
Di lapangan luas SMA ADIJAYA sekarang sudah banyak siswa siswi yang bergegas membuat barisannya masing-masing sesuai kelas mereka. Tadi bel sudah berbunyi menandakan akan dilaksanakannya apel untuk pengumuman peringkat.
" Untung nggak panas." Lily celingak-celinguk ke atas melihat cuaca yang agak bersahabat.
" Tiga hari dari kemarin cuaca memang agak mendung, terakhir hari ini. " Anin menengok ke arah Lily.
" Gue kan selalu nge-cek perkiraan cuaca." Jawab Anin santai dan tetap fokus menghadap ke depan.
" Astaga gabut banget Lo, Nin."
" Itu bukan gabut namanya, Ly. Itu namanya untuk persiapan. Misalnya kalau perkiraannya hari ini bakal hujan ya gue pake sweater atau jaket." Jelas Anin panjang lebar.
" Wahh." Lily geleng-geleng. " Lo kan emang rajin ya." Lily kembali menghadap ke depan dan menyudahi percakapan mereka.
Di atas mimbar sana, pak kepala sekolah sudah di persilahkan untuk memulai pidatonya. Tak lama kemudian pengumuman peringkat pun dimulai.
Satu persatu dimulai dari peringkat tiga setiap kelas yang disebutkan. Kemudian peringkat dua. Terakhir peringkat pertama.
"Peringkat pertama dari kelas XI MIPA 1 atas nama.....Hyuna Isvara dengan perolehan nilai sekian." Guru yang bertugas sebagai MC menyebutkan peringkat pertama setiap kelas.
Vara sudah maju ke depan mengambil posisi.
"Peringkat pertama dari kelas XI MIPA 2 atas nama Gibra Arazka dengan perolehan nilai sekian."
Azka maju dan mengambil posisi di samping Vara. Vara sempat menengok ke samping sebentar melihat sosok di sampingnya.
Azka bermuka datar dan tetap menatap lurus ke depan, dia terlihat biasa saja. Sedangkan orang lain yang sudah disebutkan namanya tampak bahagia dan senang tak terkecuali Vara sendiri.
Setelah semuanya sudah disebutkan, sekarang setiap wali kelas bertugas mendampingi kepala sekolah untuk menyerahkan hadiah.
Acara yang g terakhir, pengumuman juara atau peringkat umum setiap angkatan. Vara sudah deg-degan ingin tau hasilnya.
MC menyebutkan nama-nama nominasinya.
Dari kelas XI yaitu Vara, Azka dan Chika. Masing-masing diberi amplop yang berisi tulisan angka peringkat mereka.
Setelah hitungan ketiga, mereka sudah bisa membuka amplop masing-masing, kemudian membentuk shaf sesuai urutan peringkat.
Vara memejamkan mata dan menghela nafas panjang. Sesaat dia melihat ke arah samping, dia melihat Azka yang biasa saja dan tetap tenang tidak seperti dirinya.
Setelah hitungan ketiga, mereka semua sibuk membuka amplop masing-masing.
Vara sudah memegang kertas yang dikeluarkan dari amplop tapi dia masih menutup mata.
Vara membuka mata. Tangannya perlahan membuka lipatan kertas tersebut. Setelahnya dia hanya diam terpaku melihat kertas yang dia pegang. Menghela nafas panjang, terlihat sekali gurat sedih diwajah gadis itu.
Sementara Azka tampak meremas kertas ditangannya. Dia menghela nafas berat.
Semua sudah mengambil posisi sesuai urutan peringkat mereka. Dilanjutkan dengan penyerahan hadiah.
Setelah semua acara selesai, para siswa dan siswi dihimbau untuk ke kelas masing-masing. Mereka akan dibagikan raport dan diterima langsung oleh wali mereka.
Ya penerimaan ini memang sengaja mengundang para orangtua atau wali murid untuk menerima langsung raport anak mereka.
Perlahan semua siswa-siswi meninggalkan lapangan. Namun masih tersisa dua orang yang tak meninggalkan tempatnya. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
Kenapa seperti ini?. Batin Azka. Menunduk dan memejamkan mata .Remasan kertas di tangannya semakin menjadi.
Untuk apa?. Batin Vara. Mendongak menatap langit yang mulai cerah menampakkan warna biru.
Menyadari bahwa dirinya masih disini bersama seseorang yang ia hindari. Vara kemudian beranjak dari sana.
Sementara itu seseorang menepuk pundak Azka dan menyadarkan nya dari lamunan.
.
.
.
.
.
. Happy Reading