
Kayana tersenyum canggung, digaruknya puncak kepala yang sebenarnya tidak gatal itu. Dengan sedikit gugup dirinya menjelaskan jika memang lelaki di depannya itu adalah suaminya. Kayana tidak menjelaskan secara detail, tetapi ia rasa itu cukup untuk meredakan rasa penasaran rekan sejawatnya tersebut.
"Ternyata sudah sejak sepuluh hari yang lalu, kalau begitu selamat atas pernikahannya dokter. Maaf juga tuan Ren, karena keterlambatan ucapan selamatnya," celetuk perawat cantik tersenyum manis.
"Terima kasih, tidak apa-apa. Aku mengerti kalian tidak tahu karena istriku juga sepertinya malu memiliki suami sepertiku, makanya ia tidak memakai cincin pernikahannya." Ren menyentuh cincin pernikahan yang dipakainya.
Kayana cukup terkejut mendengar ucapan laki-laki itu. Dirinya tidak menyangka jika suaminya itu selalu menggunakan cincin pernikahannya, padahal mereka berdua sama-sama tahu jika pernikahan ini hanyalah sebuah perjodohan dan tidak didasarkan cinta. Kayana menutup matanya rapat-rapat lalu tersenyum canggung. Namun, Tuhan sepertinya masih sayang pada dokter cantik itu. Lihat saja, perbincangan yang canggung itu harus berakhir karena pesanan Kayana datang. Itu membuat mereka yang tadi berdiri di samping meja pun pergi meninggalkan mereka berdua.
Setelah itu hanya ada kesunyian di antara mereka. Bukannya makan, Kayana malah terus menatap laki-laki di depannya yang tengah asyik menyantap ayam goreng miliknya. Matanya yang teduh, hidungnya yang tinggi, dan bibirnya yang tipis mampu membuat siapapun terpesona dalam sekali pandang. Namun, bukan itu yang membuat Kayana memandangi suaminya tersebut, melainkan ada rasa tidak enak di hati yang merasuk saat mendengar sindiran sang suami tadi. Memang benar, Kayana tidak menggunakan cincin pernikahannya, tetapi ia memiliki alasan tidak mengenakan cincin tersebut. Kayana kemudian menghela napas kasar. Diraihnya tangan kiri Ren yang sontak membuat lelaki itu mengalihkan atensinya pada gadis bersurai hitam tersebut.
"Maaf, aku tidak bermaksud untuk tidak menggunakannya. Hanya saja sebagai dokter bedah, aku sering mendapat jadwal operasi mendadak. Sehingga, aku terbiasa tidak menggunakan perhiasan di tangan," jelas Kayana.
Ren yang mendengar itu pun tersenyum, sebenarnya lelaki itu tidak mempermasalahkan hal tersebut. Toh pernikahan mereka adalah pernikahan kontrak yang tidak mengharuskan mereka selalu mengenakan cincin pernikahan. Ren menatap Kayana lebih dalam, ia tahu jika gadis di depannya itu merasa tidak enak hati sejak tadi. Namun, Ren sendiri merasa senang menggoda Kayana. Seakan itu adalah hobby barunya.
"Aku mengerti," balas lelaki itu singkat. "Makanlah," lanjutnya tersenyum.
Kayana ikut tersenyum saat laki-laki itu tersenyum. Setelahnya mereka melanjutkan kegiatan santap siang yang sedikit tertunda. Ren diam-diam mencuri pandang pada sang istri. Walaupun sudah beberapa kali dirinya makan bersama Kayana, tetapi tetap saja ia tidak bosan melakukan itu. Melihat kedua pipi milik gadis itu mengembang saat mengunyah makanan membuat Kayana tampak lucu. Menurutnya, gadis itu makin hari makin menarik seakan memiliki pesonanya sendiri.
Di tengah-tengah kegiatan makan siang itu, Ren terkekeh pelan melihat cara makan Kayana yang sepertinya sedikit terburu-buru hingga terlihat berantakan. Tanpa aba-aba tangan laki-laki itu terjulur menyentuh sudut bibir gadis di depannya bermaksud mendekati sisa makanan yang menempel.
"Makanlah dengan pelan. Wajahmu jadi kotor," ucapnya lembut.
Tindakan impulsif yang dilakukan Ren membuat Kayana terpaku. Dokter cantik sangatlah amatir mengenal hal-hal yang bersifat romantis. Bahkan, gadis cantik itu tidak pernah mendapat perlakuan seperti ini sebelumnya. Melihat Kayana yang terdiam membuat Ren sadar jika tindakannya itu kurang sopan. Dengan segera ia menarik tangannya kembali menjauh dari wajah cantik Kayana. Keduanya tampak malu, terlihat dari telinga mereka berdua yang memerah.
"Maaf, aku tidak bermaksud tidak sopan. Hanya saja ..." ucapan Ren terhenti. Lidahnya kelu dan otaknya mendadak kehilangan kepintarannya.
"Oh, tidak apa-apa Ren, aku yang berterima kasih," tuturnya mencoba tetap tenang.
Namun di balik rasa tenang tersebut, jantung Kayana membuncah. Seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di perutnya. Kayana tidak tahu, ada rasa senang yang menyentuh relung hatinya. Berbeda dengan Kayana, Ren terdiam. Laki-laki itu masih merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa mengendalikan diri. Mereka berdua kembali memakan makan siangnya dalam diam. Satu hal yang tidak mereka sadari, jika mereka berdua menjadi tontonan gratis bagi pegawai rumah sakit.
"Jam berapa kamu pulang?" tanya Ren.
Kayana melirik jam tangannya memastikan kembali waktu praktiknya selesai.
"Pukul tiga sore, sekitar dua jam lagi. Ada apa?" sahutnya.
"Tidak, hanya bertanya," ujar laki-laki itu mengangkat bahu.
Dahi Kayana berkerut, dirinya merasa aneh dengan tingkah laku suaminya hari ini. Mulai tiba-tiba muncul dengan alasan sedang berada di sekitar rumah sakit, hingga mengajaknya makan siang bersama. Bahkan, laki-laki itu tidak mempermasalahkan untuk makan siang di kantin rumah sakit. Sangat aneh.
"Apa kamu serius, Ren?" selidik Kayana.
Laki-laki itu mengangguk, dengan santainya laki-laki dengan jas yang tersampir di lengannya itu berjalan mengikuti langkah sang istri. Kayana hanya mampu tersenyum saat berpapasan dengan perawat dan dokter lain. Sebagian dari mereka tersenyum ramah dan sebagian lainnya tersenyum menggoda.
Setibanya di ruangan pribadinya, Kayana mempersilakan Ren untuk masuk ke dalam ruangan tersebut. Ruangan gadis tersebut tidaklah sebesar ruangan milik Ren. Namun, ukurannya cukup untuk gadis itu beristirahat. Dalam ruangan tersebut terdapat satu sofa panjang dan satu sofa tunggal. Selain itu terdapat meja dan kursi kerja yang dilengkapi dengan komputer berwarna putih.
Ren memilih duduk di sofa panjang, disenderkan lehernya pada bantalan sofa dan menutup mata. Sangat nyaman. Berbeda dengan Ren, Kayana memilih kembali duduk di meja kerja miliknya, membiarkan laki-laki itu asyik dengan kegiatannya. Tangan lentiknya mulai menekan keyboard komputer, membuka dokumen-dokumen milik pasiennya yang sempat tertunda akibat tingkah aneh sang suami.
Di sela membaca dokumen-dokumen tersebut, beberapa kali Kayana melirik pria berambut brunet yang rupanya tengah tertidur, hanya untuk memastikan jika pria bernama Ren Nugra Darmawan itu baik-baik saja. Setelahnya gadis itu kembali memfokuskan diri pada pekerjaannya.
Tak terasa satu setengah jam berlalu begitu saja. Kayana yang telah menyelesaikan pekerjaannya pun merenggangkan kedua tangannya. Otot leher dan otot tangannya terasa sangat kencang. Memang benar, berada di depan layar komputer berjam-jam akan membuat tubuh merasa lelah. Setelah selesai, Kayana kemudian menata barang-barang pribadinya dan bersiap untuk pulang. Masih ada beberapa menit sebelum waktunya pulang, Kayana memilih duduk di sebelah Ren sembari menunggu laki-laki itu terbangun. Ditatapnya wajah tampan tersebut.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Ren? Tidak bisakah kamu bercerita padaku?" gumamnya.
Kayana sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada laki-laki di sampingnya itu.
Tak lama kemudian Ren terbangun, sepertinya ia tidak sadar jika sudah tertidur pulas di ruangan Kayana. Diedarkannya pandangan mencari-cari Kayana. Bersamaan dengan itu, Kayana baru saja keluar dari kamar mandi. Ternyata gadis itu sudah berganti pakaian dan bersiap untuk pulang.
"Sudah bangun?" ucap Kayana mendapati laki-laki yang tertidur tadi sudah terbangun. Ren mengangguk mengiyakan.
"Kalau begitu ayo, sudah waktunya pulang," ajak Kayana.
Gadis itu lalu mengambil tas berwarna hitam yang digunakannya bekerja. Gadis itu berjalan keluar ruangan diikuti oleh sang suami dari belakang. Mereka masih saling berdiam, hingga saat di dalam lift Kayana dibingungkan dengan Ren yang tidak menekan tombol lantai sama sekali.
"Kamu tidak turun di lobby?" tanya Kayana.
"Untuk apa?" balas Ren singkat.
"Bukankah kamu akan pulang dengan Oleander?" Kayana semakin tidak mengerti dengan tingkah laki-laki itu.
"Aku sengaja ingin pulang bersamamu, jadi aku meminta Oleander untuk meninggalkanku di rumah sakit," jelas Ren.
Entah sudah berapa kali Kayana terbelalak hari ini. Sikap dan tingkah laku tuan muda dari keluarga Darmawan ini memang tidak bisa diduga dan terkesan seenaknya.
"Ya Tuhan, apa lagi ini?" gerutunya dalam hati.