Unspoken Feelings

Unspoken Feelings
Bab 16. Suasana IGD.



"Terima kasih Kay, maaf tidak bisa mengantarmu pulang," ucap Ren sembari menutup pintu mobil milik Kayana.


Gadis itu tersenyum, baginya bukan suatu masalah besar jika dirinya harus pulang sendiri. Lagi pula Kayana juga sadar jika lelaki tampan tersebut juga sedang banyak urusan. Setidaknya sebagai seorang partner ia memiliki kapasitas yang mumpuni.


"Tidak masalah Ren. Oh ya, apakah kamu hari ini akan pulang terlambat lagi?" tanya Kayana.


Lelaki itu menghendikan bahu yang berarti ia sendiri belum tahu akan pulang terlambat atau tidak. Melihat reaksi yang diberikan oleh sang suami, Kayana paham suaminya mungkin akan pulang terlambat lagi. Merasa dirinya sudah cukup lama menahan Ren, akhirnya Kayana memacu kendaraannya keluar dari perusahaan milik sang suami.


Ditemani lagu kesukaannya, Kayana mengendarai mobil miliknya dengan santai. Jalanan hari ini padat seperti biasanya, tetapi itu tidak mempengaruhi suasana hati Kayana. Entah mengapa gadis itu merasa senang hari ini. Bahkan, sudah sejak pagi dengan semangat gadis itu mau merepotkan diri menyiapkan makan siang untuk diantar dan disantap bersama Ren.


Suara ringtone ponsel membuat Kayana mengalihkan perhatiannya dari kemudi. Karena telah terbiasa mendapatkan panggilan darurat dari rumah sakit, membuatnya tidak pernah melepaskan ponsel berwarna hitam itu dari jangkauannyan. Diliriknya nama yang tertera di layar ponsel tersebut, tampak nama IGD tertera di sana. Dengan cepat ia menyambar ponsel dan mendekatkannya ke telinga.


"Halo, ada apa?" ucap Kayana langsung to the point.


"Dokter, maaf mengganggu libur Anda. Tapi bisakah anda datang sekarang?"


"Baiklah, saya akan sampai 15 menit lagi." Kayana menutup panggilan tersebut.


Kayana menghela napas lelah, seperti inilah nasib sebagai dokter. Harus selalu siap setiap saat. Tanpa berpikir lama, Kayana langsung menekan pedal gas mobilnya menuju rumah sakit. Dengan gesit gadis itu meliyak-liyukkan mobil menyalip kendaraan lain di depannya. Untung saja dirinya sedang berada di sekitar rumah sakit, sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk mencapai lokasi yang disebutkan orang tadi.


Setibanya di parkiran rumah sakit, Kayana kemudian bergegas menuju ruang instalasi gawat darurat. Namun, di tengah-tengah aksinya berlari, tidak sengaja tubuhnya bertarung dengan orang lain. Hampir saja gadis itu terjatuh ke lantai jika orang yang menabraknya tidak sigap menolongnya.


"Ah maaf, saya tidak sengaja. Saya sedang buru-buru," ucap pria itu.


Kayana yang awalnya ingin menegur orang tersebut pun terdiam. Tunggu, otaknya tiba-tiba saja membeku. Dipandanginya pria di depannya,


beberapa detik kemudian ia tersadar.


"Astaga Raka?" Kayana menepuk pundak pria tersebut.


"Kayana? Maaf aku sedang terburu-buru, sehingga tidak melihatmu tadi," ujar pria yang bernama lengkap Attaraka Yudha itu.


Kayana mengibaskan tangan kanannya sebagai tanda tidak apa-apa. Mengetahui jika tempat tujuan mereka sama, akhirnya mereka berdua berjalan beriringan memasuki ruang IGD. Begitu membuka pintu berwarna putih itu, tampak beberapa brankar yang memang sengaja disiapkan untuk membaringkan pasien sudah penuh. Para perawat dan dua dokter jaga juga terlihat cukup sibuk. Lalu salah seorang perawat senior menghampiri Kayana dan Raka.


Setelah mendapatkan penjelasan singkat, Kayana dan Raka pun segera memeriksa pasien yang belum sempat ditangani oleh kedua dokter yang sedang berjaga. Dengan sigap, kedua dokter tersebut memeriksa dan menangani para korban. Dari lima korban, dua di antaranya adalah anak-anak dan satu di antara kedua anak tersebut tampak tidak mengalami luka parah. Sehingga kedua dokter dan beberapa perawat yang berjaga tadi tidak langsung menangani anak tersebut. Bukan karena tidak mau, tetapi dalam pertolongan pertama terdapat prinsip triase di mana setiap pasien digolongkan ke dalam empat tingkat kegawatdaruratan.


Setelah selesai menangani salah satu korban, Kayana kemudian memandangi seluruh penjuru ruangan yang tampak sedikit caos. Pandangan mata Kayana terhenti pada gadis kecil yang tampak diam tanpa ada perawat di sampingnya. Lalu setelah melepas alat perlindungan diri yang tadi ia pakai, Kayana pun menghampiri gadis kecil tersebut.


"Adik kecil, apakah tubuhmu merasa sakit?" tanyanya hati-hati.


Gadis kecil itu mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Kayana tadi. Lalu dengan penuh kehati-hatian, Kayana mulai melakukan pemeriksaan terhadap gadis itu. Saat melakukan pemeriksaan, satu hal yang Kayana ketahui dengan cepat. Ternyata gadis kecil itu tidak dapat berbicara, sehingga Kayana menjadi sedikit kesulitan. Untung saja gadis kecil itu bisa memahami gerak mulut saat lawab bicaranya berbicara membuat Kayana tidak kehabisan akal. Dokter cantik itu kemudian meminta sang pasien untuk menunjukkan bagian tubuh mana yang dirinya merasa sakit.


Gadis kecil itu kemudian mengangkat jari kelingking kirinya. Kayana yang paham kemudian memeriksa jari kelingking tersebut dan benar saja gadis itu terluka. Jari kelingkingnya mungkin mengalami dislokasi atau keretakan saat kecelakaan tadi. Dengan segera, Kayana memanggil perawat dan memintanya untuk membawa gadis kecil itu ke ruang radiologi guna mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut melalui rontgen.


"Adik kecil, kamu ikut kakak cantik ini ya? Dia akan mengantarmu untuk pemeriksaan lebih lanjut. Jangan takut, karena kakak akan menunggu di sini." Kayana mengusap puncak kepala gadis kecil tersebut berharap bisa mengurangi rasa takut yang ia rasakan.


Setelah mendapat persetujuan, akhirnya dua perawat memindahkan pasien dari atas brankar ke kursi roda. Lalu setelahnya mereka bertiga berjalan menuju ruang radiologi. Kayana hanya menatap kepergian tiga orang tersebut dengan senyum lega. Begitu tiga orang tersebut menghilang dari balik pintu, Kayana kembali ke meja registrasi.


"Terima kasih dokter Kayana dan dokter Raka," ucap dua dokter jaga secara bersamaan.


Kayana tersenyum lebar, sedangkan Raka menepuk pundak salah satu dokter muda tersebut.


"Tidak masalah, kalian sudah bekerja keras," tukas Kayana kemudian.


Selesai dengan semua prosedur penanganan, akhirnya Kayana dan Raka bisa kembali. Berbeda dengan Kayana yang sedang libur, Raka memang belum memiliki jadwal tetap karena baru kemarin dirinya datang melapor ke atasan. Langkah Kayana terhenti ketika sebuah tangan meraih lengan kirinya. Kayana menatap pria di sampingnya dengan tatapan penasaran.


"Kay, apa kamu memiliki waktu luang?" tanya laki-laki bersurai coklat tua itu.


Kayana tidak menjawab, gadis itu hanya memandangi pria di sampingnya.


"Ah maaf, aku hanya ingin mengajakmu ke cafe depan rumah sakit. Bukankah kita sudah lama tidak bertemu? Tapi itu pun jika kamu mau. Aku tidak akan memaksa," jelasnya panjang lebar.


Mendengar itu Kayana mengerutkan dahi sedikit berpikir. Memang benar, mereka sudah lama tidak bertemu. Setelah mempertimbangkannya, akhirnya Kayana menyetujui ajakan teman lamanya tersebut. Toh Ren juga mungkin akan pulang larut malam seperti beberapa hari terakhir. Jadi tidak masalah menerima tawaran tersebut bukan?