
Setibanya di rumah, Kayana kemudian berjalan menuju dapur. Diletakannya beberapa bungkusan di atas meja dapur. Setelahnya, gadis itu berjalan menuju kamar miliknya. Sebelum mengeksekusi bahan-bahan yang telah ia beli, Kayana ingin membersihkan diri terlebih dahulu.
Setelah benar-benar membersihkan diri dan berganti pakaian, gadis cantik itu kemudian kembali ke dapur. Jari lentiknya mengetuk-ngetuk meja dapur seraya memikirkan menu apa yang mudah dan cepat untuk dimasak malam ini. Belum lagi porsi yang harus gadis cantik itu buat, setidaknya harus cukup untuk dua orang mengingat ada orang lain yang juga tinggal bersamanya.
"Baiklah, malam ini kita makan mie instan dengan telur dan sosis saja. Toh, Ren tadi hanya berpesan untuk menyamakan saja makanannya," monolognya.
Kemudian, dengan cekatan Kayana membuka bungkusan di atas meja dan menyiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan. Setelah selesai menyiapkan bahan yang dibutuhkan, Kayana lalu mengisi panci dengan air dan meletakannya di atas kompor listrik berwarna hitam. Tak lupa gadis cantik itu mencuci beberapa helai daun sawi sebagai pelengkap hidangannya malam ini.
Dirasa sudah cukup mendidih kemudian gadis itu memasukan dua buah mie ke dalam panci beserta telur dan daun sawi. Sedangkan sosis, gadis itu memilih untuk menggoreng sosis itu. Menurutnya, sosis yang digoreng itu lebih enak. Ya tentu ini hanya preferensi pribadi.
Begitu asyiknya Kayana dengan kegiatan memasaknya, membuat gadis berambut hitam itu tidak sadar jika sejak beberapa menit yang lalu ada sosok laki-laki yang sudah berganti pakaian tengah memperhatikannya. Laki-laki itu tidak lain dan tidak bukan adalah pemilik rumah sekaligus suami dari Kayana Daya Darmawan. Ya, Ren Nugra Darmawan. Namun, laki-laki itu memilih duduk dengan tenang melihat tingkah polah Kayana.
Alih-alih terganggu dengan suara Kayana yang sedang menyanyikan sebuah lagu, Ren malah tersenyum. Tampaknya laki-laki berkaus putih itu terpaku melihat sosok perempuan cantik di depannya. Melihat Kayana memasak adalah salah satu pemandangan terindah yang pernah ia lihat. Ren merasa lucu melihat Kayana yang bergerak ke kanan dan ke kiri dengan tarian tak jelasnya.
"Aduh!" seru Kayana pelan.
Mendengar seruan Kayana tadi, Ren segera menghampiri gadis itu. Dengan sedikit terburu, laki-laki tampan itu meraih tangan kiri Kayana.
"Tidak apa-apa?" tanya Ren memastikan.
Kayana yang masih terkejut dengan tindakan Ren pun hanya terdiam. Gadis itu tidak menyangka Ren mendengar ucapannya tadi, karena Kayana mengira Ren masih berada di dalam kamarnya. Dipandanginya lelaki di depannya, tampak laki-laki itu sedikit khawatir.
Merasa tidak ada jawaban dari Kayana, Ren pun menatap Kayana. Tanpa sengaja pandangan mata mereka bertemu. Mereka berdua pun terdiam, sekilas mereka seperti kehilangan akal. Tanpa sadar, Ren kemudian mendekatkan wajahnya ke arah Kayana. Semakin dekat hingga hidung mereka bersentuhan. Hembusan napas mereka pun saling beradu, dengan cepat Ren menarik tubuh Kayana mendekat padanya. Kayana seperti terhipnotis, gadis itu menutup matanya seakan mempersilakan Ren melakukan sesuatu padanya.
Namun, aksi keduanya terhenti ketika mendengar suara bel rumah berbunyi. Dengan canggung Ren menjauhkan dirinya dari Kayana, sedangkan Kayana mencoba mengatur napasnya. Setelahnya merasa kecanggungan tersebut tidak berakhir, Ren memilih untuk berjalan ke arah pintu meninggalkan Kayana. Begitu pula dengan Kayana, gadis itu memilih untuk kembali melanjutkan kegiatan memasaknya.
"Aku harus mengulangi lagi, mie ini sudah tidak layak untuk di makan," gerutu Kayana.
Di sisi lain, Ren yang sudah berada di ruang tamu pun terdiam sebentar. Sungguh, jantungnya masih berdegup cukup kencang setelah kejadian tadi. Setelah merasa cukup tenang, Ren kemudian melihat layar interkom bermaksud mencari tahu siapa tamu yang datang.
"Maaf Ren, aku harus memberikan file-file yang tadi kamu minta," balas orang tersebut.
Mendengar itu, Ren kemudian membuka pintu dan membiarkan orang tersebut masuk ke dalam rumahnya. Dengan langkah pasti, tamu yang tidak diundang itupun masuk.
"Apakah istrimu tidak ada di rumah, Ren?" tanyanya.
"Untuk apa kamu bertanya mengenai istriku? Bukankah kamu hanya ingin memberikan file yang aku minta tadi?" sungut Ren tak suka.
Laki-laki itu tertawa melihat reaksi dari Ren. Sebagai orang yang telah menghabiskan waktu yang cukup lama dengan tuan muda Ren Nugra Darmawan, membuat Oleander sangat mengetahui perangai temannya itu. Sepertinya kehadiran Kayana membuat tuan muda tersebut sedikit banyak berubah. Lelaki berjas coklat itupun tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku hanya bertanya Ren. Tidak perlu marah begitu," ucap Oleander sedikit mengejek.
"Jika tidak ada urusan lain lebih baik kamu pulang saja." usir Ren pelan.
Sungguh laki-laki itu tidak suka temannya itu datang malam ini. Setelah mengucapkan hal itu, Ren berjalan menuju pintu. Oleander pun masih tersenyum maklum, ia tahu jika Ren sedang tidak bercanda. Daripada besok pagi dirinya kena marah dari bosnya, Ole pun memilih menuruti permintaan Ren. Namun, sekali lagi laki-laki itu berulah. Oleander berhenti tepat di depan Ren.
"Maaf ya Ren, aku tidak bermaksud mengganggu acaramu malam ini. Kalau begitu sampai bertemu besok pagi. Jangan lupa gunakan alat pengaman," bisiknya lirih.
Mendengar itu, alis Ren Nugra terangkat. Tidak ingin mendengar omong kosong yang lebih dari ini, Ren pun mengubah posisi berdirinya.
"Sudah sana pergi." Ren mendorong tubuh Oleander keluar rumah dan menutup pintunya. Setelahnya, Ren lalu berjalan menuju ruang tengah.
Di sana, Ren melihat sosok Kayana yang sedang menata masakannya ke atas meja makan. Dengan sedikit canggung, Ren kemudian duduk di kursi miliknya.
"Siapa yang datang Ren?" tanya Kayana.
"Bukan siapa-siapa. Sebaiknya ayo kita makan," ajak Ren.