Unspoken Feelings

Unspoken Feelings
Bab 22. Perebutan Gambar Kayana.



Dua orang berjalan beriringan memasukki ruangan yang cukup luas. Ya itu adalah ruangan utama dari gedung galeri. Dengan mengusung gaya arsitektur modern minimalis ini membuat ruangan tersebut tampak lebih luas dari sebenarnya. Di bagian dinding yang berwarna putih sudah terpasang beberapa lukisan milik pasien.


"Ini semua hasil karya para pasien di sini, terutama anak-anak yang sering berobat ke rumah sakit ini. Tapi ada juga beberapa karya dari anak-anak karyawan rumah sakit," ucap Kayana sedikit mengawali pembicaraan.


Memang bukan layaknya sebuah art galerry dari seorang seniman profesional, tetapi cukup indah. Selain ruangan yang dikhususkan untuk memamerkan karya seni, di gedung ini juga terdapat beberapa ruangan untuk bermain anak dan tempat penitipan anak untuk dokter ataupun karyawan rumah sakit. Ren memang tidak banyak tahu tentang seni, tetapi ia bisa menikmati karya-karya tersebut.


"Satu hal lagi, selain melihat karya-karya ini kita juga bisa membelinya. Nantinya uang tersebut akan diberikan kepada pembuat karya tanpa potongan dari rumah sakit," lanjut gadis itu.


Mereka berdua berjalan santai sembari melihat-lihat karya yang tertata rapi tersebut. Lalu langkah Ren terhenti saat melihat salah satu lukisan. Sebuah lukisan yang menggambarkan seorang dokter cantik dan beberapa anak kecil di sekitarnya. Ren menyunggingkan bibirnya, tampaknya ia kenal dengan sosok di lukisan tersebut.


"Apa om suka dengan gambarku?" tanya seorang anak kecil dari balik punggung Ren. Laki-laki itu kemudian membalikkan badannya mencari tahu.


"Oh kamu anak kecil yang tadi bukan? Jadi kamu yang membuatnya?" Ren membungkuk dan menatap anak laki-laki tersebut.


Anak itu pun mengangguk dan tersenyum bangga. Ia membenarkan jika itu adalah gambarnya. Kemudian dengan rasa penasaran, Ren menanyakan siapa sosok yang ada di gambar tersebut. Si anak kecil itu tersenyum lagi dan lagi, lalu detik berikutnya ia mengarahkan jari telunjuknya ke arah gadis cantik yang berdiri di belakang Ren. Melihat itu, Ren juga ikut tersenyum yang membuat Kayana bingung.


"Apa?" tanya Kayana tanpa suara.


Ren hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan memberikan kode pada Kayana untuk mendekat ke arahnya. Kayana yang penasaran pun melangkahkan kakinya mendekati dua sosok manusia beda usia tersebut. Lalu Ren kembali menatap anak kecil di sampingnya.


"Apakah kamu menjualnya?" tanyanya.


"Apakah om akan membelinya?" Ren mengangguk pelan.


Kayana yang kini berdiri di depan dua sosok tersebut pun berdeham. Ia tak tahu mengapa lelaki berkemeja tersebut tertarik untuk membeli lukisan anak berusia tujuh tahun tersebut. Padahal Ren adalah sosok orang yang bisa membeli lukisan dari seniman terkenal, lantas mengapa ia ingin membeli gambar tersebut?


"Om terlambat, ini sudah ada yang membelinya," ucap anak kecil tersebut.


Ren dan Kayana terkejut, ternyata gambar tersebut sudah terjual. Lalu Ren menanyakan kepada anak kecil itu siapa yang membeli gambarnya. Si anak kecil itu celingukan mencari keberadaan sang pembeli yang tadi bersamanya. Setelah beberapa saat mencari, akhirnya si anak tersenyum dan menunjuk seorang pria dengan jas putih yang sedang berbicara dengan seorang pegawai rumah sakit di dekat meja resepsionis.


Mendengar ucapan Kayana, Ren sontak mengalihkan pandangannya. Ia benar-benar tidak suka dengan teman lama Kayana itu terlebih jika itu berhubungan langsung dengan Kayana. Lalu Ren mencoba merayu sang anak kecil agar tidak menjual gambarnya pada laki-laki tersebut dan membiarkan dirinya memiliki gambar tersebut. Kayana yang melihat interaksi dua orang tersebut hanya bisa menggelengkan kepalanya. Gadis itu tidak menyangka jika Ren menginginkan gambar tersebut hingga merayu anak kecil itu. Interaksi keduanya tampak lucu membuat Kayana tersenyum tipis.


"Ziel, kakak sudah selesai membayarnya," ucap laki-laki itu senang.


"Oh, Kay, Ren. Kalian di sini?" sapa Raka basa-basi.


Berbeda dengan Kayana yang membalas sapaan Raka dengan senyuman, Ren hanya berdeham pelan. Kayana sempat melirik tajam ke arah Ren ketika mendengar dehaman tersebut. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran laki-laki yang menjadi suaminya itu. Kayana semakin terkejut ketika Ren mendadak merapatkan tubuhnya ke arah Kayana.


"Kakak dokter yang baik terima kasih sudah membelinya," ucap Ziel memecah keheningan.


Raka mengalihkan pandangannya ke arah anak kecil pemilik gambar yang bernama Ziel tersebut. Setelah berterima kasih, anak kecil itu kemudian pamit untuk bermain bersama dengan teman-temannya. Dengan anggukan pasti, Raka membiarkan anak itu pergi.


"Aku ingin memiliki gambar ini, bisakah kamu menjualnya kepadaku? Berapa pun harganya aku akan membayarnya," tukas Ren tiba-tiba.


Raka dan Kayana cukup tercengang, laki-laki berkemeja putih itu benar-benar gila tampaknya. Lalu Raka tersenyum dan mengatakan jika dirinya tidak berminat menjual gambar anak tersebut. Dirinya sangat menyukai gambar tersebut karena dalam gambar tersebut menggambarkan sosok Kayana saat mengisi di daycare rumah sakit. Ren tidak peduli dengan semua alasan yang diucapkan Raka, dirinya hanya mau laki-laki itu melepaskan gambar itu kepadanya.


"Aku akan membayarnya berapa pun itu," tegas Ren.


"Maaf tuan Ren, tapi aku tidak ingin menjualnya," jawab Raka tenang.


Suara Ren yang sedikit keras membuat beberapa orang di sekitarnya sontak mengarahkan pandangannya ke arah mereka. Itu membuat Kayana sedikit malu dan tidak nyaman. Lalu dengan pelan, Kayana menyentuh lengan kiri Ren. Kayana sedikit berbisik kepada Ren dan mengatakan jika mereka sudah menjadi tontonan banyak orang. Toh itu bukanlah karya seni yang langka sehingga Ren tidak perlu memaksa untuk memilikinya.


"Ren sudah ya, sebaiknya kita pergi," ajak Kayana.


Awalnya Ren menolak ajakan Kayana, membuat gadis itu mau tak mau mengusap punggung laki-laki tersebut. Usapan itu tampaknya membuahkan hasil, walaupun dengan sedikit kesal tetapi laki-laki itu akhirnya menuruti perkataan Kayana. Ren langsung melangkahkan kakinya meninggalkan Raka, tak lupa ia juga menarik tangan Kayana. Sedangkan Kayana hanya tersenyum canggung dan mengucapkan permintaan maaf kepada Raka yang dibalas dengan senyuman manis dari teman lamanya itu.


"Kay, andai aku kembali lebih cepat," gumam Raka saat melihat dua sosok orang yang telah menghilang dari balik pintu.