
Sejak resmi menjadi istri dari seorang Ren Nugra Darmawan, baru malam ini Kayana mengikuti acara formal bersama sang suami. Terlihat acara ini hanya dikhususkan untuk tamu-tamu yang memiliki undangan. Walaupun jumlah tamunya tidak banyak, tetapi acara ini tetap megah dan tentunya berkelas. Interior gedung yang berkesan klasik yang dipadukan dengan gaya modern konservatif berhasil memukau gadis cantik tersebut.
Terdapat banyak meja yang ditata berdekatan dengan jendela-jendela besar, sangat cocok untuk melihat pemandangan kota Jakarta di malam hari. Di salah satu sudut ruangan, terdapat lima orang yang sedang memainkan musik klasik. Alunan piano klasik yang bertemu dengan suara merdu saxophone, menambah kesan romantis acara ini.
Lalu seorang pelayan yang mengenakan seragam hitam putih segera mengantarkan Ren dan Kayana menuju meja yang telah disiapkan. Sebelum pelayan pergi, Ren memberikan hadiah yang sudah ia siapkan untuk rekan kerjanya tersebut. Awalnya Kayana sempat terkejut ketika mendapati bagian dalam mobil putih milik Ren sudah terdapat gaun merah maroon dan sebuah totebag. Laki-laki ini memang selalu sigap dan pantas diandalkan.
"Kamu mau minum?" tanya Ren.
Kayana yang sejak tadi hanya diam pun mengalihkan pandangannya ke arah Ren. Laki-laki itu memanggil seorang pramusaji yang tengah membawa baki berisi minuman. Tanpa menunggu jawaban dari Kayana, lelaki berjas merah maroon itu langsung mengambil dua gelas jus jeruk.
"Minumlah." Ren meletakan gelas berisi jus jeruk itu tepat di depan Kayana.
Melihat itu, Kayana pun tersenyum. Gadis itu bersyukur karena walaupun ia dan Ren hanya menikah secara kontrak, tetapi laki-laki itu tetap memperlakukannya dengan baik layaknya seorang istri.
"Apa kamu suka tempat ini?" tanya Ren.
Kayana mengerutkan bibir dan mengedarkan pandangannya sepintas ke penjuru ruangan, kemudian mengangguk.
"Ya, cukup nyaman," jawabnya singkat.
Percakapan Ren dan Kayana terhenti bersamaan dengan riuh tamu yang berteriak di sekitar area kolam renang. Dalam sekejap, kepanikan melanda seluruh ruangan. Orang-orang kemudian berlarian menuju sumber suara, tak terkecuali Ren dan Kayana yang sudah ikut berlari.
"Kay, ada yang pingsan." Tangan Ren menarik tangan Kayana agar gadis itu tidak terpisah dari dirinya.
Kayana bergegas menyusup dengan menyibukkan kerumunan orang di kanan kirinya menuju orang yang pingsan tersebut. Gadis itu lalu berlutut di samping pasien.
"Saya seorang dokter, adakah yang bisa menjelaskan apa yang terjadi?" tanya Kayana.
Orang yang berada di samping Kayana menghela napas lega, dengan sedikit sesenggukan dan panik yang melanda, gadis muda itu menjelaskan apa yang terjadi.
"Saya tidak tahu, tiba-tiba saja ia pingsan," jelas gadis itu.
Mendengar pernyataan tersebut Kayana langsung meminta izin untuk memeriksa keadaan pasien. Setelah mendapatkan izin, Kayana pun meminta kepada para tamu untuk memberikan ruang baginya.
"Ren, tolong hubungi rumah sakit," pintanya sembari memeriksa tubuh pasien.
Ren yang mendengar itu pun bergegas menghubungi rumah sakit sesuai permintaan sang istri. Kayana mengangkat dagu gadis yang pingsan itu, lalu didekatkannya telinganya pada mulut gadis itu. Gadis yang berprofesi sebagai dokter itu mendengar suara aneh dari mulut pasien. Lalu Kayana meminta tolong seseorang untuk menyalakan flash lampu ponsel yang kemudian diarahkannya pada mulut pasien.
"Sepertinya ada yang menyumbat jalur napasnya." Kayana memasukkan jari telunjuknya untuk membersihkan jalan napas.
Benar saja, perut pasien tidak mengembang yang menandakan masih terdapat sumbatan pada jalan napasnya. Alis Kayana terangkat, jika mendengar penjelasan orang di sebelahnya tadi, ada kemungkinan pasien mengalami Tongue Swallowing yang berarti terjadi pergeseran lidah bagian belakang sehingga menutup jalan napas.
Setelah yakin dengan diagnosanya, Kayana kemudian melakukan pertolongan pertama. Dipastikannya lagi posisi dari pasien tersebut sudah aman untuk melakukan tindakan dan kondisi pasien tidak mengalami cedera pada bagian leher. Kayana kemudian meletakkan satu tangannya di atas dahi pasien dan ditekannya pelan ke belakang. Diwaktu yang bersamaan, jari telunjuk dan tengahnya mengangkat rahang bawah pasien. Cara ini dikenal dengan sebutan Chin Lift Manuver yakni usaha untuk membuka jalan napas.
"Apakah ambulans sudah tiba?" tanya Kayana memastikan.
"Sebentar lagi Kay," jawab Ren..
Lelaki tampan itu hanya bisa memandangi gadis cantik yang kini menyandang status sebagai istrinya itu dengan tatapan kagum. Dirinya memang tahu jika Kayana adalah seorang dokter, tetapi ia tidak menyangka jika Kayana seterampil ini. Memang benar ucapan sang kakek yang menyebutnya sebagai salah satu dokter berbakat.
Dada pria itu bergetar hebat melihat Kayana yang berusaha menyelamatkan nyawa seseorang tepat di hadapannya. Ren terpesona dengan ketenangan Kayana saat menghadapi situasi yang membuat para tamu undangan panik. Gerakan tubuh gadis itu begitu mantap dan tidak terdapat keraguan di setiap tindakannya.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya tim pertolongan pertama pun tiba. Kayana menghela napas lega ketika melihat dua orang paramedis yang berlari dengan tergopoh memasukki area kolam renang. Dengan hati-hati mereka memindahkan pasien tersebut ke dalam ambulans. Begitu selesai dengan proses mobilisasi pasien, Kayana sedikit menjelaskan kondisi dari pasien kepada perawat. Gadis itu kemudian memasukki mobil ambulans bermaksud untuk menemani pasien sampai di rumah sakit.
"Maaf, Ren aku harus pergi. Mereka membutuhkanku," ucap Kayana tepat sebelum memasukki ambulance.
"Pergilah, aku akan menyusulmu setelah ini." Laki-laki itu pun mengangguk tanda mengerti.
Kayana tersenyum mendengar jawaban dari sang suami. Setelah mendapat persetujuan dari Ren, Kayana kemudian bergegas masuk. Ren melihat ambulans itu keluar dari area gedung.
"Tuan Ren," sapa laki-laki di belakangnya.
"Oh halo, tuan Alex." Ren mengulurkan tangan menjabat tangan pria tersebut.
Tuan Alex adalah pemilik gedung sekaligus penyelenggara acara pada malam hari ini. Ren sendiri tidak terlalu dekat dengan pria berusia sekitar lima puluh tahunan itu, tetapi Ren cukup tahu tentangnya. Pria dengan usaha tembakau paling sukses di Indonesia, dengan jumlah pabrik yang tidak bisa dikatakan sedikit, Tuan Alex menjadi pengusaha terkaya nomor 5 di Indonesia.
"Saya mengucapkan terima kasih atas pertolongan yang telah dilakukan oleh istri Anda," jelasnya.
Mendengar itu Ren pun tersenyum dan menjelaskan jika itu sudah sepatutnya mengingat profesi dari sang istri. Namun, tak ingin membuang waktu, Ren kemudian memilih untuk berpamitan.
"Maaf tuan Alex, saya harus segera ke rumah sakit menyusul istri saya," pamitnya.
"Baiklah, sekali lagi terima kasih tuan Ren," balasnya.
Kemudian Ren berlari menuju mobil putih miliknya, lalu dengan tenang Ren memacu kendaraan kesayangannya itu menuju rumah sakit tempat sang istri berada.