
"Kay, kamu mau ke mana?" tanya Raka saat melihat gadis itu langsung berdiri hendak keluar ruangan.
Merasa namanya disebut, Kayana pun menoleh dan menatap Raka dengan senyum tipis. Gadis itu mengatakan harus menemui seseorang, tetapi saat Raka ingin menanyakan lebih lanjut tentang orang yang akan Kayana temui ternyata ada beberapa dokter yang mencoba mengajak Raka berkenalan lebih lanjut dan membuat ia mau tidak mau harus mengurungkan niatnya. Melihat kedatangan beberapa dokter tersebut, Kayana menepuk lengan Raka pelan bermaksud berpamitan dan memberikan semangat.
"Fighting!" ucap Kayana tanpa suara.
Setelah terlepas dari perkumpulan dokter-dokter itu, Kayana kemudian berjalan cukup cepat menuju lokasi lelaki yang menghubunginya tadi. Tak lupa ia juga mencoba menghubungi nomor telepon milik suaminya itu. Kayana berdecak pelan karena Ren tidak menjawab panggilannya. Namun, Kayana terus mencoba menghubungi laki-laki tersebut sembari berjalan menuju lobby rumah sakit.
"AWAS!"
Terdengar teriakan dari arah taman yang menjadi sekat antara gedung utama rumah sakit dengan gedung galeri yang baru saja diresmikan. Suara tersebut sontak menarik perhatian Kayana hingga membuat dokter muda dan cantik itu menghentikan langkahnya. Kayana menoleh ke arah sumber suara. Dari posisinya berdiri, Kayana dapat melihat dua orang anak yang tak lain adalah pasien dari rumah sakit dan seorang pria dengan kemeja putih tengah berdiri menatap atas salah satu pohon di taman tersebut. Kayana kemudian memfokuskan pandangannya pada pria yang seperti tidak asing untuknya. Setelah cukup yakin, Kayana pun berjalan cukup cepat menghampiri tiga orang tersebut.
"Dokter Ana?!" teriak salah seorang anak antusias saat melihat kedatangan Kayana.
Mendengar itu Kayana tersenyum dan semakin mempercepat langkahnya bermaksud mengeleminasi jarak di antara mereka. Berbeda dengan dua anak dan dokter cantik yang saling melempar senyum satu dengan yang lainnya, lelaki berkemeja putih itu sedikit terkejut. Entah mengapa seperti ada angin dingin yang tiba-tiba menghampiri dirinya. Lalu dengan pasti, laki-laki tersebut membalikkan badannya.
"Kalian sedang apa di sini? Bukankah seharusnya kalian berada di gedung galeri?" tanya Kayana pertama kali tanpa menghiraukan keberadaan laki-laki tersebut. J
Kedua anak itu tersenyum malu dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lalu salah satu dari kedua anak tersebut menceritakan jika mereka sedang dalam perjalanan menuju gedung galeri, tetapi tiba-tiba salah satu di antara mereka tidak sengaja melihat sarang burung yang berada di atas pohon. Karena merasa penasaran anak tersebut langsung berlari dan memanjat pohon tersebut. Tak disangka si anak akan tergelincir, tetapi untung saja ada kakak tampan yang dengan sigap menangkapnya.
Mendengar itu Kayana mengangguk mengerti, setelah memastikan jika kedua anak tersebut baik-baik saja Kayana kemudian meminta mereka untuk segera ke gedung galeri. Tak lupa ia meminta mereka untuk lebih berhati-hati kedepannya. Kedua anak tersebut kembali tersenyum dan langsung berpamitan kepada Kayana. Kayana kemudian menatap lelaki yang sejak tadi hanya diam tak bersuara.
"Ren, kamu ini. Aku sedang mencoba menghubungimu, tetapi tidak ada jawaban. Ternyata di sini kamu berada," Kayana sempat menepuk pelan lengan kiri laki-laki itu, sedangkan laki-laki itu hanya tersenyum remeh.
Setelah selesai berbincang sebentar, akhirnya Kayana mengajak Ren menuju gedung galeri. Di sepanjang jalan, mereka berdua berbincang santai. Kayana sempat menanyakan alasan Ren datang ke rumah sakit dan Ren hanya mengatakan dirinya bosan berada di rumah. Sebenarnya Kayana tidak serta merta percaya dengan ucapan lelaki tersebut, tetapi dirinya tidak ingin ambil pusing.
"Kay, siapa ini?" tanya Raka saat melihat Kayana memasukki gedung galeri bersama dengan pria tampan yang tidak ia kenal.
Kayana pun tersenyum canggung, dirinya tidak berani mengatakan jika lelaki yang bersamanya ini adalah suaminya. Bukan karena tidak suka atau menutupi pernikahannya, hanya saja ia takut Ren merasa tidak nyaman. Melihat Kayana yang belum memberikan jawaban, Ren berjalan mendekati lelaki yang mengenakan jas putih sama sepertinya milik Kayana dan mengulurkan tangan kanannya.
"Ren Nugra Darmawan, suami dari Dokter Kayana Daya Nagendra," tegas Ren.
Raka yang mendengar itu pun sontak menatap laki-laki di depannya remeh. Kemudian Raka mengalihkan pandangannya ke arah Kayana seolah meminta penjelasan. Kayana yang sudah kepalang tanggung pun mengangguk pelan. Melihat itu Raka membuang napasnya kasar.
"Senang bertemu dengan Anda, tuan Ren. Saya dokter baru di rumah sakit ini. Attaraka Yudha, Anda bisa memanggil saya Dokter Raka" ucap Raka menerima uluran tangan Ren.
"Saya sudah mendengar banyak cerita tentang Anda dari istri saya, Dokter Raka. Senang berkenalan langsung dengan Anda." Ren tersenyum bangga dan melepaskan uluran tangan tersebut.
Setelah kejadian tersebut, Raka memilih undur diri dengan alasan ada beberapa hal yang perlu ia selesaikan terlebih dahulu. Kayana yang mendengar itupun tersenyum mempersilakan. Ren yang sejak tadi tersenyum pun langsung memudarkan senyumannya membuat Kayana sedikit kebingungan. Mungkin Ren tidak sadar jika sejak tadi Kayana terus memperhatikannya terlebih saat Raka berpamitan dan menyentuh pundak Kayana, tampak sangat jelas Ren menatap Raka tajam. Apakah laki-laki itu cemburu atau hanya ia merasa tidak suka? Entahlah mereka berdua sama-sama tidak tahu. Tak betah dengan keterdiaman Ren, Kayana pun memutuskan untuk mengajak Ren masuk ke gedung galeri.
"Ayo masuk." Kayana menarik lengan kiri Ren membuat laki-laki tersebut sedikit terkejut.
"Ayo, Ren!" ajak Kayana saat mendapati sang suami masih diam di tempat.