
Kayana bersyukur karena Ren sudah berangkat ke kantor saat ia bangun. Gadis cantik itu tidak tahu apa yang harus ia lakukan setelah kejadian semalam. Semenjak kejadian yang tak sengaja itu, Ren hanya diam dan memilih mengurung diri di dalam kamarnya. Mereka berdua bahkan tidak banyak bicara dan hanya fokus pada makanan masing-masing. Tak ingin terlalu memikirkan hal tersebut, Kayana pun segera mengambil kunci mobil miliknya. Gadis itu harus pergi bekerja hari ini.
Sepanjang jalan menuju rumah sakit, gadis cantik yang mengenakan blus berwarna biru muda itu hanya diam mendengarkan lagu kesukaannya. Lalu lintas saat ini cukup lengang mengingat waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Kayana memang sengaja berangkat lebih awal ke rumah sakit dengan harapan gadis itu bisa brunch atau makan siang di restoran langganannya.
"Selamat datang dokter Kayana," ucap salah satu pegawai restoran.
"Oh selamat pagi menuju siang, Marta." gadis itu berjalan dengan tersenyum manis.
Joy's Resto adalah sebuah restoran dengan dua lantai yang berada di tengah kota Jakarta. Restora ini mengusung gaya Asian luxury nan klasik. Walaupun terkesan mewah, restoran ini tetap terasa sangat nyaman. Ditambah adanya detail aksen kayu yang menambah kesan hangat dan intimate ambience. Selain itu harga makanan dan minuman di restoran ini cukup ramah dikantong, sehingga tak heran jika restoran ini menjadi favorit banyak orang salah satunya adalah Kayana. Dengan langkah santai gadis itu berjalan memasuki restoran, setidaknya masi ada waktu tiga jam sebelum jam kerjanya dimulai.
"Apa kabar Martin?" sapa Kayana.
"Baik dokter, bagaimana dengan anda? Sepertinya akhir-akhir ini anda cukup sibuk, ya?" ucap lelaki berkaus hitam itu.
"Ya, kurang lebih." Kayana mengangkat bahu dan tersenyum kecut.
"Baiklah, kali ini Anda akan memesan apa dokter Kayana yang cantik?" tanya Martin.
"Apakah ada menu baru? Jika ya, aku ingin menu seperti biasa saja," goda Kayana.
Lelaki itu tertawa mendengar pernyataan gadis cantik itu. Walaupun sudah beberapa minggu tidak mengunjungi restoran miliknya ini, ternyata tidak mengubah kebiasaannya. Namun, satu hal yang pasti berubah, yaitu Kayana bertambah cantik dari sebelumnya.
"Baiklah, kalau begitu silakan tunggu di meja 15," balasnya.
Mendengar itu Kayana lalu berjalan menuju meja nomor 15. Kayana tidak perlu mencari lokasi meja tersebut karena meja bernomor 15 itu hanya diperuntukkan untuknya. Bisa dikatakan jika ia mendapatkan perlakuan istimewa.
Setelah sampai di meja yang dimaksud, Kayana kemudian duduk di kursi yang dekat dengan jendela. Sembari menunggu pesanannya, gadis berambut hitam yang dikuncir ekor kuda itu pun mengambil tablet dan ponsel miliknya. Dengan cepat ia membuka beberapa file yang telah dikirim oleh rekan sejawatnya mengenai beberapa pasien hari ini.
Beberapa menit berlalu dan makanan yang Kayana pesan pun sudah datang. Ditutupnya kembali tablet yang sempat ia buka tadi, lalu beralih pada kudapan yang kini tepat berada di depannya. Gadis itu tersenyum melihat makanan yang ada.
"Sepertinya aku tidak memesan cheese cake," sindirnya.
"Oh benar, Anda beruntung nona. Hari ini adalah hari jadi saya dan Marta yang kedua," jelas Martin.
"Benarkah? Kalau begitu selamat ya Martin. Semoga kalian bisa segera menikah," balas Kayana.
"Terima kasih dokter. Semoga dokter juga segera dipertemukan dengan lelaki yang baik. Seperti dokter Raka mungkin?" celetuk Martin.
Kayana pun mengangguk dan tersenyum. Andai saja Martin tahu jika dirinya sudah menikah, mungkin laki-laki itu tidak akan menjadikannya dengan laki-laki yang ia sebut dokter Raka itu. Setelahnya laki-laki itu pun pamit membiarkan Kayana menikmati sarapannya yang terlambat.
Menu brunch kali ini adalah nasi goreng kampung dengan tambahan udang bakar sebagai proteinnya. Tidak tahu apa alasannya, tetapi Kayana sangat menyukai makanan bertema nusantara dibandingkan makanan western. Namun, bukan berarti gadis cantik itu tidak menyukai burger dan Pizza. Kayana juga sangat menyukai dua makanan tersebut.
Di tengah kenikmatan yang sedang gadis itu rasakan, tiba-tiba ponsel miliknya berdering. Dengan cepat Kayana mengambil ponsel miliknya bermaksud mencari tahu siapa orang yang menghubunginya.
Tuan Muda Ren. Ya, nama dari laki-laki yang tadi pagi ia hindari. Mata Kayana terbelalak begitu membaca nama yang tertera di layar ponsel miliknya. Sebelum mengangkat telepon tersebut, Kayana mengambil gelas minumannya dan meminumnya sedikit. Lalu setelah dirasa cukup, Kayana kemudian mengangkat panggilan itu dengan tenang.
"Ya, Halo," ucap Kayana.
"Halo, Kay. Apakah hari ini kamu masuk kerja?" tanya Ren dari seberang.
Kayana mengiyakan pertanyaan Ren tersebut. Rasa penasaran tampak jelas terlihat dari raut wajah gadis cantik itu. Tak lupa Kayana juga menanyakan alasan Ren menghubunginya di jam kantor seperti ini. Dari penjelasan Ren, Kayana tahu jika dirinya harus menghadiri acara peresmian gedung baru milik salah satu kolega perusahaan Darmawan.
"Aku akan menjemputmu di rumah sakit nanti. Mengerti?" pinta Ren.
"Tidak perlu, aku membawa mobil sendiri, selain itu aku tidak membawa pakaian ganti. Jadi bagaimana jika kamu kirim saja alamatnya dan aku akan menyusul," tawar Kayana.
Kayana menolak permintaan Ren, selain ia membawa kendaraan sendiri gadis itu juga tidak membawa pakaian ganti. Lantas bagaimana bisa dirinya hadir dengan pakaian kerjanya ini. Bisa-bisa nanti dirinya menjadi bahan gunjingan orang-orang kaya yang hadir.
"Tidak perlu khawatir, aku sudah menyiapkannya. Apakah kamu mau orang lain berpikiran yang tidak-tidak jika kamu datang sendirian?" sanggah Ren.
Memang ada benarnya, orang-orang pasti akan curiga. Kayana menghela napasnya asal. Setelah melalui perdebatan yang cukup lama, akhirnya Kayana menuruti permintaan Ren. Ya, gadis itu akan menunggu Ren datang menjemputnya di rumah sakit nanti.
"Baiklah aku mengerti. Jangan lupa aku selesai pukul lima sore." Kayana mengakhiri panggilan tersebut.
Setelahnya Kayana kembali melanjutkan acara makannya. Untung saja gadis itu tidak kehilangan nafsu makannya setelah berdebat dengan sang suami tadi.
"Benar-benar seenaknya sendiri. Untung saja hari ini aku hanya ada kunjungan poli," gerutu Kayana di sela-sela suapannya.
Sejujurnya Kayana tidak keberatan jika harus menemani Ren hadir dalam sebuah pertemuan. Namun, bukan berarti bisa dadakan seperti ini.