
“ Ternyata kalian berdua “. Ucap Jendral Willem, sambil turun dari kudanya.
“ K-kau !!! “. Ucap Victor terbata-bata.
“ Manusia sialan !!! “. Lanjut Victor, keberaniannya muncul ketika Arden ada disampingnya, jauh berbeda dari sebelumnya yang malah kabur ketika berhadapan dengan Jendral Willem.
Setelah mengucapkan kalimat itu, Victor langsung menerjang Jendral Willem, namun Jendral Willem mampu dengan mudahnya menghindari serangan Victor.
“ Bagaimana mungkin kalian bisa hidup, kupikir kalian semua sudah musnah, dasar binatang sialan “. Ucap Jendral Willem dengan tenangnya setelah menghindari serangan VIctor.
“...”. Arden masih terdiam tanpa sepatah kata pun dan tak menanggapi perkataan Jendral Willem.
“ Arden lakukan sesuatu “. Tegas Victor yang langsung kembali keposisi semula disamping Arden.
“ Jangan terburu-buru, kali ini aku akan menikmati pembantaian kali ini “. Ucap Arden dalam bentuk form serigalanya sambil tersenyum tipis meremehkan.
Arden maju beberapa langkah menuju ke arah Jendral Willem berdiri.
“ Tembak !!! “. Perintah Jendral Willem
‘ DOR!, DOR!, DOR!, DOR!, DOR!, DOR!, DOR!, DOR! ‘.
Suara ribuan senjata ditembakan memberondong tubuh Arden dan Victor yang dengan santainya menerima semua peluru yang ditembakan, tanpa luka sedikitpun.
“ Tembak lagi !!! “. Perintah Jendral Willem yang mulai panik melihat Arden dan Victor yang tidak bergeming terhadap peluru perak bercampur titanium, karena menurutnya peluru terbaru itu sangat mematikan bagi manusia yang terkena.
‘ DOR!, DOR!, DOR!, DOR!, DOR!, DOR!, DOR!, DOR! ‘.
Suara tembakan terdengar lagi hingga beberapa kali.
‘ DOR! ‘. 'Clack', 'Clack'
“Gawat!, seluruh peluru pasukan telah habis Jendral “. Ucap salah satu prajurit
“ Sial, gunakan pedang kalian “. Ucap Jendral Willem, yang langsung maju menggunakan pedangnya disusul prajuritnya menuju Arden yang juga sedang menghampirinya.
Saat sampai dihadapan Arden, Jendral Willem segera menghunuskan pedangnya ke arah jantung Arden, namun dengan sigap Arden memegang pedang tersebut dan merebutnya dari Jendral Willem lalu meremukkannya menjadi berkeping-keping hanya menggunakan genggaman tangannya.
Jendral Willem yang melihat hal tersebut kaget dan shock dengan kejadian tersebut, dia tidak menyangka bahwa makhluk dihadapannya sangatlah kuat dan tidak mudah untuk dilawan.
Para prajurit manusia segera berlari menyerang ke arah Victor dan Arden. Dengan mudahnya Victor menangkis dan menahan serangan yang ditujukan kepadanya, sedangkan Arden sedang memusatkan perhatiannya ke Jendral Willem.
“ Kau tidak akan mati dengan mudah “. Ucap Arden sambil mencengkram leher Jendral Willem dan menatap tajam ke arahnya.
Arden kemudian melempar Jendral Willem dan jatuh lumayan jauh, lalu berkata, “ Panggil pasukanmu yang lain “.
Jendral Willem yang mendengar hal tersebut langsung membalas “ awas saja kau “, kemudian segera menaiki kudanya dan menuju ke kuil tempat raja Aleron bersembunyi bersama 9 legiun pasukan yang menjaganya.
“ Tetap pertahankan wilayah ini, jangan sampai binatang ini menuju ke arah kastil “. Tambah Jendral Willem kepada seluruh prajuritnya yang mengerubungi Arden dan Victor. Jendral Willem segera bergegas dengan kudanya menuju kuil.
“ Tch “. Ejek Arden dengan senyum smirknya yang menyeramkan sambil menyerang prajurit yang mendekatinya.
“ Oi Arden “. Panggil Victor menggunakan mind connectionnya, dia pun juga sedang kewalahan mengahadapi gempuran pasukan yang menyerangnya.
“ Sekarang “. Ucap Arden lalu melolong dengan kerasnya, suara lolongannya pun terdengar hinggal kuil raja Aleron bersembunya, kuda Jendral Willem yang dia tunggangi juga berjingkrak ketakutan akibat suara lolongan Arden.
Lolongan tersebut menjadi aba-aba bagi pack Alarick untuk memasuki kerajaan Alegria dengan serangan penuh.
“ Yeah! Sudah saatnya Woohoo ”. Ucap Alejandro girang.
“ Yeah ! ” Ucap seluruh pack Alarick yang menunggu di atas bukit
‘ Roarghhh ’ ‘ Roarghhh ’ ‘ Roarghhh ’. Suara perubahan dari anggota pack dan lolongan kegembiraannya untuk menyerang pun terdengar.
Mereka dengan kecepatan penuh segara berlari menuju tempat pembantaian yang ditunggu-tunggu.
Sesampainya di kerajaan Alegria para pack Alarick segera membantu Victor untuk membantai ribuan pasukan ras manusia. Dengan senang hati mereka melakukannya.
Arden pun tersenyum tipis melihat kejadian brutal didepannya, sekelompok ras werewolves membantai ribuan pasukan ras manusia adalah tontonan yang menarik menurutnya.
Arden hanya sebentar menontonnya karena dia pun segera melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke arah Jendral Willem meninggalkan pertempuran itu, yakni menuju kuil.
“ 5 legion ikut denganku mempertahankan wilayah depan Alegria, sisanya tinggal disini “. Ucap Jendral Willem sesampainya didepan kuil dan memberi perintah kepada prauritnya.
“ Yes, sir !!! ”. Ucap seluruh prajurit secara serempak.
“ Sssttt, disini saja “. Ucap Arden seperti biasa, dengan nada yang datar dan santai, setelah tiba dengan cepat ke area kuil.
Kedatangan Arden pun membuat Jendral Willem dan pasukannya bergidik ngeri dan merasa sedikit ketakutan tak terkecuali raja Aleron. Kedatangannya tidak disangka oleh Jendral Willem karena dalam pikirnya tidak mungkin dia akan mengikutinya dan datang sendirian untuk mengahdapi ribuan prajurit. Namun apa yang dia pikirkan ternyata salah besar, Arden lebih gila dari yang dia pikirkan.
Tanpa basa basi Arden langsung menerjang ke arah ribuan prajurit yang sedang berbaris
‘ DOR!, DOR!, DOR!, DOR!, DOR!, DOR!, DOR!, DOR!
Terdengar suara tembakan dan teriakan prajurit yang menyerang Arden. Arden langsung membunuh prajurit manusia satu persatu tanpa belas kasih dan rasa ampun, dengan brutalnya dia membunuh prajurit itu, memenggal kepala hanya dengan tangannya, meremukkan kepala prajurit itu dengan kepalan tangannya, menggigit kepala prajurit itu hingga hancur dan mencoba menggunakan senjata yang tadinya digunakan untuk menembaknya. Dia mengambil senjata jenis shotgun yang dia peroleh dari salah satu prajurit yang dia bunuh kemudian mengarahkan ke kepala prajurit yang mendekatinya.
' DOR! ’, senjata itu pun ditembakkan dan memecahkan kepala prajurit itu
“ Hmm, Menarik “. Gumam Arden
“ Tapi akan memakan banyak waktu “. Lanjut Arden yang kemudia membuang senjata itu dan kemudian melanjutkan pembantaian menggunakan cakarnya.
Jendral Willem hanya terdiam melihat banyak pasukannya yang dibantai
“ Jendral!, segera masuk kuil, lindungi raja Aleron, kami akan menahan binatang ini sebisa kami “. Ucap salah satu bawahan Jendral Willem kepadanya.
Jendral Willem hanya mengangguk dan segera berlari menuju kuil untuk melindungi raja Aleron. Jendral Willem segera menutup pintu kuil dan menahannya dengan patung-patung dewa di kuil dibantu oleh ratusan prajuritnya.
“ Bagaimana keadaan diluar? Apakah teratasi “. Tanya Raja Aleron setelah Jendral Willem berhasil memindahkan patung-patung dewa untuk menghalang kedatangan Arden.
“ Keadaan diluar sangat kacau tuan, seluruh prajurit kewalahan menghadapi binatang itu ”. Jawab Jendral Willem.
Raja Aleron hanya tersenyum kecut mendengar jawaban dari Jendral Willem, dia tidak menyangka bahwa hari ini akan menjadi hari terakhirnya, entah hari terakhirnya memimpin atau hari terakhirnya hidup.
“ Tidak apa-apa sayang, semua akan baik-baik saja “. Ucap Raja Aleron kepada istrinya dan kedua anaknya.