Unexpected Fate

Unexpected Fate
Jendral Willem (1)



Seorang anak kecil berusia 5 tahun, tengah menangis tersedu-sedu ditengah keramaian pasar, tubuh kecil kurus itu tengah meringkuk dipinggir jalan pasar, punggungnya terlihat bergetar, kepalanya menunduk disembunyikan diantara kedua kakinya, dia ketakutan. Bagaimana tidak, setelah mengetahui ternyata dia telah dibuang oleh orang tuanya sendiri, sosok yang seharusnya memberi perhatian dan perlindungan ternyata malah mengkhianatinya. Jauh dari orang tua bukanlah hal yang biasa dia lakukan, ini adalah pertama kali baginya.


Tubuhnya yang kecil, lemah dan kurus kering membuat kedua orang tuanya tega untuk membuangnya, mereka beranggapan bahwa anak seperti dia hanya akan menjadi beban, menyusahkan dan tidak akan berguna dimasa depan.


Orang-orang yang berlalu lalang dijalanan pasar tidak ada satupun yang memperdulikannya, bahkan meliriknya untuk memberi belas kasihan pun tidak mereka lakukan.


Hidup di pasar, bertahan dengan mengais sisa makanan di gerobak sampah menjadi pilihannya, mati tidak ada didaftar kegiatan selanjutnya. Apa yang dia lakukan setelahnya hanya duduk ditempat pertama kali dia dibuang, berharap orang tuanya akan kembali padanya. Namun, penantiannya hanya sia-sia, 3 bulan berlalu, sama sekali tidak nampak batang hidung orang tuanya.


“ Mungkin inilah takdirku, mati di tengah keramaian ”. Pikir anak itu.


Sepertinya nasib baik mengunjunginya hari ini, beberapa rombongan pasukan kerajaan datang menyisir pasar. Agenda yang mereka lakukan adalah mencari anak-anak dan remaja buangan untuk selanjutnya mereka rekrut dan mereka latih menjadi prajurit yang tangguh yang memiliki loyalitas tinggi terhadap kerajaan. Anak malang itu pun pada akhirnya menjadi sasaran perekrutan pasukan kerajaan, dia segera dibawa ke istana untuk selanjutnya dilatih dan dididik menjadi sebuah prajurit mematikan yang tangguh dengan loyalitas tinggi.


17 tahun berlalu, anak kecil yang kurus kering telah tumbuh menjadi seorang yang gagah dengan pedang berada ditangan kanannya dan perisai ditangan kirinya.


“ Prajurit Willem Anderson “, kata seorang yang sedang melangkah memperhatikan pasukan dihadapannya.


“ Berdiri di hadapan Anda “. Ucap Willem, anak yang dibuang dipasar kini telah menjadi seornag prajurit berani dengan loyalitas tinggi, siap bertempur sesuai komando dari seseorang dihadapannya.


“ Bagus, ingat, tetap angkat pedangmu “. Kata seseorang itu yang dibalas anggukan oleh Willem.


Seseorang itu adalah Jendral Irwin. Seorang Jendral dari kerajaan Alegria yang diakui kehebatannya dalam bertempur dan mempertahankan kerajaan.


“ Persiapkan diri kalian, kita akan berangkat setelah menerima informasi dari kerajaan Abelard “. Lanjut Jendral Irwin.


“ Baik, pak “. Ucap para prajurit secara serempak.


Tak lama kemudian, ada seorang prajurit yang datang menghampiri Jendral Irwin yang menginformasikan bahwa pasukan kerajaan Abelard telah bersiap dan telah memulai perjalanan.


“ Kita berangkat sekarang “. Ucap Jendral Irwin


“ Yes, sir!!!”.


Seluruh pasukan segera memulai perjalanan dengan dipimpin jendral Irwin. Barisan pasukan Jendral Irwin dapat dilihat sepanjang 500 meter sejauh mata memandang.


Para korban mati mengenaskan, tubuhnya terkoyak, terkadang ditemukan korban hanya tubuhnya saja tanpa kepala, dan sebaliknya, hanya kepala tubuhnya tak ditemukan. Sisa-sisa daging korban yang ras werewolves jadikan santapan ini menimbulkan bau yang sangat busuk yang mencemari udara.


Maka dari itu, seluruh kerajaan di Eropa saling bersatu untuk melakukan perburuan, tak terkecuali kerajaan Alegria.


Setelah sesampainya di titik berkumpul, tepatnya di Dust Land, 10 km jauhnya dari kerajaan Alegria, para Jendral dari berbagai kerajaan melakukan perbincangan singkat untuk menentukan pembagian tujuan perburuan.


Jendral Irwin dari kerajaan Alegria dan Jendral Kruger dari kerajaan Abelard mendapat bagian wilayah perburuan dari hutan Forks stone sampai dengan hutan Black Montana.


“ Binatang sialan itu selalu melakukan penyerangan dimalam hari pada saat bulan memasuki fase full moon, maka dari itu, hari ini adalah waktu yang tepat untuk kita membalas kelakuan brengsek mereka. Hari ini hingga dua minggu kedepan, bulan sedang pada fase new moon, sehingga bulan tidak akan nampak di bumi. Para werewolves tidak akan mendapat keuntungan jika tidak ada bulan “. Jelas Jendral Irwin panjang lebar.


Perburuan besar-besaran pun dilakukan, para werewolves yang tidak siap dengan kedatangan ribuan prajurit manusia terlambat untuk membentuk barisan pertahanan, mereka yang terbiasa berpesta dan bersantai-santai setelah membantai ras manusia, kini merasakan apa yang dirasakan oleh korbannya.


Jendral Irwin dan Jendral Kruger tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, mereka segera melakukan penyerangan langsung ke markas werewolves ditengah hutan Forks Stone. Tentu saja para werewolves tidak hanya tinggal diam, mereka pun segera melakukan perlawanan sengit, meskipun dengan jumlah anggota yang seadanya. Banyak dari kalangan werewolves mati sia-sia begitu juga dengan prajurit ras manusia.


Ada sebagian dari werewolves yang selamat dari penyerangan ini karena mereka sedang melakukan pesta dengan para gadis di desa lain, dan diketahui juga mereka adalah para Alpha werewolves yang malah pergi sehingga gagal mempertahankan dan melindungi kelompoknya.


Setelah membantai para werewolves bawahan hingga tak tersisa, dengan pertempuran selama 5 hari 4 malam, Jendral Irwin dan Jendral Kruger memberi kesempatan para pasukannya untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke hutan Black Montana. Tak lupa, sehari sebelumnya mereka juga menggali tanah yang luas dan dalam, kemudian memasukan para mayat werewolves untuk selanjutnya dibakar massal, sedangkan untuk mayat prajurit manusia mereka menguburkannya juga di hutan Forks Stone, sebagai bentuk penghormatan terhadap mereka yang telah berjuang demi membalaskan kematian manusia-manusia yang tak berdosa karena ulah werewolves.


Matahari terbit dari sebelah timur, menandakan telah tibanya pagi hari dan sudah berlangsungnya pergantian hari. Para pasukan pun segera bangun dan bergegas untuk mempersiapkan barang- barangnya termasuk kuda, perisai, pedang, senjata dan baju armor.


Sebagai prajurit sejati dari ras manusia, mereka memiliki tingkar disiplin yang tinggi, sehingga sebelum Jenderal mereka keluar dari tenda sementaranya, mereka telah berbaris dengan rapi di halaman luas tengah hutan Forks Stone menunggu aba- aba Jendral Irwin dan Kruger untuk melanjutkan perjalanannya ke hutan Black Montana.


Dengan menempuh perjalanan jauh selama 5 jam, mereka semua akhirnya tiba di hutan Black Montana. Hutan yang pada siang hari terasa begitu sejuk dan nyaman karena lebatnya pepohonan dan tingginya pohon-pohon yang menaungi hutan tersebut akan berubah 180 derajat ketika dimalam hari, karena hutan akan menjadi sangat-sangat gelap dengan jarak pandang hanya 1 meter itupun jika menggunakan obor sebagai sumber penerangannya.


Maka dari itu seluruh pasukan diharapkan mampu untuk membantai habis seluruh ras werewolves di hutan Black Montana sebelum malam tiba.


Ribuan prajurit disebar ke seluruh penjuru hutan, dengan harapan tidak ada satupun werewolves yang bisa kabur dari hutan ini. Dalam satu batalion terdapat 20 prajurit berkuda yang diikuti oleh 50 prajurit berpedang dan 30 prajurit bersenjata, dan jarak tiap tiap batalion tidak lebih dari 5 meter sehingga untuk penyerangan dan perlindungan akan sangat efektif karena mereka semua saling berdekatan.


Perjalanan terhenti tatkala mereka melihat sebuah pemukiman ditengah hutan dan seorang anak kecil berusia 10 tahun memainkan cakarnya ke batang pohon.


“ Serang !!!” Teriak salah satu prajurit.