Unexpected Fate

Unexpected Fate
Penyusupan



“Kerajaan Alegria sudah jelas didepan mata ”. Ucap Arden ketika mereka semua telah tiba diwilayah kerajaan Alegria, jarak antara mereka sekarang dengan tembok tinggi pertahanan kerajaan Alegria yaitu sepanjang 500 meter, didepannya juga terlihat jelas hamparan savana yang mengarah ke kerajaan Alegria. “ Buktikan ucapanmu Victor “ lanjutnya sambil menatap Victor.


“ Tentu saja “. Kata Victor sambil tersenyum sembari ‘ Crackk ' mengeluarkan cakar diantara jari jarinya.


“ Kau sudah gila? apakah kau akan langsung menunjukkan wujud burukmu kehadapan manusia yang memiliki senjata mematikan itu? “. Tanya Baron terheran heran melihat Victor yang langsung mengeluarkan cakarnya, kebanyakan dari mereka juga terkejut tatkala melihat Victor yang langsung mengeluarkan cakarnya.


“ Bukan begitu bodoh, aku juga tidak ingin secepat itu menunjukkan siapa aku sebenarnya dan kekuatan yang kumiliki “. Jawab Victor menyudahi keheranan mereka. Tanpa diduga Victor mengarahkan cakarnya ke baju yang dia kenakan ‘Scrak, Screk’, Victor pun merobek bajunya sendiri menggunkan cakar tersebut, kemudian memasukkan lagi cakar tersebut sehingga jari-jarinya terlihat seperti jari manusia kembali.


“ Nah begini sudah pas, Arden apakah kau membawa map tadi? “. Tanya Victor santai kepada Arden setelah merobek bajunya sendiri.


“ Tidak, kenapa? ”. Jawab Arden datar


“ Oh bukan apa-apa, baiklah begini saja sudah cukup. Ingat tunggu aba-aba dariku jangan asal maju, termasuk kau Arden hahaha ”. Kata Victor yang kemudian berlari menjauh menyusuri savana, ejekannya tidak ditanggapi Arden.


“ Hati-Hati Victor, kalau kau mati kerajaanmu akan kumiliki dan semua selirmu akan kunikmati haha”. Ucap Alejandro yang mana ucapannya tidak diperdulikan Victor yang semakin menjauh.


“ Dia sudah gila “. Tukas Baron yang diangguki sebagian pack Alarick sebagai tanda setuju dengan ucapan Baron


“ Apakah kau yakin Arden, Victor akan baik-baik saja? “. Tanya Carius yang sepertinya memiliki firasat buruk


“ Tidak “. Jawab Arden bersikap seperti tidak peduli, namun tetap memperhatikan pergerakan Victor yang hampir sampai didepan gerbang kerajaan Alegria.


“ Huft, lalu kenapa kau membiarkannya pergi “. Tambah Carius


“ Dia sudah berucap, dan dia harus membuktikannya “. Jelas Arden datar, namun dari sorot matanya terlihat jelas bahwa dia sedikit khawatir, bagaimana tidak, 1 orang itu akan menantang ribuan pasukan yang siap memberondongnya dengan senjata mematikan tanpa ampun.


Dengan jarak 50 meter yang berarti sebentar lagi Victor akan tiba di depan pintu gerbang kerajaan Alegria, dia segera menghentikan larinya lalu merubahnya menjadi jalan terseok-seok. Hal itu terus dia lakukan hingga mencapai depan pintu gerbang kerajaan Alegria yang dijaga oleh 4 orang prajurit kerajaan.


“T-tolong aku ”. Ucap Victor dihadapan prajurit bersenjata peluru mematikan yang mencegatnya sambil memegang lengan prajurit tersebut.


“ Hei Hei, kenapa kau, apa yang terjadi? ”. Tanya salah satu prajurit yang memegang pedang, sambil melangkah kearah Victor.


“ A-ada makhluk buas disana yang mengejarku, d-dia mencengkramku, aku hampir mati, a-aku ketakutan, T-tolong bawa aku masuk “. Jelas Victor sambil terbata-bata.


“ Yang benar saja, mana mungkin ada makhluk buas diwilayah ini “. Ucap prajurit bersenjata


“ A-aku t-tidak boh-” ‘Bruk’ Victor yang belum menyelesaikan ucapannya seketika terjatuh dan tangannya menyambar senjata yang dipegang salah satu prajurit, menyebabkan senjata itu jatuh bersamaan dengan Victor.


“Hei, kau, bangun, Hei ”. Ucap prajurit berpedang sambil menendang-nendang tubuh Victor.


“ Sepertinya dia pingsan, bawa dia masuk, lalu serahkan ke tabib desa untuk segera diobati ”. Perintah salah satu prajurit yang sedari tadi mengamati gerak-gerik Victor, namun dia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan dari Victor.


“ Baik “. Ucap dua prajurit bersenjata yang segera mengangkat tubuh Victor untuk dibawa masuk, kemudian Victor dibawa ke tabib desa dengan tujuan untuk diobati.


Sesampainya ditempat tabib, kedua prajurit itu segera meletakan Victor di ranjang rumah tabib, setelah berbincang sebentar dengan Tabib itu, prajurit tersebut kemudian berjalan meninggalkan Victor dan tabib seorang diri.


Tabib itu pun mulai memeriksa keadaan Victor, mulai dari pergelangan tangan kanan dengan mengecek denyut nadi, kemudian membuka baju sobek tersebut lalu mulai meraba tubuh Victor untuk melihat seberapa parah luka yang dialami Victor.


Tabib itu pun bingung karena tidak ada satupun luka mendarat ditubuh Victor bahkan organ dalam Victor terlihat baik-baik saja, padahal dalam perbincangan tadi, prajurit itu memberitahukan bahwa Victor diserang oleh makhluk buas, yang mana kemungkinan menurut prajurit itu, Victor mengalami luka pada organ dalamnya.


Dalam sekejap Victor membuka mata, hal itu mengagetkan tabib tersebut, dan Victor langsung menggerakan tangan kanannya untuk mencengkram si tabib, Victor mulai bangun dan mengangkat tabib itu dan mendorongnya ke tembok. Si tabib pun ingin berteriak, namun sayang dia kalah cepat dengan pergerakan tangan kiri Victor yang langsung membekap mulutnya, “mmm....mm...”.


“ Selamat tinggal “. Ucap Victor yang tak lama kemudian ‘Crackk’, ‘Jleb’ ‘Slack’ ‘Jleb’ ‘Slack’ ‘Jleb’.


Ya, Victor tanpa babibu mengeluarkan cakarnya dan langsung menusuk perut tabib itu berulang ulang kali, hingga sang tabib itupun mati seketika. Victor pun langsung melepaskan cengkramannya dan melihat cakarnya yang digunakan untuk menusuk telah berlumuran darah, kemudian menjilatnya sekali sambil menyeringai.


Setelah melakukan pembunuhan itu, Victor langsung mengeluarkan sebuah benda yang sedari tadi ia sembunyikan disela sela jarinya. Benda itu adalah sebuah peluru tajam dari perak bercampur titanium yang disebut-sebut sebagai peluru mematikan, yang ia dapat ketika berpura pura pingsan tadi. Victor duduk diranjang tempat ia dibaringkan dan mulai mengamati peluru tersebut “apa yang berbahaya dari peluru ini? ” pikirnya. Dia pun memutuskan untuk keluar dari rumah si tabib dan berjalan mengendap-endap untuk mencari senjata, tak lama setelahnya.


“ Hei kau berhenti, siapa kau? ”. tanya seorang prajurit bersenjata yang sedang berpatroli malam dan kebetulan memergoki Victor.


Victor berjalan mendekati prajurit secara perlahan dan mengucap kata untuk mengecoh prajurit itu “ Hei tenang, aku sedang mencari sesuatu disini mungkin kau tau dimana letaknya ”.


“ Kau diam ditempatmu, jangan bergerak! ”. Teriak si prajurit itu. Victor tidak menanggapi teguran si prajurit itu.


‘ DORR! ’, suara tembakan menyudahi kesunyian malam dan tembakan itu tepat mengenai dada Victor.


Prajurit itu heran, kenapa manusia yang dihadapannya ini tidak tumbang setelah ia tembak, bahkan peluru itupun malah terpental bukannya menembus dadanya.


“Argh, tidak terlalu sakit sebenarnya, namun dalam wujud manusia sepertinya berdamage juga”. Gumam Victor.


Kemudian ia segera mengeluarkan cakarnya ‘Crackk’ dan langsung menusuk kerongkongan prajurit itu, ia pun segera mengambil senjata si prajurit dan membawanya pergi.


Suara tembakan yang memecah kesunyian malam, membuat 1 kelompok prajurit yang berjaga mendatangi lokasi suara tembakan itu berasal, mereka terkejut mendapati salah satu prajuritnya mati secara mengenaskan.


Disisi lain, “ AAAaaa” terdengar teriakan melengking dari seorang perempuan dari arah rumah tabib, perempuan itu berteriak tak lama setelah melihat mayat tabib yang tergeletak tak bernyawa dengan darah bercucuran mengotori lantai. Prajurit itu pun menjadi terpecah, sebagian mendatangi arah teriakan perempuan itu dan sebagian menginvestigasi mayat prajurit yang telah mati itu.


“ Oi “. ‘ DORR!, DORR!, DORR!, DORR! , DORR!, DORR! ’. Kaget Victor yang ternyata malah bersembunyi tidak jauh dari tubuh prajurit yang ia bunuh dan langsung menembaki prajurit-prajurit yang sedang menginvestigasi mayat prajurit.


‘ DORR!, DORR! ‘. Terdengar tembakan balasan ke arah Victor, 1 peluru yang ditembakan oleh prajurit mengenai lengan Victor, namun prajurit itu pun terkejut tatkala Victor tidak tumbang dan malah lari menjauh.


“ Argh!! Sial, aku sangat ceroboh tidak memperhatikan sisa peluru”. Gumam Victor.


“ Kita diserang!, ada penyusup ”. Teriak prajurit yang berlawanan dengan Victor tadi. “ Apa yang menjadi musuh kita sepertinya bukan manusia, kita tidak bisa main-main menghadapinya, informasikan kepada Jendral Willem tentang hal ini, Cepat!!.” Ucapnya kepada salah satu prajurit


Prajurit itu segera berlari menghampiri Jendral Willem yang sedang berada di markas. Prajurit itu menginformasikan bahwa ada seorang penyusup yang kebal terhadap senjata. Jendral Willem pun dengan cepat menerjukan 100 pasukan berpedang dan 50 pasukan bersenjata untuk mencari keberadaan penyusup itu. Tak lama setelahnya, ada seorang prajurit datang menemui Jendral Willem dalam keadaan berdarah-darah.


“ Kenapa kau? Mana penyusup itu? ”. Tanya Jendral Willem.


“ Maaf tuan, seluruh pasukan yang Anda terjunkan semuanya tewas, Uhuk-ugh, tapi dari apa yang saya lihat, musuh kita bukanlah seorang manusia, namun adalah seekor Werewolves, Ughh”. Ucap prajurit itu menahan sakit.


“ Apa? Werewolves? Jangan asal bicara kau, mereka semua bahkan sudah habis tak tersisa “. Bantah Jendral Willem


“ Saya tidak berbohong tuan, saya menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri, prajurit kita dibantai habis-habisan oleh makhluk sialan itu, Uhuk-Arghh ”. Ucap prajurit.


“ Baiklah, kau segera ke barak, istirahatkan dirimu, akan aku panggil tabib kerajaan ”. Kata Jendral Willem yang tidak tega dengan prajuritnya, meskipun masih ada keraguan dari hatinya terhadap ucapan prajurit terebut.


“ Baik, tuan ”.


Tak lama berselang, 20 legiun yang masing masing terdiri dari 4000 prajurit datang sesuai komando Jendral Willem.


“ Aku akan memimpin langsung pencarian ini, 7 legion akan bersamaku melakukan pencarian, 9 legion akan melindungi raja, 1 legion berjaga diseluruh pertahanan kerajaan ini jangan lupa siapkan juga meriam, 3 legion melindungi rakyat kita dari ancaman yang akan datang. Segera Laksanakan ”. Perintah Jendral Willem.


‘ Drug, Drug, Drug, Drug, Drug, Drug ’. Suara langkah prajurit yang segera bubar untuk melaksanakan perintah Jendral Willem. Pencarian besar-besaran pun dilakukan, mengelilingi seluruh wilayah kerajaan untuk menemukan Victor berada.


Suara gemuruh pasukan kerajaan Alegria, membuat anggota pack Alarick bertanya-tanya


“Kenapa lama sekali Victor, akh, aku sudah tidak sabar “. Ucap Alejandro


“ Apa yang telah dia lakukan ”. Ucap Edward heran melihat banyaknya cahaya dari obor yang terpancar menyinari berbagai pelosok wilayah kerajaan Alegria.


‘ BOOM ’, ‘ BRUAK ’ terdengar suara tembakan meriam dan terlihat jelas gerbang kerajaan Alegria hancur setelah sesuatu menghantamnya.


Tak lama setelahnya, terdengar suara teriakan.


“ ARDENNN!!! ”


...****************...