Unexpected Fate

Unexpected Fate
Jendral Willem (2)



Seorang wanita terlihat tengah keluar dari sebuah rumah kecil diwilayah pemukiman hutan Black Montana, dia berjalan sambil membawa dua buah piring dan memandangi keadaan sekitar seperti mencari sesuatu.


“ Arden!, Victor!, dimana kalian?! Sudah waktunya makan siang “ Teriak wanita itu.


Setelah mencari kesekelilingnya, wanita itu akhirnya menemukan Victor yang tengah mencakar-cakar pohon tak jauh dari pekarangan rumahnya, apa yang membuat dia terkejut adalah, tidak jauh dari tempat Victor berdiri dia melihat segerombolan pasukan siap tempur.


“ Serang!!! “ Teriak salah satu prajurit.


“ Victor!!! ”. Teriak wanita itu yang langsung berlari menghampiri Victor, menjatuhkan dua buah piring yang dia pegang tanpa dia sadari.


Wanita itu segera mendekati Victor dan segera menggendongnya, membawanya lari, jauh dari jangkauan pasukan ras manusia itu.


“ Jack!!! ”. Teriak wanita itu.


Seorang pria yang tengah membelah balok kayu menggunakan sebuahk kapak, segera berlari kearah teriakan itu, dilihatnya wanita itu tengah berlari sambil menggendong seorang anak laki-laki yang mana tidak jauh dari belakang wanita itu terdapat gerombolan prajurit yang mendekat.


“ Cepat bawa pergi jauh! “ Perintah Jack ketika berpapasan dengan wanita itu, wanita itu pun mengangguk.


Para anggota pack yang tinggal di hutan Black Montana juga terlihat panik menghadapai serangan pasukan itu. Terdengar keributan dari para warga itu yang seluruhnya merupakan kaum werewolves.


“ Dimana anak kita ?! “. Kata salah satu warga


“ Jorg! “, “ Alen! ”, “Ham! ”. Teriak para warga yang mencari anaknya.


“ Para wanita segera bawa pergi anak kalian, Dan kalian para pria segera pertahankan wilayah ini !”. Teriak Jack.


‘ Roarghhh ’ Suara perubahan form seorang pria yang dipanggil Jack itupun terdengar, mengubah wujudnya menjadi serigala berwarnya hitam pekat, disusul oleh para pria lainnya yang juga langsug mengubah formnya kewujud werewolves.


Tak lama kemudian terdengar lolongan dari Jack tanda bahwa dia siap memimpin pertempuran ini untuk mempertahankan wilayahnya.


Namun, pasukan ras manusia dengan senjatanya bukanlah musuh yang mudah, para werewolves banyak yang terlambat menyelamatkan diri dan membawa anak mereka. Banyak korban berjatuhan dari pihak manusia dan werewolves. Ras werewolves lah yang menderita kekalahan paling banyak, para wanita dan anak-anak pun turut menjadi korban. Musuh yang jumlahnya tidak sebanding membuat mereka kewalahan mempertahankan wilayah pemukimannya ini.


“ Victor, cari Arden, lalu larilah kalian sejauh mungkin dari hutan ini ”. Perintah seorang wanita yang menggendong Victor.


“ Lalu ibu bagaimana? “. Tanya Victor kepada seorang wanita yang ternyata adalah ibunya.


“ Ibu akan membantu ayahmu “. Jawab wanita itu kepada Victor sambil tersenyum setelah menurunkan Victor dari gendongannya.


“ A-apakah kita akan bertemu lagi? “. Tanya Victor, suaranya terisak.


“ Tentu saja, kalau bukan disini, kita akan bertemu lagi ditempat yang sangat indah “. Jelas ibu Victor menyimpan tangisnya.


“ Ibu janji? ”. Lanjut Victor sambil menyodorkan jari kelingkingnya


“ Janji “. Ucap ibu Victor dan meraih jari kelingking Victor.


“ Sudah sana, segera cari Arden, jaga diri baik-baik, jaga Arden juga “. Lanjut ibu Victor.


“ Baik ibu, sampai bertemu lagi nanti. Arden !! “. Jawab Victor yang kemudian berlari mencari Arden.


‘ Roarghhh ‘, ibu Victor pun segela mengubah formnya menjadi serigala berwarana light brown dan segera menyusul matenya yang sedang bertahan melawan pasukan manusia, dilihatnya Jack tengah kewalahan menghadapi gempuran serangan dari pasukan.


“ Elena, kenapa kau ada disini, bagimana dengan Victor dan Arden ! ”. Ucap Jack menggunakan mind connectionnya sambil mencakar dan menggigit pasukan-pasukan manusia.


“ Mereka aman “. Ucap Elena yang juga sedang membunuh para pasukan manusia dengan cakar dan gigitannya.


Bantuan yang diberikan Elena nampaknya juga sia-sia, mereka semakin kewalahan, anggota pack mereka banyak yang terbunuh, sedangkan pasukan manusia yang jumlahnya ribuan sepertinya tidak berkurang, meskipun juga banyak yang mereka bunuh.


“ Arden, kau disana rupanya, ibu menyuruh kita lari sejauh mungkin dari sini, ayo cepat ”. Ucap Victor setelah menemukan Arden dipinggir danau sedang menyendiri.


“ Memangnya kenapa, apa yang terjadi dengan ibu? “. Tanya Arden.


“ Entah, saat melihat gerombolan pasukan ras manusia, ibu menyuruhku lari “. Jawab Victor.


“ Ibu dalam bahaya, Victor !! “. Ucap Arden yang langsung berlari menuju pemukiman yang sedang diserang manusia.


“ T-tapi Arden ibu menyuruh kita lari sejauh mungkin“. Kata Victor sambil berlari mengikuti Arden.


Setelah berlari, tibalah mereka didekat pemukiman, mereka bersembunyi didekat balok-balok kayu yang telah Jack potong-potong. Memang benar kata Victor, banyak prajurit manusia diwilayah pemukimannya, mereka juga melihat banyak mayat-mayat entah itu dari ras manusia, ras werewolves, dan bahkan mayat temannya yang tidak sempat melarikan diri.


Mata Arden dan Victor tertuju kepada kedua orang yang sedang melawan pasukan ras manusia.


“ Itu mereka, kita harus membantunya “. Ucap Arden yang kemudian segera melangkahkan kakinya ‘ Crackk’ lalu mengerluarkan cakarnya dan disusul oleh Victor.


Baru beberapa langkah mereka berdua berjalan, mereka melihat ada prajurit yang datang dari arah belakang ibunya, yang langsung berlari menerjang dan menghujamkan pedang ke arah jantung ibu mereka. Seketika itu juga ibu mereka ambruk ke tanah tak bernyawa.


Jack yang melihat matenya mati, menjadi tidak fokus karena mengalihkan pandangannya ke matenya yang telah terkapar ditanah. Prajurit itu pun segera memanfaatkan situasi tersebut dan menghunuskan pedangnya kearah jantung Jack dan memenggal kepalanya.


Victor dan Arden yang melihat kejadian itupun hanya bisa terdiam ditempatnya, kaki mereka terasa berat untuk berlari menjauh ataupun mendekati mayat orangtuanya.


Prajurit yang menusuk jantung kedua orangtuanya segera melangkahkan kakinya menghampiri mereka. Saat berjarak beberapa meter saja, ketika dia hendak menghunuskan pedangnya.


“ Willem !!! ”. Terdengar suara seseorang memanggil.


Prajurit itu pun yang rupanya adalah Willem, segera berbalik dan berlari menjauhi mereka berdua, dan memerintahkan prajurit lainnya untuk membunuh dua orang anak kecil itu.


Willem pun segera menghampiri teriakan itu yang ternyata adalah Jendral Irwin yang sedang memegangi perutnya akibat terkena cakaran dari werewolves yang hampir membunuhnya.


“ W-Willem “. Ucap Jendral Irwin terbata-bata menahan sakit sambil memegangi perutnya.


“ Ya, saya disini sir “. Ucap Willem.


“ Bagaimana? Apakah kita menang “.


“ Ya tentu saja sir, kita akan memenangkan pertempuran ini dan itu pasti “. Ucap Willem penuh keyakinan.


“ Ah, bagus, setidaknya aku bisa beristirahat dengan tenang “. Ucap Jendral Irwin .


“ Tidak, kau tidak boleh berucap seperti itu “. Kata Willem yang sedang menahan air matanya agar tidak keluar.


“ Sepertinya inilah waktunya, ugh, aku sudah berperang terlalu lama, sudah saatnya aku kembali kesisi para dewa “. Ucap Jendral Irwin yang berusaha melanjutkan ucapannya sembari menahan rasa sakit yang semakin bertambah.


“ Ini, ambillah pedangku, ini adalah pedang turun temurun Kerajaan Alegria, ugh, hanya prajurit terbaik yang dapat memilikinya, urghh, ambillah, kau pantas mendapatkannya ”.


“ Tidak, p-pedang ini hanyalah untukmu, t-tidak ada prajurit terbaik selain dirimu, k-kau harus bertahan hidup untuk terus menggunakannya “ ucap Willem yang sudah tidak mampu membendung air matanya.


Jendral Irwin pun hanya tersenyum dan tak lama kemudian menghembuskan nafasnya yang terakhir.


Willem pun menangis ditengah pertempurann karena kehilangan satu-satunya orang yang peduli terhadapnya, merawat dan melatihnya dengan penuh kasih sayang sehingga dia menjadi seperti sekarang, prajurit yang tangguh dan loyal.


“ Terima kasih untuk segalanya ”. Ucap Willem yang segera mengangkat mayat Jendral Irwin dan membawanya pergi meninggalkan pertempuran menuju kamp tempat mereka beristirahat tadi malam.


Disisi lain, dua orang anak kecil yang hampir diserbu pasukan ras manusia, dibuat tercengang tatkala melihat cahaya dari langit yang turun tak jauh dihadapan mereka. Dari cahaya itu sekilas nampak seperti seorang pria dengan baju putih bersih berkilau menutupi badannya, namun wajahnya tidak terlihat begitu jelas. Orang tersebut menatap seluruh pasukan manusia yang akan mendekati Arden dan Victor, dengan tatapannya yang tajam dan mengerikan.


Anehnya tidak ada prajurit manusia yang menyerangnya karena mereka merasa ketakutan dengan apa yang mereka lihat, seolah yang mereka lihat adalah malaikat pencabut nyawa. Mereka semua berdiri kaku tidak bergerak sama sekali, merasa terhipnotis dengan kedatangan sesosok orang itu yang entah kenapa, tiba-tiba muncul dari langit.


“ Cepat lari waktuku tidak lama disini, Cepat !!! “. Ucap seseorang itu kepada Arden dan Victor dan kemudian menatap kembali pasukan, anehnya setelah ditatap orang itu, pasukan tersebut menjadi linglung sepenuhnya, seolah mereka tidak mengerti mengapa mereka ada dihutan ini.


Arden dan Victor yang juga ketakutan setengah mati langsung berlari sekencang kencangnya menjauhi wilayah pemukiman yang sudah tidak tersisa apapun selain mayat-mayat yang memenuhinya.


Pertempuran pun usai dan dimenangkan oleh pasukan ras manusia, tidak ada satupun ras werewolves yang tersisa di wilayah itu, kecuali Arden dan Victor yang kepergiannya tidak diketahui seluruh prajurit.


Para prajurit yang masih berada di hutan Black Montana, segera menggali dua lubang yang besar untuk mengubur mayat-mayat pasukan dan para werewolves.


Para prajurit pun pulang ke kerajaan masing masing, dan disambut duka dan suka cita oleh rakyat dan penguasa. Mereka berduka karena kehilangan seorang Jendral yang sangat hebat, dan mereka bersuka cita karena dengan kemenangan ini, maka berarti tidak akan ada werewolves lagi yang meneror manusia diseluruh penjuru Eropa.


Sebelumnya Willem sempat menanyakan kepada salah satu prajurit yang dia perintahkan untuk membunuh kedua anak tersebut. Jawaban yang dia dapat sungguh tidak memuaskan, karena prajurit itu menjawab bahwa dia lupa akan kejadian di hutan Black Montana. Willem pun bertanya kepada prajurit lain yang menjawab bahwa para prajurit sudah membunuh seluruh ras werewolves dan mengubur seluruh mayat-mayat yang berada di hutan Black Montana, yang dia pikir, berarti kedua anak tersebut juga sudah terkubur didalam tanah.


Willem pun percaya dan tidak ambil pusing pernyataan prajurit tersebut.


Rakyat kerajaan Alegria dan Raja Alegria pun merayakan kemenangan ini dengan berpesta 3 hari 3 malam penuh. Tak lama setelah perayaan kemenangan itu, diangkatlah Prajurit Willem Anderson sebagai Jendral baru Kerajaan Alegria karena wasiat dari Jendral Irwin.


Meski begitu, Willem bukan hanya sekedar seorang prajurit yang tiba-tiba menjadi Jendral karena wasiat, namun Willem memang pantas mendapat posisi tersebut karena dia membuktikannya dengan perang-perang selanjutnya yang selalu dia menangkan, entah perang saudara, perang perebutan wilayah, ataupun perang kudeta. Hingga akhirnya, dia menjadi Jendral yang disegani oleh prajurit dan rakyat kerajaan Alegria.