Unexpected Chance

Unexpected Chance
Chapter 7 - Sakit



"Bayu, tunggu sebentar..." Panggil Zen kepada Bayu sesaat setelah selesai memberikan kopi pagi seperti biasanya.


Mendengar panggilan tersebut, Bayu yang sedang menuju pintu memutar kembali badannya ke belakang.


"Ada apa ya prof?"


"Saya lupa bilang, Gaji kamu bulan lalu sudah saya kirim ya"


"Oh iya, makasih banyak ya prof"


"Titip salam ya buat ibu mu, semoga cepet sembuh"


"Baik prof, Permisi" Bayu menunduk singkat kemudian pergi keluar kantor Zen.


Sesaat setelah pintu tertutup. Tiba-tiba Handphone bayu berdering menandakan ada sebuah panggilan masuk. Ternyata nomor sang ibu yang menelpon.


"Iya Halo Bu?"


*Suara seorang wanita terengah-engah seperti panik


"Mas...Mas Bayu... Ibu mu..." Suara wanita terjeda-jeda pelan terdengar dari panggilan telepon tersebut


"I-Ini siapa? ibu saya kenapa?!"


Mendengar suara panik tersebut, bayu terpicu panik juga.


"Mas Bayu cepet kesini"


*Panggilan telepon terputus


Sesaat setelah panggilan telepon berakhir, Bayu mengetuk kembali pintu ruangan Zen untuk meminta izin meninggalkan perkerjaan.


"Profesor, Maaf... Saya izin keluar sebentar, i-ibu saya" Ekspresi panik bercampur cemas dan sedih terpancar dari wajah Bayu.


"Ibu kamu kenapa bay?", "...Ayo saya anter"


Membaca raut wajah Bayu, Zen menyadari ada sesuatu yang urgent, menanggapi hal tersebut, dengan sigap Zen bergegas menuju mobilnya yang berbentuk kapsul mengambang.


Karena tak ingin membuang waktu lebih lama, Zen mengaktifkan fitur teleportasi mobilnya. Hanya dalam waktu sepersekian detik mereka sampai di dekat rumah Bayu.


Betapa terkejutnya Bayu ketika melihat ambulan sudah berada di depan rumahnya dan petugas sedang membawa ibunya masuk kedalam ambulan.


"IBU... IBU!!" Bayu berteriak dan langsung melompat turun dari mobil Zen yang masih melayang 1 meter dari tanah.


Bayu berlari, menembus kerumunan


tetangga untuk menghampiri petugas yang ingin memasukkan ibunya ke mobil.


Bayu ikut masuk ke mobil menemani sang ibu yang terbujur lemas mengenakan alat bantu pernafasan.


Setelah memasukkan pasien ke ambulan. Petugas mengeluarkan alat pembuka portal teleportasi untuk langsung ke rumah sakit. Ambulan berjalan memasuki portal tersebut, diikuti oleh mobil Zen dibelakanganya.


*Portal tertutup


-


"Bisa bicara dengan pihak keluarga ibu Maya?" ucap seorang pria berjas putih sesaat setelah keluar dari ruangan IGD


"Saya anaknya dok"


"Mari ikut saya"


-


"Ibu anda harus segera mendapatkan penanganan serius berupa kemoterapi untuk menghentikan pertumbuhan sel-sel kanker yang berada di paru-parunya. Jika tidak, kecil kemungkinannya ibu anda dapat sembuh jika hanya dengan minum obat" jelas sang dokter kepada Bayu di ruangannya


"Untuk biaya kemoterapinya kira-kira berapa ya dok?"


"Kalo untuk itu silahkan tanyakan ke bagian administrasi"


"Baik dok, terimakasih" Bayu berdiri dari tempat duduknya, kemudian pergi keluar dengan tatapan kosong dan raut wajah murung.


Setelah menanyakan ke kasir, Bayu berjalan lemas kembali ke ruang tunggu tempat Zen menunggu.


Melihat bayu yang terdiam lemas dengan wajah sedih, Zen hanya diam, tak menanyakan sepatah kata apapun kepada Bayu. Zen tau jika dia menanyakan, Bayu mungkin tidak akan menjawab, dan itu hanya makin memperparah suasana hatinya saat ini.


"Bay... kamu duluan aja ya ke mobil. Saya mau ke kamar mandi sebentar"


"Baik prof..."


-


"*Nak... Kamu harus terus kuliah, jangan sia-siakan beasiswa kamu... buat ayah bangga di atas sana..."


"Ayahh... Ayahhh... Ayah bangun yah*..."


Ketika mendengar jumlah nominal yang


disebutkan, Zen seketika teringat kenangan masa lalunya dan terdiam sejenak. Pegawai administrasi menyadarkan lamunannya tersebut. Di perjalanan menuju kantor, Bayu hanya terdiam tanpa sepatah kata apapun.


-


"Iya prof, makasih banyak ya udah mau repot-repot nganterin"


"Enggak, enggak ngerepotin kok.", "Saya balik ke ruangan saya ya" Zen beranjak pergi dari parkiran, meninggalkan Bayu yang masih termenung memikirkan masalah biaya rumah sakit.


Kepala bayu terasa seperti dipenuhi dengan kepulan awan gelap, beserta gambaran dirinya yang berada disana terpaku menatap dinding tinggi yang menghalangi jalannya menuju daerah yang lebih terang.


Setelah bersandar di mobil Zen dan termenung cukup lama, Bayu berusaha mengumpulkan kembali semangatnya untuk melanjutkan kembali pekerjaannya.


-


(Tabungan ku kalo ditotal, masih kurang buat kemo, itu juga cuma bisa buat bayar rumah sakit untuk beberapa minggu doang, huufftt.. aku harus kerja apalagi ya...)


*Tinnnnn... Tinnnnn... Tinnnn


Suara klakson dari sekumpulan motor yang sedang terburu-buru untuk segera pergi dari perhentian lampu merah seketika menyadarkan lamunan Bayu.


-


"Suster, gimana kondisi ibu saya?" Tanya bayu kepada suster yang baru saja keluar dari ruangan tempat ibunya dirawat


"Oh ibu anda tadi sekitar jam 3 sore sudah


tersadar, tapi sekarang sedang istirahat, karena satu jam yang lalu baru diberikan obat"


"Baik, terimakasih sus"


Bayu masuk ke ruangan, menemui ibunya yang sedang terlelap bersama alat bantu pernafasan. Bayu hanya duduk diam di sebelah ibunya. Tak terasa air mata jatuh menetes membasahi pipinya. Bayu membenamkan kepalanya di kasur, menangis tersedu-sedu membiarkan pikirannya hanyut dalam kesedihan.


"Bapak kamu kemana toh, anak istrinya kesusahan malah ngilang"


Bayu teringat dengan kalimat ibu-ibu penjual nasi uduk dekat rumahnya itu


(Bapak... Bapak dimana...)


Bayu seketika mengangkat kepalanya lalu bangun dari tempat duduknya dan beranjak pergi menuju rumah.


-


Saklar lampu yang berada di sebuah dinding tua, ditekan sehingga berganti posisi yang kemudian disusul oleh nyala lampu menerangi ruangan tersebut.


(Semoga masih ada, semoga belom dipindahin ibu) ucap bayu dalam hati saat sampai di rumah.


Bayu membuka laci kecil di sebelah kasur ibunya. Tapi ternyata laci tersebut terkunci, dengan segera Bayu mencari kuncinya. Setelah cukup lama mengecek seluruh sudut ruangan, akhirnya bayu menemukannya.


Wajah bayu seketika berubah ketika berhasil membuka laci


kecil itu. Ternyata foto sang ayah tidak ada di dalamnya. Bayu duduk pasrah di kasur kamar ibunya.


Padahal tadinya dia ingin men-scan foto


ayahnya tersebut untuk menemukan alamat ayahnya.


Karena rencananya tersebut gagal, Bayu beranjak pergi menuju kamarnya untuk merenungi segala hal yang terjadi.


-


"Ibu, berangkat kerja dulu ya nak, kamu belajar yang rajin, biar jadi orang"


"Iya bu, ibu hati-hati ya kerjanya, pake masker ya bu, gasnya bahaya"


Dulu, ibu Bayu bekerja di sebuah pabrik pengolahan bahan tambang yang mengandung zat uranium. Selama proses pengolahan di pabrik tersebut, para pekerja terbiasa terpapar gas Radon.


Meskipun sudah dipasang ventilasi dan pembersih udara, tapi tetap saja jika terus menerus terpapar akan berdampak pada kesehatan. Bayu sendiri tau bahaya tersebut, namun ia tidak bisa menghentikan pekerjaan ibunya itu, karena selama ini hanya dari pekerjaan itu lah mereka berdua bertahan hidup.


Jika ternyata ujungnya akan seperti ini, mungkin Bayu akan mencarikan pekerjaan lain untuk ibunya.


- -


*Suara dering alarm handphone di pagi hari


*Alarm mati


(Heuh gue masuk kuliah pagi lagi, capek banget dah ah) Nadia mengangkat tubuhnya dari tempat tidur lalu melakukan peregangan.


"Masih jam 5 ternyata, hoaammm..." Nadia


menguap lalu tertunduk lemas menunggu nyawanya terkumpul.


"Bangun nad bangun! Gue ga boleh teleport


lagi, bisa miskin gue" ucap Nadia ke dirinya


sendiri dengan menepu-nepuk pipinya agar


segera tersadar.


- - -