Unexpected Chance

Unexpected Chance
Chapter 5 - Mimpi



"Jadi gimana perkembangan perusahaan kamu semenjak Vei gabung? Udah hampir 9 bulan loh, masa ga ada perubahan" tanya Hannah sambil sarapan bersama anak dan suaminya.


“Loh kamu lupa kah? kemaren aku baru


mengeluarkan Robot baru, untuk memenuhi permintaan menteri pertahanan" jawab Zen


dengan nada sombong.


"Ah iya lupa, terus sekarang kamu rencananya mau mengembangkan apa lagi?"


"Nah ini, jadi sekitar setahun yang lalu itu, aku lagi merancang robot humanoid yang 99,9% mirip sama manusia asli, tapi aku stuck di bagian program emosi dan kesadarannya...", "...Kamu mau kan bantuin bikin programnya? mau ya mau... pliss... pliss...” pinta Zen dengan raut muka memohon.


"Dih males, kerjaan ku juga banyak kali" jawab Hannah dengan memutar bola matanya.


"Pliss... pliss... plisss..." Zen kembali memohon dengan memanjangkan nadanya.


"Gak" jawab Hannah singkat disertai ekspresi ketus


"Plissss....." Zen memohon kembali kali ini dengan raut muka lebih memohon dan nada lebih panjang.


"Ayah ayo berangkat" teriak Nia yang baru


keluar dari kamarnya dan sudah selesai minum susu.


"Tuh, anterin Nia sana" Perintah Hannah kepada suaminya untuk mengalihkan pembicaraan


"Sebentar ya sayang, Ayah abisin dulu


sarapannya" ucap Zen ke anaknya lalu


mempercepat makannya.


"Ayo yah cepetaannn" Rengek Nia sambil


menarik-narik pelan baju ayahnya.


- -


- -


"Bayu.... A-a-aku minta maaf"


"Fira... kenapa?"


"Aku... besok mau tunangan sama Tomy"


-


"HAHH!" Bayu seketika terbangun dari


tidurnya, sambil berusaha mengumpulkan kesadarannya, dan mengingat-ingat kembali wajah seseorang yang ada di mimpinya barusan.


(Fira? Siapa itu? Ah mungkin maksudnya Nadia. kenapa aku mimpiin dia ya?) tanyanya dalam hati.


Bayu melihat jam, ternyata sudah jam 5 pagi.


-


"Eh iya bu, beli 2 ya"


"Duduk dulu mas, duduk" Ibu penjual


nasi uduk itu mengambil kursi plastik. "Ibu kamu gimana kabarnya?" Lanjutnya sambil menyiapkan kertas nasi.


"Alhamdulillah udah agak mendingan" jawab Bayu sambil duduk.


"Alhamdulillah kalo gitu..", "Bapak kamu kemana toh, anak istrinya kesusahan malah ngilang” lanjut si ibu sambil menyendok nasi uduk.


"Gak tau lah bu, udah bahagia kali sama istri barunya".


"Emang dasar lakik tuh ya gitu, dulu juga ibu gedein si Firman sendirian dari kecil, eh sekarang pas anaknya udah sukses, ngemis-ngemis minta balik, bla... bla... bla..." ucap si ibu panjang lebar sambil tetap menyiapkan nasi uduk.


Bayu terhenyak sejenak, tak memperdulikan lanjutan dari rentetan kata yang keluar dari mulut wanita paruh baya tersebut. Bayu termenung berusaha mengingat wajah ayahnya yang pergi meninggalkan dia saat berusia sekitar satu tahun, ia hanya bisa melihat wajah ayahnya melalui foto pernikahan kedua orangtuanya yang disimpan sang ibu di laci meja kamar ibunya.


"Bay.. mas bayu?" panggil si ibu penjual nasi uduk yang telah selesai menyiapkan 2 bungkus nasi sambil menepuk pundak bayu.


"Eh.. udah jadi ya bu? Ini uangnya ya bu" Bayu seketika tersadar, lalu kemudian segera memberikan uangnya dan beranjak pergi menuju rumah untuk sarapan bersama ibunya.


Bayu melihat jam di tangannya, ternyata masih setengah tujuh pagi, tapi kendaraan sudah ramai lalu lalang menuju tujuannya masing masing. Bayu lupa ternyata hari ini tanggal 1 September yang mana merupakan hari gajiannya dan hari ini tepat satu tahun dia bekerja di kantor Zen


- -


- -


"NADIA! AWASS!!" Teriak Bayu sambil berlari menghampiri Nadia untuk mendorongnya.


Tembakan laser bertegangan tinggi diarahkan ke Nadia yang ditembakkan dari sebuah lengan robot berbentuk prajurit humanoid.


Mendengar teriakkan Bayu, Nadia yang sedang memberikan pertolongan pertama ke korban di dekat kamp perlindungan sontak menoleh kearah sumber suara, selang beberapa detik Bayu berhasil mendorong Nadia sehingga terhempas


menjauh dari arah target serangan.


"BAYUUU!!!" teriak Nadia saat melihat laser menembus tubuh bayu.


-


"Bayu!!!" , "Hahh..Hahh.." Nadia seketika


terbangun dari tidurnya disertai nafas terengah-engah.


Sejenak Nadia berusaha mengendalikan nafasnya, kemudian menoleh kearah jam dinding di sebelah kanannya. Waktu menunjukkan pukul 07:00 pagi.


"Astaga! Aku terlambat" Nadia menepuk jidatnya yang kemudian segera bergegas mempersiapkan diri untuk kuliah hari pertamanya jam 07:30 nanti.


Dikarenakan waktu sudah sangat mepet, Nadia terpaksa merogoh kocek cukup banyak untuk menggunakan layanan portal teleportasi ke stasiun terdekat kampusnya


(Hufftt gila mahal banget, bisa-bisa makan batu tiap hari gue kalo teleport terus gini. Kalo aja gue ga mimpi buruk, mungkin belom bangun. Tapi aneh banget sih mimpi tadi, kenapa gue mimpiin Bayu ya) Nadia bertanya-tanya dalam hati sepanjang perjalanan menuju kampusnya yang berjarak sekitar 50 meter dari stasiun teleportasi.


- - -