
"Nad... Nadia..!"
Nadia yang sedang berjalan terburu-buru menuju ruang kuliah, mendengar suara seseorang memanggil namanya. Menyadari hal tersebut, Nadia menghentikan langkahnya, dan menoleh kebelakang untuk membuktikan pendengarannya.
Dari jarak sekitar 10 meter darinya, Nadia melihat sesosok pria bernama Ditto, teman SMA-nya yang sama-sama diterima di Universitas tersebut.
"Tunggu Nad.." Ditto bergegas menyusul temannya itu.
"Buru-buru amat, mau ngapain sih?"
"Lo ga liat ini udah telat?" Nadia menunjukkan jam tangannya ke Ditto
"Santuy aja kali, lo ga buka grup ya?", "...Dosennya ijin telat"
"Hah serius?" tanya Nadia terkejut dan segera mengeluarkan HP dari kantong celana jeansnya.
"Serius lah, ngapa boong sih gue. Buka grup makanya" Ditto menunjukkan Hpnya di hadapan wajah Nadia.
"Tadi tuh gue kesiangan, saking buru-burunya sampe lupa cek hape" ucap Nadia sembari mengecek grup kelas.
"Anak perawan kok kesiangan, gimana sih.. Atau jangan-jangan udah ga perawan lo ya? hahaha" ledek Ditto ke teman akrabnya itu sambil meneruskan perjalanan dengan pelan.
"Kurang ajar lo kalo ngomong hahaha" Nadia membalas ledekan temannya itu dengan menghadiahkan tempelengan ke kepala Ditto.
"Ah *****..." , "...Tau gitu gue ga usah teleport tadi" lanjut Nadia yang sudah membaca pemberitahuan di grup kelas dengan ekspresi kesal.
"Hah? Serius lo ke kampus aja teleport? Gila gila..." , "...Lagi banyak duit lo ya?" Ditto menimpali dengan geleng-geleng kepala pelan.
"Pala lo banyak duit. Itu jatah makan seminggu gue tuh. Ga tau dah ntar gua makan apa akhir bulan. heuhh" Keluh Nadia dengan memegang keningnya menyesali uangnya yang terbuang sia-sia.
"Gak bisa..." bola mata Nadia turun kebawah menatap lantai koridor. "...Gua lagi marahan sama dia" ekspresinya seketika berubah jadi murung
"Marahan kenapa dah?" Ditto menoleh ke arah sahabatnya itu.
"Ya gitu deh... dia gak terima aja gua kuliah di jurusan ini. Maunya jurusan pilihan dia" Nadia masih melanjutkan langkahnya dengan mata menatap ke bawah.
"Basi banget ***** drama lo hahaha. Asli dah kek sinetron"
"Serius gue Dit, gue selama sebulan kemaren, cuma minta duit nyokap"
Nadia dan Ditto sampai di kelas. Suasana kelas ternyata masih sepi, mereka berdua kemudian duduk di bangku yang berbentuk bangku teater dan melanjutkan obrolannya.
"Ya menurut gue sih, lo harus segera nyelesain ini, lo ngomong baik-baik, jelasin aja semuanya, lo pasti belom ngelakuin itu kan?"
"Gimana mau gitu, tiap kali gue ajak ngobrol pas lagi senggang, dia langsung pura pura sibuk gitu." , "Akhirnya gue keburu pergi buat ngerantau, dan itu juga cuma dianter nyokap gue"
"Coba lo minta tolong nyokap lo buat jadi
perantara gitu. Ntar malem pas dia udah pulang kerja, lo bilang ke nyokap mau ngomong di telpon, gimana caranya terserah deh, bilang aja ke nyokap ada telpon dari klien, pasti dia bakal mau jawab telpon itu."
"Hm iya ya, ngapa gak kepikiran gue. Okedeh ntar gue coba..." , "Makasih ya Dit, lo emang bestfriend gue banget dah" Nadia kemudian memeluk sahabatnya itu.
"Nad, Nad, apaan si.. diliatin *****" Ditto reflek berusaha melepaskan diri dari pelukan Nadia karena merasa tidak enak dipeluk di depan umum.
Nadia dan Ditto merupakan sahabat sejak SMA. Dulu mereka pernah menjadi tetangga satu komplek, ketika di sekolah mereka kemana pun selalu bersama meskipun beda kelas, dan sekarang mereka bersama lagi dalam satu kelas di program studi Teknik Biorobotik.
- - -