
Hari masih pagi, tapi pikiran Zen sudah dipenuhi dengan rasa penasaran terhadap kabar Vei temannya itu. Lagi-lagi dia bengong di tempat yang sama seperti semalam, dan lagi-lagi aksinya itu dilihat istrinya yang sedang menyiapkan sarapan.
"Malem bengong, pagi bengong. Bengong
teroossss!"
Omelan pertama istrinya pada pagi itu, seketika menyadarkan Zen yang sedang berusaha mengingat nama email Vei.
"Ehh, mamah..." Ucap zen yang seketika
membalik badan "Udah jadi mah sarapannya?" lanjut Zen menyeringai kecil.
"Jelas udah dong, kan aku gak bengong doang kerjaannya kayak kamu!" Lagi-lagi istrinya mengomel.
"Aku ajak Nia ke bawah ya" ucap Zen
mengalihkan pembicaraan, lalu bergegas menjemput anaknya yang sedang bermain di taman bermain rooftop apartemen.
Setelah sarapan, Zen dan Nia pamit. Zen pergi ke kantor sekalian mengantar anaknya ke sekolah PAUD. Istrinya membereskan apartemen lalu bersiap untuk pergi meeting jam 9 pagi nanti.
-
"Selamat pagi professor Zen" ucap Bayu,
seorang Office Boy manusia satu-satunya di kantor tersebut.
"Pagi juga" balas Zen dengan senyuman ramah.
Sesampainya di depan pintu ruangannya, Zen membuka kunci ruangannya dengan men-scan telapak tangannya.
"Selamat pagi profesor Zen, Ada yang bisa saya bantu?" Suara asisten virtualnya yang berbentuk hologram.
Zen memerintahkan asisten virtualnya untuk menyalakan PC, lalu menghadapkan wajahnya ke layar hologram untuk membuka kunci.
"Akses diberikan" Suara asisten virtualnya.
"Ada lagi yang bisa saya bantu?"
"Tolong carikan email yang terdapat nama
Veizha" perintah Zen
"Berikut hasil pencarian yang saya dapatkan"
Layar hologram muncul di depan Zen, menampilkan satu hasil pencarian. Email yang ditemukan itu tertulis tahun 2095. Zen terdiam sejenak, mengingat sudah cukup lama dia tidak menghubungi temannya tersebut.
Di tengah lamunannya itu, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
"Profesor Zen, ada seseorang yang ingin
bertemu dengan anda, berikut tampilan
wajahnya, apakah anda mengijinkannya
masuk?"
Layar hologram menampilkan wajah Bayu
"Oh Bayu, bukakan pintu" perintah Zen.
Pintu bermaterial campuran plastik dan metal yang bertekstur kayu tersebut bergeser ke samping sehingga terbuka sesaat setelah perintah diucapkan.
"Selamat pagi prof, ini saya buatkan kopi seperti biasanya" ucap Bayu menuju meja kerja Zen lalu meletakkan secangkir kopi.
"Oh iya, terimakasih ya Bayu"
"Sama-sama prof. Permisi..." ucap Bayu
menunduk singkat lalu beranjak pergi.
Zen membalas dengan senyuman, lalu pintu tertutup.
Melihat Bayu yang begitu sopan. Zen jadi
teringat kejadian ketika dulu Bayu menemuinya untuk melamar pekerjaan, padahal saat itu kantornya sudah tidak menerima lamaran OB manusia.
"Halo profesor, anda baik-baik saja?" suara asisten virtualnya yang telah diprogram untuk menyadarkan Zen jika terdeteksi melamun.
Program anti-bengong tersebut dibuat oleh siapa lagi jika bukan istrinya yang tau betul suaminya sering bengong.
Seketika Zen tersadarkan. Zen memerintahkan asistennya untuk mengirimkan email ke Vei.
Ingatan Zen kembali melayang ke suasana
penuh emosional yang menggetarkan jiwa
ketika Bayu memohon untuk diterima kerja karena membutuhkan uang untuk pengobatan ibunya.
Kala itu, Zen jadi teringat dengan ingatan masa lalunya saat ia seumuran bayu.
"Halo profesor, anda baik-baik saja?"
Lagi-lagi asisten virtualnya menyadarkan lamunannya itu.
(Asisten virtual rese, ga bisa apa ga ganggu hobi orang sekali aja) umpat Zen dalam hati.
Setelah tersadar untuk kedua kalinya. Zen
kembali mengerjakan proyek pengembangan robot humanoid rancangannya.
Meskipun sudah menjabat sebagai seorang CEO. Zen masih sering turun ke bengkel produksi, dan tak keberatan jika harus ikut menganalisis suatu permasalahan dalam proses produksi, bahkan Zen sering ikut serta dalam proses pengembangan robot baru.
Proyek yang sedang dikerjakannya kali ini sebenarnya hanya sebuah proyek pribadi. Zen berencana untuk membuat sebuah robot humanoid yang memiliki kemiripan 99,9% dengan manusia asli.
Di tengah-tengah melakukan pekerjaannya itu tiba-tiba ada panggilan video masuk dari istrinya.
hologram muncul.
"Hayo ketauan kan kamu udah bengong
sebanyak 5 kali dari jam 8 sampe 10 pagi ini" ucap sang istri tanpa salam tanpa basa-basi.
"Si-siapa juga yang bengong. itu program mu yang error kali" balas Zen membela diri
"Ah masa sih? Coba ku liat”, “Zeiri tolong tampilkan rekaman video Zen lagi bengong"
"Baik Ny. Han". Asisten virtual kemudian
menunjukkan hasil rekaman sebanyak 5 video.
"Gak ada yang error tuh, hasil rekamannya menunjukkan kamu bener-bener bengong selama lebih dari 2 menit" jelas istrinya
"Iya deh iya, kamu bener..." balas Zen mengalah, "...Tujuan kamu nelpon mau ngasih tau itu doang?" Lanjut Zen.
"Eh iya lupa kan. Aku mau minta tolong jemput Nia, terus sekalian jagain dia sebentar ya sampe jam 12 nanti. soalnya nanti aku ada meeting lagi jam 10:15 sampe jam 12. Oke? Dah ya see you, aku mau ke ruangannya nih, love you" Pinta sang istri dan langsung mengakhiri panggilan.
"Cantik-cantik bawel. Untung sayang" umpat Zen yang kemudian bergegas pergi meninggalkan ruangan untuk menjemput anaknya.
-
"Haii sayang, anak cantik ayah udah selesai sekolah ya..." Zen menghampiri anaknya yang sedang duduk di bangku taman bermain bersama gurunya.
"Loh... Mamah mana kok gak jemput aku" tanya anaknya dengan nada kecewa dan cemberut.
"Utututu... Anak ayah ngambek. Mamah kamu ada meeting sayang.. jadinya ayah deh yang jemput kamu..." ucap Zen sambil mengusap rambut anaknya
"Saya tinggal ya pak.." ucap guru yang telah menemani anaknya.
"Ohiya.. Terimakasih banyak ya Bu" ucap Zen tersenyum ramah.
"Ayah.. beli kembang api... Ayo yah beliii..." rengek sang anak sambil menarik-narik tangan Zen
"Tokonya belum buka kalo jam segini sayang.. Ayah beliin eskrim aja ya, mau ya?"
"Mauuu!!" Teriak sang anak kegirangan lalu melompat turun dari tempat duduknya, "Ayo yah ayoooo..." bujuk anaknya dengan penuh semangat
Zen beranjak dari tempat duduknya lalu
berpamitan dengan guru anaknya dari jauh, dan beranjak pulang bersama anaknya. Zen menemani anaknya bermain sampai sang istri pulang. Setelah itu, ia kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaannya.
Sesaat setelah dia duduk di kursi kantornya. Asisten virtualnya memberitahukan balasan email dari Vei. Betapa terkejutnya dia, ketika mengetahui secepat itu Vei membalas emailnya. Karena biasanya Vei seringkali slow respon.
Vei meminta nomor telepon Zen agar
bisa dia hubungi lebih lanjut melalui chat. Vei bilang jika ia mengganti handphone lamanya, sehingga semua kontak temannya hilang. Menanggapi hal tersebut, Zen mengirimkan nomor teleponnya agar bisa dihubungi lebih lanjut oleh Vei.
-
*Ting nung. Bunyi notifikasi chat.
"***Halo zen, ini Vei"
"Btw, soal email mu tadi pagi. Aku setuju aja sih"
"Kamu Serius Vei? Ini benar Vei yang aku kenal kan?"
"Maksudmu?"
"Never mind...”
"Oh iya soal kelanjutannya, besok kamu ke kantor ku aja ya, kita bicarakan lebih lanjut"
"Ok Zen***"
Zen terdiam sejenak. Respon yang ia terima benar-benar di luar ekspektasinya. Sejujurnya Zen tidak berharap banyak Vei akan setuju ikut bergabung ke perusahaannya. Dia sendiri sebenarnya tidak terlalu yakin dengan keputusannya untuk merekrut Vei.
Awalnya Zen berpikir, akan hebat nantinya jika 2 orang yang sama-sama hebat bergabung di satu perusahaan.
"Halo profesor, anda baik-baik saja?" Suara asisten virtualnya.
Tanpa sadar Zen kembali hanyut dalam
lamunannya. Zen lupa untuk menanyakan keputusannya ini kepada sang 'ibu negara'.
Sepertinya dia harus menebalkan telinganya nanti saat di rumah.
-
"Ya aku sih ga masalah dia gabung ke
perusahaan kamu atau ga. Kan itu juga udah keputusan mu. Toh juga itu udah terlanjur kan. Malah bagus dong semisal dia emang beneran gabung"
Seperti dugaan Zen istrinya akan berbicara panjang kali lebar terkait keputusannya itu.
Menanggapi istrinya yang mengoceh sambil menyiapkan makan malam, Zen mencoba menggodanya.
"Tapi kamu ga cemburu kan?" tanya Zen dengan menaik-turunkan alisnya disertai
ekspresi menggoda.
"Jelas dong aku cemburu. Cemburu kan tanda cinta" jawab istrinya dengan mengedipkan mata dan tersenyum manis.
Zen tertawa kecil mendengar jawaban istrinya tersebut. “Ah masa sih?” lanjut Zen kembali menggoda sang istri.
"Dah dah, panggilin Nia sana, kita makan dulu"
Zen dan istrinya memang dua sejoli yang unik. Keduanya memiliki sifat yang cukup kontras, tetapi memiliki minat sama, hanya saja beda konsentrasi ilmu yang dipelajari. Istri Zen, lebih tertarik untuk mempelajari pemrograman dan artificial intelligence. Sementara Zen lebih mendalami ke bagian sistem kendali mekanik dan elektronik.
- - -