
57... 58... 59... *Tengg...
Bunyi lonceng jam besar di sebuah pusat kota yang disusul dengan dentuman keras kembang api mengawali bisingnya kota tersebut tepat disaat jarum jam berada di angka 12, yang berarti sebagai penanda hari yang telah berganti begitupun dengan tahun. Kalender digital di seluruh gadget yang dimiliki setiap orang menunjukkan tahun 2101. Tahun ini merupakan awalan tahun di abad 22. Semua orang sepertinya sangat gembira menyambut tahun ini. Hal itu terlihat dengan begitu banyaknya manusia maupun robot menyerupai manusia yang ikut memeriahkan pergantian tahun ini.
Pada abad ini, manusia dan robot hidup saling berdampingan. Sejauh mata memandang hampir tidak mungkin rasanya tidak melihat berbagai macam robot ikut berjalan bersama di kerumunan kota.
Perkembangan teknologi yang sangat pesat memungkinkan dibuatnya robot yang mampu menyerupai manusia, baik secara fisik, maupun kecerdasan seperti halnya manusia. Malam itu, tak seperti malam biasanya yang cukup sunyi. Dentuman kembang api tak henti-hentinya menghiasi langit malam, sehingga membuat dihentikannya lalu lintas drone di beberapa titik kota itu.
Dari ketinggian, di lantai 25 sebuah gedung apartemen bintang 5. Berdiri seorang laki-laki berusia kepala tiga menatap keluar dari jendela besar apartemen. Laki-laki ini merupakan seseorang di balik kemajuan teknologi zaman itu. Pria yang sejak kecil sangat menyukai robotik ini merupakan tokoh yang sangat berpengaruh di kota bahkan di negara dan dunia ini. Dia bukan presiden, ataupun pemangku jabatan pemerintahan lainnya. Dia hanya seorang profesor dengan rentetan gelar dan prestasi membanggakan, yang terus belajar bidang ilmu yang dia sukai tersebut sampai sekarang. Lelaki ini sering dipanggil Zen.
Di usianya yang terbilang masih muda, bukan hal yang mustahil untuk dia menjadi CEO perusahaan besar teknologi ternama di dunia yang produknya telah digunakan hampir seluruh umat manusia di sepanjang abad ini. Dulu sewaktu Zen masih mengejar gelar sarjananya, Zen merupakan mahasiswa yang cepat belajar dan beradaptasi. Hal itulah yang membuatnya sejak di bangku kuliah cukup menonjol dibandingkan yang lain. Namun demikian, bukan hanya Zen seorang lah yang ikonik di kampus tersebut. Selain Zen terdapat satu orang lainnya yang merupakan rival sekaligus teman dekat Zen.
Namanya Veizha biasa dipanggil Vei. Mereka berdua memiliki tingkat kompetensi yang hampir sama. Akan tetapi tidak dengan sifat keduanya. Vei memiliki sifat yang cukup keras kepala. Vei selalu bersikeras membuktikan bahwa dia lebih baik dan lebih ahli dari Zen.
Selain bergerak di bidang teknologi robotika, Vei juga merupakan seorang aktivis penjunjung kesetaraan gender. Vei sering menyuarakan hak-haknya sebagai wanita yang seringkali ditindas.
"Ayah..."
Suara seorang anak perempuan berusia 5
tahun memecah keheningan ruangan tempat Zen berdiri merenung.
"Loh sayang, kamu kok belum tidur?" Tanya Zen sambil membungkuk lalu menggendong anaknya.
"Tadi udah tidur, tapi kebangun gara-gara
kembang api, terus langsung nyariin ayahnya tuh"
Zen seketika menoleh ke arah sumber suara, yaitu istrinya yang baru saja keluar dari kamar.
"Kamu sendiri kenapa gak tidur dari tadi?" Lanjut sang istri menghampiri Zen.
"Emm, lagi pengen merenung aja"
Zen menjawab lalu mengalihkan perhatiannya kembali ke luar jendela.
"Ahh sakit mah sakit.." seketika Zen reflek berusaha melepaskan cubitan istrinya.
*Nguingggg.... duarrrr* Suara kembang api meluncur dan meledak di langit.
"Ayah, ayah liat! kembang api yah! Gede banget wahhh!" Seru anaknya dengan penuh decak kagum
Zen hanya tertawa kecil melihat tingkah
anaknya
"Yah beli yah beliii..." pinta anaknya merengek
"Iya nanti kita beli ya, tapi kamu harus tidur dulu sama mamah" Zen menyentuh pelan hidung anaknya yang kemudian mengarahkan jarinya menunjuk sang istri.
"Yuk sini bobo yuk sayang, besok kita beli"
ucap istrinya membujuk sang anak. "Kamunya tidur juga sayang, dia ga bakal tidur kalo ga ada ayahnya" lanjut istrinya menyentuh hidung Zen seperti yang dilakukan Zen ke anaknya
Zen pun menurut dan berjalan menuju kamar.
"Kamu tadi ngapain sih malem malem bengong, ada masalah?" Tanya istrinya sambil berjalan menoleh kearah Zen.
"Ah, cuma mengenang masa lalu doang kok"
Zen menjawab tanpa mengalihkan pandangannya ke depan menatap gagang pintu di depannya.
"Oh iya, omong omong, gimana kabar temen mu itu"
"Temen ku yang mana?" Tanya Zen bingung sembari membuka pintu kamar
"Itu loh yang aktivis itu"
- - -