Unexpected Chance

Unexpected Chance
Chapter 3 - Pertemuan



"Profesor Zen ada?" Tanya seorang wanita kepada Bayu pukul 7.30 pagi di lobby kantor.


"Oh maaf, profesor belum sampai, sepertinya sedikit lagi sampai. Jika ibu tidak keberatan, ibu bisa menunggu di sebelah sana" Bayu menunjuk ke sudut ruangan.


"Oh iya, terimakasih ya mas"


"Sama-sama" ucap Bayu dengan senyuman ramah


Vei membalas senyumannya lalu berjalan ke tempat yang ditunjukkan bayu


(Sialan, dia manggil aku ibu-ibu) umpat Vei dalam hati


-


"Selamat pagi profesor" Bayu menyapa Zen yang baru saja sampai.


"Iya pagi" Zen membalas dengan senyuman ramah


"Maaf profesor, ada yang sedang menunggu anda di ruang tunggu.." ucap Bayu menunjuk ke arah ruang tunggu.


"Oh, dia perempuan bukan?"


"Iya benar prof"


"Baik, terimakasih infonya ya Bayu"


"Sama-sama prof" Bayu menunduk singkat lalu melanjutkan pekerjaannya.


Zen bergegas untuk menemui wanita tersebut. Dari kejauhan Zen melihat sesosok wanita menggunakan stelan blazzer rapih dengan model rambut long ponytail sedang duduk manis menyilangkan kaki kananya ke atas dengkul kirinya.


Melihat Zen yang mendekat kearahnya, wanita tersebut berdiri.


"Hai Zen.. apa kabar?" panggil si wanita itu sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Zen


"Vei..?" Zen terdiam sesaat "...Kabar baik" Zen membalas jabat tangan wanita itu sambil berusaha mengingat-ingat wajah Vei.


"Iya... Kenapa Zen? Kamu lupa kah dengan muka ku?" ucap Vei terheran dengan mengangkat alisnya.


"Eh enggak, aku cuma sedikit pangling aja. Kamu agak beda dari yang dulu" jawab Zen dengan memegang tengkuk lehernya


Mendengar jawaban dari teman lamanya itu, Vei tertawa kecil.


"Zen Zen.. jelas dong aku agak beda, dulu kan aku masih 20 an. Sekarang aku udah kepala tiga hahaha"


"Ah iyaya hahaha" Zen ikut tertawa kecil "Eh iya, yuk langsung aja ke ruangan ku"


-


"Selamat datang profesor Zen" sambut asisten virtual Zen


"Wah hebat ya ruangan mu, kayak di film-film hahaha" ucap Vei terkagum saat masuk ke ruangan Zen.


"Ini kamu semua kah yang buat?" Vei menunjuk layar hologram dan asisten virtual kantor Zen.


"Eh bukan. Ini istri ku yang buat"


"Loh kamu belum tau kah?", "Hannah, kamu kenal kan?" jawab Zen lalu ikut duduk di samping Vei.


"Hannah? Kating kita dulu itu? yang galak itu? Waduhh gila gilaaa..." ucap Vei terkejut menggelengkan kepalanya pelan.


"Hahaha iya, galaknya ga ilang ilang sampe sekarang, sebelas dua belas lah sama kamu hahaha"


Vei dan Zen berbincang-bincang banyak hal, selain membicarakan tentang rekrutmen, mereka berdua juga bernostalgia bersama tentang masa-masa saat mereka mengejar gelar sarjana. Hasil akhir dari perbincangan yang cukup lama itu menghasilkan keputusan Vei direkrut menjadi wakilnya Zen.


- -


"Halo bos. Bagaimana kelanjutannya? rencana kita, berhasil kan?" suara seorang lelaki di panggilan telepon


"Santai, santai, semua berjalan sesuai rencana. Tinggal kita tunggu tanggal mainnya..." suara seorang perempuan yang kemudian mengakhiri panggilan


- -


*Tok tok tok. Bunyi seseorang mengetuk pintu ruangan Zen


"Profesor Zen, ada seseorang yang ingin


bertemu dengan anda, berikut tampilan wajahnya, apakah anda mengijinkannya masuk?"


"Bukakan pintu" perintah Zen ke asisten virtualnya


*Pintu terbuka


"Pagi Zen"


"Pagi.. Ada apa Vei?" Jawab Zen tanpa memalingkan wajahnya dari layar komputer.


"Emm anu, aku bingung aku ditugaskan dimana ya hari ini." ucap Vei canggung disertai ekspresi bingung


Mendengar ucapan Vei tersebut, Zen menepuk jidatnya "Ah iya, aku lupa memberitahukan mu tentang itu kemarin"


"Zeiri, panggilkan drone D120N3" perintah Zen


"Baik profesor", “Memanggil D120N3”


Dalam waktu sepersekian detik drone tersebut sampai di ruangan Zen.


"Halo profesor Zen. Ada yang bisa saya bantu?"


"Tolong kamu pandu Vei ke laboratorium


pengembangan, dan jelaskan kepadanya prosedur yang dilakukan disana. Mulai hari ini dia saya tugaskan untuk menjadi pengelola dan penanggung jawab lab"


"Baik profesor. Mari ikuti saya ny. Vei"


Drone berbentuk bulat seperti telur seukuran bola basket itu pergi meninggalkan ruangan yang kemudian disusul oleh Vei.


*Pintu tertutup


- - -