
Mary dan Guillaume saling berdiri berhadapan. Kedua tangan mereka saling menggenggam.
“Terima kasih, Mary, atas semua bantuanmu selama ini. Aku berutang banyak padamu,” kata Guillaume.
“Sama-sama. Terima kasih juga karena sudah mengizinkanku mengalami keajaiban demi keajaiban. Ini pengalaman yang luar biasa.” Mata Mary berkaca-kaca saat mengucapkannya.
Mereka saling berpelukan erat.
“Aku sangat menyukaimu, Mary,” bisik Guillaume.
“Aku juga.”
Kemudian mereka saling melepaskan diri. Mereka bertatapan cukup lama sampai Guillaume mengeluarkan
sesuatu dari saku celananya. “Ini kenang-kenangan untukmu.”
Mary menerimanya. Sebuah toples bening yang mungil berisi sesuatu yang berwarna hijau terang berpendar-pendar kemudian menghilang seiring benda itu luruh. Namun muncul lagi sinar-sinar kecil yang baru beraneka warna. “Kembang api!” seru Mary tak percaya.
“Ya. Aku menangkapnya sewaktu di Edinburgh.” Guillaume terkekeh.
“Terima kasih. Ini indah sekali.”
Penjaga gerbong kereta sudah menyuruh penumpang masuk ke kereta.
“Naiklah ke kereta. Sampai jumpa, Mary,” Guillaume memeluk Mary sekali lagi sebelum melepaskan gadis itu.
Mary tersenyum manis. “Sampai jumpa! Jangan sampai terlambat menyelamatkan dunia!”
Guillaume tergelak. Pasti yang dimaksud Mary adalah kutukan Sinclair Laurent yang masih berlangsung di kotanya. Saat ini penduduk Colmar baik-baik saja. Namun siapa yang tahu, mungkin beberapa jam lagi akan ada orang yang mengeluhkan kegemukan yang tiba-tiba?
Mary menoleh sekali lagi. Kemudian ia masuk ke kereta, bergabung dengan penumpang kereta yang lain.
***
Mary melanjutkan hidupnya seperti biasa. Ia kembali ke Bandung, mengurus bisnis barnya, mengadakan rapat
dengan desainer interior untuk mengembangkan dekorasi bar. Guillaume juga berhasil mengatasi sisa insiden yang terjadi selama Fenomena Tahun Sinclair. Setidaknya ia bisa lega selama dua puluh tahun ke depan. Mereka masih saling bertukar kabar lewat aplikasi chatting.
Awalnya selama tiga minggu pertama, mereka masih rutin chatting setiap hari. Kadang-kadang mereka menyempatkan diri untuk video call. Namun kesibukan masing-masing membuat frekuensi komunikasi mereka berkurang. Akhirnya mereka berhenti saling menghubungi satu sama lain tiga bulan setelah kembalinya Mary ke Indonesia.
***
Tujuh bulan kemudian
Armand memilah-milah kartu Natal yang diterimanya pagi ini. Pagi ini tanggal 24 Desember. Suasana Natal yang kental begitu terasa di Colmar. Ornamen Natal dipasang di pintu rumah atau pintu toko sejak empat hari belakangan. Laurent Bakery pun didekorasi sedemikian rupa. Mendekati Natal, toko kue itu semakin ramai.
Armand menyerahkan dua buah kartu kepada Guillaume. Guillaume tersenyum melihat kartu Natal serta kartu pos yang dikirim ibunya dari Selandia Baru. Kartu Natal satu lagi yang diterimanya membuat senyumnya semakin lebar. Kartu Natal tersebut juga disertai dengan kartu pos yang dikirim Mary dari Praha. Potongan-potongan kenangan dari gadis itu masih melekat kuat di memorinya.
Ting! Lonceng yang digantung di pintu toko berdenting, menandakan ada orang yang masuk ke toko. Baru saja Guillaume mau memberitahukan orang itu bahwa hari ini toko tutup. Namun begitu melihat siapa yang datang, ia tersenyum hangat. Perempuan jangkung berambut pirang stroberi itu meletakkan semangkuk angsa panggang dan sebotol burgundy.
“Selamat pagi,” Gadis itu memeluk Armand dan mengecup pipi Guillaume.
“Selamat pagi, Charlotte,” balas Guillaume sambil merangkul gadis itu. Sudah tiga bulan Guillaume mengencani Charlotte. Charlotte adalah barista di sebuah coffee shop di Colmar yang berusia tiga tahun lebih muda dari Guillaume. Armand dan ayah Charlotte sudah berteman sejak lama. Guillaume tahu bahwa Mr. Bertrand—ayah Charlotte—memiliki dua orang anak. Yang satu laki-laki, berusia tiga tahun lebih tua daripada Guillaume. Yang satu
lagi perempuan alias Charlotte, tiga tahun lebih muda daripada Guillaume. Guillaume tidak terlalu mengenal anak-anak Mr. Bertrand. Namun ia bertemu lagi dengan Charlotte enam bulan lalu saat mereka sama-sama membuka stand di alun-alun kota untuk merayakan kemerdekaan Prancis di kota mereka.
***
Delapan bulan kemudian
Mary mematut dirinya di cermin. Ia tersenyum puas memandang bayangannya sendiri. Hari ini adalah ulang tahunnya yang ke-dua puluh tujuh. Dustin Xu, pacarnya, merencanakan makan malam spesial di Doors Freestyle Grills, sebuah restoran bintang lima di Dubai. Mary mengenakan gaun khusus yang sudah disiapkannya khusus untuk acara ini, yaitu sebuah gaun kemben berwarna jingga dengan gradasi kuning yang warnanya sangat cocok dengan kulitnya yang kecoklatan. Rambutnya kini dipotong hingga sebahu dan dicat warna coklat mahogani.
Terdengar ketukan pada pintu kamarnya. Mary menyambar tas tangan Kate Spade keluaran terbaru miliknya.
“Hai,” Dustin Xu tersenyum lebar. Tubuhnya yang tinggi tegap menjulang, membuat Mary harus sedikit mendongak untuk melihat wajah tampannya. Rambut hitamnya diberi gel dan disisir ke samping sehingga tampak klimis. Ia mengenakan kemeja abu-abu gelap yang serasi dengan jas hitam yang dikenakannya.
Mary tersenyum mengejek. “Ternyata bisa juga kau berpenampilan rapi.”
Biasanya Dustin lebih senang mengenakan kaus dan celana pendek serta ransel besarnya ke mana-mana. Ia
pria berusia 31 tahun asal Malaysia. Ia pertama kali bertemu dengan Mary di sebuah bar di Buenos Aires sepuluh bulan yang lalu. Ia adalah seorang travel blogger sekaligus fotografer sukses. Pengikutnya di Instagram sebanyak lima ratus ribu lebih. Website-nya menghasilkan banyak uang. Berbagai channel TV, majalah, dan website seperti National Geographic, Matador Network, dan Outside banyak menawarinya berbagai job untuk mengulas suatu destinasi atau memintanya sebagai fotografer. Berbagai tur dan hotel juga sering mensponsori perjalanannya dengan imbalan ia harus menulis ulasan di blog pribadinya. Pertama kali mengobrol dengan Mary, mereka langsung cocok. Sejak mereka resmi jadian, tiga bulan setelah perkenalan mereka, mereka selalu bepergian bersama-sama. Mary tidak pernah lagi traveling solo. Bila keluarga atau temannya tidak bisa menemani, ia tinggal meminta Dustin untuk menemaninya. Namun Mary masih harus sering pulang ke Bandung untuk mengurus barnya.
Mary dan Dustin segera berangkat ke restoran bintang lima yang dimaksud. Setelah makan malam selesai,
Dustin berlutut di hadapan Mary dan melamar gadis itu. Mata Mary berkaca-kaca. Tentu saja ia menerima lamaran Dustin!
***
Mary dan Dustin sepakat untuk menikah di Kuala Lumpur, di mana seluruh keluarga besar Dustin berada. Keluarga Mary sama sekali tidak keberatan. Mary bahkan menyewa sebuah apartemen di Kuala Lumpur untuk memudahkan segala persiapan pernikahannya. Ibunya tentu mendampingi selama ia di Kuala Lumpur.
Hari ini Mary sudah janjian dengan Jinn Wu, bridal designer yang bertanggung jawab untuk gaun pernikahan Mary nanti. Mary mencoba berbagai jenis gaun yang ditawarkan. Semuanya bagus-bagus! Mary tidak dapat memilih. Dengan bantuan ibunya, akhirnya pilihannya mengerucut menjadi gaun kemben putih dengan rok mengembang dan gaun tanpa lengan warna gading dengan rok duyung. Keduanya indah. Setelah mencoba beberapa kali, akhirnya pilihan Mary jatuh pada pilihan pertama.
Setelah menyelesaikan transaksi, Mary harus segera ke Suria KLCC untuk janjian makan siang dengan Dustin. Setelah itu mereka masih harus ke hotel tempat mereka akan melangsungkan resepsi pernikahan.
Mary menghirup aroma mal kuat-kuat. Rasanya sudah lama sekali ia tidak ke mal. Dustin sudah menunggunya
di food court di lantai atas. Baru ia akan melangkah ke eskalator saat matanya menangkap sosok yang tidak asing.
Dua orang Kaukasia itu tampak begitu mencolok di antara sekumpulan orang Asia. Mary tidak jadi naik eskalator. Ia berjalan mendekat ke arah toko Carolina Herrera, tempat kedua orang itu berada. Tidak salah lagi. Cowok itu kan Guillaume. Jantung Mary mendadak berdebar. Dan siapa itu perempuan yang bersama Guillaume? Mary bertanya-tanya dalam hati. Perempuan itu bertubuhtinggi dan berambut pirang kemerahan. Kulitnya putih merona, kontras dengan blus merah marun yang dikenakannya. Wajahnya cantik dengan mata coklat yang
besar. Gerak-gerik wanita itu begitu anggun.
Guillaume tiba-tiba mengangkat kepalanya dan matanya tertumbuk dengan mata Mary. Ketahuan sudah bahwa Mary mengamatinya sejak tadi. Mary sudah tidak bisa mengelak. Untuk mengatasi kegugupannya, Mary menghampiri dua orang itu dengan langkah mantap.
“Halo. Ternyata aku tidak salah. Kau memang Guillaume. Maaf, tadi aku tidak sengaja melihatmu dari kejauhan. Aku ingin menyapamu tapi tidak yakin bahwa itu kau,” ujar Mary ramah.
Guillaume tersenyum santai. “Halo. Apa kabar Mary?”
“Baik. Kau sendiri?”
“Sangat baik.” Guillaume merangkul perempuan di sampingnya. “Kenalkan. Ini Charlotte, tunanganku.”
Deg! Hati Mary mencelus. Jadi Guillaume sudah bertunangan. Namun Mary buru-buru mengusir perasaan mendung di hatinya karena ia kan juga punya tunangan yang sedang menunggunya di foodcourt.
Charlotte mengulurkan tangannya. “Hai. Senang berkenalan denganmu.” Charlotte menyunggingkan senyumnya yang bisa melelehkan hati semua pria.
Mary menjabat tangan Charlotte yang sehalus sutra. “Aku tidak menyangka bisa bertemu kalian di sini. Kalian sedang liburan atau…?”
“Ya. Charlotte selalu ingin untuk berlibur di Asia Tenggara?” jelas Guillaume.
“Lalu bagaimana kabar Armand?”
“Dia sedang menikmati masa tuanya di Eguisheim. Ia sudah tidak tinggal di Colmar lagi.”
“Benarkah? Lalu bagaimana dengan toko kue?”
“Kami tutup selama beberapa minggu.”
Mary mengangguk-angguk. “Baiklah kalau begitu. Senang bertemu kalian. Maaf, tapi aku harus pergi duluan. Ada janji soalnya.”
“Dah.” Guillaume dan Charlotte mengucapkan selamat berpisah pada Mary dengan ceria.
Mary segera naik ke eskalator dan berusaha tidak menoleh lagi ke arah pasangan itu.
***