Travel, Bake, Love

Travel, Bake, Love
Bab 1



    Mary menatap paspornya dengan puas. Ia menghitung jumlah cap dari berbagai negara di paspornya. Dua puluh, batinnya saat ia selesai menghitung. Prancis, negara ke-dua puluh yang dikunjunginya. Mary memang memiliki cita-cita untuk keliling dunia. Ia berharap dapat mengunjungi minimal 70 negara di dunia ini. Sejak kecil, Mary sudah suka jalan-jalan. Kesukaan Mary terhadap jalan-jalan ini diturunkan dari kedua orang tuanya. Sejak usia Mary dua setengah tahun, orang tuanya sudah membawanya bepergian ke berbagai kota dan berbagai negara.


    Mary menyeret koper Samsonite hitamnya yang berukuran dua puluh satu kali empat belas incinya tersebut ke arah pintu keluar Bandara Internasional Paris-Charles de Gaulle. Ia berencana untuk menghabiskan tiga hari di Paris, kemudian melanjutkan perjalanan ke Colmar dengan kereta. Dari Colmar ia akan menelusuri Alsace Wine Route yang terkenal akan kota-kota kecilnya yang indah bagai keluar dari buku dongeng dan kebun anggurnya yang luas serta menyajikan wine terbaik.


    Begitu sampai di hotelnya yang terletak di daerah Le Marais, Mary segera menelepon ibunya. Rupanya orang tuanya tidak sedang berada di kediaman mereka di Jakarta, melainkan sedang liburan ke Filipina. Setelah


bertukar kabar, Mary mandi dan bersiap-siap untuk pergi makan sore. Le Marais terkenal akan kafe-kafenya yang hip sehingga seharusnya tidak sulit untuk mencari tempat makan atau sekadar minum teh.


    Mary berjalan di sepanjang jalan yang dikelilingi kafe-kafe dan toko kecil yang menarik dengan percaya diri. Padahal ini adalah kali pertamanya ke Paris. Liburan solo bukan masalah baginya. Sejak kuliah di Amsterdam, Mary sudah terbiasa untuk jalan-jalan menjelajahi kota sendiri. Dengan bermodalkan panduan-panduan yang ia baca di internet dan keberanian diri—serta uang tentunya—ia berpetualang dari satu negara ke negara lain.


Beruntung orang tuanya cukup kaya sehingga bisa memenuhi kebutuhannya akan traveling. Setelah menyelesaikan kuliahnya di Amsterdam, Mary kembali ke Indonesia untuk membuka bisnis barnya sendiri di Bandung. Tiga bulan sekali, secara berkala, Mary akan mengistirahatkan diri dengan bepergian entah ke mana hatinya ingin. Bulan ini ia memutuskan untuk ke Prancis.


    Mary akhirnya memutuskan untuk makan di sebuah kafe mungil yang bernuansa putih. Sebuah papan tulis kecil bertuliskan menu digantung di jendela kafe, memberikan keunikan tersendiri pada kafe itu. Sambil menunggu


makanannya datang, Mary mem-browsing Colmar di Instagram. Tampak seseorang mengunggah sebuah foto kota kecil yang menawan dengan rumah warna-warni. Namun keterangan di foto tersebut yang membuat Mary


tercengang.


“Colmar, a (not so) magical town (anymore). A local 50-year-old man, immersed himself into the canal this morning. He swam around without any clothes on! Can you imagine the expression of the tourist there? At first, this strange incident brought an entertainment to some tourists there. But when about 10 locals did the same thing as the man did, it began to look not very funny anymore. Of course it brought confusion to people that happened to be there. And at this hour, about 100 tourists are taking their clothes off and enter the canal as it is a giant bath tub! This has never happened before! I’m outta here!”


    Mary mengernyit bingung. Hal ini aneh sekali. Tiga hari lagi, ia akan berangkat ke Colmar. Bagaimana keadaan kota itu saat ia ke sana nanti? Kekhawatiran Mary hilang seketika saat seorang pelayan membawakan soupe a l’oignon pesanannya.


***


Mary turun dari kereta dengan jantung berdebar. Ia tiba di Colmar. Berita itu benar. Colmar kehilangan keajaibannya. Bangunan-bangunan seolah kehilangan warna mereka. Air kanal mengalir tenang. Tidak ada lagi


orang-orang yang berenang di sana. Tentu saja, polisi pasti sudah mengamankan orang-orang tersebut.


    Setelah menaruh barang-barangnya di apartemen sewaannya, Mary memutuskan untuk berjalan-jalan di kota. Seharusnya Mary senang karena seolah ia memiliki kota ini untuk dirinya sendiri. Ia bisa memotret pemandangan, toko imut, atau apa pun tanpa terhalang oleh orang yang lewat. Namun Colmar tanpa orang-orangnya seolah mati. Seorang kakek mengayuh sepedanya dengan santai. Tiga buah baguette menyembul dari keranjang sepedanya.


    “Bonjour!” sapa Mary sambil tersenyum.


    “Bonjour!” balas si kakek sambil tersenyum ramah.


    Hati Mary merasa hangat melihat senyum kakek itu. Ternyata kota ini belum kehilangan pesonanya. Mary teringat baguette yang dibawa kakek itu di keranjang sepeda. Melihat baguette itu membuat Mary lapar. Ia berjalan


selama beberapa puluh meter sampai akhirnya ia menemukan sebuah toko kue. Dinding toko kue itu berwarna hijau lumut dengan etalase besar, menampilkan berbagai jenis roti, croissant, dan kue yang dipajang. Mary membaca nama toko kue itu. LAURENT BAKERY.


    Mary membuka pintu toko kue itu. Aroma mentega dan vanila langsung memenuhi rongga hidungnya. “Bonjour!” serunya ceria.


    Seorang pemuda Prancis yang tampak bosan sedang menekuni bukunya. Begitu mendengar denting lonceng yang menandakan pintu toko terbuka dan sapaan Mary, pemuda itu langsung bangkit.


    “Bonjour!” balasnya. Senyum riang terlukis di wajahnya. “Vous êtes prêts à commander?”


    Mary hanya tersenyum menanggapi pelayan toko itu. Ia menatap counter yang menampilkan berbagai


jenis kue dan roti.


    “Je voudrais madeleine, tarte Tatin, et mille-feuille,” kata Mary sedikit terbata-bata. Seminggu sebelum berangkat ke Prancis, ia sempat belajar kata-kata, frasa-frasa, dan kalimat-kalimat dasar dalam bahasa Prancis. Namun rupanya kemampuannya dalam mengucapkan kata-kata dalam bahasa Prancis masih jauh dari sempurna.


    Pelayan toko itu sepertinya paham bahwa Mary bukan orang Prancis karena ia melanjutkan interaksi dalam bahasa Inggris meski dengan aksen Prancis yang kental. “Ada lagi yang ingin dipesan?” Senyum ramah tak hilang


dari wajahnya.


    “Itu saja. Terima kasih.”


    “Makan sini atau bawa pulang?”


    Mary tergoda untuk makan kue sambil jalan-jalan, namun ia ingin tahu lebih banyak mengenai apa yang terjadi di kota ini.


    “Makan sini,” jawab Mary. Setelah membayar, ia membawa piring berisi kue-kue yang dipesannya dan duduk di meja yang paling dekat dengan counter. Mary mengedarkan pandang ke seluruh toko kue itu. Hanya ia satu-satunya pelanggan. Sementara itu, si pelayan toko berambut pirang membuka lagi bukunya dan membaca dengan


    “Hei, apa yang terjadi? Apakah Colmar selalu sesepi ini?” tanya Mary memecah keheningan di toko itu.


    Si pelayan toko mengangkat wajahnya dari buku yang dibacanya. Kemudian ia meletakkan bukunya di meja.     “Tidak. Biasanya tempat ini selalu penuh turis. Namun tiga hari terakhir ini Colmar sangat sepi. Kurasa


karena insiden tiga hari lalu.”


    “Maksudmu insiden yang melibatkan orang-orang yang berenang di kanal?” Mary menyuap sesendok tarte ke


mulutnya. Enak! Ini adalah tarte terenak yang pernah dimakannya.


    “Kau tahu soal itu?” Pandangan si pelayan toko tampak tertarik.


    “Ya. Seseorang mengunggah berita soal itu di Instagram. Ngomong-ngomong, aku Mary.”


    “Guillaume.” Si pelayan toko menyunggingkan senyum ramahnya. “Kau berasal dari mana?”


    “Indonesia.”


    Guillaume mengerutkan kening. “Maksudmu Indonesia yang di Asia itu?”


    “Ya. Indonesia yang itu.”


    “Aku pernah ke Indonesia, Bali lebih tepatnya. Dan kau tidak terlihat seperti orang Indonesia.”


    Mary tertawa pelan. Sudah banyak yang berkomentar begitu soal penampilan fisiknya. Mary mewarisi tubuh tinggi, mata kelabu, dan hidung mancung dari ayahnya. Sedangkan ia mewarisi rambut hitam dan kulit kuning


langsat ibunya. “Sebenarnya aku berdarah campuran. Ayahku orang Swedia, ibuku orang Indonesia.”


    Guillaume mengangguk-angguk paham. Tiba-tiba seorang pria paruh baya bertubuh gemuk pendek yang


membawa sekantung penuh belanjaan masuk ke toko. Ia mengucapkan serangkaian kalimat dalam bahasa Prancis yang tidak dimengerti Mary. Guillaume membalas perkataan pria itu. Kemudian pria itu masuk ke ruangan di belakang counter.


    “Itu ayahku.” Guillaume menunjuk ruangan di belakangnya.


    Kali ini Mary yang mengangguk-angguk. “Pemilik toko ini?”


    “Ya.”


    Berarti Guillaume bukan hanya pelayan di toko kue ini, melainkan anak si pemilik toko.


    “Kue-kue kalian lezat sekali,” puji Mary.


    Guillaume tersipu malu. “Merci.”


    “Kau yang membuat kue-kue di toko ini?”


    “Ya. Aku dan ayahku yang membuatnya. Tapi sebagian besar aku yang membuatnya. Ayahku sebentar lagi akan pensiun.”


    Mary sudah selesai menyantap makanannya. Ia berdiri. “Terima kasih atas kue-kuenya. Rasanya enak!”


    “Hei, berapa lama kau tinggal di sini?”


    “Hanya satu hari. Besok pagi aku melanjutkan perjalanan ke Kaysersberg.”


    “Kalau begitu,” Guillaume mengusap rambut cepaknya dengan satu tangan. Kemudian ia memasukkan kedua tangannya ke saku celana, berusaha terlalu keras agar terlihat santai. “Maukah kau makan malam denganku malam ini?”


***