
Mary berguling-guling di kasurnya. Ia memejamkan mata, berharap segera terlelap. Namun pikirannya masih
terjaga. Otaknya kembali memutar adegan ciumannya dengan Guillaume di Magic Fountain. Santai saja, Mary. Itu kan cuma sebuah ciuman! Mary menenangkan dirinya sendiri. Lagipula ini bukan pertama kali dirinya mencium cowok. Ciuman pertamanya terjadi saat ia berusia 17 tahun. Waktu itu Harvey, pacarnya ketika SMA, menciumnya pada kencan ketiga. Kemudian saat kuliah di Amsterdam, Mary sempat berpacaran dua kali. Satu kali dengan
Rafael, teman kuliahnya yang adalah orang Belanda. Satu kali dengan Gideon, sesama orang Indonesia yang dikenalnya saat menghadiri pesta seorang teman. Berpacaran dengan orang Barat tentu saja melibatkan banyak sesi make-out yang panas.
Ini juga bukan pertama kalinya Mary mengalami cinta lokasi dengan orang yang ditemuinya selama traveling. Ia pernah dekat dengan seorang lokal di Singapura saat dirinya sedang berlibur di sana, meskipun hubungan itu akhirnya tidak berlanjut menjadi sesuatu yang serius. Ia juga pernah menjalin hubungan dengan seorang traveler asal Yunani ketika sedang liburan di Polandia. Pokoknya bisa dibilang Mary itu adalah pakar cinta! Tetapi kenapa jantungnya berdebar tidak keruan hanya karena ciuman singkat dari seorang pemuda Prancis?
Guillaume pasti hanya menganggap ciuman itu hal yang biasa. Mungkin ia terbawa suasana? Lagipula Mary
adalah satu-satunya gadis yang ada di sisinya saat ini. Jadi bisa dibilang Guillaume tidak punya banyak pilihan dalam menentukan cewek mana untuk dicium.
Pikiran-pikiran terus berlomba di pikiran Mary sampai akhirnya gadis itu tertidur nyenyak.
***
“Selamat pagi!” Mary menepuk punggung Guillaume yang sedang menikmati kopinya di lobi hostel dengan
ceria. Ia memutuskan untuk bersikap biasa saja sampai Guillaume sendiri yang mengangkat topik mengenai ciuman mereka dalam pembicaraan.
“Pagi,” sapa Guillaume sebelum menyeruput kopinya perlahan. Mary tidak dapat melihat dengan jelas ekspresi Guillaume karena separuh wajah pemuda itu tertutup cangkir kopi. Begitu Guillaume menurunkan cangkirnya, Mary dapat melihat lingkaran gelap di bawah mata pemuda itu, menandakan bahwa Guillaume juga kurang tidur semalam.
Mereka tidak terlalu banyak bicara sampai mereka menaiki pesawat menuju London. Setibanya di London,
mereka masih harus menunggu selama satu jam lebih lima belas menit sebelum penerbangan sambungan ke Los Angeles. Mereka menghabiskan waktu selama satu jam lebih itu untuk makan siang.
Setibanya di Los Angeles, mereka terpaksa harus memesan hotel untuk bermalam karena penerbangan
selanjutnya ke Honolulu akan dilanjutkan keesokan harinya pukul sembilan pagi.
“Guillaume, karena sekarang baru pukul lima sore, bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu?” usul Mary di depan kamar pintu hotelnya.
Guillaume menahan pintu kamarnya yang sudah terbuka dengan satu tangan. Ia menyunggingkan seulas senyum hangat. “Boleh saja.”
***
Mary menatap pemandangan di depannya dengan senyum lebar. Malam ini ia dan Guillaume memutuskan untuk
jalan-jalan di The Grove, sebuah kompleks perbelanjaan di LA, dengan menaiki double decker trolley atau bus
bertingkat gaya 1950-an. The Grove diisi dengan toko-toko yang menjual barang-barang bermerk berkelas dunia dan berbagai jenis restoran—mulai dari yang mewah sampai kafe-kafe hip. Angin malam meniup-niup rambut hitam Mary. Gadis itu tidak sadar bahwa Guillaume mencuri pandang ke arahnya sambil tersenyum.
Mereka turun dari double decker trolley bertepatan dengan dimulainya pertunjukkan dancing fountain di tengah-tengah pusat perbelanjaan itu. Mary dengan cekatan membidik kamera DSLR yang dibawanya ke arah air mancur itu. Ia juga merekam pertunjukan itu di insta story-nya. Guillaume juga tidak mau kalah. Ia memotret dan merekam. Namun yang Mary tidak tahu, Guillaume diam-diam memotret gadis itu. Guillaume senang melihat Mary yang bisa tertawa lepas dan terlihat begitu menikmati hidup. Tidak seperti dirinya yang seumur hidup ditakdirkan untuk berkutat di sebuah kota kecil.
ingin melihat dunia, sedangkan Guillaume sudah puas mengurus toko kue keluarga di Colmar—dan ia tidak berencana untuk pindah kota atau semacamnya. Penduduk Colmar membutuhkan ia dan ayahnya. Penduduk Colmar membutuhkan keluarga Laurent untuk menjaga kota itu dari kutukan-kutukan yang bisa datang menimpanya. Garis hidup Guillaume sudah ditentukan.
Mary menoleh pada Guillaume ketika pertunjukan air mancur sudah selesai. “Ayo kita lanjut jalan-jalan.”
Guillaume menatap gadis di depannya. Ia baru mengenal Mary selama empat hari namun rasanya ia sudah
lama mengenal gadis itu. Mary membuatnya merasa gembira, menanti-nanti dengan riang ke mana esok hari akan membawanya. Namun gadis itu juga memberi kenyamanan yang selama ini dirindukan Guillaume. Mary telah mengajarkannya agar hidup untuk hari ini. Biarlah hari esok menanggung kesusahannya sendiri karena setiap hari memiliki kesusahannya masing-masing. Dan Guillaume pun menuruti kata hatinya. Ia menyelipkan rambut Mary ke belakang telinga, membelai pipi Mary dengan hati-hati, dan menunduk untuk mencium bibir Mary dengan lembut.
Mary membalas ciumannya. Gadis itu melingkarkan kedua lengannya pada leher Guillaume. Mereka memundurkan kepala mereka untuk saling menatap. Guillaume dapat melihat bayangan dirinya dalam mata Mary yang bening. Mata hazel milik Guillaume juga memancarkan binar yang sama. Mereka berciuman lagi. Ciuman yang terasa manis dan tepat. Perasaan hangat menyelimuti hati kedua insan tersebut.
***
“Ah! Aku selalu ingin ke Hawaii!” seru Mary gembira sambil merentangkan kedua lengannya.
Mereka baru saja tiba di Honolulu siang itu. Masih ada waktu empat jam sebelum penerbangan selanjutnya ke Hilo. Mary dan Guillaume memutuskan untuk mengikuti audio tour agar bisa mengeksplorasi pulau itu sendiri. Mereka memulai perjalanan dari Aloha Tower. Kemudian mereka mengunjungi King Mahemahema Statue, Ali’iolani Hale, dan Istana Iolani. Semua penjelasan mengenai sejarah Hawaii dibeberkan melalui audio yang mereka unduh.
Saat mereka sedang melihat-lihat koleksi arsip lama di Hawaiian Mission Houses Historic Site and
Archives, Guillaume menerima telepon dari ayahnya.
“Apa kata Armand?” tanya Mary begitu Guillaume selesai menelepon. Melihat ekspresi wajah Guillaume yang
keruh, sepertinya Mary bisa menebak bahwa keadaan di Colmar tidak terlalu baik.
“Serangan ke-tiga telah dimulai. Puluhan penduduk mulai merasa kedinginan. Ayahku sempat mengunjungi
rumah Mr. Michel, teman baiknya. Keluarga Mr. Michel menyalakan perapian di musim semi! Mereka bahkan mengenakan pakaian berlapis-lapis. Anak bungsu mereka yang baru berusia empat tahun bahkan mulai menunjukkan tanda-tanda hipotermia,” ujar Guillaume sambil menggeleng-geleng.
Mary mengusap lengan Guillaume untuk menenangkan pemuda itu. Guillaume membalasnya dengan
menggenggam jemari Mary.
“Untuk sementara ayahku memberikan Fondue Coklat Penghangat Perut kepada penduduk Colmar yang
kedinginan. Setidaknya manisan itu bisa memperlambat progresivitas dingin itu menjadi hipotermia. Namun ia tetap memerlukan lahar gunung berapi paling aktif untuk membuat Puding Ubi Panas Membara,” ucap Guillaume.
Mereka sudah tidak berminat melanjutkan tur. Mereka akhirnya kembali ke bandara dan memutuskan untuk menunggu di sana saja.
***