Travel, Bake, Love

Travel, Bake, Love
BAB 6



    Guillaume menerima kabar dari Armand bahwa puluhan penduduk Colmar mengeluhkan gatal-gatal. Ruam merah muncul di sekujur tubuh mereka dan mereka tidak bisa berhenti menggaruk kulit mereka. Armand berusaha mencegah penduduk Colmar melukai tubuh mereka sendiri dari garukan dengan memberikan Cheesecake Markisa Penahan Cakar. Orang yang memakan kue tersebut tidak akan bisa menggaruk kulit mereka sendiri mau pun menggaruk kulit orang lain. Tangan mereka akan berubah kaku bila mereka berniat menggaruk. Namun hal itu tidak


menyelesaikan masalah karena sekarang para penduduk melolong kegatalan. Mereka tampak menderita.


    Nafsu makan Guillaume menguap. Rasanya ia tidak sanggup lagi menghabiskan burgernya yang masih separuh dan kentang gorengnya yang masih utuh. Akhirnya Mary yang menyikat habis seluruh makan sore Guillaume. Kini mereka berada di restoran cepat saji yang berlokasi di Bandara Internasional Oakland. Penerbangan akan dilanjutkan lagi satu jam lebih empat puluh menit kemudian.


    Mary dan Guillaume melakukan serangkaian perjalanan panjang menuju Anglesey. Mereka baru tiba di London keesokan harinya pukul setengah sebelas pagi. Mereka masih harus mengejar kereta tercepat menuju Anglesey. Mereka tiba di Anglesey pukul tiga sore. Masih ada waktu untuk mengunjungi kebun cabe milik Alwyn Williams sebelum matahari terbenam. Alwyn Williams adalah satu-satunya penanam cabe Pink Tiger, cabe terpedas dan terlangka di dunia.


    Guillaume menyewa mobil untuk menyetir ke perkebunan yang letaknya sekitar 100 km dari pusat kota. Satu jam


kemudian, mereka tiba di perkebunan cabe milik Alwyn Williams. Seorang tukang kebun yang masih mengenakan sarung tangan menghampiri mobil Mary dan Guillaume.


    “Ada yang bisa dibantu?” tanya tukang kebun itu dengan aksen British yang kental.


    “Kami mencari Sir Alwyn Williams,” jawab Mary setelah menurunkan kaca jendela mobil.


    Si tukang kebun yang kira-kira berusia 70 tahun tersebut menatap Mary dan Guillaume dengan penuh selidik. “Apa kalian sudah membuat janji?”


    Guillaume dan Mary saling melirik. “Belum. Apakah Mr. Williams sedang sibuk?” tanya Guillaume was was.


    “Beliau sedang kedatangan tamu. Masuklah. Silakan menunggu di kantor beliau.” Tukang kebun tua itu menunjuk sebuah pondok kecil yang berada di ujung perkebunan.


    “Baik. Terima kasih.”


    Guillaume menyetir masuk dan memarkir mobilnya di dekat “kantor” yang disebut oleh si tukang kebun. Di depan


pondok tersebut ada dua kursi yang terbuat dari rotan. Mary dan Guillaume duduk di sana sambil menunggu.


    Lima belas menit kemudian, seorang wanita dengan pakaian kantoran keluar dari kantor Alwyn Williams. Mary mengetuk pintu kantor Alwyn Williams. Seorang pria berambut putih yang mengenakan kemeja kotak-kotak dan overall jeans yang warnanya sudah pudar membukakan pintu. Ia tersenyum ramah.


    “Ada yang bisa saya bantu?” tanya pria tua itu.


    “Kami mencari Sir Alwyn Williams,” jawab Guillaume.


    “Saya sendiri. Silakan masuk.” Mr. Williams mempersilakan Mary dan Guillaume masuk.


    Mary mengutarakan tujuan mereka menemuinya adalah untuk membeli cabe Pink Tiger.


    “Jarang sekali orang yang mau membeli cabe Pink Tiger,” komentar Mr. Williams.


    “Ya. Kami sedang mengikuti kontes memasak nasional di Prancis. Dan omong-omong aku mendapat bocoran bahwa tema tahun ini adalah makanan pedas,” ujar Guillaume sambil terkekeh.


    “Baiklah. Aku akan meminta Boyd untuk membungkuskan satu kilogram cabe Pink Tiger terbaik untuk kalian.” Mr. Williams mengangkat telepon di mejanya. “Tolong siapkan satu kilogram cabe Pink Tiger terbaik… Baik, terima kasih.”


    Sambil menunggu, Mr. Williams menyuruh sekretarisnya, seorang perempuan dua puluhan berambut pirang


platinum untuk membuatkan teh. Mereka mengobrol singkat sambil menunggu cabe Pink Tiger selesai disiapkan. Ternyata Mr. Williams adalah pria tua yang ramah. Ia begitu antusias begitu mengetahui kedatangan tamu dari Prancis. Lima belas menit kemudian Boyd, tukang kebun tua yang menyambut Mary dan Guillaume tadi, memberikan satu plastik berisi cabe Pink Tiger yang ternyata bentuk serta warnanya aneh. Cabe itu berbentuk seperti cabe layu dengan warna ungu dengan semburat kuning. Setelah membayar enam puluh poundsterling untuk sekantung cabe, Mary dan Guillaume pamit pergi.


    “Oh ya, Mr. Williams, apakah Anda tahu perayaan apa yang sedang berlangsung di sekitar sini?” tanya


Mary sebelum keluar dari kantor Mr. Williams.


    “Sepengetahuan saya di Wales jarang ada perayaan. Namun sedang ada Edinburgh Fringe Festival –sebuah festival seni di Edinburgh yang sedang berlangsung. Acaranya meriah sekali. Festival diadakan di seluruh kota dan terdapat lima puluh lima ribu performer yang akan tampil. Bahkan ada kembang api yang dinyalakan saat tengah malam tepat waktu puncak acara,” ucap Mr. Williams.


    “Sempurna.”


***


    Begitu tiba di Edinburgh, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Namun suasana kota yang hidup tidak meredup. Kota Edinburgh yang terkenal kuno dan mewah disulap menjadi semeriah bazaar raksasa. Hari sudah gelap namun orang-orang yang memenuhi area-area terbuka di kota tidak berkurang jumlahnya. Sekelompok orang dengan kostum-kostum aneh dan wajah yang dilukis berjalan di sepanjang jalan.


    Mary tertawa gembira. Suasana yang ajaib ini meningkatkan mood-nya berkali-kali lipat. Masih dua jam lagi sebelum tengah malam. Mary dan Guillaume memutuskan untuk menikmati Edinburgh Fringe Festival sebelum menjalankan misi mereka. Mereka memasuki sebuah pub dan di dalamnya stand up comedy sedang berlangsung. Mary dan Guillaume sampai tertawa terpingkal-pingkal karena lawakan si komik.


    Pukul dua belas malam kurang lima menit, Guillaume bersiap-siap untuk menjalankan misinya. Ia mengunyah


sepotong Cupcake Tak Terlihat dan Meringue Seringan Bulu. Tiba-tiba saja ia menjadi tak kasat mata.


***


    Mary terbangun oleh berkas sinar matahari yang masuk ke kamarnya. Ia menggosok matanya. Ia berguling ke samping. Guillaume sudah tidak ada di sisinya. Tercium aroma kopi samar-samar. Mary segera mengenakan kimono tidurnya untuk menutupi tubuhnya yang tadinya tidak mengenakan sehelai benang pun dan berjalan ke dapur. Karena ini adalah malam terakhir perjalanan mereka, mereka sepakat untuk sedikit boros dengan menyewa sebuah suite di hotel bintang lima.


    Tampak Guillaume yang sudah mengenakan sweater rajut berwarna lavender dan celana denim panjang


membelakanginya. Pemuda itu tampak sibuk memasak entah apa. Mary memeluk Guillaume dari belakang. Tercium aroma sabun dan parfum yang lembut dari tubuh Guillaume. Guillaume membalik tubuhnya dan mencium Mary dengan mesra.


    “Sedang buat apa?” tanya Mary.


    Guillaume menyajikan empat potong croissant almond, blueberry, telur matasapi, dan dua gelas kopi di atas meja makan.


    “Kenapa kau repot-repot membuat sarapan? Kita kan bisa memesan layanan kamar,” ucap Mary sambil duduk


di meja makan.


    “Tidak apa-apa. Belum tentu ada kesempatan lagi kau bisa menikmati kue buatanku,” kerling Guillaume.


    “Masuk akal.” Mary segera melahap croissant garing dan hangat yang baru matang itu. “Wah! Ini sih enak sekali! Tidak sia-sia kau bangun pagi untuk membuat sarapan.”


    Guillaume hanya tersenyum geli menanggapi Mary.


    Selesai sarapan, Mary segera mandi. Mereka mengepak barang-barang mereka dan bergegas ke bandara. Mereka tiba di Paris sekitar pukul empat sore. Kemudian mereka naik kereta ke Colmar dan tiba di kota itu pukul delapan malam.


    Berbeda dengan kali pertama Mary ke Colmar, kali ini banyak orang berkumpul di jalanan. Beberapa dari mereka berbaring di jalan beraspal dan menggesek-gesekan punggung mereka. Ada juga yang menggesekkan punggungnya ke tiang lampu jalan.


    “Gatal! Gatal!” Terdengar lolongan di mana-mana. Anak-anak menangis. Ada juga ibu-ibu yang menangisi


anaknya karena hampir membeku kedinginan.


    Mary dan Guillaume bergegas ke Laurent Bakery. Betapa leganya Armand melihat kedua orang itu kembali dengan selamat. Guillaume menyerahkan sekantung cabe Pink Tiger dan toples yang berisi nyala kembang api.


    “Syukurlah kau kembali. Paket darimu yang berisi keratin kulit bayi Spanyol dan lahar gunung berapi baru sampai beberapa jam lalu. Sekarang aku sedang mempersiapkan Puding Ubi Panas Membara. Kau buatlah Lemon Bar Kulit Halus,” ucap Armand. Tangannya tak berhenti bekerja.


    Guillaume segera menyerut lengan bajunya dan mulai bekerja. Mary tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya ia


memutuskan untuk membuat es teh sebagai minuman penyemangat buat Guillaume dan Armand. Empat puluh menit kemudian, dapur Laurent Bakery dipenuhi aroma ubi dan lemon.


    Mary membuka pintu toko lebar-lebar. “Silakan ambil puding ubi dan lemon barnya! Dijamin kalian tidak


akan kedinginan lagi dan gatal-gatal kalian hilang!”


    Guillaume menepuk bahu Mary. “Mereka tidak mengerti bahasa Inggris. Biar aku saja.” Guillaume pun


menyampaikan pengumuman dalam bahasa Prancis. Seketika orang-orang menyerbu Laurent Bakery. Setelah mereka mengunyah dan menelan puding ubi serta lemon bar, suasana mendadak tenang. Semua orang tertawa


dengan sukacita. Mereka berterima kasih pada Armand, Guillaume, dan Mary. Setelah rombongan penduduk yang menderita itu pergi, mereka mengembuskan napas lega. Mereka bertiga saling berpelukan.


    “Terima kasih karena kalian telah dengan susah payah mengumpulkan bahan-bahan ini.” Armand menepuk-nepuk punggung tangan Mary dan Guillaume.


    Armand mengundang Mary untuk makan malam bersama. Mary tentu saja menerima dengan sukacita. Armand menyajikan flamiche dan confit de canard. Tidak lupa hidangan pencuci mulut berupa soufflé coklat.


    “Kapan kau akan kembali ke Indonesia?” tanya Armand.


    “Besok sore,” jawab Mary.


    “Kau boleh menginap di sini malam ini kalau mau,” tawar Guillaume. Mary dapat melihat sekelebat rasa sedih pada tatapan Guillaume.


    “Baiklah kalau tidak merepotkan.”


***