Travel, Bake, Love

Travel, Bake, Love
BAB 3



    Mary tak kuasa menahan kuapnya. Sekitar pukul empat lewat tiga puluh menit tadi, ia sudah harus bangun dan    bersiap-siap. Ia membereskan semua barangnya dengan terburu-buru. Ia harus naik kereta pertama ke Paris pukul lima lewat tiga puluh lima menit, kemudian segera berangkat ke Bandara Internasional Charles de Gaulle untuk mengejar penerbangan ke Barcelona pukul setengah sebelas pagi.


    Mary menatap Guillaume di sampingnya. Kepala pemuda itu terantuk-antuk ke depan dan belakang. Matanya


terpejam. Mary menyodok rusuk Guillaume saat panggilan untuk menaiki pesawat berkumandang.


    Setelah duduk dengan nyaman di pesawat, Mary akhirnya tidak tahan lagi untuk bertanya. “Sejak kapan


kau tahu keluargamu menggunakan bahan-bahan aneh bin ajaib untuk membuat kue?”


    “Sejak umurku lima belas, kurasa. Saat itu aku sama sekali tidak tertarik dengan dunia pastry. Aku lebih tertarik dengan dunia otomotif dan bermimpi untuk menjadi pembalap. Namun ayahku bilang harus ada yang melanjutkan Laurent Bakery. Aku bersikeras tidak mau. Mungkin saja kan di zaman dulu, ada anak laki-laki sepertiku yang tidak ingin membuat kue sama sekali, namun karena paksaan keluarga demi meneruskan bisnis turun-temurun, akhirnya merelakan mimpinya. Aku tidak ingin seperti itu. Aku mau mengejar mimipiku sendiri. Akhirnya ayahku meyakinkanku dengan menunjukkan resep-resep ajaib yang biasa digunakan keluarga Laurent untuk membantu orang-orang. Akhirnya aku jadi mencintai dunia ini,” jelas Guillaume panjang lebar. Matanya menerawang ke depan, seperti mendamba.


    “Apakah semua kue yang dijual di tokomu adalah kue-kue ajaib? Karena rasanya aku lumayan tersihir oleh


kue-kue itu,” kata Mary menggoda.


    Tawa Guillaume berderai. “Tidak sama sekali. Kue yang dijual tidak mengandung sihir. Kue-kue ajaib hanya


digunakan untuk membantu orang-orang. Seperti Macaron Sedingin Es dan Roti Coklat Kekenyangan.”


    Mary dan Guillaume menghabiskan waktu di pesawat untuk tidur. Setelah sampai di Barcelona, mereka menaruh barang-barang mereka di hostel.


    “Sekarang kita ke mana?” tanya Mary.


    “Kalau mau mendapatkan kulit keratin bayi yang baru lahir, seharusnya kita ke rumah sakit kan?” Guillaume mengeluarkan ponselnya. “Ini dia. Rumah sakit terdekat dari hostel kita. Hospital Sant Pau.”


    Mereka mencapai Hospital Sant Pau dengan berjalan kaki.


    “Sekarang bagaimana? Bagaimana cara kita mendapat akses terhadap bayi Spanyol yang baru lahir?”


tanya Mary gusar.


    “Kita pura-pura saja mau menjenguk pasien yang baru melahirkan. Biasanya bayi sehat akan dirawat gabung


bersama ibunya,” jawab Guillaume.


    “Lalu? Kita mengambil keratin bayi itu di depan ibunya? Lagipula bagaimana cara mengeluarkan keratin dari kulit bayi? Bukankah keratin kulit yang terlepas itu tak kasat mata?”


    “Aku juga tidak tahu. Ya sudah. Pokoknya kita masuk saja dulu.”


    Mary dan Guillaume masuk ke rumah sakit. Mereka segera naik lift ke lantai dua, tempat bangsal perawatan


ibu yang baru melahirkan berada. Kebetulan sekarang adalah jam besuk. Sepasang suami istri menanyakan keberadaan orang bernama Mrs. Munoz berada kepada perawat yang duduk di nurse station. Untunglah Mary fasih berbahasa Spanyol. Mary dan Guillaume segera mengekor kedua suami istri itu, seolah-olah mereka dan pasangan itu datang bersama.


    Mrs. Munoz dirawat di ruangan nomor 201. Setelah tahu nomor ruangan Mrs. Munoz, Mary berkeliling bangsal untuk mencari ruang ganti perawat. Ia menemukannya! Ia masuk diam-diam ke ruangan itu. Untung saja ruangan itu kosong. Mary menemukan sebuah seragam perawat di salah satu loker yang tidak terkunci. Ia segera berganti pakaian. Kemudian ia masuk ke kamar nomor 201 sambil membawa popok baru, sarung tangan, kain kassa, dan NaCl 0,9%.


    “Selamat sore, Mrs. Munoz. Maaf mengganggu. Tapi aku harus mengganti popok bayi Anda,” ujar Mary dengan ramah. Guillaume sendiri sedang bersembunyi di dalam kamar mandi ruang rawat Mrs. Munoz.


    “Benar. Namun aku hanya memastikan bahwa tidak muncul ruam di ************ bayi Anda karena menurut


pengamatan saya, bayi Anda memiliki kulit yang sensitif.”


    “Baiklah,” Mrs. Munoz menyerahkan bayi dalam gendongannya kepada Mary.


    Mary meletakkan bayi itu dengan hati-hati ke kereta bayi dan menjauhkan bayi itu dari Mrs. Munoz serta orang-orang yang menjenguknya. Mary membelakangi orang-orang itu. Sekarang ia kebingungan bagaimana mengambil keratin si bayi. Kemudian ia mengambil toples kecil yang dikantunginya. Ia mendekatkan mulut toples itu ke paha bayi, lalu menyikat paha bayi dengan sisir lembut. Tidak terlihat apa-apa. Ukuran kulit mati kan kecil sekali! Namun tiba-tiba saja sebuah serbuk mengilap terlihat di dasar toples itu. Mary takjub melihatnya. Ia segera menyikat lebih banyak lagi kulit bayi. Setelah toples penuh, ia mengembalikan bayi Mrs. Munoz ke ibunya.


    Mary berjalan cepat keluar ruangan. Guillaume berhasil keluar dari kamar mandi tanpa ketahuan. Mary sempat


menyambar pakaiannya sebelum keluar dari bangsal. Begitu mereka keluar dari rumah sakit, mereka tertawa lega. Mary menunjukkan toples berisi keratin kulit bayi kepada Guillaume.


    “Kita berhasil!” seru Guillaume senang.


    “Bagus. Sekarang ke mana lagi tujuan kita selanjutnya?” tanya Mary antusias.


    “Hawaii. Tapi sebelum itu, lebih baik kita makan dulu.”


***


    “Aku suka sekali tapas.” Mary memasukkan sepotong daging asin yang dikeringkan bernama jamon serrano ke mulutnya. Ini adalah tapas ke-tujuh yang dimakannya.


    Guillaume hanya geleng-geleng melihat tingkah Mary. Ia merasa senang tidak harus melakukan ini sendirian. Mary orang yang pintar, spontan, percaya diri, dan bisa diandalkan.


    Mereka sudah memesan tiket pesawat menuju Hawaii untuk besok. Mary tidak ingin membayangkan perjalanan panjang yang harus dilaluinya besok. Dari Barcelona, mereka harus transit dulu di London. Kemudian dari London mereka akan terbang ke Los Angeles. Dari Los Angeles ke Honolulu. Dan terakhir dari Honolulu, mereka harus


ke Hilo dengan penerbangan lokal. Keseluruhan perjalanan itu saja memakan waktu 61 jam!


    Selesai makan, mereka berjalan-jalan sebentar di sekitar Magic Fountain untuk melihat air mancur


besar yang indah. “Hei, aku mau mengucapkan terima kasih karena kau mau ikut melakukan ini bersamaku. Aku tidak bisa membayangkan apa jadinya tanpa kau. Mungkin aku tidak akan berhasil mendapatkan keratin bayi itu,” ujar Guillaume sambil menoleh pada Mary.


    Mary menepuk lengan Guillaume dengan sikap bersahabat. “Tidak masalah. Lagipula ini aku yang mau. Dan


perjalanan ini seru! Kapan lagi aku bisa berpura-pura jadi perawat di sebuah rumah sakit di Barcelona?”


    Guillaume dan Mary sama-sama tertawa mengingat aksi mereka tadi. Mary menatap langit di atasnya. Tidak


terlihat bintang. Bulan pun hanya terlihat dua per tiganya.


    “Mary…” Guillaume meraih tangan Mary sehingga gadis itu berbalik menghadapnya. Mereka berdiri berhadapan. Guillaume menunduk untuk mendekatkan wajahnya pada wajah Mary kemudian mencium gadis itu. Mary, yang awalnya sudah menduga bahwa ini akan terjadi, membalas ciuman Guillaume.


***