
Waktu menunjukkan pukul enam sore ketika Mary dan Guillaume tiba di Hilo. Mereka segera menuju ke hotel
mereka. Mereka memesan satu kamar dengan dua buah double bedroom. Mary berjalan menuju balkon kamar mereka yang menghadap ke taman hotel. Pemandangannya biasa saja namun kamar ini adalah kamar termurah.
Guillaume sudah menyewa mobil untuk pergi ke Taman Nasional Gunung Berapi Hawaii besok. Besok pukul
tujuh pagi, mereka sudah harus berangkat ke Taman Nasional Gunung Berapi Hawaii. Mereka memesan makan
malam lewat layanan kamar. Guillaume menyuapkan nasi ke mulutnya tanpa semangat. Selesai makan, Mary mengajak Guillaume berenang untuk menghilangkan penat di kepala pemuda itu.
“Sepertinya aku mau istirahat saja di kamar,” tolak Guillaume.
“Ayolah! Kau jangan lemas begitu dong. Di mana sisi petualanganmu?” desak Mary.
Guillaume akhirnya menyerah. Mary berenang bolak-balik dengan semangat, sementara Guillaume hanya
berdiri-berdiri di dalam kolam tanpa tujuan. Pikirannya masih tertuju pada keadaan Colmar. Ia khawatir ayahnya akan kewalahan menghadapi Fenomena Tahun Sinclair sendirian.
Tiba-tiba saja percikan air mengenai wajah Guillaume. Pria itu mengerjap-ngerjapkan matanya dengan kaget. Ternyata Mary yang menciprat-cipratkan air ke arahnya.
“Hei! Melamun saja,” tegur Mary sambil terus mencipratkan air ke wajah Guillaume.
Kegembiraan hati Mary menulari Guillaume. Hati Guillaume merasa terhibur dan jadi lebih ringan. Ia tertawa
kecil dan membalas cipratan air Mary. Mary memekik-mekik karena semburan air bertubi-tubi dari Guillaume. Guillaume mencium bibir Mary dengan lembut sebelum keluar dari kolam.
***
Mary dan Guillame serta pendaki-pendaki lainnya menerima briefing dari Sid, ranger yang akan memimpin pendakian mereka. setelah itu mereka memulai perjalanan mereka ke Steam Vent, sebuah lembah yang mengeluarkan uap panas. Uap itu berasal dari air tanah yang mengenai batu volkanik yang superpanas.
Mary melongokkan kepalanya ke pembatas lembah. Uap panas menghantam wajahnya. “Ugh! Ini saja
sudah panas sekali. Aku tidak yakin bisa dekat-dekat lahar Gunung Berapi Kialuea,” bisiknya pada Guillaume.
Perjalanan selanjutnya adalah ke Ha’akulamanu, sebuah bank sulfur. Gas volkanik berbau khas belerang
membubung dari setumpuk besar belerang. Kemudian mereka berhenti di Kilauea Iki Overlook, sebuah kawah berisi danau lava. Ini dia tempat Mary dan Guillaume harus mengambil lahar Kilauea.
“Bagaimana cara kita mengambil laharnya?” tanya Mary gusar. Danau lava itu terlihat jauh di bawah
tempatnya berdiri. Sebuah pagar pembatas menghalangi jalan utama dengan danau itu. Lagipula di sekitar mereka banyak orang sehingga tidak mungkin mereka turun ke danau tersebut.
“Tenang saja,” Guillaume mengeluarkan sekantung plastik berisi cupcake coklat. “Ini adalah Cupcake Tak
Terlihat. Cupcake ini membuat orang yang memakannya menjadi tak kasat mata.” Guillaume kembali merogoh tasnya. “Dan ini adalah Meringue Seringan Bulu. Ini akan membuat orang yang memakannya bisa melayang. Jangan lupakan Cookies Hitam Pekat sebagai penawar Cupcake Tak Terlihat. Aku akan memakan cupcake dan
meringue sehingga aku bisa melayang turun tanpa terlihat untuk mengambil lahar. Setelah melakukannya, aku akan kembali naik dan makan cookies agar aku terlihat lagi. Tugasmu adalah mengajak ngobrol Sid agar rombongan tidak meninggalkan tempat ini sampai aku kembali.”
Mary mengangguk. Mereka berpelukan sebelum berpisah. Guillaume pun menjalankan misinya.
***
Mary menunggu dengan cemas. Sudah dua puluh menit sejak kepergian Guillaume, namun pemuda itu belum
kembali. Ia takut terjadi sesuatu pada Guillaume. Kalau Guillaume mati karena terkena lahar panas bagaimana? Mary menggeleng kuat-kuat, berusaha mengenyahkan pikiran buruk itu dari benaknya.
“Nah, sekarang kita akan melanjutkan perjalanan kita ke—“
“Sid, bisa tolong jelaskan lagi proses terbentuknya danau lava ini?” Mary buru-buru menyela Sid yang sudah akan membawa rombongan pergi.
Sid pun dengan sabar menjelaskan lagi proses terbentuknya Kilauea Iki. Mary terus-menerus melihat jamnya dengan gusar. Sudah lewat tiga puluh menit sejak kepergian Guillaume namun belum ada tanda-tanda keberadaan pemuda itu.
Mary terlonjak kaget saat tiba-tiba seseorang menepuk bahunya.
“Guillaume!” Mary memeluk Guillaume dengan erat sebelum menyadari ada yang salah dengan pemuda itu. “Kenapa rambutmu bau hangus? Dan kenapa pakaianmu bolong-bolong?”
“Ceritanya panjang. Tapi yang jelas aku sudah mendapatkan lahar itu.” Guillaume menunjukkan toples kecil
berisi lahar yang menggelegak. Anehnya toples kaca itu tidak meleleh atau semacamnya.
“Syukurlah. Kupikir terjadi sesuatu padamu.” Mary hampir menitikkan air mata.
Mereka kemudian melanjutkan pendakian ini dengan hati yang lebih lega.
***
“Ya. Untung saja tidak mengenai wajahku atau bagian tubuhku yang lain. Hanya saja pakaianku tak terselamatkan. Uap itu begitu panas, Mary. Aku sudah berada lima meter di atas danau lava itu namun tetap saja aku kepanasan. Untungnya lagi, danau lava itu selalu menggelegak sehingga aku hanya menunggu percikannya memenuhi toples sampai penuh.” Guillaume memeluk Mary dari belakang. Mary meletakkan lengannya di atas lengan Guillaume yang kokoh. Seketika seluruh tubuhnya menjadi hangat.
Mereka menyewa sebuah pondok perkemahan. Meskipun Hilo adalah pulau tropis, tetap saja angin malam
membuat mereka kedinginan. Namun pelukan Guillaume berhasil membuat Mary tetap merasa hangat. Ia tidur sangat pulas malam itu. Esok harinya, ia bangun dalam posisi masih sama seperti semalam—Guillaume memeluknya dari belakang.
***
Guillaume dan Mary kembali berkendara ke pusat kota Hilo. Mereka segera mengepos lahar Kilauea dan
keratin kulit bayi ke alamat Guillaume di Colmar. Mungkin akan memakan waktu satu minggu sebelum paket ini sampai di Prancis namun hanya ini pilihan yang mereka punya. Bila menunggu sampai mereka selesai mengumpulkan keempat bahan ajaib, mungkin sudah terjadi bencana yang sangat besar di Colmar.
Mary sudah memesan dua tiket pesawat ke Honolulu. Mereka harus menginap dulu satu malam di Honolulu
sebelum meneruskan penerbangan ke Oakland. Dari Oakland, mereka lanjut ke Phoenix, lalu ke Boston, dan baru akhirnya ke London. Dari London, mereka akan naik kereta ke Anglesey. Mereka memperkirakan akan tiba di Anglesey lusa siang, paling cepat.
Anglesey, sebuah pulau kecil di Wales, adalah tempat satu-satunya cabe Pink Tiger masih dibiakkan. Cabe
asal Amerika Selatan itu memang sangat langka, bahkan hampir punah. Mary tahu bahwa Guillaume pasti cemas. Mungkin besok, ia akan menerima kabar dari ayahnya kalau penyakit gatal-gatal sudah menyerang Colmar. Mary menyandarkan kepalanya ke bahu Guillaume. Bahu ini begitu nyaman. Dan Mary tidak mau kehilangan Guillaume. Sebuah perasaan sedih tiba-tiba melanda Mary. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia tahu bahwa ia tidak akan dapat menjalin hubungan jangka lama dengan Guillaume. Dan Mary akan memanfaatkan waktu kebersamaan mereka sebaik-baiknya. Ia akan berbahagia untuk hari ini, bukan mengkhawatirkan hari esok.
***
Mary dan Guillaume tiba di Honolulu sekitar pukul enam sore. Mereka menyewa air bnb dan mendapatkan unit apartemen mungil yang sederhana untuk beristirahat satu malam. Tidak banyak yang bisa dilihat di Honolulu di malam hari. Jadi mereka memutuskan untuk makan malam menghabiskan waktu di apartemen saja. Mereka berbelanja bahan-bahan makanan di supermarket, kemudian mereka memasak signature dish masing-masing.
Guillaume memasak boeuf bourguignon, daging sapi yang dimasak sampai empuk dan diberi saus yang terbuat dari red wine, kaldu sapi, dan tumisan bawang bombay serta sayuran. Mary sendiri hanya memasak nasi goreng. Guillaume juga membuat hidangan penutup berupa salted caramel brownies.
“Wow,” Mary berdecak nikmat menikmati boeuf bourguignon buatan Guillaume. “Ini gila! Sangat lezat! Aku tidak tahu kau juga pandai memasak.”
“Nasi gorengmu juga lumayan,” Guillaume menandaskan nasi goreng buatan Mary yang Mary yakin rasanya
pas-pasan.
Tidak sampai dua puluh menit, piring-piring yang tadinya berisi hidangan sapi lezat, nasi goreng, dan
brownies kini licin. Isinya tandas tak bersisa. Mary dan Guillaume duduk di sofa, kekenyangan.
“Tak kusangka, aku berada di Hawaii sekarang,” ucap Guillaume sambil menyesap birnya.
“Aku juga,” balas Mary.
“Ibuku pasti senang sekali kalau bisa ke sini.”
“Memangnya ibumu ada di mana sekarang?”
“Sejak lima tahun lalu, kedua orang tuaku bercerai. Penyebabnya karena perbedaan antara ibuku dan ayahku. Ibuku orangnya pemberani, suka bertualang, dan punya mimpi besar. Ia tidak suka tinggal dalam waktu lama di satu tempat. Ia bermimpi untuk menjalani kehidupan nomaden. Berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Menjelajahi dunia. Sedangkan ayahku sebaliknya. Ia suka menjalani kehidupan yang stabil dan tenang. Ia mencintai Colmar. Selain itu, ada toko kue yang harus dipertahankan. Sekarang aku tidak tahu ibuku ada di mana. Mungkin ia tinggal di Turki atau Kamboja.”
Mary merenungkan perkataan Guillaume. Kisah orang tua Guillaume mirip dengan kisah percintaannya
sendiri dengan Guillaume. Mereka tidak akan bertahan lama. Setelah perjalanan ini usai, setelah Colmar terbebas dari segala kutukannya, maka mereka akan berpisah. Ia akan kembali ke Indonesia atau mungkin pergi ke mana pun itu, sedangkan Guillaume harus tetap di Colmar. Tanpa ia sadari, air mata mengalir menuruni pipinya.
“Hey, kenapa menangis?” tanya Guillaume lembut. Ia mengusap air mata dari pipi Mary.
“Tidak apa-apa.” Mary berusaha tersenyum. Guillaume tidak perlu tahu isi hatinya. Mungkin Guillaume menceritakan itu semua untuk memberi kode pada Mary bahwa mereka tidak bisa bersama dan mungkin Guillaume mau mengakhiri semuanya.
“Sejujurnya aku takut, Mary, kalau kesalahan ayah dan ibuku akan terulang lagi. Memaksakan cinta tanpa
memedulikan mimpi masing-masing,” Guillaume melanjutkan. “Oleh karena itu—“
“Tolong jangan teruskan.” Air mata Mary mengalir semakin deras. Sekarang ia tidak bisa lagi menahan tangisnya. “Kau mau bilang kalau sebaiknya kita mengakhiri hubungan kita kan, sebelum semuanya terlambat?”
“Justru sebaliknya.” Guillaume menatap Mary dengan sendu. “Aku mau kita memanfaatkan waktu yang ada
untuk kita berdua sebaik-baiknya. Selama kau masih ada di sisiku, aku—“
Mary langsung mencium Guillaume sebelum pemuda itu menyelesaikan ucapannya. Guillaume membalas ciuman Mary. Perlahan mereka membuka pakaian satu sama lain. Mereka hanya berhenti sesekali untuk mengambil napas. Mereka berjalan ke arah kamar tanpa berhenti mencium satu sama lain. Guillaume pun menutup pintu kamar di belakangnya.
***