Travel, Bake, Love

Travel, Bake, Love
BAB 2



Mary mematut dirinya di depan cermin sambil tersenyum puas. Gaun hitam pendek model sabrina yang dikenakannya melekat dengan pas di tubuhnya yang langsing. Rambut bergelombang panjangnya dibiarkan terurai. Wajahnya dirias sedemikian rupa sehingga ia terlihat glamor namun tidak berlebihan. Ia menatap jam. Sebentar lagi


seharusnya Guillaume sudah tiba untuk menjemputnya. Baru ia memikirkan cowok itu, tiba-tiba terdengar bunyi bel. Mary segera membukakan pintu. Tampak Guillaume sudah berdiri di depan pintu apartemennya. Cowok itu mengenakan kemeja berwarna coklat susu yang lengannya digulung sampai siku dan celana khaki. Rambut pirangnya berkilau tertimpa cahaya lampu. Ia tersenyum.


    Setelah memuji penampilan masing-masing, mereka segera berjalan ke restoran yang sudah dipesan Guillaume


sebelumnya. Rupanya restoran itu tidak terlalu jauh dari apartemen Mary. Restoran itu memiliki desain unik dengan hiasan lampu-lampu di dinding putihnya. Setiap meja dilapisi taplak putih. Bangku-bangku juga dilapisi taplak putih. Tampak beberapa meja terisi oleh tamu.


    “Nah,” ujar Mary setelah pelayan restoran mencatat pesanan mereka. “Kau belum cerita kelanjutan dari insiden kanal itu.”


    “Yah, setelah kekacauan itu, polisi dan beberapa orang lokal membantu mengeluarkan mereka dari kanal. Agak sulit memang karena orang-orang itu susah diatur. Mereka juga berseru-seru: Panas! Panas! Kemudian ayahku membawakan mereka macaron dan memaksa mereka memakannya. Seketika itu juga orang-orang itu keluar dari kanal dengan tertib,” jelas Guillaume.


    “Hanya karena macaron?” Mary mengernyitkan alisnya bingung.


    “Ya,” Guillaume mengangkat bahunya dengan cuek.


    Mary merasa sikap Guillaume agak aneh. Pria itu seakan berusaha menghindari tatapan matanya. Pesanan mereka pun datang. Semangkuk cog au vin dan sepiring cassoulet disajikan di hadapan Mary dan Guillaume. Dua gelas champagne melengkapi makan malam mereka. Setelah makan malam, Mary memesan crème brulee sebagai pencuci mulut, sedangkan Guillaume memesan mousse au chocolat. Mereka saling menceritakan kehidupan masing-masing. Mary bercerita bahwa ia adalah seorang pengusaha bar di Bandung sekaligus traveler yang memiliki blog pribadi. Sejauh ini ia sudah mengunjungi 20 negara, di antaranya Indonesia, Belanda, Lesotho, Maroko, Kamboja, Jepang, Singapura, Malaysia, Thailand, Australia, Chili, Austria, Denmark, Hungaria, Luxembourg, Polandia, Spanyol, Botswana, Israel, dan Prancis. Dan ia masih berencana mengunjungi setidaknya 50 negara lagi.


    Guillaume memandang Mary dengan kagum. Ia sendiri baru pernah ke Indonesia dan Swiss. Ia berusia 26


tahun dan ia adalah pengelola toko kue—yang mana sudah diketahui Mary. Ia pernah kursus pastry di Swiss dan


Paris. Kemudian ia kembali ke Colmar untuk meneruskan usaha keluarga. Laurent Bakery sudah berdiri sejak tahun 1871. Mary sampai melongo mendengarnya. Tidak disangka toko kue itu begitu legendaris!


    Mereka baru selesai makan saat tiba-tiba Guillaume menerima telepon. Raut wajahnya berubah pucat begitu


ia mendengar perkataan orang di seberang telepon.


    “Ada apa?” tanya Mary begitu Guillaume mengakhiri telepon.


    “Tadi itu ayahku. Katanya tiba-tiba belasan orang menggedor-gedor toko karena kelaparan. Ayahku sudah


memberikan semua kue yang tersisa hari ini, namun mereka masih saja kelaparan. Ayahku memintaku untuk pulang,” ujar Guillaume gusar sambil berjalan cepat ke arah pintu keluar. Mary mengikuti di belakangnya.


    “Kalau begitu, aku antar kau pulang sekarang, ya? Setelah itu, aku juga harus langsung pulang,” ucap Guillaume.


    “Aku ikut,” tandas Mary.


    Tanpa banyak komentar, Mary dan Guillaume segera ke Laurent Bakery. Di sana, sekitar 15 orang mengamuk


sambil melolong kelaparan. Beberapa di antaranya menggedor-gedor pintu toko dengan keras. Mereka semua meneriakkan kata-kata berbahasa Prancis yang tidak dimengerti oleh Mary. Dengan bersusah payah, Guillaume dan Mary menyelipkan diri di antara kerumunan untuk mencapai toko. Akhirnya mereka berhasil masuk ke toko. Di dalam toko, ayah Guillaume mondar-mandir dengan panik. Keringat bercucuran di dahinya.


    “Ada apa ini, Ayah?” tanya Guillaume dalam bahasa Inggris. Mary tersenyum kecil.


    “Seperti kau lihat sendiri. Mendadak saja sekelompok orang menyerbu toko dan minta makan. Mereka terus menerus meneriakkan kata-kata: Lapar! Lapar! Beri aku makan! Dan tentu saja aku sudah memberikan setiap roti dan kue di toko ini. Mereka melahapnya dengan rakus dan sangat cepat! Namun mereka masih juga belum puas. Sekarang aku sedang memanggang roti, berharap roti yang kupanggang cukup untuk membuat mereka kenyang dan berhenti membuat keributan. Meskipun aku ragu.” Ayah Guillaume juga menjawab pertanyaan anaknya dengan bahasa Inggris.


    ”Apakah ada cara untuk menghentikan semua ini? Mungkin seperti memberikan macaron, seperti tempo


hari?”


    Ayah Guillaume termenung sesaat. “Sebenarnya aku mungkin tahu cara memperbaiki ini.”


    Mary dan Guillaume menatap ayah Guillaume dengan penuh minat. Ayah Guillaume memandang Mary dengan


ragu.


    Mary buru-buru memperkenalkan diri. “Nama saya Mary Karlsson.”


    Ayah Guillaume tersenyum singkat. “Armand.”


    Armand mengajak Mary dan Guillaume ke dapur produksi Laurent Bakery. Ia mengambil salah satu buku dari rak buku resep di sudut ruangan. Buku itu tebal dengan sampul keras berwarna krem. Armand membuka halaman demi halaman. Akhirnya ia berhenti pada satu halaman. Mary membaca judul bab itu. FENOMENA TAHUN SINCLAIR.


    “Zaman dahulu kala, terdapat dua bersaudara. Mereka adalah Philippe Laurent dan Sinclair Laurent. Tadinya mereka berdua adalah dua bersaudara yang akrab. Mereka bukan hanya kakak adik, namun mereka juga adalah partner bisnis. Dengan berbekal keahlian Philippe dalam membuat kue dan keahlian Sinclair dalam mengelola bisnis, mereka membuat sebuah toko kue. Laurent Bakery,” Armand Laurent melebarkan kedua lengannya dengan dramatis.


    “Maksudmu Laurent Bakery yang ini?” tanya Mary takjub.


    Armand mengangguk-angguk bangga. “Awalnya semua berjalan lancar. Toko kue mereka ramai. Semua orang


menyukai kue-kue mereka. Namun Sinclair memiliki minat lain. Ia mulai mempelajari sihir hitam demi meraup lebih banyak uang. Philippe mengetahui minat busuk Sinclair itu. Maka ia memutus kerja sama dengan Sinclair. Sinclair


dilarang untuk menjalani bisnis bersama Philippe. Philippe bahkan mengusir Sinclair dari kota ini. Sinclair yang marah kemudian mengutuk kota ini. Setiap 20 tahun sekali, kota ini akan mengalami insiden-insiden aneh selama sebulan penuh. Insiden pertama dimulai tahun 1880. Saat itu tiba-tiba penduduk Colmar dilanda kepanasan akut yang membuat seluruh kota ingin menceburkan diri ke badan air terdekat. Kemudian secara berturut-turut, penduduk Colmar akan dilanda kepanasan, kelaparan, penyakit gatal-gatal, kedinginan, kegemukan tidak wajar dan mendadak, serta gejala psikotik. Tidak sedikit yang sampai bunuh diri karena gejala psikotik berupa halusinasi yang tak tertahankan. Namun untung saja Philippe tahu cara mengatasi kejadian-kejadian tersebut. Ia membuat kue-kue penawar untuk setiap insiden. Begitu penduduk memakan kue-kue khusus yang dibuatnya, mereka akan kembali normal. Salah satunya—“


    “Macaron Sedingin Es,” lanjut Guillaume muram.


    “Benar.” Armand mengangguk.


    Ting! Oven berdenting menandakan bahwa roti yang dipanggang Armand sudah matang. Aroma coklat memenuhi dapur.


    “Ini adalah Roti Coklat Kekenyangan. Semua orang yang memakan roti ini akan merasa sangat kenyang sampai ia tidak mau makan selama tiga hari ke depan,” ucap Armand sambil membawa roti-roti tersebut ke luar toko. Ia membuka pintu toko dengan hati-hati dan melemparkan roti-roti yang sudah dibuatnya. Penduduk kelaparan meraup roti-roti itu dengan ganas. Lima menit kemudian, mereka pergi dari depan Laurent Bakery. Suasana menjadi tenang. Armand mengembuskan napas lega.


    “Ini baru permulaan,” ucapnya lemas. Ia mengempaskan dirinya di salah satu kursi. Mary duduk di hadapannya, sementara Guillaume duduk di samping ayahnya. “Tiga hari lagi mungkin kita akan mendapati penduduk dengan gatal-gatal hebat,” lanjut Armand.


    “Tadi katamu ada penawar untuk setiap insiden. Seharusnya kita tidak perlu cemas kan?” tanya Guillaume.


    “Nah, itu dia masalahnya!” Armand bangkit berdiri. Ia masuk ke dalam dapur dan keluar lagi semenit kemudian sambil membawa buku tebal bersampul krem yang tadi ia tunjukkan. Ia menuding salah satu halaman yang menampilkan sebuah resep bernama Lemon Bar Kulit Halus. “Bacalah resep ini!”


    Mary dan Guillaume membaca resep tersebut.


    “LEMON BAR KULIT HALUS dipercaya dapat menghilangkan gatal-gatal pada kulit akibat kutukan Sinclair Laurent pada Colmar dan penyebab gatal lainnya. Hidangan ini sudah terbukti berhasil selama puluhan tahun. Bahan-bahan yang dibutuhkan antara lain: 1 cangkir mentega, ½ cangkir gula halus, 2 cangkir tepung terigu,


4 butir telur, 1,5 cangkir gula pasir, 1 cangkir air perasan lemon, dan 1 sendok teh keratin kulit bayi Spanyol yang baru lahir. Cara membuat: panaskan oven. Campur mentega, gula halus, tepung terigu, dan telur. Panggang di dalam oven selama 20 menit. Angkat. Campur gula pasir, air perasan lemon, dan keratin kulit bayi Spanyol yang baru lahir. Tuangkan campuran tersebut ke atas bar yang sudah jadi.”


    “Keratin kulit bayi Spanyol yang baru lahir? Serius?” tanya Mary dengan nada skeptis.


    “Ya. Dan aku kehabisan keratin tersebut. Aku juga kehabisan bahan-bahan lain seperti  lahar gunung berapi paling aktif di dunia, cabe Pink Tiger, dan ledakan kembang api perayaan.”


    “Baiklah. Aku akan mencari bahan-bahan tersebut,” tandas Guillaume tegas.


    “Tapi bahan-bahan ini terletak di tempat yang sangat jauh. Gunung berapi paling aktif di dunia adalah Gunung Berapi Kilauea yang terletak di Hawaii. Cabe Pink Tiger hanya ada di Amerika Selatan. Sedangkan ledakan kembang api perayaan, kau bisa mendapatkannya di mana pun, asalkan ada perayaan yang perlu dirayakan,” tutur


Armand.


    “Tidak masalah. Aku akan berangkat sesegera mungkin. Aku akan memesan tiket pesawat ke Spanyol sekarang


juga.” Guillaume mulai mengetik-ngetik sesuatu di ponselnya.


    “Aku ikut!” seru Mary.


    Armand dan Guillaume menoleh padanya.


    “Bukankah besok pagi kau harus segera berangkat ke Kayersberg?” tanya Guillaume.


    “Aku memutuskan untuk ikut mencari bahan-bahan aneh itu bersamamu. Lagipula mengunjungi gunung berapi


paling aktif di dunia kedengaran lebih menyenangkan daripada mengunjungi kebun anggur,”


    “Baiklah.”


***