
Wajah Roy masih penuh keringat dia dari tadi minum aja gua sampai kasihan lihat dia
"aduhh"
"kenapa lu"
"perut ku rasa nya sakit"
"ehhh serius lu"
"iya ini ga boong"
"mang berapa semua nya"
"RP 70.000 neng"
"ini mang" gua ngeluarin uang seratusribu dan memberikan nya pada penjual mi ayam
"ini mbka kembaliannya"
"makasih mang. mang apotek dekat sini dimana yah mang?"
"didepan mbak tapi ga tau deh entah masih buka coba lihat aja dulu mbak"
"ohhh iya mang makasih yah mang"
Gua mendatangi roy wajah nya pucat sumpah gua ga tega lihat dia kalau tau gini kan ga bakal gua ajak dia makan mi ayam sepedes ini
"lu bisa jalan kita beli obat dulu"
"bisa ko ci"
Roy mulai berdiri dan gua memopong dia sumpah nihh anak berat bat dah gua dah mau mampos memopong nih orang.
"masih tahan kan lu"
"masih ko ci"
"itu apotek nya udah ada didepan kok"
"iya ci"
"jan mati dulu lu gua ga mau bawa mayat"
"ahhh gila kamu"
dan ga berapa lama gua dan roy akhir nya sampai di apotek
"mbakkkkkk" gua mulai teriak
"kamu ngajak tauran ci"
"yahh habis nya ga ada yang jagain"
"yah sabar dulu"
ga berapa lama mbak penjual apotek datang
"niat ngejual nggak sihh mbak" gua mulai kesel
"maaf mbak. ada yang bisa saya bantu"
"ada obat sakit perut ga?"
"obat sakit perut kenapa mbak"
"habis makan yang pedes"
"bentar yah mbak"
gua cuman mengganguk kan kepala doang gua ga tega banget liat roy yang ke sakitan
"ini mbak obat nya"
"anjuran nya gimana?"
"langsung diminum aja mbak"
"ohh oke berapa mbak?"
"nih mbak"
gua kasih uang nya dan gua bawa roy ke toko yang ada jual air mineral biar bisa langsung di minum obat nya sama roy
"kita di sana aja yah biar obat nya langsung lu minum"
"hemmn"
setelah sampai di toko gua beli air dan mulai memberikan obat pada roy
"nihh minum obat nya"
roy mengambil obat dan langsung menelannya
"gimana?"
"masih sakit"
"sabar mungkin obat nya belum bereaksi"
roy masih lemes gua merasa bersalah sama dia tadi siang gua kasih bakso bakar yang super duper pedes juga lah malam ini juga gua kasih mi ayam yang pedes juga
"maaf yah roy"
"buat?"
"yahh gara-gara gua lu jadi sakit perut kayak gini"
"aku malah seneng kamu ajak makan yang pedes lagi jadi nya aku bisa merasakan yang pedes"
"tapi kan lu jadi sakit perut kayak gini kan karna gua juga"
"tenang ga usah terlalu dipikir kan"
"sekarang gimana udah mulai reda sakit nya?"
"udah lumayan kok"
"ahhh syukurlah"
"kamu kok khwatir banget sama aku"
"gimana gua ga khwatir kalau lu mati siapa yang salah gua juga kan"
"ga sampai mati juga ci"
"perkiraan nya gitu lah dulu"
"kalau gua mati emang kenapa?"
"yahh lu pasti ngantui gua lu balas dendam"
"parah aku ga gitu-gitu amat lah"
"hahahah kan gua ga tau"
"pulang yuk dah jam 10.00"
"iya besok kita harus sekolah lagi"
"ehhh iya kamu jadi kan sama aku berangkat nya"
"ga tau deh"
"kenapa?"
"gua lama bangun"
"kan nomor hp kamu udah ada sama aku jadinya bisa aku bangunin dari hp"
"yaudah deh oke"
"perut lu ga sakit lagi kan"
"hemm udah enggak kok"
gua dan roy beranjak dari tempat kita duduk dan mulai berjalan.