Timeline

Timeline
momen indah



****


Echa membaca buku di kelas, kemudian dihampiri oleh kedua temannya.


Mengambil posisi duduk dibangku kosong sebelah echa. "Beb lo lagi ngapain..?? Kita ke kantin yuk..!! Gue udah laper nih." Ujar Luna mengambil novel dari tangan Echa.


Mengambil kembali novelnya dari Luna. "Apaan sih gue belum selesai baca." Ucap Echa singkat.


"Iya cha kita kekantin, gue udah laper banget nih." Ujar Tara singkat.


"Oh ya gue lupa, PJ mana..?? Lupa loh..??. Seru luna.


"Oh iya gue lupa. Lo kan udah jadian sama Gilang tapi lupa sama kita. Biasanya kan ada PJ nya.


"Ih bawel deh." menutup bukunya." Oke gue traktir.


Echa,luna dan tara keluar menuju kantin.


"Kalian mau makan beb..??" Echa pun duduk di tengah kedua sahabatnya.


"Eh beb loh ngapain duduk..??" Tanya Tara.


"Katanya mau makan, gimana sih kalian."


"Eh ntar dulu. Kan loh masih ada hutang sama kita." seru tara luna.


"Hutang apa..? Sejak kapan gue suka ngutang sama kalian..??" Echa pun terkejut dan heran.


"Hutang PJ lah. Gimana sih loh..??"


"Yah gue pikir apaan."


**


Gilang menunggu Echa didepan gerbang sekolah menggunakan motor.


Mereka melaju motor menuju pulang kerumah Echa.


"Ntar malam aku jemput ya. Kamu siap-siap. "


"Emang kamu mau ngajak aku kemana..??" Tanya echa.


"Nanti kamu juga akan tau. Aku pulang dulu ya. Bye..!!! " Gilang melaju motornya tanpa menoleh kebelakang.


Kamar echa berantakan, tempat tidur dipenuhi dengan baju-baju yang akan ia kenakan nanti malam bersama gilang.


"Aduh..!! Gue pakai baju apa ya..?? Bingung nih, semua baju udah gue pake semua." Menggaruk kepalanya ya tak gatal serta menghelai nafas panjang.


Mama Echa masuk ke kamar menghampiri anaknya yang kebingungan memikirkan baju yang ia kenakan.


" Sayang, kamu lagi ngapain sih..?? Kok mama perhatiin kayak kebingungan gitu..? Duduk disamping baju yang sudah berantakan diatas tempat tidur.


"Ya Ampun kenapa bajunya berantakan semua..??" Mama echa membereskan baju yang begitu berantakan diatas tempat tidur itu.


Echa gelisah di malam itu sepertinya gagal untuk pergi bersama kekasihnya. Ia harus mendapatkan solusi yang tepat untuk bisa pergi bersama gilang. Ia pun pergi ke kamar mamanya dan mencari sesuatu di dalam lemari untuk solusi yang dihadapi saat itu.


Mengobrak abrik lemari, akhirnya ia menemukan apa yang ia cari yaitu baju mama nya sewaktu masih muda dulu. Baju lama tapi cantik saat ia kenakan lalu ia memutuskan untuk memakai baju tersebut.


Suara ketukan berasal dari luar rumah, mama echa lalu membukakan pintu dan ia mempersilahkan tamu itu masuk.


Echa pun turun dari atas menuju ruang tamu, ia menemukan gilang yang sudah menunggunya.


Mereka sampai di suatu tempat yaitu sebuah studio yang dipenuhi alat untuk melukis


Echa tercengang, kenapa kekasihnya mengajak dia ke tempat ini. Ya echa begitu menyukai lukisan dan selalu berharap punya studio lukisan tempat ia mengutarakan perasaan dan buah pemikiran melalui lukisan.


"Ini studio punya siapa lang..??" Echa melihat kanan kiri di sekitarnya.


"Kamu suka..??" tanya Gilang.


"Iya aku suka lah, ini tuh keren banget tau. Sumpah aku udah lama pengen punya studio ini."


"Baguslah kalo kamu suka berarti kamu aku gak salah dong..?? "


"Gak salah maksud kamu..?? Emang ini punya siapa..??"


"Gak salah dong milihnya buat kamu." gilang tersenyum lebar


"Hah buat aku..?? " Echa pun terkejut mendengar ucapan gilang.


"Iya ini semua aku siapin khusus buat kamu." Gilang mengelus rambut dengan kedua tangannya.


"Kamu serius..?? Ini semua buat aku..?? " kamu gak gak bercanda kan..??


Echa begitu senang mendengar ucapan gilang.


"Iya, ini semua buat kamu. Karena aku tau kalo kamu suka sama lukisan makanya aku sengaja siapin ini semua nya buat kamu."


Echa pun langsung memeluk gilang. Ia malam itu bahagia bisa mendapatkan salah satu impiannya.


Gilang pun juga membalas pelukannya.


Echa melepaskan pelukannya namun jarak mereka begitu dekat "Makasih ya lang kamu selalu bisa bikin aku bahagia, kamu selalu bikin aku ngerasa paling beruntung. Dan makasih karena kamu udah jadiin aku bagian dari hidup kamu." Mereka berpelukan.


Gilang melepaskan pelukannya.


"Ya Ampun Gilang. Makasih ya." Ucap echa singkat sambil memutarkan badannya ke belakang,


Gilang tersenyum lebar. Ia langsung memeluk echa dari belakang.


"Sekarang kamu buat lukisan gambar aku ya." tangan gilang pun mengarahkan ke tangan Echa yang sedang memegang kuas lukisan. Gilang seperti mengarahkan echa untuk menggambar sosok dirinya.


"Iya nanti aku bakal ngelukis wajah kamu, tapi kamu duduknya disana dong. Kalo kayak gini kan aku gak bisa ngelukis. Tangan aku susah geraknya."


"Aku pengen ngebantuin kamu."


"Ya kalo kamu disini gimana kau ngelukisnya sayang."


Gilang melepaskan pelukannya. "Oke deh aku duduk disana ya." duduk di sofa yang berada tidak jauh dari echa."


***


Exsel membantingkan dirinya di tempat tidur. Ia memandang langit kamarnya dan membayangi omongan echa waktu di mall.


"Tuh cewek siapa ya. Semua omongan dia waktu itu ada benarnya juga. Kalau bukan karena mereka pasti gue gak bakal bisa seperti sekarang ini. Banyak fans yang udah gue temuin tapi cuma dia yang nasehatin gue kayak gitu. Gue jadi penasaran sama tuh cewek.


Exsel membangkitkan badannya dan mengambil kemeja nya kemudian ia keluar menggunakan mobilnya.


" Gimana udah selesai belum ngelukisnya, aku udah gak sabar nih pengen liat lukisan kamu. Kayaknya gambar aku bagus banget deh, secara kan yang ngelukis pacar sendiri." Gilang terkekeh.


"Ya sabar..!! Bentar lagi juga selesai, dikit lagi." Echa mengoles-oles kuas di buku gambarnya.


"Berapa jam lagi..??" Gilang berdiri.


"Ini sudah selesai." Echa bangkit dari tempat duduknya. "Kamu harus tutup mata dulu. Menghampiri Gilang.


"Kok tutup mata sih, lama dong. Aku kan udah gak sabar nih pengen liat lukisannya."


Echa menutup mata kekasihnya menggunakan kedua tangan lalu mereka berdiri di depan lukisan tersebut.


"Udah belom nih..??" tanya gilang singkat.


"Ntar aku hitung dulu ya sampai tiga." mereka pun bersamaan menghitung satu sampai tiga.


"Wahhh..!!!!!!" Lukisan kamu bagus banget, ini sih bukan lukisan tapi foto aku yang dicetak. Dari rambut,mata,hidung sama senyum nya juga mirip banget sama aku." Gilang tercengang melihat lukisan yang dibuat oleh kekasihnya itu dan senang lukisan yang echa buat mirip sekali dengan dirinya.


Echa tersenyum. "Ya dong, lukisan ini aku buatnya pake cinta. Terkekeh.


"Cielah pake cinta..!!" Gilang merangkul Echa dan mencium keningnya kekasihnya itu.


Exsel menyetir mobilnya sambil melihat kanan dan kiri, ia tak sengaja melihat tara yang lagi berjalan di pinggir jalan sambil melihat handphone. Tara pun terdengar bunyi klakson mobil yang berada di depannya membuat tara kesal.


"Mobil siapa sih, pake klakson didepan orang segala. Bikin kaget gue aja, omel tara ketus.


Exsel turun dari mobilnya dan menghampiri tara lalu memberikan kacamatanya.


"Eh ternyata mobil loh yang klakson, gue pikir siapa." ketus Tara.


"Gue minta sebelumnya udah bikin lo kaget, gue sengaja klakson biar loh berhenti."


"Ada perlu apa lo sama gue, lagian lo gak malu apa ngobrol sama gue di pinggir jalan gini, secara loh kan aktor.


"Yaelah biasa aja kali, gue cuma mau nanya sama lo. Boleh kan..??"


"Mau nanya apa..?? "


"Gue mau nanya soal temen loh itu." Exsel tiba² gugup saat menanyakan soal echa, dia seperti linglung."


"Temen gue yang mana, kan temen gue banyak. Lagian sejak kapan lo kenal sama temen-temen gue..??"


"Itu loh temen lo yang tinggi, rambut panjang, suka pake bando, terus anaknya rada-rada bawel gitu."


"Oh Echa..!! Kenapa nanyain dia..??"


"Oh namanya Echa ya..?? Kalo boleh tau dia itu kerja dimana..??"


"Kerja..?? Terkekeh. Sekolah aja belum tamat udah kerja.


"Oh jadi dia masih sekolah ya, kelas berapa..??"


"Ya Ampun pertanyaan loh banyak banget sih, lagian buat apa sih loh mau tau soal echa..??"


"Ya gue nanya aja kali."


"Echa itu satu sekolahan sama gue di SMA Tunas Bangsa." sebenernya buat apa sih lo nanya-nanya gitu, jangan sembarangan ya echa itu udah punya pacar, jadi loh gak boleh deketin dia."


"Gak kok, gue nanya aja."


"Lagian daripada lo nanyain soal echa, mendingan nanyain gue. Dengan nada yang manja.


Exsel pun meninggalkan tara begitu saja, ia menuju mobil dan pergi.


" Ih tuh cowok nyebelin banget sih, udah nanya-nanya dia pergi gitu aja. Kasih goceng kek atau ditawari pulang bareng. Untung gue ngefans sama loh.


*****