Timeline

Timeline
bahagia



*******


Di Sebuah sekolah Echa dijemput Gilang menggunakan mobil jip nya dan tidak lupa kacamata yang terpasang membuat laki-laki itu tampak kelihatan keren. Echa mendekati laki-laki yang sekarang sudah menjadi kekasihnya itu. mereka menuju mobil yang ada di pinggir jalan.


Gilang membawa Echa ke cafe, tempat biasa Gilang kunjungi. sesampainya Gilang memutar setir mobilnya untuk mengambil posisi parkir yang lurus. lalu mereka masuk kedalam dan duduk di salah satu meja yang terlihat kosong.Waiters resto menghampiri meja mereka memberikan menu makanan.


"Kamu mau makan apa..?? " Gilang membuka menu pesanan.


"Apa aja deh aku ngikut kamu aja." Echa menaruh tas sekolahnya di kursi kosong sebelahnya.


"Bener nih ngikutin aku..?? Ya udah deh." Gilang menunjukan makanan yang akan ia pesan kepada waiter. lalu dicatat semua pesanan oleh waiter tersebut.


Pesanan mereka pun datang. Melihat semua banyak makanan diatas meja yang didepannya Echa pun langsung menyantapnya. Saat itu Echa sudah kelaparan sehingga ia tidak memperdulikan keberadaan Gilang di depannya.


"Kamu udah laper banget kayaknya gak baca doa langsung aja makan." Mengangkat kepalanya ke arah Echa.


"Iya aku udah lupa nih, tadi di sekolah tugas banyak jadi gak sempet ke kantin." Echa memberhentikan menyantap makanan. "Maaf ya.!!"


"Gak papa. Ini kan udah siang pasti kamu udah laper. Ya udah lanjutin makannya." Gilang melanjutkan menyantap makanannya.


Echa seperti orang rakus saat itu ia makan seperti orang kelaparan sehingga makanannya belepotan di dadanya. Gilang sadar akan hal itu, membuat Gilang menegur Echa dan membersihkan makanan ya ada didagunya.


"Ya Ampun..!! Kamu belepotan banget makannya." Gilang menatap Echa tajam sembari membersihkan makanan yang ada di dagu Echa dengan begitu lembut dan pelan-pelan.


Mereka saling menatap satu sama lain. Dan Echa tanpa sadar menikmati perlakuan manis Gilang kepadanya. Ia tak menyangka laki-laki itu begitu perhatian padanya.


Saat sudah menyelesaikan makannya mereka keluar tiba-tiba ada seorang bapak-bapak penjual ice cream lalu gilang memutuskan untuk membelikan dua ice cream untuk mereka berdua.


Mereka pun berdiri disamping mobil Gilang.


Gilang memberikan ice cream satu di tangannya kepada Echa." Nih buat kamu.


Echa mengambil ice cream yang dari tangan Gilang. "Makasih ya. Tau banget kalo aku lagi pengen makan ice cream"


Gilang hanya tersenyum lebar.


"Ngomong-ngomong kamu kenapa sih suka ice cream..??"


"Ya suka aja, ice cream kan manis dan kalo menurut aku sih bisa membuat pikiran aku jadi lebih tenang. "Kalau kamu sendiri kenapa suka ice cream..??" tanya Echa.


"Karena kamu aku suka ice cream." Gilang kembali tersenyum. Sepertinya ini adalah trik buat ia mengeluarkan rayuannya.


"Kok aku sih, apa hubungannya coba..???" Tanya echa sedikit heran.


" Ya karena makan ice cream nya sama kamu, makanya aku jadi suka ice cream." Gilang terkekeh, sepertinya rayuan itu sudah berhasil ia utarakan kepada echa.


"Apaan sih, aku serius tau nanya nya. Kamu malah gombal." echa tersipu malu dan wajahnya memerah.


"Aku gak gombal kok. Aku serius.


Aku suka ice cream karena


manis. Seperti orang yang


sekarang ada disamping aku. Lagi-lagi gilang terkekeh.


"ihh gilang, udah deh gombalnya. Mendingan kita pulang yuk, aku udah capek banget nih.


"Ya udah yuk kita pulang." Gilang membukakan pintu mobil untuk echa.


*****


"Kamu duduk dulu ya. Aku mau ganti baju dulu." Gilang hanya mengangguk. Echa pun menuju dapur, kebetulan ia bertemu bibi di dapur dan echa menyuruh bibi untuk membuat minum.


Gilang membangkitkan badannya yang sebelumnya duduk disofa sambil menaruh tasnya. Ia melihat dan menyusuri ruang tamu dan melihat foto-foto yang ada diatas meja bahkan juga yang ada dipajang di dinding.


Ia hanya tersenyum memandang semua foto-foto tersebut karena ia melihat banyak foto-foto Echa waktu kecil dan juga fotonya bersama kedua sahabatnya Luna dan Tara. Menyusuri ruang tamu ia tidak sengaja melihat sebuah buku.


Jelang beberapa menit kemudian Echa pun keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ke ruang tamu.


"Ini foto-foto kamu waktu kecil ya..??" Tanya gilang sembari memegang foto echa.


" Iya itu foto aku waktu kecil. Echa pun mengambil posisi duduk disamping tasnya Gilang. Dan Gilang juga menghampiri Echa dan mengambil posisi duduk disamping echa.


Echa memberikan segelas yang sudah berada diatas meja. "Minum dulu teh nya, ntar keburu dingin loh.


Gilang mengambil gelas yang berisi teh dari tangan echa. "Makasih ya..!!" Menaruh gelas keatas meja. "Kamu tinggal sendiri disini..??


" Gak kok, ada mama sama papa juga. Kenapa..??"


"Gak papa, tapi kok sepi banget."


" Iya mama aku lagi keluar. Papa aku juga lagi diluar kota jadi sekarang aku tinggal bertiga sama bibi."


"Oh gitu. Gilang memandang echa. Kamu kayaknya masih kecapean deh pulang dari sekolah." Gilang mengusap-usap rambutnya echa. "Kamu istirahat ya. Aku pulang dulu.


"Cepet banget sih pulangnya. Baru saja beberapa menit." Echa seketika bete saat Gilang memutuskan untuk pulang.


"Iya kamu pasti butuh istirahat kan baru pulang sekolah, pasti capek. Lain kali aku aku mampir lagi kesini. " Gilang membenarkan rambut echa yang sedikit berantakan.


"Jadi cuma mampir aja nih, gak mau main-main gitu kesini..? Gak asyik banget sih." echa memanyunkan bibirnya.


Gilang membangkitkan badannya sembari menggendong tas. Begitu juga echa yang bangkit dengan muka yang bete.


"Gak boleh cemberut gitu dong. Lain kali aku kesini lagi. Promise..!! Gilang menjulurkan jari kelingkingnya dan Echa menyambutnya dengan melingkari jari kelingking Gilang.


Mereka menuju keluar rumah. Dan gilang membelokkan setir nya langsung melaju mobilnya dan meninggalkan echa.


*****


Hari itu libur sehari. Echa memutuskan untuk ke rumah Luna dan mengajaknya untuk menonton konser Exsel di salah satu mall.


Gilang juga sibuk dengan kameranya dan memotret aktivitas exsel.


Ya selain mahasiswa, gilang juga sebagai fotografer exsel dan selalu menemani exsel tampil dimana saja termasuk konser Exsel.


Exsel sudah naik di atas panggung. Terlihat keren menggunakan kemeja putih panjang, celana chino dan sneakers, tidak lupa outerwearnya. Suasana riuh dan ramai semua penonton melambai ke atas dan ikut bernyanyi.


Kebahagiaan yang terpancar di wajah echa,luna dan tara. Mereka loncat-loncat dan teriak- teriak histeris memanggil nama Exsel Sebastian.


Saat itu gilang hanya memandang echa dari kejauhan. Ia begitu senang melihat kekasihnya tertawa begitu lepas tanpa beban. Sesekali ia memotret kekasihnya itu.


Echa dan kedua sahabatnya pergi ke sudut ruangan untuk duduk dan menikmati minuman yang telah mereka pesan.


Pantauan diam dari sudut belakang membuat echa merasa ada yang memperhatikannya dari tadi saat ia teriak-teriak memanggil nama Exsel.