The Story of Nara and Nori

The Story of Nara and Nori
Episode 7



Seorang wanita terduduk murung di toko kecil bunganya. Hari demi heri telah berlalu. Dan masa kehamilan wanita itu semakin bertambah. Kini sudah masuk bulan pertamanya. Namun, sosok yang ia cari-cari belum juga muncul. Entah kenapa pria itu melakukan ini kepadanya.


Ia adalah Nori Putri Mahendra.


Jack itu cinta pertamanya Nori sejak ia kuliah semester satu. Senyumnya yang menawan nan hangat selalu berhasil mencuri hati Nori.


Semakin Nori mengenalnya, semakin pula ia jatuh cinta. Jack Husman Danuraga. Pria keturunan Inggris - Indonesia. Semua orang menganggapnya lelaki yang berengsek dan pemain wanita. Tapi yang Nori ketahui, dia memiliki hati yang lembut.


"Permisi." Suara seseorang menyentakkan pemikiran Nori dari bayang-bayang Jack.


Seorang wanita berkacamata hitam berambut pirang sebagu masuk ke dalam toko Nori.


Apakah dia seorang bule? Batin Nori dalam hati.


"Silakan, Nyonya. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Nori dengan ramah.


"Hm ... aku ingin membeli bunga untuk calon menantu perempuanku," katanya sembari melepaskan kacamata.


Nori terpana sejenak, iris matanya sangat indah. Hijau kebiruan. Tapi, bahasa Indonesianya lancar sekali. Seperti sudah bertahun-tahun di sini.


"Oh, mau jadikan hadiah ya, Nyonya?" Wanita yang terlihat berusia 30-an ini menganggukkan kepalanya.


"Baik, saya memiliki beberapa pilihan. Ada bunga mawar, krisan, lily dan carnation yang bisa dijadikan sebagai hadiah. Nyonya mau yang mana?"


"Lily saja," balas wanita paruh baya itu.


"Baik, Nyonya."


Tangan Nori mulai mengambil helaian demi helaian bunga putih yang terlihat elegan itu. Setelah merasa cukup, ia membungkusnya dengan hati-hati.


"Selamat berbahagia untuk anak dan calon menantu Anda, Nyonya," ucap Nori sambil menyerahkan sebuket bunga lily kepada wanita itu.


"Terima kasih, Nona. Kamu cantik saat tersenyum, berapa umurmu?"


Kedua pipi Nori tersipu malu. "Dua puluh empat, Nyonya."


"Oh, kamu seumuran dengan calon menantuku."


Wanita itu tertawa lebar sembari merogohkan sesuatu di dalam tas mahalnya bermerek Bonia. Kemudian mengulurkan selembar kartu undangan berwarna silver metalik dan dilapisi dengan pita berwarna merah muda.


"Ini, acaranya masih satu minggu lagi. Semoga kamu bisa hadir dan berkenalan dengan anakku juga calon menantu perempuanku."


Mulut menganga lebar membentuk huruf 'o' besar. Keluarganya pasti dari orang kalangan yang kaya. Serba mewah, elegan dan mahal!


"Ehm ... terima kasih, Nyonya. Akan saya usahakan."


Wanita itu mengangguk sekilas lalu beranjak keluar. Gaya jalannya pun sangat anggun seperti ratu pada kerajaan zaman dahulu.


Embusan napas lega dikeluarkan dari mulut Nori, seketika ia menoleh ke kartu undangan tersebut dan berpikir sejenak.


❣️❣️❣️


Di sisi yang lain, Nara berkeliling mall untuk membuang rasa bosannya saat di rumah tanpa melakukan apa pun. Bukan kah istri rumah tangga itu memasak, menyiram bunga dan sebagainya?


Nara mau masak, malahan dilarang oleh Erfan. Sedang mau menyiram bunga, selalu saja pembantu rumah sudah duluan melakukannya.


"Cape, cari tempat duduk dulu yuk, Aby." Nara melangkah mendekati Starbucks yang ada di mall itu.


"Apa Nyonya mau memesan sesuatu?" tanya Abygail.


"Mau! Signature Chocolate pakai hazelnut ya, kamu boleh pesan juga kalau mau," kata Nara sambil memberikan kartu platinum pemberian Erfan kepada Abygail.


"Terima kasih, Nyonya. Saya pesan dulu."


Nara merenggangkan otot-ototnya yang pegal akibat sudah hampir dua jam ia berjalan terus tanpa ada niat membeli apa pun.


Iris mata Nara jatuh pada satu titik yang tidak jauh dari tempatnya. Seorang laki-laki yang tidak asing di matanya lagi. Max Wijayanto.


Lelaki itu tidak berubah sama sekali, masih sangat tampan seperti sebelumnya. Namun, bedanya kali ini adalah posisi di sebelahnya bukan dirinya lagi. Seorang gadis yang manis bergelayut manja di lengannya.


"Aku mau minum!" seru gadis itu.


Max menganggukkan kepalanya, kemudian berjalan masuk ke dalam Starbucks.


Secepat kilat, Nara menunduk dan menutup setengah wajahnya dengan rambut panjang hitamnya.


"Lepaskan!" seru Max yang berhasil menarik perhatian Nara.


Kedua bola mata Nara hampir saja meloncat keluar kala melihat Abygail menahan tangan Max di balik punggungya sendiri.


"Kubilang lepaskan!" Lagi-lagi Max berteriak.


Nara spontan bangkit dari kursinya dan menghampiri Abygail.


"Aby," panggil Nara.


"Nyonya, maaf, pria ini menumpahkan minuman Anda."


Max menatap Nara dengan tatapan tidak percayanya.


"Tidak apa-apa, Aby. Lepaskan dia."


Abygail menuruti perkataan majikannya dan mengempaskan tangan Max.


"Tadi ... dia panggil kamu Nyonya?" tanya Max memastikan.


Nara tidak berani menghadap ke arah Max. "I-Iya."


"Kenapa, Nara?!" Max menarik kedua bahu Nara dengan kasar membuat wanita itu meringis.


"Lepaskan Nyonya!" perintah Abygail dengan mengacungkan pisau lipatnya ke leher Max.


Tawa Max penuh lirih. Perlahan tapi pasti, Max menurunkan kedua tangannya.


"Bagus sekali, Nara. Apa kamu tahu betapa hancurnya aku saat membaca pesanmu yang ingin mengakhiri hubungan kita ini?"


Nara terpaku di tempatnya, berusaha menahan tangisnya agar tidak pecah.


"Kenapa kamu melakukan ini, Nara? Apa salahku? Apa kurangnya dariku?!" Max meninggikan nada suaranya mengangetkan pengunjung di sekitarnya termasuk Nara.


"Bu-bukankah itu bagus? Kamu ... kamu sudah menemukan gadis manis sekarang," balas Nara yang terdengar gemetaran.


Nara buru-buru membalikkan badannya, ia tak mau membiarkan Max melihatnya seperti ini. Penglihatannya memburam diiringi cairan bening yang membahasi di kedua pipinya.


"Nara, dia bu—"


"Kumohon lupakan semuanya dan jaga dia baik-baik, Max. Kulihat gadis itu cocok denganmu," potong Nara.


Kakinya lekas meninggalkan dari Starbucks. Nara tidak bisa lagi menahan perih di hatinya saat ini.


Max ingin kembali meraih lengan Nara, namun Abygail duluan menahannya. "Nyonya sudah menikah dengan tuan Erfan Hardijaya, aku peringatkan kau tidak mengganggu ketenangan Nyonya lagi."


❣️❣️❣️


"Nyonya di mana, Aby?" tanya Erfan yang baru saja masuk ke rumah dan tidak mendapati sosok istri cantiknya.


"Nyonya dari tadi di kamar, Tuan." Erfan mengangguk kemudian melesat pergi ke kamar utama di lantai dua.


Diputar kenop pintunya, tapi terkunci dari dalam. Nara dari tadi mengunci dirinya di kamar, air matanya sudah mengering sejak dua jam lalu. Setelah berteriak histeris di bawah tutupan bantal agar lebih meredakan suaranya. Namun, air itu masih membekas di kedua pipinya. Tatapannya kosong menerawang ke luar jendela.


Tok. Tok. Tok.


"Nara, buka pintunya."


Tidak ada jawaban, Erfan mengernyitkan kening menatap Abygail. "Dia tidur kah?"


Abygail menggelengkan kepalanya. "Saya tidak tahu, Tuan. Semenjak pulang dari mall, dan bertemu seorang pria ... Nyonya cuma di kamar saja."


Rahang Erfan mengeras. "Siapa pria itu?!"


"Saya ingat tadi Nyonya memanggilnya Max, Tuan."


Max mengepalkan kepalan tangannya dengan alis tajamnya dikerut dalam.


"Sialan!" umpat Erfan beranjak pergi dan menuju ke ruang kerjanya di lantai satu.


Erfan kini sudah tahu, tangis dan kebencian Nara kepadanya itu semua karena pria bernama Max.


"Kamu begitu mencintainya kah? Maka aku akan membuatnya menghilang di depanmu, sayang."


Senyum seringaian Erfan tercetak di salah satu sudut bibirnya, tapi pandangan matanya menatap foto Max dengan dingin.


❣️❣️❣️


Terima kasih sudah membaca ya.


Semoga kalian menikmati 😍


See you next part!


Bye!