The Story of Nara and Nori

The Story of Nara and Nori
Episode 03



Nara terbangun dengan gerakan yang menganggunya. Refleks ia bergerak mundur kala melihat sosok yang dikenalnya. Ia ingat jelas, semalam dirinya itu tidur sendirian yang katanya Erfan akan tidur di sofa tapi ia tidak menemukan sosok itu saat terbangun oleh panggilan adiknya.


"Kenapa kau tidur di sini?!" seru Nara dengan garang.


Erfan terkekeh geli. "Aku suamimu, tidak ada salahnya aku tidur di sebelahmu."


Sontak Nara mengintip di balik selimut untuk mengecek apakah ia masih memakai baju tidur bergambar pandanya atau ....


Embusan napas lega dilontarkan dari bibir Nara. Syukurlah, masih utuh.


"Gimana kalau kita buat kesepakatan?" saran Nara.


"Kalau aku tidak mau?"


Nara menggerutu sebal. "Pokoknya aku beritahu kamu satu hal. Bagaimana pun hatiku sudah penuh. Tidak ada space untuk kau lagi."


Rahang Erfan mengeras, semakin mempertegaskan bentuk dagu yang tajam. "Akan kubunuh pria itu!"


Kedua kelopak mata Nara terkuak lebar. Jantungnya nyaris berhenti berdetak. "Are you kidding me?"


"Apa aku sedang terlihat bercanda, Nori?"


Nara menggigit bibir bawahnya, ingin sekali ia berteriak 'aku bukan Nori!', tapi perkataan itu hanya bisa Nara telan kembali ke dalam perutnya.


Tanpa rasa ada niat untuk berdebat lagi, Nara menuruni ranjang menuju ke kamar mandi untuk membersihkan badan dan menyegarkan otaknya.


"Daripada aku terus beradu mulut dengannya, mending aku berpura-pura tidak melihatnya." Nara menganggukkan kepalanya.


Sehabis mandi, Nara terlonjat kaget. Erfan melepaskan baju serta celana panjangnya, dan hanya menyisakan boxer segiempat berwarna navy blue.


Calm down, Nara! Cukup kamu menutup mata dan bertindak seolah dia tidak ada, pikir Nara.


Nara menjernihkan tenggorokkannya dan mulai beranjak keluar dari kamar. Namun, sebuah tangan mencegat pergelangan tangannya.


"Kamu mau kemana?"


Nara refleks mencampakkan tangannya dengan kencang, membuat Erfan tersentak. Langkahnya kembali berjalan menelusuri tangga rumah laki-laki itu.


Dalam hati Nara, ia tersenyum penuh kemenangan. Tidak mungkin Erfan akan keluar dari kamarnya tanpa menggunakan pakaian.


🍉


Mata Nori terbuka, pandangannya masih buram. Ia tengah berusaha menyamarkan terangnya dari cahaya lampu rumah sakit.


Ditolehkan kepalanya ke sebelah dimana ayahnya berada. "Ayah?"


Rangga menengadahkan kepalanya ke asal suara. "Nori sudah bangun? Apa ada yang sakit?"


Nori menggeleng lemah. "Mama mana?"


"Masih ingat ada Papa dan Mamamu? Pas kau minta Nara menggantikanmu, kenapa kamu tidak ingat kalau kami masih ada?" Fely tiba-tiba muncul di balik tembok putih tersebut.


Rangga mengedipkan matanya bermaksud meminta Fely untuk diam. Kembali kepalanya dialihkan kepada Nori.


"Jangan dengar Mamamu, dia sebenarnya khawatir juga dengan kondisimu."


"Anakku baik-baik saja kan?" tanya Nori panik.


Rangga mengangguk pelan. "Baik, dia sehat sekali. Kamu istirahat dengan benar, anakmu juga akan tumbuh sehat."


Nori menghela napas lega. "Maafkan aku Pa, Ma. Aku tahu aku sudah mengecewakan kalian. Tapi ... aku benar-benar mencintai dia dan juga anak kami."


"Lalu di mana dia? Apa dia juga mencintaimu?!" tanya Fely kesal.


Nori menundukkan kepala, kedua matanya memburam karena cairan bening yang sudah terkumpul di pelupuk. Pertanyaan ibunya itu, ia sendiri juga tidak tahu.


🍉


Erfan menahan salah satu pembantu dan bertanya. "Di mana Nyonya?"


"Nyonya ada di taman belakang, Tuan."


Tanpa basa-basi lagi, Erfan lekas pergi ke tujuan yang diarahkan oleh pembantunya. Di sana, ia menatap Nara tengah bermain kursi ayunan dengan pandangan yang kosong.


Erfan menghampiri wanita itu dengan mengendapkan langkahnya layaknya seorang pencuri. Tanpa ada aba-aba pun, langsung dipeluknya tubuh Nara dari belakang.


"Astagaaa!" Nara memekik kaget. "Erfan, lepaskan!"


Erfan tidak mendengar perkataan Nara, diendusnya wangi rambut panjang hitam istrinya. Semakin lama semakin mabuk.


Hingga Erfan tak sadar kalau ia menggigit leher Nara membuat wanita itu merintih kesakitan.


"Apa yang kau lakukan, Erfan?!" bentak Nara sambil bangkit dari kursi ayunannya.


Erfan hanya tersenyum seringaian. "Kamu wangi. Aku jadi mabuk."


Nara menahan napasnya, ia benar-benar kesal dengan laki-laki di hadapannya.


Ingat Nara, anggap saja dia itu invisible.


Tanpa banyak bicara lahi, Nara memutar badannya kembali ke dalam rumah. Dan menuju ke ruang makan untuk sarapan pagi.


Jam sudah menunjukkan pukul delapan lewat lima belas. Tapi, kenapa Erfan belum juga pergi kerja?


"Biasanya, Tuan kalian jam berapa berangkat ke kantor?" tanya Nara pada pelayan yang baru saja meletakkan sepiring dessert mangga dengan krim vanila.


"Jam delapan, Nyonya."


"Lah, kok si Erfan belum ke kantornya?"


"Kamu mengusirku, my wife?" Erfan muncul dari punggung Nara.


Melihat wajah Erfan membuat Nara tidak selera. Ia hanya mengambil dessert di depannya lalu makan dengan melahap tanpa memedulikan ada Erfan di samping kurisnya.


"Pelan-pelan, makannya. Tidak ada yang rebut kok, ini semua makananmu." Erfan terkekeh geli melihat tingkah Nara yang ibaratkan sudah tak makan selama satu minggu.


Sendok terakhir sudah selesai, Nara segera bangkit dari kursi makan lalu meninggalkan Erfan sendirian.


"Josh, rekrut bodyguard baru untuk Nyoya. Dan ingat, harus wanita! Lebih cepat lebih baik." Erfan memerintah.


"Siap, Tuan."


"Ah, ya. Satu lagi, cari siapa laki-laki yang berhubungan dengan Nori selama ini. Laporkan biodata lengkapnya padaku."


"Baik, Tuan." Josh membungkukkan setengah badannya sebelum beranjak pergi.


"Nori ... kamu sungguh dingin sekarang. Kemana Noriku yang dulu?" desis Erfan yang terdengar memilukan.


🍉


NB :


Terima kasih sudah membaca dan like bahkan menekan ikon ❤️


Semoga kalian suk part ini dan menikmatinya 🤗


Happy Reading!


Bye!