The Story of Nara and Nori

The Story of Nara and Nori
Episode 01



Nara berjalan keluar dari kamarnya bersedia ke kamar kecil. Tapi sebuah suara tangisan seorang wanita membuatnya takut. Kakinya ragu untuk melangkah lagi, apakah harus ia berbalik saja?


Seketika, Nara menjentikkan jarinya kala sebuah ide muncul di benaknya.


"Kenapa tidak aku ajak Nori saja," gumamnya pelan lalu memutar badan berjalan sedikit ke kamar Nori.


Diputar kenop pintu Nori, dan betapa kagetnya saat mendapati suara nangis itu berasal dari adik kembarannya sendiri.


"Ada apa, Nori? Kok nangis?" tanya Nara panik sambil menghampiri Nori yang duduk di tepi ranjang.


"Aku tidak mau nikah, Kak. Aku ... aku tidak bisa," lirih Nori.


Nara mengelus punggung Nori dengan lembut. "Ya sudah, nanti Kakak bicara dengan Ayah dan Ibu ya, kamu jangan nangis lagi."


Nori menggelengkan kepalanya. "Ayah dan Ibu sudah memutuskannya Kak, percuma saja."


Nara tahu betapa keras kepala orangtuanya. Namun, usaha tidak akan membohongkan hasil kan?


"Kenapa kamu tidak bisa menikah dengan laki-laki itu? Coba kasih tahu Kakak, biarkan Kakak mencoba bicara dengan Ayah dan Ibu."


Tangis Nori semakin menjadi-jadi, ia memeluk Nara dengan erat.


"Kak, aku minta tolong Kakak."


Nara menepuk-nepuk punggung Nori. "Iya, apa?"


"Gantikan aku menikah, plis ... Kak. Aku sungguh tidak bisa," pinta Nori.


Nara refleks melepaskan pelukannya, dan menatap Nori dengan saksama. "Kau bicara apa? Keluarga mereka pilih kamu, Nori. Bukan aku! Bagaimana aku menggantikanmu?"


"Pliss ... Kak. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi selain mencari bantuan Kakak."


Nara memutuskan kontak fisik dengan Nori. Pemikirannya kacau, sungguh berantakan. Dia tidak mungkin menikah dengan lelaki lain selain pacarnya, Max.


"Kau tahu .... aku sudah memiliki Max. Tidak mungkin kan, Kakak menikah dengan laki-laki itu. Bagaimana aku menghadapi Max nanti?"


Tidak ada pilihan lain lagi, Nori terpaksa mengatakan kebenarannya.


"Aku juga tidak bisa, Kak. Aku ...."


"Aku hamil," lanjut Nori.


Kedua kelopak mata Nara terbuka lebar. Otaknya blank. Nori tak pernah bercerita tentang pacarnya atau apa. Kenapa mendadak dia bisa hamil?


"APAA?! Kau gila ya? Seriusan?!" seru Nara tidak percaya dengan rahasia terbesar dari adik kembarannya.


"Iya, Kak. Aku hamil anaknya, kumohon ... Bantuin aku ya?" pinta Nori dengan memelas.


Nara merasa kesal namun juga kasihan dengan adiknya itu. "Baiklah, aku akan menggantimu. Tapi kamu harus janji satu hal padaku."


"Apapun itu, aku janji."


"Jangan pernah kau menyesal dengan keputusanmu."


"Tidak akan pernah, Kak."


"Nori, Nori ... Kenapa kamu tidak pernah cerita kepadaku? Aku tak tahu kau sudah berpacaran. Lalu siapa ayahnya?" tanya Nara.


Nori menundukkan kepalanya. "Jack."


"Jack?! Si brengsek itu? Ya Lord ... kenapa bisa? Kapan kamu menjalin hubungan dengannya?"


"Sudahlah, Kak. Semua sudah terjadi, tak ada yang bisa mengubahnya."


Nara mengembuskan napas gusar. "Aku akan menggantimu, tepat di hari pernikahannya."


Seketika senyum cerah terukir di wajah Nori. "Terima kasih, Kak."


"Siap suruh kamu adik kesayanganku."


🍉


Di sinilah, di mana hari itu telah tiba.


Nara dengan berat hati memberitahu Max bahwa ia tidak bisa melanjutkan hubungannya lagi. Lalu memblokir seluruh kontak laki-laki itu. Cinta pertamanya.


Tangisnya pecah.


Ia sungguh mencintai Max, namun ia harus merelakan cintanya demi Nori.


Tuk ... Tuk ... Tuk ...


"Kak, ini aku, Nori," panggil Nori.


Kontan, Nara menghapus air matanya dengan buru-buru. Kemudian menunjukkan senyum palsunya.


"Iya, Nori. Masuk saja."


Nori datang dengan baju pengantin di tangannya yang baru ia lepaskan. Tidak ada yang tahu, bahwa mereka akan bertukar posisi. Secara langsung, wajah Nara dan Nori benar-benar mirip. Hanya berbeda di tahi lalat pelupuk mata kanan Nori, sedangkan Nara tidak ada.


"Aku serahkan pada Kakak ya. Terima kasih sudah mau membantuku, Kak. Aku tidak akan melupakannya," ujar Nori dengan menumpahkan air matanya.


Nara mengangguk sekilas. "Pergilah sebelum orangtua kita datang. Dan kembali setelah aku berdiri di depan altar."


Nori memeluk Nara sebelum akhirnya beranjak pergi dari kamar pengantin. Lagi-lagi Nara meneteskan cairan bening itu di kedua pipinya.


Dilihat layar ponselnya yang tertera pesan yang sudah daritadi ia ketik.


Max, cinta pertamaku. Ini pesan terakhir yang akan kukirimkan. Terima kasih atas kebersamaan selama tiga tahun ini, sudah bersabar menghadapiku dan mencintaiku. Maafkan aku yang mendadak memutuskan hubungan denganmu. Semoga kamu bisa menemukan wanita yang lebih baik dan pantas untuk menggantikan posisiku di hatimu.


Send.


Sehabis mengirimkan pesan kepada Max, Nara mengeluarkan kartunya dan membuang ke tempat sampah.


Bye, my first love.


🍉


NB :


Yey! Cerita baru dari Mochi. Senang bisa membawa cerita yang sudah membuncah di benak Mochi. Cerita tentang dua kembar Nara dan Nori. Semoga dapat mewarnai hari-hari kalian.


Terima kasih telah membacanya 😘


See you!


Happy reading!