The Story of Nara and Nori

The Story of Nara and Nori
Episode 02



Nara melepaskan veil pengantin dan membuangnya ke sembarang arah. Sudah daritadi ia menahan kepedihannya sejak Nori pergi memberikan gaun pengantin itu.


"Setidak inginnya kamu menikah denganku kah?" Seseorang masuk dan memungut veil tersebut kemudian berdiri di depan Nara.


Refleks Nara menghapus air matanya yang sempat terjatuh di kedua pipinya. Namun, terlambat. Laki-laki itu sudah melihatnya.


Ditangkapnya tangan kanan Nara untuk menghentikan aksinya, dan berjongkok agar menyetarakan tingginya.


"Mulai ini, jika kamu menangis ... akulah yang akan mengusap air matamu."


Nara tidak menjawab, kepalanya digeser ke arah lain untuk menghindari telapak tangan pria tersebut.


"Erfan, kuberitahu ... pernikahan ini hanya sebatas kemauan dirimu dan juga orangtuamu. Aku harap kamu paham apa yang kumaksud."


Erfan bangkit, kemudian duduk di sofa panjang sebelah kanan Nara.


"Tidak, Nori. Kamu istriku, dan kita sudah sah!"


Ekspresi Erfan berubah, matanya menjadi dingin dan kosong.


Aku Nara! Bukan Nori. Pernikahan kita hanya palsu! teriak Nara di dalam hatinya.


"Aku capek, mau tidur. Silakan keluar." Nara memerintah.


Erfan bangun dari duduknya dan menggendong Nara ala bridal style ke ranjang.


"Kau gila! Lepaskan aku, Erfan!" seru Nara dengan meronta-ronta.


"Kamu mau diam atau mau aku cium?" tanya Erfan yang terdengar menyerupai sebuah ancaman.


"Kau pasti tidak berani men—"


Perkataan Nara terpotong dengan bibirnya yang terbungkam oleh bibir Erfan. Kedua bola mata Nara terkuak lebar.


Tangannya berusaha mendorong atau memukul dada Erfan agar laki-laki itu menjauhkan bibirnya. Namun, malahan Erfan memperdalam ciuman mereka hingga suara kecupan memenuhi ruang tamunya.


*"Ouch!*" rintih Erfan. "Kau ini ...."


"Lepaskan aku, Erfan! Atau aku menggigitmu lagi!" ancam Nara.


Erfan malahan ketawa, bukannya menurunkan Nara. "Gigit saja, jika itu membuatmu merasa baik."


Nara terdiam sampai ia diturunkan Erfan dengan pelan di depan kamar kecil.


"Cepatlah ganti baju dan istirahat, malam ini aku akan tidur di sofa sana," ujar Erfan lalu mengecup kening Nara dengan sayang.


"Erfan!" Nara mengingatkan.


Pria yang masih terbalut jas putih pernikahan itu hanya tertawa, kemudian beranjak mendekati sofa krim itu lalu menduduknya.


Nara menggerutu kesal seraya masuk ke dalam toilet.


"Yang penting sekarang, dia tidak tahu kalau aku Nara."


🍉


Deringan panjang memekakan telinga Nara yang tengah tertidur pulas. Nara mengucek matanya sejenak, dan menoleh ke sumber keributan.


Nori is caliing.


"Nori?" gumam Nara pelan.


Tanpa berpikir panjang lagi, Nara mengusap ikon hijau itu.


"Halo, ya Nori."


"Kak, bagaimana Kakak dengan Erfan? Apakah ia tahu kalau kita tukar posisi?"


"Tidak tahu, dia bahkan panggil aku Nori," sahut Nara dengan mata beratnya.


Nori tersenyum di seberang telepon, ia tahu bahwa di sana masih subuh. Dan Nara itu tipe gadis yang tidak bisa bangun pagi-pagi.


"Bagus kalau begitu, aku bisa tenang di Los Angeles."


Seketika, mata Nara terbuka lebar. Kantuknya entah lenyap ke alam mana.


"Apa katamu?! Los Angeles?"


"Iya. Aku sedang di Los Angeles bersama Jack."


"Nori ... apa kamu bahagia?" tanya Nara setelah menarik napas sedalam-dalamnya.


Terdapat hening sebentar.


"Tentu saja, Kak. Sudahlah, tak usah khawatir denganku. Aku baik-baik saja, sudah ya ... Jack sudah rewel denganku."


Nara menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Nori. Namun, tak luput juga ia tersenyum mendengar adik kembarnya itu bahagia. Itu lebih penting dari apapun.


🍉


Pada sisi yang lain, Nori menatap ponselnya. Tak ada senyum sedikit pun.


"Bersama Jack kah ... Bahkan Jack di mana sekarang aku tidak tahu," gumam Nori pelan.


Diusap perut ratanya, usia bayi tersebut masih dua minggu. "Nak, lindungi Mama agar bisa bertemu dengan Papa ya."


"Nona, sarapan sudah siap. Apakah Nona mau makan di kamar?" tanya Tante Mila, pembantu rumahnya.


Nori menggeleng lesu. "Aku tidak lapar."


Tante Mila menghampiri Nori lalu mengusap kepalanya dengan lembut. "Non, kamu tidak ingin makan ... tapi mau ingat dengan kandunganmu."


"Baiklah, bawa ke kamar saja."


Belum lama Tante Mila keluar dari kamarnya, suara kegaduhan di luar membuat Nori mengernyitkan kening.


"Tante ... Ada apa?"


Pintu kamar Nori terbuka dengan keras. Muncul sepasang suami-istri yang sudah menatapnya dengan garang.


"Nori! Beraninya kau meminta Nara menggantikan pernikahanmu!" seru Fely—mama Nara dan Nori.


"Iya, apa kau tahu resiko saat keluarga Wijaya tahu?" timpal Rangga, ayahnya.


Nori diam, menurunkan kepalanya. Tidak berani berkutik sama sekali.


"Kenapa kau meminta Nara yang menikah? Apa alasanmu, hah?!" tanya Fely dengan nada tinggi.


"Aku ... tidak bisa, Ma." Akhirnya, Nori membuka suara.


Sudah cukup!


Ia juga seorang manusia yang memiliki hati. Nori tahu, Fely lebih sayang pada Nara karena kakaknya itu dewasa dan pintar. Berbeda sekali dengan dirinya yang tidak pintar dan bertingkah seperti anak manja.


"Kenapa tidak bisa sayang?" tanya Rangga mendekati Nori.


Mata Nori perlahan-lahan memburam, buliran cair bening sudah menumpuk di pelupuk. Nori menggigit bibir bawahnya menahan isakan.


Takut.


Itulah yang Nori rasakan.


Tapi, tidak ada pilihan lagi setelah ayah dan ibunya sudah tahu pertukaran pernikahannya dengan Nara.


"Aku ... Aku hamil."


Plak!


Nori terkejut mendapat tamparan dadakan. Tangisnya semakin menjadi-jadi.


"Kau sungguh memalukan, Nori! Kenapa aku bisa memiliki anak sepertimu!" pekik Fely marah.


Rangga menggeleng-gelengkan kepalanya, kecewa dengan kelakuan Nori yang sudah melewati batasnya.


"Papa! aku sangat mencintainya! Dia ... aku yakin dia juga cinta denganku," ucap Nori sambil memegang pergelangan tangan Rangga.


"Nori ... Papa kecewa sekali. Kamu tahu meskipun kamu mencintainya dan ia mencintaimu, bukan berarti kamu harus memberikan seluruhnya pada orang itu. Dimana kalian belum menikah, bagaimana orang-orang melihatmu nanti?"


"Maafkan aku, Pa, Ma."


"Apa Nara tahu hal ini?" tanya Fely dingin.


Nori mengangguk sekilas.


"Dan ia masih mau menikah dengan Erfan?" Kembali Nori menganggukkan kepalanya.


Fely memijit pangkal hidungnya. "Astaga ... Nori kau—"


Pening di kepala Nori mendadak terjang, membuat gadis itu mendadak hilang kesadarannya.


"Nori!!"


🍉


NB :


Terima kasih sudah membaca cerita ini. Semoga suka dan happy reading!


Dan maaf kalau typo atau kesalahan kata-kata.