
Erfan memeluk Nara dari belakang yang membuatnya terkejut bukan main. Entah apa yang ada di benak Nara sampai-sampai tidak mendengar derap kaki suaminya.
"Kamu lagi mikirin aku ya, sudah beberapa kali aku manggil namamu tapi tidak menyahut." Erfan berkata.
Sontak, Nara melepaskan pelukan Erfan. Lalu memutar badan menghadap ke arahnya.
"Mimpi siang bolong apa kamu. Tidak mungkin sekali aku memikirkanmu!" balas Nara dengan nada yang terdengar kejemuan.
Senyum Erfan pelan-pelan memudar di wajahnya. "Apa karena laki-laki bernama Max itu? Atau yang bernama Jack?"
Mendengar nama yang tidak asing di telinga Nara, tentu membuat wanita itu refleks membuka matanya.
Bagaimana dia tahu tentang Max? Dan ... wait! Tadi apa dia bilang? Jack? Berbagai macam pertanyaan terus-menerus muncul di kepala Nara.
"Kau menyelidikku?!" seru Nara tak percaya.
"Aku suamimu, jadi aku berhak melakukannya." Erfan mengatakannya dengan santai.
Nara tidak terima. Meski ia memang sudah menikah dan menjadi istri sah dari Erfan, tapi tidak kah dirinya juga membutuhkan sedikit privasi?!
"Erfan! Kau sudah keterlaluan! Oh kau suamiku jadi berhak tahu privasiku gitu? Berarti aku juga ada hak untuk tahu siapa yang sudah pernah menjadi pacarmu? Atau ... berapa wanita yang sudah kau mainkan?!" bantah Nara.
Wajah Nara mulai memerah, semerah cat dinding. Kemarahannya benar-benar tidak bisa ia bendung lagi.
"Silahkan saja, my wife. Tapi akan kuyakini, tidak akan sesuai pertanyaanmu barusan."
Seakan tidak tersindir dengan pernyataan Nara, Erfan malahan membalasnya dengan acuh tak acuh.
"Terserah saja!" jawab Nara dengan nada tinggi.
Kakinya melangkah pergi dari kamar tidurnya menuju ke dapur. Akibat marah-marah ia jadi lapar, mana makan siang tadi Nara hanya makan sedikit saja.
"Kesal deh! Apa-apaan si Erfan selidiki Max?" Air muka Nara berubah sendu. Ia kangen dengan pria itu.
Ditepuk kedua pipinya setelah sadar, ada hal yang lebih penting. Ya, tentang Jack.
Bagaimana kalau Erfan mengetahui dirinya bukan Nori? Pastinya Erfan tidak akan melepasnya begitu saja!
"Tidak! Ini tidak boleh terjadi, aku harus lebih berhati-hati lagi. Nori baru saja mendapatkan kebahagiaannya bersama Jack. Aku tidak boleh menghancurkan karena diriku ini," gumam Nara sambil menganggukkan kepalaku.
Tanpa berpikir lebih banyak lagi, Nara membuka kulkas melihat makanan apa yang tersisa.
"Hm ... Sepertinya aku goreng telur saja."
Nara bersenandung ria seraya menuangkan minyak goreng pada panci penggorengan, lalu meletakkan telurnya ke dalam. Selanjutnya, ia beralih ke memotong sayuran sebagai tambahan.
"Aww!!!" pekik Nara dengan kencang.
Tak sampai hitungan menit, Erfan muncul di balik tembok abu-cokelat itu. Napasnya tersengal karena lari dari kamarnya ke lantai satu.
"Ada apa?" tanya Erfan kalang kabut.
Belum sempat Nara menjawabnya, Erfan refleks menarik tangan Nara dan menghisap darah yang keluar dari telunjuknya.
Mulut Nara menganga lebar, matanya terpaku pada Erfan. Terlalu kaget dengan apa yang terjadi.
Mendadak bau gosong memecah keheningan mereka. Sontak Nara berteriak panik kemudian melepaskan diri menuju ke kompor.
"Telurku! Yaah ...." keluh Nara memancungkan bibirnya.
Helaan napas lolos dari bibir Erfan. "Kamu belum makan apa masih lapar?"
"Hah? Ng-nggak lapar kok—"
Kruuk!
Hawa hangat menjalar di kedua pipinya yang perlahan-lahan berubah merah. Sungguh memalukan!
Tawa Erfan meledak memenuhi ruang dapur.
"Mbok Mirnah sudah tidur. Kamu tunggu saja di sini, serahkan padaku." Erfan menuntun Nara duduk di kursi mini bar.
Dahi Nara samar-samar berkerut. Tampangnya seolah mencurigai kemampuan Erfan. "Kamu bisa masak?"
Erfan terkekeh kecil. "Jangan meremehkanku, sayang. Nanti kamu pula yang ketagihan."
"Cih!"
"Dari sekian banyak makanan, kamu cuma menggoreng telur. Apa hanya itu yang kamu bisa?" tanya Erfan penasaran.
Nara ingin mengelak, tapi memang begitulah kenyataannya. Ia belum pernah memasak. Jadi, bisa di bilang kalau skill masaknya itu nol!
Tidak mendapat jawaban dari Nara, Erfan sudah bisa menyimpulkannya.
Aroma wangi menguak ke indera penciuman Nara. Perutnya lagi-lagi keroncongan.
"Sudah siap belum nih?" tanya Nara tidak sabaran.
"Iya, iya ... Ini aku ambil piring dulu," sahut Erfan dengan sabar.
Senyum Erfan tidak bisa berhenti semenjak melihat Nara yang terus-menerus memasukan makanannya ke dalam mulut.
"Ini ... Ini enak banget!" seru Nara susah payah akibat mulutnya penuh makanan.
"Sudah, sudah. Telan dulu, hati-hati tersedak."
Erfan menyodorkan segelas air putih di hadapan Nara. Agar wanita itu mudah untuk mengunyah makanannya.
"Nih, diminum." Nara lekas meneguknya seperempat.
"Kamu belajar masak dari mana sih?" tanya Nara penasaran sehabis menelan asupan terakhirnya.
"Kamu kira hidupku seperti tuan besar pada umumnya?"
"Kalau bukan, terus gimana?"
Erfan mengambil piring kosong yang habis dimakan Nara ke wastafel, kemudian bersuara. "Aku bisa sampai di posisiku sekarang, itu hasil kerja kerasku selama beberapa tahun. Aku dilatih dari nol, melamar pekerjaan bahkan melakukan interview."
"Mereka tidak mempermudahkanmu?"
"Tidak, malahan awalnya aku ditolak mentah di perusahaan Ayah. Bahkan aku diusir dari rumah. Menyuruhku menyewa kamar kecil dan membayarnya dengan gajiku sendiri. Satu bulan gaji hampir pas-pasan dengan uang sewa. Jadinya aku tidak memiliki uang lebih untuk memesan makanan."
Nara tidak sangka kalau hidup Erfan begitu susah. Walaupun ia merupakan keluarga yang cukup kaya. Daripada dirinya yang hidup bak putri ini.
Erfan menjentikkan jarinya membangunkan Nara dari alam bawah. "Ayo, saatnya tidur. Tidak bagus kalau malam-malam tidur."
Langkah Erfan berhenti, akibat tarikan Nara pada baju kaos V-neck milik Erfan yang berwarna hitam.
"Te-terima kasih."
Erfan tersenyum sembari mengelus puncak kepala Nara. "Kamu berhak bergantung padaku."
Setelah kejadian semalam, Nara merasa dirinya ini sungguh tidak berguna. Jadi seorang perempuan, tapi sama sekali tidak bisa masak. Kalah total dengan pria.
Maka pagi-pagi ini, ia berencana meminta Mbok Mirnah mengajarinya masak.
"Mbok!" paanggil Nara dengan semangat yang malahan membuat Mbok Mirnah terlonjat kaget.
"Astaga, Non," jawab Mbok Mirnah sembari mengelus dadanya.
"Mbok, aku mau belajar masak nih! Ajarin aku dong!" pinta Nara.
"Hah? Non mau belajar?" tanya Mbok Mirnah membelalakkan matanya.
Nara menganggukkan kepalanya penuh antusias. "Jangan lihat aku begini, tapi aku cepat tangkap kok Mbok. Jadi tidak usah khawatir bisa kesusahan mengajariku."
"Tidak boleh!" Erfan tiba-tiba hadir di balik punggung Nara.
"Loh, kenapa?" Nara menautkan kedua alisnya.
"Bukannya aku sudah bilang, kalau kamu berhak bergantung kepadaku. Lantas, buat apa ribet-ribet belajar masak? Aku bisa saja masak untukmu jika kamu lapar di tengah-tengah malam."
Nara bersedia membuka mulutnya, tapi keduluan oleh Erfan. "Sudah, sudah. Mbok mau masak sarapan, ayo kita di luar tunggu saja."
"Masa aku wanita kalah sama kamu, sih!" Nara memasang muka masam.
"Tidak ada kalah atau menang dalam hubungan suami istri. Kamu mempunyaiku, dan juga aku mempunyaimu."
Wajah Nara memandang lurus ke dalam manik mata Erfan. Memantulkan dirinya lewat pupil Erfan.
Dia berkata itu untukku, atau ... untuk Nori?
NB :
Maaf, Mochi baru naik hari ini. Sudah lama banget Mochi menganggurkan cerita ini. Tapi, selain cukup sibuk di dunia nyata, Mochi juga tidak dapat ide. Belakangan ini, jujur saja Mochi mencoba untuk ketik. Sebenarnya ide awalnya sudah ada, tapi karena update app MT jadi hilang dari draft. Jadi bolak balik kayak gini, akhirnya Mochi bisa ngalir dengan ide ini 😁 syukur banget!
Dan terima kasih kepada kalian yang sudah menunggu ya 🙏 Semoga part ini tidak mengecewakan 😘
Selamat membaca!