
Nara mengoles lipstick sebagai sentuhan terakhir dari riasannya. Sempurna.
Hari ini, ia memutuskan untuk berkunjung ke rumahnya, rasa rindu kepada keluarganya sudah tak bisa ia bendung lagi.
"Nona mau keluar?" Sebuah suara menghentikan langkahnya.
Seorang wanita terbalut serba hitam itu berjalan menghampiri Nara. Abygail.
"Iya, Aby. Aku sudah ada janji."
"Baik, akan saya mempersiapkan mobil."
"Eh, tidak usah. Aku naik taksi saja," sahut Nara sambil tersenyum.
Abygail menggelengkan kepalanya. "Tidak boleh, Nona. Tuan Erfan sudah memerintah tugas saya adalah mengikuti ke mana akan Nona pergi."
Nara mengerucutkan bibirnya, kemudian kembali berjalan tanpa bersuara lagi.
❣️❣️❣️
"Mama! Aku kangen," ucap Nara sambil berpelukan dengan seorang wanita paruh baya yang sekira umurnya sudah berkepala empat.
Fely, mengelus surai panjang hitam Nara dengan sayang. "Bagaimana pernikahanmu? Apa pria itu menyulitkanmu atau menyakitimu?"
Mendengar hal itu, Nara menyilangkan kedua tangannya. "Sakitin sih tidak, Ma. Tapi nyebelin sih iya!"
Fely memanggut-manggut. "Terus dia tahu kamu itu penggantinya Nori?"
Mendadak, Nara teringat akan satu hal, dimana Erfan pernah menyelidikinya. "Hm ... aku juga kurang tahu, tapi dia pernah menyelidiki Jack dan Max."
Wajah Fely menjadi pucat. "Dia pernah berkata sesuatu atau melakukan perubahan terhadapmu?"
Nara spontan menggeleng. "Dia masih tetap Erfan yang menyebalkan, Ma. Kurasa sih, dia masih belum tahu aku itu Nara."
Embusan napas lega terdengar dari mulut Fely. "Baguslah, sayang. Dari awal yang Erfan ingin melamar itu Nori. Tapi bersyukur kalau tidak ketahuan."
Nara mengangguk pelan. "Iya, Ma."
"Oh, kamu tidak bilang mau datang. Kalau bilang, akan Mama buatkan makanan kesukaanmu."
"Tidak usah, Ma. Aku akan kembali sebelum Erfan pulang kerja."
Fely menatap merasa bersalah kepada anak sulungnya ini. "Maafkan Nori, ya."
"Jangan bilang seperti ini, Ma. Aku juga minta maaf karena tidak memberitahu kepada kalian. Dan ... ini adalah keputusanku."
Fely tahu jelas kalau Nara adalah gadis yang baik dan pengertian. "Kalau kamu tidak ada tempat berteduh lagi, rumah ini akan selalu menyambutmu."
"Iya, sekarang Mama pasti kesepian kan, Papa mau kerja dan Nori ... sudah ke luar negeri." Nara menunduk sedih karena dirinya tidak bisa menemani ibunya.
Fely tersenyum. "Tidak apa-apa, sayang. Mama bisa meneleponmu bukan? Kita juga bisa video call."
Seketika wajah Nara berubah senang. "Tentu. Setiap waktu Mama boleh telepon."
❣️❣️❣️
Kepulangan Nara dari rumahnya, sosok Erfan sudah menyambutnya.
"Kamu barusan dari mana, hm?"
"Dari rumah," sahut Nara sekenanya.
Erfan mengerutkan keningnya, lalu membeo Nara yang masuk ke dalam dapur untuk menuangkan air putih.
Tangan Erfan mengalungkan ke perut rata Nara dari belakang, refleks membuat wanita itu tersedak.
"Lepaskan," titah Nara.
"Kenapa kamu tidak mengajakku ke rumahmu?" tanya Erfan yang tak mengindahkan perintah Nara.
"Erfan! Itu rumahku."
"Rumahmu juga rumahku, dan juga sebaliknya. Kamu tidak lupa kalau kita ini hubungan suami istri kan?"
Napas Erfan yang wangi mint itu menyeruak masuk ke dalam hidung Nara. "Tidak. Kupikir kamu sibuk, jadi aku pergi sendirian."
Oh my gosh, sejak kapan dia wangi mint seperti ini? batin Nara dalam hati.
Erfan mundur beberapa langkah, kemudian bersuara. "Ya sudah, kamu bersih-bersih dulu. Malam ini aku ingin kamu menemaniku."
"Hah? Me-menemanimu?!" Nara sigap menutup tubuhnya dengan rapat. "Meski kita ... kita sudah menikah ... tidak berarti aku se-setuju melakukan itu!"
Spontan, tawa Erfan meledak hingga air mata keluar dari ekornya. "Apa yang kamu pikirkan, Nori? Maksudku adalah menemaniku pergi ke acara malam."
Kedua pipi Nara menghangat, dipastikan rona merah sudah mencetak di sana. Sungguh, ini memalukan sekali!
Nara tidak lagi membalas ucapan Erfan, ia segera lari dari dapur dan masuk ke kamar mereka.
Ia memegang jantungnya yang berdetak tak karuan, menetralkan deru napasnya akibat berlarian.
"Astagaa! Kenapa kamu bisa berpikir ke situ, Nara?! Bagaimana kalau dia mengiramu wanita yang mesum?!" seru Nara sambil memukul kepalanya pelan.
❣️❣️❣️
Nara sejenak merasa minder. Pria itu, Erfan memakai jas biru dongker serta dalaman putih dan juga celana yang senada. Rambutnya tersisir rapi ke belakang dengan tahanan pomade, membuatnya terlihat sangat gagah.
"Ayo, jangan jalan di belakangku." Erfan menarik pergelangan tangan Nara dan menggenggamnya erat.
Nara tersenyum kikuk saat banyak pasang mata tertuju kepada dirinya dan Erfan. Kilatan -kilatan lampu dari kamera berjejer menganggu penglihatannya.
"Maaf untuk tidak berfoto sementara, istriku tampaknya tidak nyaman."
Nara mengangkat kepalanya ke arah sebelah. Perkataan Erfan membuatnya tersentak. Tak ia sangka kalau pria itu menyadarinya.
Tangan Erfan kini berpindah ke pinggang Nara, semua yang melihatnya mendesah kagum keposesifan pria itu.
"Ada aku di sisimu, my love."
Tanpa disadari oleh Nara, kedua sudutnya tertarik ke atas membentuk seulas senyum hingga kini mereka masuk ke dalam ball room.
Wartawan itu masih setia mengikuti langkah mereka dari belakang. Memfoto kemesraaan Nara dan Erfan agar bisa diangkat menjadi hot news.
"Kenapa kamu tidak kasih tahu kalau ada wartawan?" tanya Nara pelan. "Aku merasa malu jadinya, seperti wanita desa yang tidak pernah difoto."
Erfan terkekeh geli. "Jika aku bilang, apakah kamu masih bersedia ikut?"
Bibir Nara maju beberapa senti, menandakan ia tengah merajuk. Erfan yang memperhatikannya langsung merenggut dagu Nara dan melumat bibir wanita itu.
Jepretan itu membangunkan Nara yang sigap mendorong Erfan menjauh. Kedua bola matanya terbuka lebar, wajahnya memerah entah menahan malu atau marah.
"Maaf ... aku tidak tahan kalau melihatmu begitu cantik hari ini," gumam Erfan yang kembali merangkulkan tangannya ke pundak Nara.
Sialan kau Erfan! Akan kuberikan pelajaran karena sudah berani menciumku dua kali hari ini!
Otak Nara mulai menyusun rencana untuk mengerjai suaminya itu. Senyum seringaian tersirat di wajah Nara tanpa sepengetahuan Erfan.
Tunggu saja, Erfan. Sekarang senyum lah sepuasmu, malam ini aku akan membuatmu mengumpat terus. Batin Nara.
❣️❣️❣️
Maaf x99 karena sudah lamaaa tidak Mochi update.
Tapi ternyata masih ada yang menanti, dan Mochi tahu rasanya digantung itu tidak enak ☹️ jadi Mochi kembali lagi.
Semoga part ini dapat menghibur kalian ya!
Salam buat Mochivers!