
Nara dan Erfan masuk ke kamarnya bersamaan. Lelah menyerang keduanya hingga wanita itu langsung membantingkan tubuhnya ke ranjang tanpa adanya lembut sekali pun.
"Ganti baju dulu, baru tidur, sayang."
Tangan Nara menepuk sebelah kasurnya yang kosong, bermaksud mengajak Erfan berbaring juga di sana. Mengabaikan ucapan sang suami.
"Kenapa?" Erfan mengernyit kebingungan, namun juga menuruti perkataan istrinya.
Senyum Nara mengembang ke atas. Lalu denga cepat ia **** di atas pangkuan Erfan, membuat pria itu membelalakan kedua bola matanya kaget.
"Nori, apa yang kamu lakukan?"
Erfan berusaha menahan gairahnya yang sudah mendorong adik kecilnya untuk mencari pasangannya.
"Jangan Nori terus, nama kecilku Ara. Panggil itu saja," titah Nara.
"I-iya," kata Erfan sambil mengalungkan pinggang Nara agar tidak wanita itu tidak kabur.
"Sudah ah, cape." Nara melepaskan tangan Erfan dan menggerakkan kakinya dengan pelan untuk meloncat turun.
Geraman Erfan terdengar. Ia sigap menangkap lengan Nara, namun sialnya wanita itu lebih cepat gerak sebelum tangan itu berhasil menyentuhnya.
Nara buru-buru keluar dari kamarnya, dan tertawa senang. Ini belum seberapa, Erfan.
Erfan mendesah kesal, terpaksa ia bangun dari baringannya dan dengan malas masuk ke dalam kamar mandi untuk menurunkan panas yang membakar di sekujur badannya.
❣️❣️❣️
Nara bergerak dengan sangat pelan, takut membangunkan Erfan yang sedang terlelap dalam tidurnya.
Cekikikan kecil dikeluarkan dari mulut Nara ketika kedua tangan dan kedua kaku Erfan berhasil diikat. Dengan pelan, Nara naik ke atas paha Erfan. Lalu mulai menggoyangkan tubuhnya.
Seketika Erfan membuka kedua matanya. "Apa kamu sudah tidak sabar membuat anak kita, hm?"
Nara tersenyum simpul. "Bukan."
Shit! Senyum Nara itu mengerikan bagi Erfan saat ia baru menyadari kalau kaki dan tangannya terikat.
"Nori, lepaskan aku!" seru Erfan dengan berusaha menahan suara desahannya.
Nara berhenti sejenak. "Nama kecilku, Ara."
"Iya, Ara atau apa itu lah! Cepat turunkan aku dan lepaskan tanganku!"
Nara melirik ke alorji di pergelangan tangannya. "Hm ... Sebentar lagi."
Oh, Erfan tidak yakin ia akan tahan dengan gerakan Nara di atasnya. Sangat munafik kalau pria itu tidak terangsang!
"Please ... Ara," lirih Erfan sembari menutup mata menikmati sekaligus menyiksa dirinya.
Tawa Nara meledak seraya ia turun dari paha Erfan. Belum puas, ia sengaja mengelus dada pria itu beberapa kali sebelum lari ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Ara! Kamu akan membayarnya!" teriak Erfan yang tidak dihiraukan oleh Nara.
❣️❣️❣️
Sengaja Nara mengulur mandinya hingga menanti waktu Erfan pergi ke kantornya.
"Sudah hampir satu jam, harusnya dia sudah pergi."
Nara membuka pintu kamar mandi dan mengintip dari celah pintu. Kosong. Embusan napas lega dibuang asal dari bibir mungil Nara. Akhirnya juga!
Dengan santai, wanita itu berjalan keluar dengan jubah mandi dan membuka walk in closet mengambil kaos dan celana pendek.
Dilepaskannya jubah mandi dan mengeksposkan tubuh indah dan seksinya seperti gitar. Mendadak sebuah tangan memelukanya dari belakang.
"Astaga!" pekik Nara sambil menggigit tangan si pelaku.
Spontan, Nara mengenakan kembali kimono mandinya. "Erfan! Bukannya kau sudah keluar tadi?!"
Erfan tertawa. "Kamu menjadi semakin ganas ya, Ara."
Nara merapatkan diri kala langkah Erfan mendekatinya. "Ka-kau mau ngapain?! Berhenti di situ!"
Bukan Erfan namanya kalau ia mendengar perintah. Semakin pria itu jalan, semakin pula Nara terpojok sampai punggungnya terbentur lemari pakaiannya.
Kesempatan ini tidak ada dua kali, Erfan lekas mengurung Nara dengan kedua tangannya. Menipiskan jarak kepalanya ke Nara. Napas mereka saling bertabrakan.
Wangi mint dari Erfan membuat Nara hampir mabuk apalagi dalam jangka waktu yang cukup lama.
"Er-erfan ...."
"Kamu mengerjaiku, sayang. Tapi tidak ada salahnya aku melanjutkan permainanmu," sahut Erfan dengan senyum menyeringai.
"Aku sudah tahu salah!" seru Nara menolehkan kepalanya berusaha mendorong jauh aroma mint yang selalu menjadi kesukaannya.
Erfan menarik dagu Nara dan mencium bibir istrinya dengan lembut namun liar. Mulut Nara masih tidak mau memberi jalan untuk meloloskan lidah Erfan masuk.
Dengan geram, Erfan menggigit bibir bawah Nara dan melumatnya tanpa ampun. Serasa belum diberi akses, tangan Erfan menarik jubahnya naik kemudian menggelitikan area bawahnya.
Nara berusaha menolak, tapi yang keluar malahan desahannya hingga membuat Erfan berhasil masuk bergulat lidahnya dengan pasangannya.
"Hmph ...!"
Nara mendorong kedua pundak Erfan, namun tangan Erfan sebelah yang bebas mendekatkan punggung Nara ke dada bidangnya.
Merasa ruang udara semakin menipis, Erfan melepaskan ciuman mereka dan turun ke leher jenjang nan mulus milik Nara. Kemudian menggigit dan menjilatnya membuat istrinya mengaduh kesakitan.
"Sakit, Erfan!"
"Ini hukumanmu karena sudah berani mengerjaiku," goda Erfan seraya mengedipkan salah satu matanya.
Nara baru saja akan memprotes, namun keduluan oleh Erfan yang kembali menggigit dan **** leher sebelahnya lagi.
"Erfaann!!" teriak Nara tepat bersamaan dengan sebuah deringan panjang menjerit di atas nakas.
"Te ... ada telepon!" seru Nara.
Erfan menjauh dan mendesah geram, alisnya tajam memperkental kemarahannya sebab kesenangannya terganggu.
"Ck, siapa sih?! Damn it! " umpat Erfan yang berjalan untuk mengambil benda pipih bermerk Apple.
"Apa?"
"....."
"Hah? Aku akan segera ke sana!"
Nara hanya diam melihat kepergian Erfan yang kelihatannya tengah dipengaruhi amarah.
❣️❣️❣️
Seorang wanita tengah duduk di kasur sambil membalikkan buku yang ada di tangannya. Jam menunjukkan pukul 5 sore. Sebentar lagi akan waktunya ia keluar dari rumah sakit.
Wanita itu, Nori mendongakkan kepalanya ke arah luar jendela. Tatapan matanya tidak ada senyum sama sekali.
Ia merindukan sosok pria yang memiliki mata setengah bulat dan akan terlengkung saat ia tersenyum manis.
"Jack ... di mana kamu sebenarnya?" gumam Nori yang terdengar nada pilu di dalamnya.
Tak lama kemudian, suara seseorang menyentakkan Nori dari alam bawah.
"Nak, apa kamu sudah siap-siap?" Rangga, sosok Ayah yang baik sangat dikagumi Nori maupun kakaknya, Nara.
"Belum, Ayah. Ini aku akan mulai mengepaknya," ucap Nori turun dari ranjang kecil.
Baru saja akan mengambil tasnya, sebuah deringan memenuhi seisi kamar inap yang cukup kecil ini.
Nori refleks merenggut handphone-nya. Nama Nara tertera di layar notifikasinya.
"Dari Nara," ucap Nori cemas.
Rangga mengangguk bermaksud meminta Nori mengangkatnya, setelah tidak melanjutkan aksinya untuk mengemas akibat takut akan mengeluarkan suara.
"Ha-halo, Kak?"
"Aku kesepian, Nori. Bagaimana kamu di sana? Apa semua baik-baik saja? Jack ada melakukan hal yang menyakitimu?"
"Aduh, Kak ... tanya satu-satu dong. Aku pusing jadinya mau jawab yang mana duluan," sahut Nori yang membuat tawa menggelegar dari ujung telepon.
"Jadi, bagaimana kamu dengan Jack?" tanya Nara.
"Ba-baik saja tentunya, Kak. Tidak usah khawatir," kata Nori menunduk lesu.
"Eh, aku tutup dulu. Erfan kayaknya sudah pulang. Nanti kita lanjut ya, bye!"
Tanpa disadari Nori, kalau kedua pelupuk matanya dari tadi menahan cairan putih yang siap pecah.
Rangga menggelengkan kepalanya seraya mendekat ke anaknya. "Sampai kapan kamu akan membohongi dirimu sendiri dan juga Nara?"
❣️❣️❣️
Happy reading guys!
Semoga kalian suka!
Terima kasih sudah membaca!