THE SEVEN GEMS OF THE SKY

THE SEVEN GEMS OF THE SKY
DIA 05.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hari-hari sudah Xixian lewati, Tanpa terasa esok adalah hari ulang tahunnya. Yang artinya ia akan pergi dari sini. Memang tak banyak yang bisa ia rindukan dari tempat ini, tapi bagaimanapun juga ia sudah tinggal di sini bertahun-tahun.


Dan satu-satunya hal yang ia pikirkan adalah Bianka sahabatnya, ia akan berpisah dengannya.


Bukan ini yang dia harapkan, ia pernah berharap suatu saat ia bisa hidup bebas tanpa di kekang lagi. Ia juga bisa bepergian kemanapun Bersama Bianka dan menenbus semua rsa lelahnya.


Tapi semua itu hanya harapan semata, ia harus rela mengubur mimpinya dalam-dalam. Dan semua cita-cita yang ia rangkai akan sirna secara perlahan.


Inilah hidup, dia tidak akan adil pada siapapun bukan?


Xixian melirik jam yang hamper menyentuh angka 12, artinya tinggal beberap menit lagi.


Setiap tahun, biasanya Lee akan menyiapkan kejutan untuknya. Setidaknya setahun sekali lelaki itu akan membiarkannya kealuar rumah dengan bebas sebagai kado untuknya.


Xixian melirik pintu, ia merasa kali ini Lee tidak akan memberikannya kejutan seperti biasa. Mungkin lelaki itu tengah sibuk mengurus perpindahan mereka esok.


Ada sedikit rasa kecewa yang timbul di hatinya, ia berharap Lee akan membuka pintu itu dan membawa kue ulang tahunnya. Dan Nian akan memeluknya sembari merapalkan doa-doa baik dengan memutarkan lilin ke seluruh tubuhnya, memang cukup aneh, tapi Xixian menyukainya.


Xixian meraih phonselnya dan mengirmkan pesan kepada Lee, mungkin lelaki itu berada di ruang kerjanya.


Lee, kau sibuk? Apa aku mengganggumu?


Pesan itu tidak mendapatkan balasan, sepertinya ia akan sangat kesepian mala mini.


“Apa Nian juga sibuk?” Gumamnya pada diri sendiri.


Suara jam dinding memenuhi kamarnya, jarum jam sudah sepenuhnya menyentuh angka 12. Xixian mengambil lili dan menghidupkannya, tak lupa ia memejamkan matanya untuk berdoa.


Setelah membuat permohonan, ia meniup lilin itu masih dengan penuh harapan. Ia Kembali melirik pintu kamarnya yang masih tertutup rapat, Lee dan Nian benar-benar tidak datang.


“Tak apa, aku sudah merayakannya berkali-kali. Jika kali ini tidak memangnya kenapa? Aku akan baik-baik saja.” Ucapnya sembari memandangi layer ponselnya yang gelap.


Sedingin apapun Lee, ia tidak akan pernah , mengabaikan Xixian. Meskipun Xixian selalu marah dan memakinya, Lee akan tetap memayungi dirinya saat hujan, memakaikannya jaket saat dingin, dan merasa panik saat jatuh sakit.


Setiap tahun Lee akan menghias seisi rumah meski tanpa tamu di hari ulang tahunnya, kini ia benar-benar merasa sediri.


“Apa dia akan meninggalkanku di dunia itu?” Isak tangisnya perlahan terdengar, pertahanan yang ia jaga sudah runtuh. Apalagi yang bisa harapakan saat ini? Ia hanya memiliki Lee dan Nian di dalam hidupnya.


“Kenapa kamu selalu menangis?” Tanya lelaki yang mendekati Xixian.


“Kamu siapa?” Xixian tidak mengenalnya.


“Kamu sangat mudah melupakanku?”


“Oh, bunga itu.” Seru Xixian setelah beberapa saat.


Lelaki itu tersenyum dan mengelus kepalanya dengan lembut.


“Selamat ulang tahun.” Ucap lelaki itu.


“Kau? Tau dari mana?” Tanya Xixian kaget.


Lelaki itu mengabaikan ucapan Xixian dan mengeluarkan sebuah kotak yang berisikan kalung dengan liontin berbentuk aneh tapi sangat indah. Liontin itu berbentuk bulan sabit dan separuh bintang dengan gradasi warna biru yang indah. Ia memakaikan kalung itu ke leher Xixian.


Xixian hanya mematung kaget dengan Tindakan lelaki itu, ia bahkan belum mengenalnya.


“jangan pernah melepaskannya apapun yang terjadi.” Ucap Lelaki mengecup pipi Xixian dan melangkah pergi.


Xixian merasakan hangat pada pipinya, ini pertama kali untuknya.


“Hey tunggu!” Xixian mengejar Langkah lelaki itu.


“Kamu siapa? Beraninya ya kamu.” Ucapnya terus berlalari mengejarnya.


“Aduh.” Xixian terjatuh tesandung.


“Sakit banget.” Serunya, “Hah? Aku di,,,” Xixian mengedarkan pandangannya, seingatnya ia tidak ada di sini. Tapi kenapa ia berada di atas kasurnya dengan wajah bantal.


Xixian berusaha mengingat, dan rupanya ia tertidur karena kele;ahan saat menangis. Tapi mimpi itu terasa nyata untuknya, dan kenapa harus lelaki yang hanya ia temui sekali.


“Putri, bangunlah. Waktunya mandi.” Panggil Nian dari balik pintu kamarnya.


“Aku sudah bangun.” Sahut Xixian.


Segera ia mengambil handuk dan melangkah ke kamar mandi. Namun saat ia berkaca, ia tengah mengenakan kalung yang ia mimpikan semalam.


“Kok bisa? Ini ikan Cuma mimpi.” Ujarnya menyentuh kalung itu.


.


.


.


.


Silahkan tingakjan jejak.