
"Silahkan tuan putri." Ucap lelaki itu sembari membuka pintu mobil.
Gadis cantik bertubuh mungil itu keluar dari mobil sembari menatap situassi sekolahnya, masih lumayan sepi.
"Tidak perlu menjemputku nanti." Ucapnya pada lelaki yang membukakan pintu untuknya.
"Mohon maaf tuan putri, ini tugas saya. Pastikan tuan putri makan dengan teratur dan tidak terlalu dekat dengan manusia lain." Ucapnya sembari membungkuk memberi hormat.
"Hentikan, orang lain bisa melihat kita." Ketus gadis itu padanya sembari melirik takut ada yang menyaksikan hal ini.
Dia melangkahkan kakinya menuju kelas, dia sangat aneh bukan?
Di umurnya yang sudah hampir 17 tahun ia bahkan tidak memiliki sahabat dekat, mungkin hanya seorang teman bicara. Ia bahkan tidak pernah merasakan berkumpul bersama teman, bermain ke rumah teman, atau ke mall bersama teman sebayanya.
Baginya itu semua adalah larangan, ia bahkan tidak boleh teerlalu dekat dengan orang lain. Itu sebuah alasan yang cukup mengapa orang lain tidak tertarik berlam-lama berteman dengannya.
Karena dia selalu tertutup, tidak pernah mau menceritakan dirinya.
"Xixian." Panggil seorang gadis yang mengenakan seragam yang sama dengannya.
"Bianka?" Gadis itu menoleh dan tersenyum apda seseorang yang memanggil namanya.
"Kenapa kamu selalu melamun?" Tanya Bianka menghampiri Xixian.
"Aku sedang memikirkan pelajaran." Bohongnya.
"Dasar otak fisika, ke kelas yuk." Ajak Bianka yang di angguki oleh Xixian.
Mereka memang cukup dekat, sebab hanya Bianka yang sama seklai tidak pernah menyakan apapun padanya. Bianka selalu meengerti dan menerima penolakan Xixian saat ia di ajak ke sesuatu tempat atau sekedar berbelanja.
Sejauh ini, hanya Bianka yang bisa bertahan dengan keanehan Xixian.
"Xixian prisa bora." Panggil guru yang sedang mengabsen.
"Hadir bu." Sahut gadis itu.
Selama ini ia tidak pernah tentang hidupnya sendiri, bagaimana bisa di akan menjawab pertanyaan orrang lain jika ia sendiri bahkan tidak tau.
Siapa dirinya?
Apa dirinya?
Dia sudah terbiasa dengan pendapat aneh orang lain tentangnya, dan juga hal-hal yang akan membuatnya jengkel.
"Liat tuh Xixian." Ucap lelaki yang duduk di pojok kantin menatap Xixian yang berjalan mencari meja kosong.
"Cantik banget ya dia." Ucapnya lagi.
"Tapi sayang, dia aneh." Lelaki yang berambut klimis itu menjawab pujian teman di sampingnya.
"Terlepas dari semua itu, dia cantik banget, bodynya juga goals banget kan?"
"Iya, tapi dia tuh gak pernah mau deket sama cowok, kalau di ajak ngomong nunduk terus."
"Tapi dia bawel pas sama Bianka ya?"
"Beruntung banget yang punya dia."
"Apa mungkin dia punya cowok? Makanya gak mau dekeet ama cowok lain."
Mereka terus sibuk membicarakaan Xixian, siapa yang tidak akan takjub melihat gadis itu. Selain kepintarannya, ia punya segala aspek yang membuatnya di kagumi banyak kalangan.
"Xixian kenapa ekspresi kamu kayak gitu terus?" Tanya Bianka, kareenaa hari ini gadis itu tidak seceria biasanya.
"Kenapa kamu gak pernah nanya keluarga gue kayak yang lain? Kenapa juga kamu gak pernah marah pas aku terusan nolak ajakan kamu?"
Bianka menarik nafasnya sebeelum ia amembuka suara, sepertinya hal buruk sedang terjadi pada gadis ini.
"Xian, aku tuh seneng temenan sama kamu karena kamu baik. Dan tentang semua masalah hidup kamu, kamu bisa cerita ke aku kalau kamu udah siap. Aku gak bisa maksa kamu untuk terbuka sama aku, kalau kamu mau kamu pasti udah lakuin hal itu." Jelas Bianka.
"Makasih ya Bi, kamu udah selalu ngerrti aku. Maaf karena aku gak bisa terbuka sama kamu, tapi aku janji aku bakal ceritain semuanya nanti."
"Kamu kayak gini karena aku sering cerita ya? Apa karena kamu risih karena aku terus-terusan curhat sama kamu?"
"Nggak kok, aku malah seneng kamu kayak gitu." Xixian tersenyum dan kedua tertawa saaat menatap satu sama lain..
Setidaknya ia memiliki satu orang yang mampu membuatnya merasa ada.
.
.
.
.
Hay readers, silahkan dukung author dan tinggalkan jejak.🙏🙏