
"Xixian pulang sama siapa?" Tanya lelaki itu menghampiri Xixian.
"Di jemput." Jawabnya.
"Yah, padahal mau di anterin." Ucap lagi lelaki itu.
"Xixian." Panggil lelaki bertubuh tegap dengan pandangan dingin mengarah pada Xixian.
"Papa udah dateng, aku duluan ya." Xixian tersenyum dan pergi secepatnya dari sana.
Sepanjang perjalanan, ia hanya menatap ke luar jendela. Ia merasa bosan dengan hidupnya yang hanya seperti ini terus menerus.
"Tuan putri, sudah saya peringatkan jangan terlalu dekat dengan lelaki lain." Ucap lelaki itu dengan suara beratnya.
"Kenapa? Aku gak boleh punya cowok gitu?" Tanya Xixian meski ia sudah tau jawabannya.
"Tidak, tuan putri sudah punya."
"Kenapa kamu selalu bilang kalau aku udah punya? Siapa? Di mana dia? Kenapa aku gak pernah ketemu?"
"Nanti tuan putri akan bertemu."
"Nanti terus, emang kenapa sih aku harus di jodohin? Aku kan gak kenal, gak cinta juga." Bantahnya terus menerus karena kesal.
"Setelah sampai rumah, saya akan menjelaskan semuanya."
"Bagus, udah belasan tahun kamu baru mau jelasin." Ketusnya.
Mereka memasuki area perumahan elit milik Xixian, rumahnya terletak jauh dari lingkungan perumahan biasa. Bahkan 3 kilo meter sebelum masuk area ini mereka akan di periksa.
Xixian menghentakkan kakinya kesal, ia masih tidak terima dengan kehidupannya yang monoton.
"Silahkan tuan putri ganti baju dan turun." Perintah lelaki itu sembari memberikan kode pada perempuan yang menyambut mereka.
Hanya perempuan itu dan dirinya yang menemani Xixian di rumah ini, mereka berdua berperan sebagai orang tua Xixian saat bertemu orang luar.
"Putri." Panggil perempuan itu masuk ke dalam kamar Xixian saat ia baru selesai mandi.
"Kenapa?" Tanyanya.
"Putri marah?"
"Tidak, aku hanya kesal." Ucapnya sembari duduk di tepi kasurnya.
Perempuan itu ikut duduk di sampingnnya.
"Benarkah?"
"Itu sebabnya tuan memintan putri segera turun."
Xixian mengangguk, ia sama sekali tidak mengharapkan hal lebih. Karena selama ini dia selalu kecewa saat meminta penjelasan lelaki itu
"Putri, kami sangat menyanyangimu, itu sebabnya kami melakukan semua ini. Kami di sini hanya untuk memastikan putri hidup dengan baik dan aman, kami tidak mengharapkan apapun selain kehidupan putri." Mata perempuan itu berkaca-kaca saat mengutarakan isi hatinya.
Tidak terasa ia akan segera melepas gadis yang selama ini ia jaga, yang selama ini menghabiskan waktu bersamanya.
"Aku tidak tau apa yang sebenarnya kamu katakan, tapi aku yakin kamu menyayangiku." Jawab Xixian.
"Mari, sebaiknya kita tidak membuat tuan menunggu." Ajak perempuan itu kepada Xixian.
Mereka berdua turun dan menghampiri lelaki yang sudah duduk di ruangan tengah.
"Apa yang ingin kamu katakan?" Tanya Xixian.
"Tuan putri bukanlah manusia." Ucapnya datar.
"Lalu aku apa? Siluman? Kenapa kamu selalu memakai candaan itu."
"Saya tidak bercanda, 3 hari lagi tuan putri akan genap berumur 17 tahun. Dan saat itu kita haru pergi dari dunia manusia menghadap raja."
"Raja siapa? Raja salman? Firaun?" Ucapnya tetap tidak menanggapi serius.
"Terserah tuan putri akan menanggapinya bagaimana, tapi tuan putri harus bersiap." Lelaki itu berdiri henddak meninggalkan mereka, sementara pereempuan di samping Xixian sudah cemas akan kemarah di mata gadis itu.
"Hanya itu? Kau bahkan tidak menjelaskan siapa aku? Siapa kalian? Kenapa aku di sini? Siapa orang tuaku?" Tanyanya dengan penuh amarah dan rasa kesal yang membuncah dalam hatinya.
Lelaki itu menghentikan langkahnya, ia berbalik menatap Xixian yang sudah hampir menangis karena kesal.
.
.
.
.
Yuk silahkan tinggalkan komen dan like kalian🙏