
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
“Xixian?” Panggil Bianka yang mengenali tubuh mungil gadis itu dari jauh.
Xixian menoleh mencari sumber suara yang memanggil namanya.
“Bianka?” Luca tercengang melihat kehadiran Bianka saar dirinya berjalan tak tentu arah.
“Kamu ngapain malem-malem di sini?” Tanya Bianka mendekati gadis itu.
Xixian terdiam, matanya yang bengkak sudah mampu menjelaskan keadaannya saat ini.
“Ikut aku yuk.” Bianka menarik tangan Xixian dan mengajaknya pergi ke suatu tempat.
Rupanya Xixian mengajaknya ke mini market di dekat jalan itu dan membelikan gadis itu mie instan cup yang sudah matang, ia juga membelikan air dingin untuk gadis itu.
“Makasih ya Bi.” Ujar Xixian.
“Makasihnya nanti aja, sekarang makan dulu, lo pastil apar kan?”
Xixian mengangguk dan tersenyum, setelang menangis dan memaki cukup lama ia malah merasa lapar.
Xixian memakan mie itu dengan lahap. Kalau di pikir-pikir ia sudah cukup lama tidak makan mie seperti ini, dalam suasan hati yang sedih, ini cukup mampu membantunya.
“Kamu gak mau tanya aku kenapa?” Tanya Xixian.
Bianka tersenyum, ia memang tidak pernah tau apa yang terjadi pada gadis itu hingga sekacau ini.
“Kamu bisa cerita kalau mau.” Jawabnya, seperti biasa ia tidak pernah memaksa gadis itu.
Xixian menarik nafasnya sesaat. “Hmmm Gue jadi ngerasa bersalah banget karena selama ini gak pernah terbuka sama lo.”
“Santai aja.”
Xixian menyelesaikan makannya dan menegak minuman dingin itu sampai habis.
“Apa kamu masih mau temenan sama aku kalau tau yang sebenarnya?”
“Tergantung sih, kalau ternyata kamu begal atau perampok, atau tukang sihir sih aku gak mau.” Bianka mengatakan hal itu sembari tertawa.
“Isshhh aku serius Bi.”
“Iya maaf, habisnya kamu sedih terus.”
Xixian terdiam, ia seperti menimbang apa yang akan ia katakana. Entah ini benar atau tidak, entah bagaimana juga respon Bianka nanti jika ia tahu.
“Sebenarnya, aku bukan manusia.” Ucap menatap Bianka dengan khawatir.
“Terus kamu apa?” Bianka tampak tenang, bahkan Xixian kaget karena Bianka tidak bersikap seperti apa yang ia pikirkan.
“Aku juga gak tau aku mahluk apa, tapi Lee bilang aku bukan manusia. Dan setelah di pikirkan, mungkin hal itu cukup masuk akal.”
“Terussss?” Bianka masih belum memahami perkataan Xixian.
Tidak bisa ia tutupi, entah mahluk macam apa dia tapi ia masih punya hati yang bisa merasakan sakit, kecewa, sedih dan putus asa.
Xixian menceritakan semua hal yang Lee katakana padanya, mungkin bianka akan menganggap ia gila atau bahkan takut padanya. Tapi saat ini dia tidak perduli, menutupi jati dirinya selama ini sudah membuatnya selalu merasa bersalah kepada Bianka.
Toh ia juga akan pergi sebentar lagi, jadi tidak ada gunanya menyembunyikan hal ini lebih lama.
“Apa kamu benar-benar gak tau orang tua kamu?” Tanya Biakan memasatikan.
Xixian menggeleng. “Aku gak pernah inget giamana masa kecil aku Bi, bahkan mungkin aku gak inget diri aku 4 tahun lalu.”
“Aku sih percaya sama kamu, tapi penjelasannya emang gak logis. Aku juga bingung, apa bener hal semacam itu ada?”
“Jangankan kamu, akua ja gak percaya.” Seru sdengan cemberut.
“Kalau ternyata mereka orang jahat gimana? Kalau ternyata selama ini mereka rawat kamu karena ada tujuan tertentu gimana?”
“Kayaknya nggak deh Bi, mereka kayaknya saying banget sama aku. Ya meskipun mereka sendiri sangat aneh, tapi aku yakin mereka orang baik.” Jelass Xixian.
Bianka menggenggam tangan Xixian dan tersenyum. “Apapun itu, gue yakin takdir lo itu adalah yang terbaik.”
“Aku bakal pergi 3 hari lagi.” Ucap Xixian menatap Bianka.
“Hah? Kemana?” Tanya Bianka tercengang.
“Ke dunia itu.”
Bianka melirik bunga yang berada di dekat Xixian, ia melihat gadis itu memegang bunga itu sejak tadi.
“Kamu metik dimana?”Tanya Bianka.
Xixian menatap bunga yang di lirik Bianka.
“Oh itu, tadi ada cowok aneh yang ngasih ini.” Jelasnya.
“Cowok aneh?”
“Ia, tadi pas gue nangis dia tiba-tiba muncul dan ngasih ini. Pas gue tanya dia siapa, dia bilang gue yang manggil dia. Anehkan?”
“Hidup kamu penuh dengan keanehan ya?”
‘”Kayaknya sih.”
.
.
.
.
Jangan lupa favoritkan dan tinggalkan jejak.