
Butuh waktu dua hari lagi untuk sampai di tanah Kerajaan Stewart. Mereka menghabiskan malam sebelumnya dalam sebuah hutan yang sangat indah bernama Glannden Falls. pohon birch, cemara, dan begitu rimbun tumbuh di daerah itu, sehingga kuda-kuda hampir tidak bisa menembus jalan setapak yang begitu tampak sempit. Kabut yang menghembus lebih tepat jika di sebut berwarna putih dari pada abu-abu dan hampir setinggi pinggang di beberapa tempat, mengambang di sekitar kehijauan, memberikan suasana magis pada daerah yang bagaikan surga itu.
Jacelyn sangat terpesona. Gadis itu berjalan kedalam kabut hingga kabut itu mengelilingi tubuhnya sepenuhnya. Ailean mengamati setiap gerakan gadis itu. Jacelyn memutar tubuhnya, melihat Ailean yang sedang mengamati dirinya, dan berbisik dengan suara penuh rasa kagum bahwa tempat itu merupakan tempat paling indah di seluruh dunia yang pernah di jumpai oleh Jacelyn.
"Seperti inilah surga yang aku bayangkan, Ailean," kata Jacelyn pada Ailean.
Ailean tampak terkejut, lelaki itu memandang ke sekitarnya dengan seksama, kemudian dengan sangat arogan menjawab perkataan Jacelyn, "Mungkin."
Jelas terlihat kalau lelaki itu tidak pernah meluangkan waktu untuk menikmati keindahan di sekitarnya. Jacelyn memberitahu itu pada Ailean. Ailean menatap Jacelyn dengan seksama, mulai dari puncak kepala hingga ujung sepatu botnya. Pria itu beranjak maju dan menyentuh sisi wajah Jacelyn dengan lembut, kemudian berkata, "Aku memperhatikannya."
Jacelyn bisa merasakan wajahnya telah merona. Kata-kata Ailean jelas mengacu padanya, tentu saja. Apa lelaki itu benar-benar menganggap nya cantik? Ia terlalu malu untuk menanyakan hal itu. Namun, Ailean mengalihkan perhatiannya dengan memberitahu kalau Jacelyn bisa mandi dengan layak di tempat yang indah ini.
Jacelyn sangat gembira saat mendengar nya. Air sungai yang mengalir di lembah itu terasa sangat dingin, tapi ia terlalu senang mendapatkan kesempatan untuk bisa menggosok keseluruhan tubuhnya sehingga tidak mempermasalahkan hawa dingin yang menyerang. Jacelyn mencuci rambutnya. Gadis itu harus mengepangnya dalam keadaan lembab, tapi itu juga tidak masalah baginya.
Jacelyn ingin terlihat sangat baik saat ia bertemu dengan sahabatnya. Jacelyn sedikit mengkhawatirkan pertemuan nya dengan Ainsley Callista. Sudah hampir empat tahun berlalu sejak pertemuan mereka yang terakhir kalinya. Apakah temannya itu akan berfikir jika dirinya sudah berubah banyak... dan jika begitu, apakah menurut Ainsley Callista ia berubah lebih baik atau justru lebih buruk?
Jacelyn tidak membiarkan dirinya lebih lama lagi memikirkan tentang pertemuan itu. Dalam hati, ia meyakini kalau semua akan baik-baik saja. Rasa senangnya segera tumbuh begitu ia berhasil menyingkirkan kekhawatiran bodoh itu dari dalam benaknya. Dan pada saat mereka selesai makan malam, ia berjalan mondar mandir di sekitar api unggun.
"Apa kalian tahu kalau istri Carmous terjaga sepanjang malam memasak untuk kita?" Jacelyn tidak bertanya secara khusus pada seseorang yang berarti semua orang yang mendengar perkataannya bisa menjawab nya.
"Dia mengirimkan Shaista biskuit manis kesukaannya. Tapi, dia juga membuatkan cukup banyak untuk kita."
Azril, Garfie dan Sgaire duduk di sekeliling api unggun. Ailean bersandar pada pohon birch besar sambil mengamati Jacelyn. Tapi tidak ada satu orang pun yang membalas komentar Jacelyn tentang Margaretha.
Jacelyn sangat bersemangat. Tidak satu hal pun yang bisa mengurangi semangatnya. "Kenapa kita membuat api unggun malam ini? Kita tidak pernah membuatnya sebelumnya?" tanya Jacelyn penasaran.
Garfie menjawab pertanyaan itu. "Kita berada di tanah Kerajaan Stewart sekarang. Sebelumnya tidak."
Jacelyn tersentak dengan jawaban Garfie. "Tanah yang indah ini milikmu?" ujar Jacelyn menatap Ailean.
Azril dan Garfie tersenyum. Sedangkan Sgaire mengerutkan kening. "Apa kau bisa berhenti berjalan mondar mandir? Kau membuat kepalaku sakit hanya dengan melihat mu saja."
Jacelyn melemparkan senyuman pada Sgaire saat ia melewati lelaki itu. "Kalau begitu, jangan di lihat," sarannya.
Jacelyn ingin sedikit memancing emosi Sgaire, tapi lelaki itu membuat nya terkejut dengan senyuman lebar.
"Kenapa kau berjalan mondar mandir?" tanya Ailean.
"Aku terlalu bersemangat untuk menghadapi hari esok, dan tidak bisa diam karena nya Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku bertemu dengan Ainsley Callista dan ada banyak sekali hal yang ingin aku ceritakan padanya. Pikiranku terlalu sibuk di penuhi dengan hal itu. Aku berani bertaruh, aku tidak akan bisa tidur malam ini." Jelas Jacelyn dengan begitu dramatis.
Dalam hati, Ailean diam-diam bertaruh kalau Jacelyn akan tidur dengan nyenyak malam ini. Dan benar saja, Ailean menang. Jacelyn benar-benar bagaikan orang mati begitu wanita itu memejamkan mata.
Saat pagi menjelang, Jacelyn menolak di buru-buru. Gadis itu memberi peringatan pada para kesatria itu jika dirinya akan memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Dan saat wanita itu kembali ke perkemahan di mana Ailean dan yang lainnya menunggu dengan tak sabar di atas kuda, Jacelyn terlihat sama indahnya dengan alam sekitarnya. Wanita itu mengenakan gaun berwarna biru terang yang sangat cocok dengan warna matanya yang begitu dramatis. Rambut wanita itu di gerai. dan ikalan-ikalannya yang tebal bergantung lembut di atas pundaknya saat ia bergerak.
Dada Ailean terasa sesak. Jelas terlihat jika pria itu tidak dapat mengalihkan pandangannya dari Jacelyn. Ailean menggelengkan kepala menghadapi reaksinya yang begitu memalukan, lalu mengerutkan wajahnya kearah wanita yang telah berhasil membuat perhatiannya teralihkan.
Jacelyn sampai di lapangan kemudian berhenti. Ailean tidak mengerti kenapa wanita itu merasa ragu sampai ia berbalik dan melihat semua anak buahnya telah mengulurkan tangan kearah Jacelyn. Setiap lelaki memberikan isyarat agar Jacelyn maju kearah mereka.
Secara perlahan, Jacelyn bergerak kesamping Ailean. "Aku sudah memperingatkan mu kalau aku membutuhkan waktu lebih banyak hari ini. Jadi, seharusnya kau tidak merasa begitu kesal."
Ailean menghela nafas. "Tidak pantas jika seorang wanita berbicara dengan nada seperti itu pada ku," jelasnya yang membuat mata Jacelyn langsung terbelalak.
"Nada seperti apa?" tanya Jacelyn.
"Menuntut."
"Aku tidak menuntut."
"Kau juga seharusnya tidak berdebat dengan ku."
Jacelyn bahkan tidak berusaha untuk menyembunyikan kekesalannya. Tangan wanita itu berkacak pinggang. "Ailean, aku tahu dan mengerti kalau kau merupakan seorang Kaisar di kerajaan ini, Maka kau terbiasa memerintah orang lain. Tapi..."
Jacelyn tidak bisa menyelesaikan penjelasannya. Ailean membungkuk kan tubuh, mencengkram pinggangnya, dan mengangkat nya keatas pangkuan. Jacelyn berteriak pelan. Ailean memang tidak menyakitinya. Tidak, kecepatan gerakan yang mengagumkannya lah yang membuat Jacelyn tersentak kaget.
"Kau dan aku harus membuat suatu kesepakatan," ujar Ailean dengan nada suara tegas dan tidak main-main.
Ailean berbalik kearah anak buahnya. "Kalian duluan saja," perintahnya. "Kami akan menyusul."
Sementara Ailean menunggu sampai anak buahnya menjauh, Jacelyn berusaha untuk memutar tubuhnya di atas pangkuan Ailean sehingga ia bisa bertatapan dengan lelaki itu. Ailean meremas pinggang Jacelyn, pesan tanpa suara agar Jacelyn tetap pada tempatnya.
Jacelyn mencubit tangan pria itu agar Ailean mau melepaskan pegangannya. Ailean melihat saat anak buahnya telah pergi, menunggu sehingga ia bisa berbicara dengan Jacelyn tanpa orang lain yang akan mendengarkan. Ailean melepaskan cengkeramannya. Jacelyn segera berhenti meronta.
Jacelyn berbalik menatap Ailean. Lelaki itu tidak bercukur pagi ini. Ia terlihat sedikit kusut dan sangat amat maskulin.
Dengan cepat, Ailean mengembalikan perhatian penuhnya pada Jacelyn. Mata mereka saling menatap cukup lama. Ailean bertanya-tanya bagaimana dirinya bisa meninggalkan Jacelyn sendirian begitu mereka sampai ke rumahnya. Jacelyn bertanya-tanya bagaimana sosok Ailean bisa begitu sempurna tanpa cacat. Jacelyn mengerahkan perhatian nya pada bibir Ailean. Ia nampaknya tidak bisa bernapas. Demi Tuhan, ia ingin sekali di cium.
Ailean ingin sekali mencium Jacelyn. Namun, ia menarik paksa kendali pikirannya yang melantur itu.
"Jacelyn ketertarikan di antara kita ini mungkin timbul karena kita terpaksa harus berdekatan selama lebih dari seminggu. kedekatan ini..."
Jacelyn segera berkomentar dengan pilihan kata Ailean yang buruk itu. "Kau merasa dirimu di paksa berdekatan dengan ku?" tanya Jacelyn.
Ailean mengabaikan interupsi Jacelyn. "Saat kita sampai di benteng, semua tentu saja akan berubah. Ada sebuah rantai perintah yang spesifik. Dan semua orang di Klan maupun Kerajaan Stewart terikat dalam peraturan yang sama."
"Kanapa?"
"Sehingga tidak terjadi kekacauan."
Ailean menunggu hingga Jacelyn mengangguk sebelum melanjutkan. Ia mencoba untuk tidak melihat kearah bibir Jacelyn yang terlihat begitu manis olehnya.
"Aturan yang kami semua ikuti... atau bisa di sebut, rantai perintah, di kesampingkan dalam perjalanan ini demi alasan kepentingan. Tapi, begitu kita sampai di tujuan kita, kita tidak akan lagi mempunyai hubungan tanpa struktur seperti ini."
...🍁...