THE SECRET (The Power Of Love Conquers All)

THE SECRET (The Power Of Love Conquers All)
CHAPTER 20



"Masuklah." perintah Ailean lagi. Suaranya terdengar lebih kasar dari yang di maksudkan nya.


"Ada apa?" tanya Ailean. Saat Jacelyn tidak bergerak satu langkah pun dari tempatnya berdiri. Ailean memaksa wajah Jacelyn mendongak dengan menahan punggung tangannya di bawah dagu Jacelyn.


"Aku tidak ingin masuk."


Jacelyn terlihat sangat menyedihkan. Ailean berusaha menahan senyumnya. "Kenapa tidak?" tanyanya.


Jacelyn mengangkat bahu. Ailean meremas rahang Jacelyn dengan lembut. Jacelyn tahu jika lelaki itu tidak akan mau melepaskan nya sampai dia mendapatkan jawaban yang pasti dari dirinya.


"Aku hanya tidak ingin pergi ke tempat aku tidak di terima," bisik Jacelyn.


Senyum Ailean penuh dengan kelembutan. Tiba-tiba, Jacelyn merasa ingin menangis. Kedua mata nya sudah mulai berkaca-kaca. "Aku benar-benar kelelahan malam ini," ia beralasan.


"Tapi, itu bukan alasan kenapa kau ingin tetap di luar, bukan?"


"Aku baru saja menjelaskan pada mu... Aku merasa di permalukan," kata Jacelyn. "Aku tahu seharusnya aku tidak mengambil hati, Semua orang-orang Stewart membenci orang Northumbria. Dan kebanyakan orang Northumbria juga membenci orang Stewart, bahkan Stewart perbatasan sekalipun... dan aku membenci semua kebencian itu. Itu... bodoh, Ailean."


Ailean mengangguk menyetujui. Semua cercaan tertuju pada Jacelyn. Rasanya sulit untuk tetap merasa sakit hati saat ia tidak sedang berdebat dengan wanita itu.


"Apa Carmous membuatmu takut?"


"Kemarahan nya yang membuat ku takut," ujar Jacelyn. "Itu adalah hal yang paling tidak masuk akal. Atau, apakah aku bereaksi berlebihan lagi? Aku tahu diriku terlalu lelah."


Jacelyn kelelahan. Ailean tidak begitu memperhatikan, kalau tidak ia pasti sudah menyadari lingkaran hitam di bawah mata Jacelyn sebelum nya. Jacelyn menggenggam tangan Ailean saat ia merasa di permalukan, dan masih belum melepaskan nya hingga saat ini.


Ya, Jacelyn terlihat lelah, kalah, dan sangat cantik di mata Ailean.


Tiba-tiba, Jacelyn menegakkan bahunya. "Kau harus masuk kedalam. Aku cukup senang menunggu mu di luar sini."


Ailean tersenyum saat ia menarik tangannya dari genggaman Jacelyn. "Tapi, aku akan merasa lebih senang kalau kau masuk bersamaku," ucapnya.


Ailean merasa sudah selesai mendiskusikan masalah ini. Lelaki itu melingkarkan lengannya di sekitar pundak Jacelyn, meremas sedikit, kemudian menarik wanita itu bersamanya menuju pintu masuk.


"Kau bilang kau mungkin bereaksi berlebihan lagi," ucap Ailean saat menarik Jacelyn bersamanya. Lelaki itu benar-benar mengabaikan kenyataan kalau Jacelyn bertingkah seperti papan yang kaku. Jacelyn sangat keras kepala. Namun, perilaku Jacelyn membuat Ailean merasa senang. Tidak pernah ada satu wanita pun yang berani menentangnya, tapi Jacelyn benar-benar berbeda dari semua wanita yang pernah di kenalnya.


Wanita itu melotot setiap menit, atau begitulah tampaknya. Ailean menganggap reaksi Jacelyn itu benar-benar jujur. Jacelyn tidak sedang berusaha membuat nya terkesan, dan Jacelyn tampaknya juga tidak mungkin mundur atau bahkan mengalah padanya. Aneh sekali, tapi sikap Jacelyn yang tidak biasa itu seolah membebaskannya.


Ailean merasa tidak perlu bersikap seperti seorang Kaisar yang berkuasa di depan Jacelyn. Kenyataan bahwa Jacelyn adalah orang luar tampaknya menghancurkan semua batas tradisi yang di tekankan kepadanya sebagai seorang pemimpin negara.


Ailean harus memaksa diri kembali ke pertanyaan yang mengganggu nya. "Kapan pertama kali kau bereaksi berlebihan?" tanyanya.


"Saat kau mencium ku."


Mereka sudah mencapai ambang pintu saat Jacelyn mengakui hal itu. Ailean segera berhenti dan menahan wanita itu. "Aku tidak mengerti," ujarnya. "Bagaimana kau bereaksi berlebihan?"


Jacelyn bisa merasakan wajahnya memanas. Ia mengangkat lengan Ailean dari pundak nya. "Kau jelas terlihat sangat marah padaku... setelah nya. Dan itu membuat ku marah juga. Seharusnya aku tidak memedulikan nya." tambah Jacelyn sambil mengangguk dengan tegas.


Jacelyn tidak ingin mengetahui reaksi Ailean atas pengakuan yang blak-blakan itu. Ia bergegas masuk. Wanita tua yang di lihatnya tadi maju untuk menyapanya. Senyum wanita itu tampak tulus bagi Jacelyn, dan sedikit ketegangan yang di rasakannya di bahu menghilang saat ia membalas senyuman wanita itu.


Margaretha merupakan seorang wanita yang cantik. Alis matanya melengkung dan lengkungan di sudut bibirnya menambah pesona wanita itu. Ia mempunyai mata berwarna hijau di padu warna keemasan, dan rambut coklat tebal yang di hiasi sedikit garis-garis uban. Ia menata rambut itu dengan mengepangnya. Meskipun Margaretha tiga puluh sentimeter lebih tinggi dari Jacelyn, tapi Jacelyn sama sekali tidak merasa terintimidasi. Kebaikan memancar dari wanita itu.


"Terimakasih karena telah mengizinkan ku masuk ke rumah mu," ujar Jacelyn setelah ia membungkuk hormat.


Margaretha mengelap tangannya ke celemek putihnya sebelum membalas membungkuk hormat. "Jika kau mau duduk di meja, aku akan menyelesaikan menyiapkan makan malam kita."


Ailean kebetulan mendongak. Ia melihat sekali kearah Jacelyn dan tahu ada sesuatu yang salah. Wajah wanita itu terlihat pucat. Dan ia terlihat seperti sedang merasa panik dari karena sesuatu. Ailean baru saja hendak bangkit dari kursinya untuk mencari tahu apa yang membuat Jacelyn terganggu saat ia menyadari wanita itu sedang menatap ke arah guci anggur.


Apa yang sedang merasuki wanita itu sebenarnya?


"Jacelyn apa kau ingin minum sedikit..."


Jacelyn langsung menggeleng dengan kencang. "Bukankah air akan terasa lebih... menyegarkan setelah seharian menempuh perjalanan panjang?"


Ailean bersandar di kursinya. Apa yang mereka minum tampak begitu penting bagi wanita itu. Ailean sama sekali tidak mengerti kenapa, dan ia merasa hal itu bukanlah masalah yang besar. Jacelyn jelas terlihat sangat galau. Jika wanita itu ingin agar mereka meminum air, maka mereka akan meminum air.


"Ya," Ailean menyetujui. "Air akan terasa lebih segar."


Pundak Jacelyn langsung melorot karena lega.


Sgaire juga menyadari reaksi Jacelyn. "Kami harus bangun pagi-pagi, Carmous," ujarnya, meskipun tatapannya terpaku pada Jacelyn. "Kami tidak akan minum anggur sampai tiba di rumah."


Margaretha mendengar percakapan itu juga. Ia bergegas menuju meja membawa seteko penuh air minum segar. Jacelyn membawa lebih banyak gelas lagi.


"Duduk dan beristirahatlah," ujar Margaretha pada Jacelyn.


"Aku lebih suka membantu mu," sahut Jacelyn.


Margaretha mengangguk. "Ambil kursi itu dan duduklah di dekat kompor. Kau bisa mengaduk kaldu daging sementara aku memotong roti."


Jacelyn merasa lega. Para lelaki itu sedang berdiskusi sekarang, dan dari kerutan di wajah mereka, ia memperkirakan kalau yang di bicarakan adalah masalah penting. Ia tidak ingin mengganggu. Dan yang paling penting, ia tidak ingin duduk di sebelah Carmous. Sebab satu-satunya kursi yang kosong adalah di ujung meja, di sebelah kiri Carmous.


Jacelyn mengangkat kursi dari dekat dinding ke arah kompor menuruti instruksi Margaretha. Ia menyadari kalau wanita itu terus mencuri pandang ke arahnya. Margaretha jelas ingin berbicara dengannya, tapi harus memikirkan bagaimana reaksi suaminya. Ia terus saja menatap ke arah meja makan untuk melihat apakah Carmous memperhatikan mereka.


"Kami jarang kedatangan tamu," bisik Margaretha.


Jacelyn mengangguk. Ia melihat Margaretha kembali mengintip kearah suaminya, kemudian kembali ke arahnya.


"Aku penasaran kenapa kau ingin pergi ke kediaman Stewart," bisik Margaretha lagi.


Jacelyn tersenyum. "Temanku menikah dengan lelaki dari Kerajaan Stewart dan meminta ku agar datang membantunya melahirkan anak pertama," jawabnya dengan suara yang sama rendah seperti suara Margaretha.


"Bagaimana kau bertemu dengan teman mu?" Margaretha ingin tahu.


"Di festival di perbatasan."


Margaretha mengangguk. "Kami juga memiliki festival di sini, meskipun di adakan pada musim gugur bukan musim semi."


"Apa kau pernah menghadiri nya?" tanya Jacelyn penuh antusias.


"Kami pergi kesana saat Shaista masih tinggal bersama kami," jawab Margaretha. "Namun sejak Shaista menikah lalu pergi dari rumah ini, Carmous terlalu sibuk untuk pergi." ia menambahkan dengan mengangkat bahu. "Aku selalu bersenang-senang di sana."


"Aku mendengar kalau Shaista menikah dengan kakak Sgaire," kata Jacelyn. "Apakah pernikahan itu baru saja di lakukan?" tanyanya.


"Tidak, sudah empat tahun yang lalu," Jawab Margaretha.


Kesedihan terdengar jelas dalam nada suara Margaretha. Jacelyn berhenti mengaduk kaldu dan berbalik dari kompor sehingga bisa memberi perhatian penuh pada wanita itu.


...🍁...