THE SECRET (The Power Of Love Conquers All)

THE SECRET (The Power Of Love Conquers All)
CHAPTER 22



Mereka makan malam dalam diam. Jacelyn menunggu hingga para lelaki menyelesaikan makan malamnya sebelum mengangkat topik mengenai kesejahteraan Shaista pada Sgaire.


Jacelyn memutuskan untuk mulai masuk kedalam pembicaraan itu. "Margaretha, kaldu ini sangat enak."


"Terimakasih," jawab Margaretha sambil sedikit merona.


Jacelyn berbalik ke arah Sgaire. "Apa kau sering bertemu dengan kakakmu?"


Kesatria itu mendongak menatap Jacelyn, kemudian mengangkat bahunya.


"Apa kau melihat istrinya, Shaista?" desak Jacelyn terus.


Sgaire mengangkat bahunya lagi. Jacelyn mendorong kaki lelaki itu di bawah meja dengan kakinya. Sgaire mengangkat alis menyikapi kelakuan Jacelyn padanya itu.


"Apa kau baru saja menendang ku?" tanya Sgaire dengan suara kerasnya.


Pertanyaan itu tidak di ucapkan untuk membuat nya bersikap lebih halus, Pikir Jacelyn. "Ya, aku baru saja menendang mu."


"Kenapa?" tanya Ailean


Jacelyn berbalik dan tersenyum pada lelaki itu. "Aku tidak ingin Sgaire menjawab ku hanya dengan mengangkat bahunya saja. Aku ingin dia menceritakan tentang Shaista."


"Tapi, kau bahkan tidak mengenal wanita itu, Jacelyn." Ailean mengingat kan Jacelyn.


"Aku ingin mengetahui tentang nya," sanggah Jacelyn keras kepala.


Ailean terlihat seolah sedang berpikir kalau Jacelyn mungkin saja sudah gila. Jacelyn menghela nafas. Kemudian, ia mulai mengetuk-ngetuk ujung jarinya di atas meja.


"Ceritakan tentang Shaista padaku, ku mohon,"


Sgaire mengabaikan Jacelyn.


Jacelyn menghela nafas. "Sgaire, maukah kau keluar sebentar bersamaku? Aku ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting secara pribadi dengan mu."


"Tidak."


Jacelyn tidak bisa menahan diri. Ia kembali menendang Sgaire. Kemudian, ia berbalik pada Ailean. Ia tidak melihat Sgaire tersenyum sedikit. "Ailean, tolong perintahkan Sgaire untuk keluar sebentar bersamaku."


"Tidak."


Jacelyn kembali mengetuk-ngetuk ujung jarinya ke atas meja sambil memikirkan rencananya selanjutnya. Ia mendongak, melihat ekspresi menyedihkan di wajah Margaretha, dan memutuskan meskipun dirinya akan terlihat bodoh, tapi ia harus menemukan cara agar bisa membuat Seamus berbicara tentang Shaista.


"Baiklah kalau begitu," Kata Jacelyn. "Aku mungkin harus berbicara dengan Sgaire besok saja dalam perjalanan. Aku akan berkuda dengan mu besok, Sgaire." tambah nya dengan senyuman polos. "Mungkin, aku juga akan terus berbicara dari matahari terbit hingga tenggelam, Sgaire. Jadi, kau lebih baik beristirahat dengan cukup malam ini."


Ancaman itu berhasil. Sgaire mendorong dirinya menjauhi meja dan berdiri. Kerutan di dahi nya terlihat sangat dalam. Lelaki itu membuat semua orang menyadari akan ketidakpuasan pria itu. Dan yah, lelaki itu terlihat sangat marah.


Jacelyn tidak marah. Tapi ia sangat marah. Demi Tuhan, ia tidak sabar lagi untuk membawa orang bodoh ini keluar. Ia bahkan memaksa sebuah senyuman dan berhasil membungkuk pada tuan rumahnya sebelum berbalik dan melangkah keluar pintu. Ia juga terus tersenyum saat ia berbalik dan menutup pintu di belakang nya.


Dalam ketegasan nya memarahi Sgaire, Jacelyn melupakan dua jendela besar yang ada di sisi pintu.


Margaretha dan Garfie duduk di belakang pintu, tapi Ailean dan Azril dapat melihat dengan jelas ke daerah berumput di luar jendela.


Ailean memusatkan perhatian nya pada Sgaire. Kesatria itu menghadap kearahnya. Sgaire berdiri dengan kaki terbuka dengan tangan yang terkait di belakang punggungnya. Lelaki itu juga terus berusaha menyembunyikan kekesalan nya pada Jacelyn. Sgaire mempunyai perangai yang keras. Ailean tahu kesatria itu tidak akan menyentuh Jacelyn, meskipun wanita itu telah membuat nya sangat marah. Tapi, Sgaire bisa melukai Jacelyn dengan beberapa ucapan kejamnya.


Ailean menunggu untuk melihat apakah dirinya perlu turun tangan. Hal terakhir yang di butuhkan nya adalah seorang wanita yang akan menangis di dalam pelukannya. Dan Sgaire sama bagusnya dalam teknik mengintimidasi seperti dirinya.


Namun, tiba-tiba ia terkejut dengan senyuman nya sendiri. Ia tidak percaya dengan apa yang telah di lihatnya begitu juga dengan Azril. "Apa kau melihatnya?" bisik Azril.


"Aku juga melihat nya," seru Garfie. "Aku hanya tidak bisa mempercayainya. Apakah itu Sgaire yang sedang berjalan mundur?" Ia mendengus senang. "Aku tidak pernah melihat ekspresi semacam itu dari wajahnya. Menurut mu, apa yang sedang di lakukan Jacelyn padanya?"


Wanita itu sedang memarahi Sgaire, putus Ailean. Tangan Jacelyn berkacak pinggang. Dan saat wanita itu mulai menyerang musuhnya, maka ia tidak akan berhenti. Sgaire jelas terlihat melangkah mundur dari wanita itu. Lelaki itu juga terlihat... takjub.


Suara Jacelyn tidak begitu terdengar karena terbawa oleh angin dan jarak yang cukup jauh. Tapi, Ailean tahu kalau wanita itu tidak sedang berbisik. Tidak, Jacelyn sedang berteriak dan setiap beberapa saat, Sgaire terlihat meringis.


Ailean berbalik untuk melihat ke arah Margaretha. Tangan wanita itu menutupi bibirnya, dan saat wanita itu sadar kalau Ailean mengamati nya, wanita itu langsung menundukkan kepalanya ke atas meja. Namun, Margaretha tidak cukup cepat. Sehingga Ailean sudah menangkap kekhawatiran dalam sorot mata wanita itu terlebih dahulu, dan tahu kalau wanita itu, entah bagaimana, terlibat dalam semua ini.


Pintu terbuka. Jacelyn memaksakan sebuah senyuman dan bergegas kembali ke meja. Ia duduk, melipat lengannya di atas pangkuan, dan menghela nafas panjang. Sgaire mengikuti dengan perlahan. Saat lelaki itu kembali duduk di kursinya, semua perhatian tertuju kearahnya. Jacelyn merasa cukup aman untuk mengangguk ke arah Margaretha. Wanita itu membalas dengan mengedipkan matanya.


Ailean melihat tindakan itu. Ia merasa semakin penasaran.


Sgaire berdehem. "Shaista dan Sinclair mempunyai cottage yang besarnya hampir sama dengan bangunan ini," Sgaire menggunakan komentar itu.


"Yah, senang sekali mendengar hal itu," jawab Carmous.


Sgaire mengangguk. Sikapnya jelas terlihat sangat tidak nyaman. "Dia sedang menanti kelahiran bayinya sekarang ini."


Margaretha tersentak gembira. Air mata menggenangi matanya. Ia mengulurkan tangan dan menggenggam tangan suaminya. "Kita akan punya cucu," bisiknya.


Carmous mengangguk. Mata lelaki itu juga berkaca-kaca. Carmous mengarah perhatian ke gelas.


Ailean akhirnya mengerti permainan Jacelyn. Wanita itu marah, dan juga mempermalukan dirinya sendiri, semua karena ia ingin membantu Margaretha mengetahui tentang keadaan putrinya. Jacelyn adalah seorang wanita yang lemah lembut. Tidak pernah terpikirkan oleh Ailean kalau orang tua Shaista mungkin ingin mendengar berita tentang putri mereka. Tapi, orang luar dengan jelas dapat melihat hal itu dan bahkan memutuskan untuk membantu.


"Apa ada pertanyaan khusus yang ingin kau tanyakan tentang putri mu?" Tanya Sgaire.


Margaretha tidak hanya punya satu pertanyaan. Ia mempunyai ratusan pertanyaan. Azril dan Garfie bahkan ikut menjawab beberapa dari pertanyaan itu.


Jacelyn merasa senang. Namun, ia juga merasa kesal Mengetahui fakta, kalau alasan satu-satunya Sgaire mau berkerja sama dengannya adalah karena ancaman nya untuk berkuda bersama dengan lelaki itu. Namun bagi Sgaire, pikiran untuk menyentuh Jacelyn itu lebih menjijikkan dari pada membahas masalah keluarga. Tapi, tentu saja apa yang Jacelyn rasa kan itu tidaklah penting. Kebahagiaan di wajah Margaretha bisa mengalahkan perilaku Sgaire yang menyebalkan itu.


Cottage itu terasa hangat, hampir panas. Jacelyn berusaha berkonsentrasi pada obrolan mereka, tapi rasa lelah membuat itu semua menjadi sulit. Ia menyadari saat Carmous berusaha mengisi kembali gelas Sgaire dengan air, kendinya sudah kosong.


Jacelyn meletakkan kursi yang didudukinya ke dekat kompor dan mengambil seteko air lagi ke atas meja. Carmous mengangguk untuk mengucapkan terimakasih padanya.


Ya Tuhan, ia benar-benar merasa sangat lelah. para lelaki sudah menempati ruang yang ia kosongkan dan punggungnya pun terasa sangat sakit untuk duduk di tempat itu lagi. Ia kembali ke kursi di dekat kompor, duduk, dan menyandarkan pundaknya Kedinding batu yang dingin. Ia memejamkan mata dan tertidur semenit setelahnya.


Ailean tidak bisa mengalihkan pandangan nya dari Jacelyn. Wanita itu sangat manis. Wajahnya seperti malaikat. Ailean terus-terusan memandang wanita itu sampai ia menyadari kalau Jacelyn ter angguk angguk di atas kursi yang di duduki nya.


Ailean mengangguk kearah Sgaire agar lelaki itu terus melanjutkan ceritanya, kemudian beranjak untuk berdiri di dekat Jacelyn. Ia bersandar di dinding, melipat lengannya di depan dada membentuk posisi santai dan mendengar cerita Sgaire tentang Sinclair dan Shaista. Margaretha dan Carmous terpaku pada cerita lelaki itu. mereka berdua tersenyum saat Sgaire menyebut kan kalau Shaista sangat cerewet.


...🍁...