
Jacelyn merasa bersyukur karena Ailean tidak memperhatikannya sekarang. Gadis itu masih bergetar karena ciuman Ailean tadi, dan juga merasa takjub dengan respon nya sendiri yang begitu bergairah. Hal itu merupakan sesuatu yang sangat menakjubkan sekaligus menakutkan yang pernah di alami olehnya.
Jacelyn menginginkan lebih. Tapi, ia pikir Ailean tidak menginginkan hal yang sama. Lelaki itu belum mengucapkan sepatah katapun. Namun, dari cara Ailean menarik dirinya dengan kasar darinya dan sorot kemarahan yang terlihat dari mata lelaki itu, menunjukkan pada Jacelyn kalau Ailean tidak merasa senang dengan hal yang baru saja mereka lakukan.
Jacelyn tiba-tiba merasa sangat rendah diri dan juga sangat malu. Kemudian, dia merasa ingin berteriak sekeras mungkin untuk meluapkan perasaan dan harga dirinya yang telah terlukai. Matanya telah dipenuhi dengan air mata. Gadis itu mencoba menarik nafas panjang untuk bisa mengendalikan emosi dalam dirinya.
Setelah beberapa menit, getaran pada tubuhnya mulai berkurang. Dan Jacelyn mulai berfikir kalau dirinya akan memenangkan peperangan ini dengan perasaannya yang sangat membingungkan, jika Ailean melukai perasaannya lagi.
Ailean menghentikan kuda hitamnya di samping kuda coklat milik Azril. Dan sebelum Jacelyn mengetahui apa yang di rencanakannya, lelaki itu dengan kasar mencampakkan Jacelyn di atas pangkuan Azril begitu saja, bahkan tanpa menoleh kearahnya.
Jacelyn sempat terkejut, namun, itu tidak berlangsung lama. Biarlah begitu. Jika memang Ailean tidak menginginkan berhubungan dengan nya, maka Jacelyn akan menerimanya dengan baik. Gadis itu bahkan menolak untuk melihat kearah Ailean. Dengan hati-hati, Jacelyn menyesuaikan letak roknya, menjaga agar pandangannya terus terarah kebawah, dan berdoa kepada Tuhan supaya Ailean tidak melihat wajahnya merona. Gadis itu merasa seolah wajahnya sedang terbakar.
Ailean mengambil alih posisi depan. Garfie mengarahkan kuda hitamnya di belakang sang Kaisar, kemudian Jacelyn dan Azril mengikuti di belakang. Sgaire sekali lagi di tinggal untuk melindungi di belakang.
"Apa kau kedinginan, Jacelyn?"
Azril membisikan pertanyaan itu di dekat telinganya. Rasa khawatir terdengar jelas di sana.
"Tidak," jawab Jacelyn.
"Lalu kenapa kau gemetaran?"
"Karena aku kedinginan."
Jacelyn menyadari jika jawabannya tidak masuk akal dan menghela nafas pelan. Jika Azril berfikir kalau dirinya tidak masuk akal, lelaki itu cukup baik untuk tidak mengatakannya. Azril tidak mengucapkan sepatah katapun pada Jacelyn sepanjang siang. Dan Jacelyn pun melakukan hal yang sama.
Tampaknya, Jacelyn juga tidak bisa merasa nyaman di dalam pelukan Azril. Punggungnya beberapa kali menyentuh dada Azril. Tapi, ia tidak cukup nyaman untuk bersandar pada lelaki itu.
Saat malam menjelang, Jacelyn merasa sangat lelah hingga ia hampir tidak bisa membuka matanya. Mereka berhenti di sebuah cottage yang indah dengan dinding dari batu-batu kecil dan atap jerami, yang terletak di sisi gunung. Tanaman merambat yang lebat menutupi bagian selatan bangunan itu dan jalanan berbatu membawa mereka kearah lumbung yang letaknya sangat dekat dengan pintu depan cottage.
Seorang lelaki yang telah beruban dengan jenggot tebal dan bahu lebar, sedang berdiri di depan pintu masuk. ia tersenyum menyambut dan bergegas keluar.
Jacelyn melihat seorang wanita yang berdiri di pintu masuk. Wanita itu sejak tadi berdiri di belakang suaminya. Tapi, saat lelaki itu maju ke depan, wanita itu segera mundur ke balik bayangan.
"Kita akan melalui malam kita di sini," ujar Azril. Lalu turun dari kuda dan menjulurkan tangan untuk membantu Jacelyn. "Kau akan mendapatkan atap untuk berteduh dan beristirahat dengan bagus malam ini, Jacelyn."
Jacelyn mengangguk. Azril, adalah lelaki yang penuh dengan rasa kasih. putus Jacelyn dalam hati. Lelaki itu membantu Jacelyn turun, tapi dia tidak melepaskan Jacelyn. Azril tahu kalau Jacelyn akan terjatuh jika dia melepaskannya. Lelaki itu tidak mengemukakan keadaan Jacelyn yang terlihat begitu menyedihkan, dan ia bahkan mengizinkan Jacelyn untuk berpegangan di tangannya hingga Jacelyn bisa menghentikan kakinya yang gemetaran. Tangan Azril mencengkeram pinggang Jacelyn, dan Jacelyn tahu kalau lelaki itu bisa merasakan dirinya sedang gemetaran.
"Lepaskan tanganmu darinya, Azril."
Suara berat Ailean terdengar dari belakang Jacelyn. Azril melepaskan Jacelyn. Kaki Jacelyn gemetaran. Ailean langsung menangkapnya dari belakang tepat ketika Jacelyn akan jatuh ke depan. Tangan kiri Ailean melingkar erat di pinggang Jacelyn dan dengan kasar Ailean menarik Jacelyn kesamping nya. Azril mundur dari Kaisarnya, kemudian berbalik dan berjalan kearah cottage.
Ailean terus berdiri di sana untuk menjaga Jacelyn beberapa menit berikutnya. Pundak Jacelyn menempel erat di dada lelaki itu. Jacelyn terus menundukkan kepalanya.Ia merasa sangat lelah sehingga ia ingin memejamkan mata dan membiarkan Ailean menggendongnya ke dalam. Tapi, hal itu tentu sangat tidak pantas.
Bagaimana aroma seorang lelaki bisa tercium begitu enak setelah perjalanan panjang beberapa hari dengan berkuda? Aroma tubuh Ailean adalah aroma bersih alam bebas... dan lelaki. Kehangatan memancar dari tubuh lelaki itu. Jacelyn sangat tergoda pada kehangatan Ailean, dan saat ia menyadari hal itu, Jacelyn tahu jika dirinya harus menarik diri.
Ailean sama jauhnya dengan badai yang mulai tergerak dari arah selatan. Jacelyn tahu kalau lelaki itu memeluknya hanya karena dirinya membutuhkan bantuan lelaki itu. Ailean merasa bertanggung jawab terhadap dirinya dan dia hanya sedang menjalankan tugasnya saja.
"Terimakasih atas bantuanmu," Kata Jacelyn. "Kau bisa melepaskan ku sekarang. Aku sudah baikan."
Jacelyn berusahalah mendorong lengan Ailean. Namun, Ailean memiliki maksud lain. Lelaki itu setengah memutar tubuh Jacelyn dalam pelukannya. kemudian mengangkat dagu wanita itu.
Ailean tersenyum. Jacelyn tidak tahu apa yang harus di lakukannya. Ailean sudah bertingkah seperti seekor beruang yang terganggu beberapa waktu lalu, meskipun Jacelyn harus mengakui kalau target Ailean adalah Azril.
Kesombongan lelaki itu benar-benar menyebalkan ujar Jacelyn. "Dan kapan kau menghendakinya?" Tanya Jacelyn. "Atau apakah aku juga tidak di perkenankan untuk bertanya?"
Ailean mengangkat alis saat mendengar nada kesal dalam suara Jacelyn. Kemudian, ia menggeleng pada Jacelyn. "Kau marah padaku," kata Ailean. "Beri tahu aku kenapa?"
Jacelyn berusaha mendorong tangan Ailean dari dagunya, tapi ia menyerah saat Ailean meremas rahangnya.
"Aku tidak akan melepaskan mu sampai kau memberitahu ku kenapa kau kesal." ujar Ailean.?"
"Kau mencium ku."
"Kau juga mencium ku."
"Ya, memang," Jacelyn mengakui. "Aku tidak menyesal. Bagiamana dengan kau?"
Ada tantangan di sana, dalam suara dan mata Jacelyn. Seorang lelaki bisa kehilangan akal sehatnya jika membiarkan dirinya terperangkap dalam kecantikan wanita itu. Pikiran itu bergelung di dalam benak Ailean saat ia menjawab Jacelyn. "Aku juga tidak menyesal."
Jacelyn menatap Ailean dengan kesal. "Mungkin kau tidak menyesal saat itu. Tapi kau menyesal sekarang, bukan?" Ailean mengangkat bahu. Jacelyn merasa ingin sekali menendang lelaki itu sekarang. "Sebaiknya kau tidak menyentuh ku lagi, Ailean."
"Kau tidak bisa memerintah ku."
Suara Ailean terdengar sangat tegas. Namun, Jacelyn mengabaikannya. "Jika itu berurusan dengan mencium ku, maka aku bisa memberi perintah sesuai apa yang aku mau. Aku bukan milikmu, Ailean." Jacelyn menambahkan dengan nada suara yang lembut.
Ailean terlihat seperti hendak mencekiknya. Jacelyn memutuskan kalau dirinya terlalu kasar menghadapi lelaki di hadapannya itu. Ailean tampaknya memiliki perangai yang kasar.
"Aku tidak bermaksud kasar," Jacelyn memulai. "Dan aku tahu kalau kau terbiasa di patuhi karena kau adalah seorang Kaisar. Tapi, sebagai orang luar, aku benar-benar tidak perlu mematuhi perintah mu," ia melanjutkan dengan suara yang tenang. "Dalam hal ini, sebagai seorang tamu..."
Jacelyn berhenti mencoba untuk menjelaskan saat Ailean menggelengkan kepala padanya. "Jacelyn, apakah kau setuju selama kau berada di rumah adikku, kau akan berada di bawah perlindungannya?"
"Ya."
Ailean mengangguk. Ailean juga tersenyum. Lelaki itu bertingkah seolah ia baru saja memenangkan sebuah perdebatan penting, dan Jacelyn bahkan tidak yakin apa topik perdebatan nya.
Ailean melepaskan nya dan berjalan pergi. Jacelyn mengejar lelaki itu. Saat ia sampai di sisi Ailean, ia mencengkram tangan lelaki itu. Ailean segera berhenti.
"Ya?" tanya Ailean.
"Kenapa kau tersenyum?"
"Karena kau baru saja menyetujui ku."
"Bagaimana?"
Jacelyn sedang tidak mencoba untuk memancingnya. Ailean bisa melihat kebingungan di mata wanita itu. "Sampai kau kembali ke Northumbria, aku bertanggungjawab atas dirimu. Kau akan mengikuti semua perintahku," Tambah Ailean lagi sambil mengangguk. "Itulah hal yang baru saja kau setujui."
Jacelyn menggelengkan kepalanya. Lelaki ini benar-benar gila. Bagaimana sebuah pertanyaan kalau lelaki ini tidak boleh mencium nya lagi bisa membawa semua keputusan ini?.
"Aku tidak pernah menyetujui hal semacam itu," sanggah Jacelyn.
...🍁...