
Aneh, tapi meskipun mereka adalah dua orang yang benar-benar asing, namun Jacelyn merasakan dorongan untuk menenangkan hati wanita itu. Margaretha tampak benar-benar kesepian dan Jacelyn sangat memahami perasaan semacam itu.
"Apa kau tidak pernah punya waktu untuk bisa pergi mengunjungi putrimu?" tanya Jacelyn dengan iba menatap Margaretha yang nampak sedih.
"Aku belum pernah sekalipun mengunjungi Shaista ku sejak dia menikah," jawab Margaretha, "Kerajaan Stewart sangat tertutup. Mereka tidak menerima orang luar." jujur Margaretha dengan hati yang berat.
Jacelyn tercengang dengan apa yang di sampaikan Margaretha, ia tidak bisa mempercayai apa yang baru saja di dengarnya itu.
"Tapi, kau jelas bukan orang luar," protes nya.
"Shaista adalah milik Sinclair sekarang. Tidak akan pantas jika aku meminta nya mengunjungi kami, dan tidak pantas juga untuk meminta agar kami bisa mengunjunginya."
Jacelyn menggelengkan kepalanya. Ia tidak perna mendengar sesuatu yang sangat tidak masuk akal seperti itu. "Apa dia pernah mengirim kan pesan untukmu?"
"Siapa yang akan mengantarkan pesan itu?"
Keheningan menyelimuti mereka selama beberapa saat. "Aku mau," bisik Jacelyn.
Margaretha menengok ke arah suaminya, kemudian kembali menatap Jacelyn. "Apa kau mau melakukan itu untukku?"
"Tentu saja," kata Jacelyn dengan tulus.
"Aku khawatir hal itu tidaklah pantas di lakukan," ujar Margaretha.
"Tentu saja itu pantas," sanggah Jacelyn. "Itu juga bukan hal yang sulit, Margaretha. Jika kau punya pesan yang ingin kau sampaikan pada Shaista, aku berjanji akan mencarinya dan memberikan pesan mu itu padanya. Kemudian, dalam perjalanan ku kembali ke Northumbria, aku akan memberikan pesan darinya untukmu. Mungkin nanti akan ada sebuah undangan untuk berkunjung," tambahnya.
"Kami akan keluar untuk melihat kuda, Istriku," seru Carmous dengan suaranya yang menggelegar. "Kami tidak akan lama. Apa makan malam sudah hampir siap?"
"Ya, Carmous," sahut Margaretha. "Makan malam sudah akan tersedia di meja begitu kalian kembali."
Para lelaki itu meninggalkan cottage. Carmous menutup pintu. "Suamimu kedengaran nya marah," tebak Jacelyn sesaat setelah para lelaki pergi.
"Oh, tidak. Dia tidak marah," sahut Margaretha cepat.
"Tapi, dia sedikit gelisah. Menerima Seorang Kaisar Kerajaan Stewart yang terhormat di rumah kami, hal itu merupakan suatu kehormatan besar bagi kami. Carmous akan terus bersumbar tentang hal ini selama satu atau dua bulan mendatang."
Margaretha menata piring di meja, kemudian menambahkan seteko air lagi. Rotinya sudah di potong-potong. Jacelyn membantu wanita itu untuk menuangkan kaldu ke dalam sebuah mangkuk besar dan meletakkan nya di tengah meja makan yang panjang itu.
"Mungkin, selama makan malam, kau bisa menanyakan kabar Shaista pada Sgaire," saran Jacelyn.
Margaretha tampak terkesima. "Jika aku bertanya seperti itu, dia akan merasa tersinggung," jelas Margaretha. "Jika aku bertanya apakah Shaista bahagia, maka sama saja aku berpikir kalau Sinclair tidak membahagiakan nya. Apa kau mengerti betapa rumitnya hal ini?"
Menurut pendapat Jacelyn, hal itu tidaklah rumit, tapi menggelikan. Ia bisa merasa dirinya marah untuk Margaretha. Kerajaan Stewart sangat lah kejam jika bersikap seperti itu padanya. Apa tidak ada satu orang pun dari mereka yang memiliki belas kasih pada keluarga seperti Ibu dan ayah?
Ia tidak tahu apa yang akan di lakukannya jika seseorang memberitahu nya kalau ia tidak akan pernah bisa bertemu dengan bibi Olivia dan Paman Noriie lagi. Matanya bahkan sudah berkaca-kaca hanya dengan memikirkan hal buruk itu.
"Jika kau mau bertanya..." Margaretha tersenyum pada Jacelyn sambil menunggu Jacelyn menangkap apa yang di maksudnya.
Jacelyn mengangguk. "Sgaire mungkin akan berpikir kalau aku tidak tahu tata krama itu karena aku adalah orang Northumbria."
"Aku akan dengan senang hati menanyakan nya, Margaretha," janji Jacelyn. "Apa semua Klan-klan tertinggi di dataran tinggi seperti kerajaan Stewart? Apa mereka semua menutup diri dari orang luar?"
"Klan Maclean dan Klan Maitland melakukan nya juga," jawab Margaretha. "Jika mereka tidak sedang saling berperang satu sama lain, maka mereka akan menutup diri," jelasnya. "Tuan tanah Klan Maclean terletak di antara klan Maitland dan kerajaan Stewart, dan Carmous bilang padaku kalau mereka terus saja berperang merebut kan hak kepemilikan tanah. Tidak satupun dari ketiga klan itu yang menghadiri festival, tapi Klan-klan yang lain menghadirinya. Apa semua orang Northumbria sama seperti dirimu?"
Jacelyn berusaha berkonsentrasi pada apa yang di pertanyaan Margaretha padanya. Namun hal itu cukup sulit bagi Jacelyn untuk bisa menjawab nya, karena ia masih terhenyak dengan pernyataan santai wanita itu kalau klan Maitland adalah musuh Kerajaan Stewart.
"Milady?" tanya Margaretha. "Apa kau sakit?"
"Oh, aku sangat sehat," jawab Jacelyn. "Kau bertanya padaku apakah aku sama seperti orang Northumbria yang lain, bukan?"
"Ya, benar," sahut Margaretha sambil mengerucutkan keningnya karena melihat wajah Jacelyn berubah menjadi sangat pucat.
"Aku tidak tahu apakah aku sama seperti yang lainnya atau tidak," jawab Jacelyn. "Karena faktanya aku lebih suka menjalani hidup yang tertutup. Margaretha, bagaimana para lelaki itu bisa menemukan pasangan hidup jika mereka tidak pernah bergaul dengan klan lain?"
"Oh, mereka punya cara sendiri," jawab Margaretha. "Sinclair datang kesini untuk menukar kuda betina. Dia bertemu dengan Shaista dan mereka langsung jatuh cinta. Aku menentang persatuan itu karena aku tahu aku tidak akan pernah bisa melihat putri ku lagi. Tapi, Carmous tidak mau mendengar kan ku. Lagi pula, kau tidak bisa menjawab tidak pada Orang Kerajaan Stewart. Setidaknya, aku tidak pernah mendengar ada orang yang mengatakan hal itu. Dan Shaista juga sudah menetapkan hati untuk menikah dengan Sinclair."
"Apa Sinclair mirip dengan Sgaire?"
"Ya, mirip. Tapi, lebih pendiam."
Jacelyn tergelak. "Kalau begitu, dia pasti sudah mati," ujarnya. "Sgaire jarang sekali berkata-kata."
Margaretha tidak bisa menahan gelak tawa saat mendengar perkataan Jacelyn. "Orang-orang kerajaan Stewart memang sangat aneh, tapi mereka juga punya kelebihan sendiri. Aku bisa bilang jika Carmous mendapatkan serangan atau membutuhkan pertolongan, maka dia bisa mengirimkan kabar pada yang mulia Kaisar Ailean."
"Sebelum Shaista menikah, kami sering sekali kehilangan kambing-kambing kami. Pencurian itu segera berhenti begitu kabar bahwa Shaista menikah dengan anggota kerajaan Stewart tersebar. Carmous juga mulai di hormati. Tentu saja reaksi awalnya tadi sama seperti saat dia bertemu dengan mu, dan hal itu bisa saja mengubah statusnya."
"Maksud mu keterkejutan nya saat mengetahui aku orang Northumbria?"
"Ya, keterkejutan nya."
Kedua wanita itu saling memandang dan tiba-tiba tertawa kencang tepat saat para lelaki telah kembali masuk kedalam. Ailean adalah orang yang pertama masuk. Ia mengangguk kearah Margaretha, kemudian berhenti sejenak untuk mengerutkan wajah ke arah Jacelyn. Jacelyn merasa kalau Ailean sedang berpikir jika kesenangan nya itu bukanlah tindakan yang pantas untuk di lakukan. Kemungkinan itu membuat tawanya semakin kencang.
"Pergilah dan duduk di meja," Margaretha mengintruksikan.
"Apa kau akan bergabung dengan kami?"
"Aku akan melayani terlebih dahulu, kemudian aku akan bergabung dengan kalian."
Entah Margaretha menyadari atau tidak, wanita itu baru saja memberikan Jacelyn alasan untuk tidak duduk di sebelah Carmous. Para lelaki sudah mengambil posisi yang sama seperti tadi. Jacelyn mengangkat kursi di dekat kompor dan membawanya ke sisi lain meja. Kemudian ia membuat jalannya di antara Ailean dan Sgaire.
Jika para kesatria itu terkejut dengan keberanian Jacelyn, maka mereka cukup baik untuk tidak menunjukkannya. Sgaire bahkan bergeser sedikit sehingga Jacelyn tidak terlalu kesempitan.
...🍁...
jangan lupa beri dukungan kalian pada karya ini yah🥰 LIKE, KOMEN, DAN VOTE
dan terimakasih karena telah bersedia mampir ke sini❤️