THE SECRET (The Power Of Love Conquers All)

THE SECRET (The Power Of Love Conquers All)
CHAPTER 23



Sejam pun berlalu. perbincangan yang mereka bicarakan serasa sudah cukup bagi Ailean. Ailean berseru untuk menghentikan percakapan. "Kami akan pergi begitu fajar menjelang, Carmous. Kami masih harus melakukan dua hari perjalanan untuk sampai di rumah." kata Ailean mengingat kan Carmous.


"Kekasih mu bisa tidur di tempat kami," saran Carmous setelah mendengar kan Ailean. Pria tua itu berkata dengan suara kencang sesaat sebelum dia melihat kearah Ailean dan Jacelyn berada, tapi saat dia berbalik dan melihat kalau Jacelyn telah tertidur. Suaranya langsung berubah menjadi sebuah bisikan halus.


"Dia akan tidur di luar bersama kami," jawab Ailean tegas tetapi menggunakan suara yang halus. "Jacelyn tidak akan menginginkan kalian memberikan tempat tidur untuknya." ujarnya.


Margaretha dan Carmous tidak membantah keputusan Kaisar itu. Ailean membungkuk, memindahkan tubuh Jacelyn ke pelukannya, kemudian berdiri.


"Wanita itu bagaikan orang mati," ucap Azril sambil tersenyum saat Ailean melewati tubuhnya.


"Apa kau mau selimut tambahan. Anginnya sangat kencang malam ini," kata Margaretha mengingatkan, saat wanita itu teringat jika malam ini cuaca cukup ekstrim di luar sana.


Garfie membuka pintu untuk Ailean kala Ailean telah hampir sampai di ambang pintu tempat dia berdiri sekarang. "Kami sudah punya semua yang kami butuhkan." Kata Garfie mewakili Ailean berbicara.


Ailean menggendong Jacelyn melewati pintu, kemudian tiba-tiba pria itu berhenti. Ia memutar tubuhnya. "Terimakasih untuk makan malamnya Margaretha. Rasanya sangat lezat." puji Ailean.


Pujian itu terdengar sangat canggung menurut Ailean, tapi Margaretha terlihat sangat senang dengan apa yang baru saja di ucapkan nya. Rona merah di wajah wanita itu terlihat seterang api di atas kompor yang sedang menyala. Carmous juga bertingkah seolah pujian itu tertuju padanya. Dada pria itu mengembang seolah akan meledak seketika itu juga.


Ailean terus beranjak menuju pepohonan di seberang lumbung. Daun-daun dari para pepohonan itu bisa memberikan mereka perlindungan terhadap angin kencang yang akan datang malam ini, dan juga memberikan mereka ruang privasi yang cukup. Ailean terus menggendong Jacelyn sementara Azril membangunkan tenda untuk wanita itu, saat tenda telah siap Ailean berlutut meletakan wanita itu di atas alas tidur yang sudah di bentangkan Garfie di dalam tenda yang di lapisi bulu-bulu halus.


"Aku sudah menjanjikan padanya, kalau dia akan mendapatkan tempat tidur hangat di dalam pondokan malam ini," ujar Azril sedikit merasa bersalah pada Jacelyn.


Ailean menggelengkan kepala. "Dia tetap bersama kita," ujarnya.


Tidak ada satu orang pun yang berani membantah pernyataan itu. Para lelaki berbalik dan pergi saat Ailean menyelimuti Jacelyn dengan jubah kedua. Jacelyn tidak pernah membuka mata sedikit pun saat Ailean menggendong nya. Punggung tangan Ailean mengelus halus pipi wanita itu.


"Apa yang akan ku lakukan dengan dirimu?" bisik Ailean.


Ailean merasa enggan untuk meninggalkan wanita itu. Tapi dia harus memaksa dirinya untuk berdiri dan pergi meninggalkan tenda Jacelyn. Ailean menyambar satu jubah yang di tawarkan Azril padanya dalam perjalanan ke salah satu pohon terdekat. Ailean menggesekkan pundaknya di batang pohon, duduk, dan menyandarkan punggung kemudian memejamkan kedua matanya.


Tiba-tiba terdengar suara aneh yang belum pernah di dengar oleh Ailean sebelum nya yang berhasil membangunkannya di tengah malam. Para kesatria yang lain pun mendengarkan hal yang sama, hingga keempat kesatria itu terbangun serentak di waktu itu juga.


"Suara apa itu?" gumam Sgaire.


Jacelyn-lah pemilik suara itu berasal. Wanita itu tersadar penuh, dan juga sangat menderita. Jacelyn berfikir jika dirinya berada dalam situasi yang sangat berbahaya sekarang, yakni membeku kedinginan sampai mati. Tubuhnya tak bisa berhenti bergetar hebat. Gigi-giginya bergemertak dan suara itulah yang di dengar jelas oleh para kesatria di luar tendanya.


"Aku tidak bermaksud membangunkan mu, Sgaire," teriak Jacelyn. Suara nya terdengar bergetar di setiap ucapannya. "Aku merasa sangat kedinginan."


"Kau benar-benar merasa kedinginan?" tanya Azril dengan sangat terkejut, yang terdengar jelas dari nada bicara lelaki itu.


"Aku baru saja mengatakan begitu," jawab Jacelyn.


"Kemari lah," perintah Ailean, terdengar sedikit kasar. Jacelyn menjawab dengan ramah. "Tidak."


Ailean tersenyum dalam kegelapan. "Kalau begitu, aku yang harus menghampiri mu."


"Kau harus menjaga jarakmu dari ku, Ailean Henderson," perintah Jacelyn. "Dan jika kau berpikir untuk memerintah ku berhenti kedinginan, aku peringatkan kau... itu tidak akan berhasil."


Ailean berjalan ke depan tenda. Jacelyn hanya bisa melihat ujung sepatu bot Ailean sampai lelaki itu mengenyahkan bulu-bulu yang menutupi tenda. Lelaki itu mengibaskan nya hanya dalam hitungan detik.


"Itu bisa membantu," gumam Jacelyn. Jacelyn duduk sehingga ia bisa memelototi Ailean.


Ailean mendorong Jacelyn kembali tidur dan membaringkan tubuhnya di samping Jacelyn. Ailean berbaring miring, memberikan kehangatan dari punggung nya kepada Jacelyn.


Tiba-tiba, Sgaire muncul di sisi Jacelyn yang lain. Lelaki itu berbaring miring dengan punggung menghadap Jacelyn. Secara insting, Jacelyn bergeser mendekat ke arah Ailean. Sgaire mengikuti Jacelyn sampai punggungnya menempel erat di tubuh wanita itu.


"Dia terasa seperti balok es," ucap Sgaire.


Jacelyn mulai tertawa. Suara itu membuat baik Ailean maupun Sgaire tersenyum.


"Sgaire?"


"Ada apa?"


Sgaire kembali terdengar kasar. Tapi Jacelyn tidak membiarkan hal itu mengganggu dirinya. Ia akhirnya bisa memahami lelaki itu, dan tahu kalau semua sikap kasarnya itu hanyalah permukaan belaka. Di balik tampilan kejamnya itu, di dalamnya terdapat hati yang sangat lembut.


"Terimakasih."


"Untuk apa?"


"Untuk kau yang sudah mau berbicara panjang lebar tentang Shaista."


Kesatria itu terdengar menggerutu. Jacelyn kembali tertawa.


"Jacelyn?" kata Ailean.


Jacelyn menggeliat mendekati punggung Ailean sebelum menjawab lelaki itu. "Ya, Ailean?"


"Berhenti bergerak dan tidurlah." perintahnya.


Jacelyn merasa dirinya ingin mematuhi perintah itu. Bahkan wanita itu tertidur secepat kilat hampir seketika itu juga.


Beberapa waktu berlalu sebelum akhirnya Sgaire kembali berbicara. Pria itu ingin memastikan Jacelyn benar-benar sudah tertidur dan tidak bisa mendengarkan apa yang akan di katakan olehnya.


"Setiap kali dia di berikan pilihan, dia akan menggantungkan nya padamu." kata Sgaire pada Ailean.


"Apa maksudmu, Sgaire?"


"Dia menempel ke punggungmu sekarang, bukan punggungku. Dia juga lebih memilih berkuda denganmu. Apa kau tidak melihat tampangnya yang begitu menyedihkan saat kau membuangnya untuk berkuda bersama Azril hari ini? Dia terlihat sangat menyedihkan."


Ailean tersenyum. "Aku menyadarinya," akunya. "Tapi, jika dia lebih memilih ku, itu hanya karena aku adalah kakaknya Ramsey."


"Kau tahu jelas jika alasannya lebih dari itu, Ailean."


Ailean tidak menanggapi komentar Sgaire.


Beberapa menit berlalu Sgaire kembali berbicara. "Beri tahu aku, Ailean."


"Beri tahu kau apa?"


"Apa kau akan mempertahankan nya atau tidak?"


"Dan jika aku tidak akan mempertahankan nya?"


"Maka aku yang akan melakukannya."


...🍁...


Jangan lupa like, komen, dan beri vote kalian ya say😘 dan terimakasih yang sudah bersedia mampir di karyaku🥰 semoga kalian menyukainya.