
Suasana di perpustakaan saat ini sangat canggung arthur tak pernah menyangka bahwa adik kecilnya aslan akan menemukannya di perpustakaan. Apalagi sikapnya pada aslan selama tiga tahun ini berubah dari acuh tak acuh menjadi lebih dingin kepada aslan.
arthur merasa bersalah jika mengingat sikapnya yang agak membenci aslan karena gara-gara aslan ibunya sang permaisuri kekaisaran CARROLINE meninggal karena melahirkan aslan. Walaupun sebelumnya ibunya sudah berpesan untuk menjaga aslan yang masih tidak mengerti apa-apa, tapi dia tetap tak bisa menahan kebenciannya pada aslan apalagi ayah juga tidak mempedulikannya jadi rasanya tak masaalah membencinya, tapi ketika melihat wajah aslan yang sangat mirip dengan ibunya hatinya akan segera melunak makanya selama ini dia lebih memilih menjauhi aslan agar tak menyakitinya lagi.
"Ada apa kau kemari apa kau ingin dihukum karena masuk ke perpustakaan kekaisaran di saat masih waktu belajar pangeran" ucap arthur dingin menatap tajam pada sosok kecil yang duduk di depannya rambut hitam dan mata biru jernih yang sangat mirip dengan ibunya menatapnya dengan tatapan percaya diri yang membuat orang yang melihatnya menjadi hangat.
"kakak kau lupa aku juga pangeran disini bagaimana kau mau mengusirku" ucapku tenang memandangi kakak laki-lakiku yang kedua dia dulu sering mengacuhkanku bahkan pertemuan kami dapat di hitung dengan jari kakak laki-laki keduaku ini sangat jarang barada di istana karena dia akan belajar di menara sihir untuk meningkatkan pemahaman sihirnya. saat itu aku belum bisa menggunakan sihir jadi aku takkan bisa mengikuti kompetisi yang akan diadakan satu bulan lagi.
'benar juga dia kan masih pangeran'pikir arthur"lalu untuk apa kau kesini"ucap arthur tetap dengan nada dinginnya. "aku hanya ingin meminta bantuan kakak" kataku menyatakan maksud kedatanganku." bantuan.... bantuan untuk apa???"tanya arthur bingung.
"mudah aku cuma perlu dua bantuan kakak, pertama bantu aku cari alasan selama satu bulan saat aku tak berada di istana dan kedua tolong daftarkan aku pada kompetesi antara penyihir yang akan di kekaisaran satu bulan lagi oh iya dalam kompetesi itu kau boleh berkelompok sekitar 2-5 orang jadi kakak bisa mengajak teman-teman kakak" ucapku menjelaskan dan memperhatikan ekspresi rumit yang ditampilkan oleh arthur.
"tunggu maksudmu kau akan keluar dari istana" tanya arthur ragu-ragu "ya aku ingin pergi keluar istana untuk melatih kemampuanku jika aku tetap berada di istana aku akan susah untuk menjelaskan kekacauan yang nanti kubuat jadi kakak akan membantuku kan" jawabku dan tersenyum kepada kakak kulihat kerutan kesal pada dahinya kurasa dia sangat marah.
"ASLAn APA YANG KAU PIKIRKAN" teriak arthur dan menarik kerahku sehingga tubuhku yang lebih kecil terangkat dan seperti berdiri di atas meja. 'ouch ini sakit'pikirku melihat tatapan berbahaya dari arthur dan aku hanya membalasnya dengan tatapan datar seperti biasanya.
"Aslan apa kau tahu hal apa yang baru saja kau minta!!!!!" ucap arthur menekankan setiap perkataannya "tentu aku tau pangeran" ucapku acuh tak acuh dan tepat setelah itu kurasakan aura yang sangat menindas di arahkan kepadaku tapi aku bukan aslan yang dulu jadi aku takkan merasa tertekan hanya karena aura kecil ini.
"kakak kau tak berpikir untuk memberi tahu ayah bukan??" ucap menatap tajam arthur yang masih setengah terkejut akibat serangan ku tadi."jika kakak berani melaporkan hal ini maka....."ucapku terhenti karena arthur menyela ucapanku"terserah kalau kau ingin menahan ku disini tapi aku takkan membiarkanmu pergi dari istana di luar sangat berbahaya apalagi kau hanyalah anak kecil berusia delapan tahun yang tidak bisa apa-apa bahkan mengangkat pedang saja kau tak bisa buat apa pergi keluar jika itu hanya membahayakanmu"ucap arthur tegas dan menggunakan sihirnya untuk mengikatku. aku yang melihat itu segera menghindar dari benang sihirnya karena jika sudah tertangkap akan sulit untuk bebas apalagi aku belum bisa menggunakan sihir jadi aku takkan bisa lepas jika teterakhir .
'hah sepertinya aku tak punya pilihan lain'pikirku dan segera mengincar tengkuk arthur tapi persis seperti yang kuduga itu takkan mudah dilakukan karena dia adalah calon penyihir berbakat muda yang menjadi salah satu tetua termuda di menara sihir dan tentu kekuatannya sihir nya tak main-main.
"kak bisakah kau tak menggunakan sihirmu" tanyaku santai sambil terus menghindari sihirnya yang terus fokus mengejar diriku"jika aku tak menggunakan sihir maka kau akan bisa kabur aslan"jawab arthur terus meningkatkan kecepatan benang sihirnya"dan aku takkan membiarkanmu pergi di luar istana banyak hal-hal berbahaya yang belum pernah kau lihat jika mereka melihatmu kau hanya seperti semut diantara monster-monster diluar sana dan bahkan mungkin baru satu jam kau keluar istana hanya kematian yang menunggumu"sambung arthur dengan nada dingin tetapi jelas dipenuhi dengan kekhawatiran di setiap katanya dan arthur sedikit bergetar saat mengucapkan kalimat terakhir bahkan jika dia harus menyakiti aslan dia takkan membiarkannya kabur keluar istana.
"kalau begitu kenapa kakak tak ikut saja!!!" tanyaku acuh tak acuh tepat setelah mendengar ucapanku arthur menghentikan serangannya dan memandangiku dengan wajah konyol tapi aku tau di sedang berpikir serius ya dia bukan orang yang pintar berpikir tapi dia tetaplah jenius dalam hal sihir dan dulu aku mengaguminya walaupun dia mengacuhkanku dan aku berpikir tidak buruk jika mengajak arthur untuk pergi keluar istana setidaknya aku mendapat guru sihir gratis dan tidak perlu kabur jika tidak mendapat ijin dari arthur ataupun ayah.
arthur memandangi adik kecilnya yang dari dulu seperti anak kucing yang penakut, bodoh, dan pengecut entah kenapa hari ini bersikap sangat keras kepala dan cerdik. dan jika dia ingat lagi mengapa aslan bisa menghindari benang sihirnya yang bergerak begitu cepat, jika tadi dia tidak mengawasi adik kecilnya ini saat bersikap manja pada putri luvia mungkin dia pikir orang yang berada dalam hadapnnya bukanlah adiknya melainkan orang yang menggunakn tubuh adiknya tapi dia tentu jelas bahwa aslan yang berada di hadapannya adalah aslan yang asli dan sikap percaya diri yang dulu pernah dia lihat 3 tahun yang lalu terlihat lagi dan ini begitu berambisi di bandingkan yang sdiperlukan.
"Jadi, aslan apa alasan kau ingin pergi jika itu bisa diterima maka aku akan mengijinkanmu pergi tapi tentu saja kakak juga akan ada untuk menjagamu itu syarat kakak satu-satunya" ucap arthur tenang seperti sebuah ilusi saja sebelumnya dia berteriak marah kepada aslan.
"oke kak lagi pula kakak tadi tidak membiarkanku menyelesaikan apa yang ingin kuusulkan sekarang mari kita duduk dan bahas ulang rencanaku tadi" kataku dan langsung duduk di atas meja. aku mulai menyampaikan maksud ku sebelumnya ingin keluar dari istana dan mengapa ingin pergi setelah berjam-jam aku menjelaskan kakakku yang satu ini akhirnya setuju dan kami kami akan berangkat lusa untuk mempersiapkan hal-hal yang diperlukan.
TBC