THE REINCARNATION OF THE DEMON KING

THE REINCARNATION OF THE DEMON KING
3. Permintaan maaf



Segera setelah rapat di ruang kekaisaran berakhir Raja Louis dan Ratu Leona segera keluar ruangan untuk kembali menuju ke kerajaannya masing-masing.


Saat sedang berada di lorong Raja Louis menanyai salah satu prajurit yang sedang berpatroli menanyakan keberadaan Putri tunggalnya yaitu Putri Luvia.


Setelah mendengar jawaban dari prajurit yang ditanyainya bahwa putrinya sedang berada di taman kerajaan bersama Pangeran Pertama dan Ketiga serta keberadaan putri Marques yang terkenal licik berada di dekat Putrinya.


Raja Louis segera pergi menuju Putrinya yang berada di taman kerajaan karena dia tahu bahwa Pangeran Pertama tak menyukai putrinya dan jika Putri Marques itu mempermalukan putrinya pangeran pertama bahkan tak repot-repot untuk membela atau membantunya.


Taman kekaisaran


"As—aslan maaf... maaf...kakak tak bermaksud lebih mementingkan Nona Karen dibandingkan dirimu. Tapi, kata-katamu tadi sudah keterlaluan Aslan, apa ini gara-gara Putri kerajaan Crouwrd yang mempengaruhimu!!!!" ucap Andrea dingin sambil menatap Luvia tajam.


"hiks....hikss bahkan kakak sekarang menyalahkan Kak luvia, dia adalah tunanganmu kak selagi dia masih berstatus tunanganmu kau seharusnya memperlakukannya dengan baik," ucap Aslan dengan suara serak karena menangis.


Mata Aslan yang berwarna biru dalam sekejap menjadi berwarna merah darah. Tapi, tidak ada yang menyadari hal tersebut. Bahkan Aslan yang mengalami hal itu, dengan segera mata Aslan kembali kedalam warna aslinya akibat merasakan kehadiran seseorang yang mendekat.


Terlihat seorang lelaki paruh baya yang berjalan tergesa-gesa menuju ke arah Aslan dan yang lainnya.


Saat sampai laki-laki itu langsung saja bertanya.


"Apa yang terjadi disini?!" Tanya lelaki paruh baya yang tak lain adalah Raja Louis terdengar sedikit amarah dari nada bicaranya.


Karena dia melihat dengan jelas bahwa Andrea menatap tajam putrinya dengan tatapan yang begitu menghina tentu dia akan merasa sangat kesal melihat putrinya diperlakukan seperti itu.


"Ah yang mulia Raja Crouwrd," ucap Andrea sedikit membungkuk.


"A—ayah??"Kaget Luvia sedikit gugup.


"Apa yang sedang terjadi mengapa Aslan menangis disini?" Tanya Raja Louis yang melihat Pangeran ke-tiga yang biasanya pendiam dan memendam perasaanya terlihat begitu kacau karena menangis.


Mata biru Aslan terlihat lebih besar dengan genangan air mata di pelupuk matanya. Membuat Raja Louis merasa gemas sekaligus ikut merasa sedih bahwa anak kecil yang menggemaskan itu menangis.


"Ya—Yang Mulia," Masih dengan suara yang serak sehabis menangis Aslan menatap ke arah Raja Louis.


"A—apakah yang mulia disini untuk menjemput kak Luvia??" Tanya Aslan segera berupaya menghapus jejak-jejak air mata diwajahnya.


"Ya Aslan Saya disini ingin menjemput Luvia. Tapi, mengapa kau menangis Aslan? kau bisa cerita kepadaku,"ucap Raja Louis lembut sambil tersenyum dan menggendong Aslan kedalam gendongan nya.


"Ah!" Kaget Aslan yang tiba-tiba sudah berada dalam gendongan Raja Louis.


"Tidak, saya tidak apa-apa tadi hanya kemasukkan debu, Yang Mulia," ucap Aslan santai sambil tersenyum ke arah Raja Louis yang nampak sedikit terpana dengan senyumanya. Walaupun bukan hanya Raja Louis yang merasa seperti itu, tapi semua yang ada ditaman kerajaan merasakan nya kecuali, Karen.


'Hmm sepertinya tidak mungkin jika Aslan hanya kemasukkan debu saja pasti ada alasan lain yang dirahasiakannya, huh sudahlah,'pikir Raja Louis.


"Kalau tidak ada apa-apa Saya undur diri dulu dengan Luvia ya jaga diri baik-baik ya Aslan,"ucap Raja Louis dan sekali lagi mengusap kepala aslan yang terasa lembut.


Usapan hangat dari tangan Raja Louis tersalurkan kepada Aslan dulu di kehidupan pertama dan keduanya tidak ada yang pernah mengusapnya seperti ini bahkan masternya sendiri rasa dari usapan itu begitu menenangkan hati dan membuat mood buruk Aslan yang tadi begitu buruk segera menghilang.


"Aslan kakak pergi dulu ya jaga kesehatanmu yang mulia pangeran sampai bertemu lagi nanti," ucap Luvia memeluk Aslan yang sudah diturunkan oleh Raja Louis lalu Luvia membungkuk hormat kepada Andrea.


Setelah itu keduanya pergi menuju gerbang istana di mana kereta kuda Kerajaan Crouwrd berada disana telah menunggu.


Saat Aslan ingin pergi sebuah tangan yang besar memegang pundakku menahan Aslan untuk tak pergi.


"Aslan kakak minta maaf apa kau masih marah pada kakak?'' Tanya Andrea pelan, terlihat jelas bahwa ia merasa bersalah.


''Kau tidak perlu meminta maaf padaku kak yang seharusnya kau beri permintaan maafmu adalah kak Luvia dia yang selama ini selalu tersakiti....aku pergi," kata Aslan dingin dan segera melepaskan tangan Andrea yang berada di pundaknya.


Andrea hanya memandangi Aslan sendu, semakin lama tubuh adik kecilnya itu menjauh sampai tidak terlihat sama sekali. Andrea cukup syok dengan perubahan adik kecilnya, dulu Aslan pasti akan selalu menurut padanya dan dia bisa selalu menjaganya, tapi tak pernah Andrea bayangkan adiknya menatap marah dan benci kepadanya.Dan suatu saat adik kecilnya itu pasti akan dewasa dan pergi meninggalkannya.


Andrea tidak dapat membayangkan jika adiknya itu pergi darinya, Andrea tidak ingin hal itu terjadi. Tidak, Andrea tidak akan pernah membiarkannya terjadi. Apapun itu Adiknya akan selalu berada disisi nya, Aslan tidak boleh pergi kemanapun yang jauh dari pengawasan nya.


Setelah bertekad, Andrea lalu sedikit memikirkan perkataan adiknya yang begitu mirip dengan apa yang dikatakan oleh ayahnya sang Kaisar Carroline.


Perkataan adiknya bahkan lebih dewasa dibandingkan perilakunya yang seperti anak-anak bahkan sedikit tak hormat pada tunangannya sendiri.


Setelah memikirkan apa yang di katakan adiknya Andrea segera mengingat-ingat mengapa dia membenci Luvia yang bahkan tak bersalah.


3 tahun yang lalu saat usia Andrea16 tahun dan Putri Luvia 15 tahun pertunangan mereka di umumkan secara resmi di aula kekaisaran. Dia tidak peduli tentang siapa tunangannya tapi saat melihat tunangannya itu memarahi adiknya kecilnya dia tidak bisa menahan amarahnya dan rasa kesalnya.


Di tambah Nona Karen yang saat itu juga mengatakan tentang sifat asli dari Luvia yang katanya hanya berpura-pura baik tetapi aslinya begitu buruk, dia jadi semakin membencinya.


Tapi dia tidak pernah menanyakan apa alasan saat itu Luvia memarahi adiknya dan adiknya juga sangat menyukai luvia bahkan membelanya sampai seperti ini.


Dia seharusnya bertanya dan menyelidiki seperti apa sebenarnya Putri Luvia itu dan dia bertekad bahwa ia akan meminta maaf padanya.


Dan dia juga harus meminta maaf pada adiknya setelah itu, karena adiknya adalah hal terakhir yang di percayakan oleh ibunya untuk dijaga.


Di antara Andrea dan ke dua adiknya yang lain. Aslan lah yang sangat mewarisi karakteristik dari ibunya Rambut berwarna hitam legam serta Mata bewarna biru laut yang begitu murni juga menenangkan saat melihatnya tersenyum dan juga dapat menjadi menyakitkan saat melihatnya menangis.


Andrea lalu segera pergi untuk menyelidiki informasi terkait Putri Luvia dan meminta kepada Karen untuk tidak datang selama beberapa hari ke istana kerajaan karena dirinya akan segera sibuk menyelidiki tentang Putri Luvia.


Mendengar hal itu, Karen hanya memasang wajah tersenyum mengiyakan, tetapi sebenarnya setelah dia berada di dalam kereta kuda dia mengatakan kata-kata sumpah serapah tentang Pangeran ketiga Aslan.


Terlihat sekali bahwa Karen sangat kesal kepada Aslan karena dirinya dia tidak akan bisa mencari informasi tentang kondisi Kerajaan dari Pangeran Pertama lagi. Dan itulah kondisi yang diinginkan oleh Aslan.


PERPUSTAKAAN ISTANA


"Hmm?! apa yang sebenarnya terjadi? Aku tidak menyangka adik kecilku akhirnya bisa mengeluarkan kata-kata dingin seperti itu. Jika dia berani mengatakan hal seperti itu langsung kepadaku takutnya hati kecilku takkan bisa menanggungnya, selama ini aku tidak menghiraukannya dan sering berlaku dingin kepadanya, apakah dia akan segera mulai bergerak untuk membalas dendam padaku Aku harus segera mencari cara meminta maaf kepadanya tapi cara apa yang harus Aku pikirkan argh!" Teriak frustasi seorang Remaja berusia 15 tahun.


Remaja itu mengusak rambutnya berantakan memandang frustasi Bola Kristal di hadapannya. Melihat kejadian yang tadi terjadi.


"Berpikir keras itu tidak cocok denganmu, Pangeran," ucap seseorang dari arah belakang remaja itu.


"Yah kau be—Aslan!"Kaget remaja itu sambil memandang ke arah belakangnya terlihat raut keterkejutan di wajahnya yang tampan.


"Kenapa kau terkejut kak lagi pula Aku takkan menerkammu kan tubuhku lebih kecil darimu,"ucap Aslan sambil berjalan mendekat dan duduk di kursi seberang remaja tersebut yang tidak lain adalah Pangeran kedua Kekaisaran Carroline yaitu Arthur Reyhan ve Carroline.


TBC