
Lila yang bosan di dalam istana mengajak Lion dan Hans ke luar istana. Menurutnya di istana itu sangat membosankan, tidak seperti di ibukota Obeylia yang begitu ramai akan penduduk dan banyak yang berjualan!
Tapi Lion dan Hans tidak ingin menarik perhatian penduduk dengan memakai masker yang menutupi separuh wajah mereka.
Lila bersih keras tidak mau memakai penutup wajah, dia menjamin kalau penduduk Obeylia tidak akan tahu identitasnya.
"Benerkan...Seperti yang aku duga...Disini lebih seru !!!" ucap Lila sambil berlari kecil dan menghampiri sebuah stan perhiasan.
"Ini jepit terbaru milik kami..nona.."goda pemilik stan itu dengan menyodorkan sebuah jepit yang cantik.
"Berapa harganya, tuan?.." tanya Lila sambil mengambil jepit itu dari tangan penjual.
"Jepit ini tidak mahal, nona...Hanya 3 keping perak saja..."sambil menunjukkan 3 jarinya pada Lila.
"Hmm...3 keping perak ya...?" Lila mengambil kantong uangnya, tapi dia lupa bahwa dia meninggalkan kantong uangnya di kamar.
Lila melihat ke arah Lion dan Hans, matanya mulai memelas. Tatapan mata Lila seperti anak kucing yang sedang menggoda manusia dengan keimutannya.
Lion menyadari itu, langsung pergi tanpa pamit. Lila kesal sambil mengerutkan bibirnya, Hans yang masih berdiri di samping Lila membayar penjual itu dengan 3 keping perak. Hans membeli jepit itu untuk Lila, dia tidak tidak tega melihat gadis yang dia sukai sedih.
Sejujurnya dalam benak Lila, dia mengharapkan Lion yang akan membelikan jepit itu, tapi Lion acuh dengan dirinya dan memilih meninggalkannya dengan Hans berdua saja. Hatinya kecewa dengan sikap Lion yang selalu mengabaikan perasaannya.
*
Lion berjalan sendiri di pasar itu, kakinya berhenti tepat di depan rumah hiburan bulab itu. Dia masih mengingat dengan jelas wajah gadis itu yang sudah mengacaukan isi hati dan pikirannya! Gadis itu adalah Calista Agrey penari cantik dari rumah hiburan itu.
Tanpa ragu Lion melangkan kakinya memasuki rumah hiburan itu. Di pandanginya sekeliling ruangan itu, sangat ramai pikir Lion. Dia mencari sosok gadis, tapi tidak ada !
Sampai nyonya pemilik rumah hiburan itu datang menghampiri Lion yang kebingungan.
"Anak muda...Sepertinya tuan pendatang baru..Silakan lihat lihat, siapa tau tuan menyukai salah satu gadis kami.."ucap nyonya Jane.
"Nyonya pasti pemilik tempat ini..? Aku mau gadis penari itu..!!" Lion menyerahkan sekantong perak untuk nyonya Jane.
Nyonya Jane langsung mengerti maksud Lion dan membawanya memasuki sebuah kamar yang cukup indah dengan harum bunga yang semerbak.
Tak berapa lama Calista berjalan memasuki kamar itu, dirinya mendapati seorang pemuda berdiri membelakanginya.
Lion yang menyadari kedatangan Calista langsung menoleh ke belakang, jantungnya berdetak cukup kuat.
Lion berjalan mendekati Calista dan berhenti tepat di depan Calista, detak jantung Calista mulai tak karuan. Wajahnya sedikit memerah.
"Senang bisa melihatmu lagi..." ucap Lion membingungkan Calista.
"Ah...Tuan siapa?..Ada perlu apa Tuan ingin bertemu dengan saya??" tanya Calista sambil sedikit berjalan mundur karena Lion berdiri terlalu dekat dengannya !!
Lion melepaskan maskernya, Calista sontak kaget dengan siapa yang berdiri di depannya !! Seorang Pangeran datang karena ingin bertemu dengannya.
"Maafkan hamba yang mulia pangeran...Karena tidak bisa mengenali pangeran..!" Ucap Calista sambil membungkukkan sedikit tubuhnya untuk memberi hormat.
"Tidak perlu sungkan...Aku datang hanya ingin bertemu denganmu..Tolong rahasia kan ini dari semua orang!" Lion tak bisa berhenti menatap Calista, dia terpesona dengan kecantikan Calista.
Merasa dirinya di pandangi oleh Lion, Calista sedikit gugup dan malu. Dia tidak terbiasa dengan tatapan mata Lion seperti itu !!
*
"Sebenarnya pangeran Lion pergi kemana sih...?" tanya Lila pada pelayan dengan muka sebal.
"Nona, mungkin pangeran sedang ada urusan.."jawab pelayannya.
"Padahal aku sudah dandan secantik ini, tapi dia tidak datang untuk melihat aku sekali pun..!" Lila sedih dengan Lion yang selalu menghindarinya.
Pangeran Hans mengetuk kamar Lila, dia datang membawakan sebuah tusuk konde yang sangat cantik untuk Lila, hatinya sudah tidak sabar melihat Lila memakai tusuk konde itu.Tak berapa lama, pelayan Lila membukakan pintu untuk Hans.
"Selamat datang pangeran, Nona Lila ada di dalam..." mempersilahkan Hans masuk.
Terlihat Lila sedang berdiri sambil menyambut kedatangan Pangeran Hans dan sebuah senyuman manis di berikan Lila untuk Hans.
"Kau dandan secantik ini mau kemana?" tanya Hans sedikit bingung.
"Haha..Pangeran seperti tidak tahu saja, seorang gadis harus terlihat cantik setiap saat..!" jawab Lila tanpa ragu.
"Oh...Ini, aku lihat ini sangat cantik jika kamu yang pakai...!" menyerahkan tusuk konde itu pada Lila.
Lila sedikit terkejud dengan perlakuan Hans yang begitu lembut dan perhatian padanya, tidak seperti Lion yang selalu menghindarinya. Lila mengambil dan langsung memasangkan di rambutnya, Hans sangat senang karena Lila mau memakai tusuk konde itu.
"Terima kasih pangeran...tusuk ini sangat cantik..."Lila melihat kearah cermin yang memantulkan bayangan dirinya. Dia tahu bahwa Hans menyukainya, tapi Lila bersikap seperti tidak tahu perasaan Hans, karena perasaannya di penuhi oleh Lion.