
Di malam yang hening dengan pemandangan bulan yang indah, terlihat seorang gadis yang berpenampilan seperti pria memasuki sebuah kamar yang arsitik sederhana namun mewah.
Gadis itu duduk di tepi kolam mandi sambil memandangi bayangan dirinya di air, sambil menyentuh wajah cantiknya yang mulus.
Dirinya melepaskan pakaiannya satu persatu, kini tubuh indah itu tidak ada lagi sehelai benang yang menempel di tubuhnya, dengan langkah kaki yang anggun dirinya memasuki kolam mandi.
Semerbak wangi bunga yang di campurkan ke air mandinya menambahkan ketenangan, gadis itu sangat menikmati mandinya malam ini.
"Nona, Calista sangat cantik."puji Lusi yang sedang menyisir rambut Calista Agrey.
Rona muka Calista cukup memerah mendengar pujian pelayannya yang sudah di anggap seperti adikknya sendiri.
"Gaun yang di berikan Nyonya sangat cocok dengan Nona, ditambah dengan perhiasaan yang sederhana namun sangat cantik. Pakaian apapun yang di kenakkan Nona langsung menjadi sempurna." sambil terus menyisir rambut Calista.
"Kau terlalu memujiku...Aku tidak secantik itu!"Calista tersenyum kearah pelayannya.
"Hehe.. Nona terlalu merendahkan diri sendiri. Apa Nona mau saya pijitkan pundak Nona?"tanpa menjawab Calista hanya menganggukkan kepalanya pertanda dirinya mau di pijat oleh pelayannya. Dengan lembut pelayannya memijat pundak Calista.
"Nona, apa nona suka wangi bunga yang aku campurkan di kolam mandi nona?"
"Aku sangat suka, wanginya sangat menyegarkan. Bahkan ditubuhku masih menempel wangi bunganya." Calista menyium wangi yang ada di tangannya.
Calista Agrey adalah penari yang sangat terkenal dengan kehebatan menarinya dan kecantikan dirinya membuatnya sangat di puja oleh setiap lelaki di ibu kota Obeylia.
Suara dentuman musik klasik yang meriah menyelimuti rumah hiburan yang ada di tengah-tengah ibu kota Obeylia.
Nyonya pemilik tempat hiburan itu berjalan ketengah panggung dengan senyumannya sambil memainkan rambutnya dengan genit.
"Malam ini adalah malam yang sangat indah, apa kalian tidak sabar dengan penampilan bunga kami?"setelah perkataan Nyonya Jane terlihat semua pria yang sedari tadi menunggu penampilan Calista menjadi heboh, mereka sudah tidak sabar lagi untuk melihat tarian indah Bunga Calista di rumah hiburan ini.
Kedua Pangeran yang sedangan menunggangi kuda menyusuri jalanan ibu kota berhenti tepat di depan rumah hiburan Bulan, mereka penasaran dengan keramaian malam ini. Kuda yang mereka tunggangi di titipkan ke beberapa pengawal yang setia mengikuti mereka kemana pun.
Pangeran Lion dan Pangeran Hans berjalan perlahan menuju rumah hiburan itu, terlihat beberapa gadis sedang berjaga di depan pintu sambil menarik-narik pelanggan dengan suara merdu mereka sambil sesekali memamerkan lekuk tubuhnya.
"Tuan tampan sekali, ayo silakan masuk tuan.." sambil menuntun kedua Pangeran itu masuk dan memberikan mereka meja yang cukup dekat dengan panggung itu, dari jarak sedekat itu mereka berdua bisa melihat dengan jelas.
Tidak berapa lama Calista berjalan dengan anggun ke tengah panggung, dirinya terlihat sangat cantik dengan balutan gaun berwarna pink tua dengan belahan yang sampai di atas lutut.
Sontak semua pria hidung belang langsung bereaksi saat melihat Calista yang cantik itu, Pangeran Lion tanpa mengedipkan matanya terus memandangi Calista, dirinya juga sangat terpesona dengan wanita cantik itu. Pandangan mata Calista dan Pangeran Lion bertemu, beberapa saat mereka saling memandang.
"Kalian sudah tidak sabar kan? Malam ini Bunga kami akan menarikan tarian pedang kematian!"Nyonya jane berjalan mendekati Calista dan membisikkan. "jangan kecewakan aku lagi!" Nyonya Jane mengancam Calista, Calista tampak kesal sambil menggenggam tangannya dengan kuat.
Pelayan yang melayani Calista naik ke atas panggung dan memberikan sebuah pedang yang akan di gunakan Calista untuk menari.
Calista yang tersenyum melihat pedang itu, dirinya mengambil pedang itu tanpa ragu.
Musik pun di mainkan lagi, dengan elegan dan gemulai Calista memainkan pedang yang ada di tangannya. Semua mata tertuju padanya saat itu. Perasaan hanyut semua orang mengikuti tariannya.
Tarian pedang kematian yang di tujukkan oleh Calista sangat indah, ada pesan sedih dalam tarian itu, air matanya selalu mengalir jika menarikan tarian ini. Rasa sakit, rasa putus asa dan rasa yang menyayat hati dia rasakan dalam tarian ini.