
"Sungguh indah tarian yang luar biasa !!" Puji Raja Abran kepada Calista dan penari lainnya. Dengan sambil memberi hormat Calista mengucapkan terima kasih kepada yang mulia Raja. Pesta penyambutan selir baru begitu meriah. Tapi, ada di balik kemeriahan ini, ada luka yang mendalam bagi selir Ihris. Dirinya harus menelan pahitnya kehidupan di istana dingin.
Malam semakin larut, acara perjamuan ini sudah selesai. Yang terlihat hanya beberapa orang sedang merapihkan alat-alat musiknya.
Malam ini, di ruangan yang cukup gelap dengan sikap yang tidak wajar Calista mengganti pakaiannya dengan baju serba hitam di tambah dengan penutup wajah.
Dirinya mengendap-endap bagaikan seekor kucing yang hendak mencuri ikan tanpa tertangkap oleh musuh.
Dengan perlahan namun pasti Calista melumpuhkan dua penjaga yang ada disitu. Siapa pun tidak akan menyangkah, seorang Calista yang terkenal dengan kelembutannya dapat dengan mudah membunuh beberapa prajurit penjaga yang tangguh!
Setelah memastikan aman, Calista langsung masuk ke ruangan itu. Dirinya sibuk mencari sesuatu diruangan ini, tapi tanpa Calista sadari seseorang sudah menghunuskan pedangnya di samping lehernya.
"Sudah aku duga!! Kau pasti akan kesini mencari itu!"terdengar suara Pangeran Hans. Seperti apa yang dirinya dan Pangeren Lion rencanakan berhasil memacing keluar pencuri naskah kuno yang berharga ini.
Calista tidak menjawab atau pun menoleh ke arah Pangeran Hans, dirinya dengan mudahnya menghindari pedang Pangeran Hans. Terjadi beberapa pertarungan yang cukup sengit, seorang gadis yang gemulai dapat mengimbangi pertarungan seorang Pangeran Hans yang tidak kalah hebatnya dengan Pangeran Lion.
Setelah beberapa kali Calista menghindari arah pedangnya, mukanya tergores sedikit dan membuat penutup mukanya terlepas.
Dengan cepat Calista menghindari Pangeran Hans, dirinya langsung lari meninggalkan Pangeran Hans yang masih terdiam di tempat.
Batin Pangeran Hans! "Apa aku salah lihat? Sekilas dia sangat mirip dengan seseorang!" Pangeran Hans masih terdiam dalam lamunannya.
Sementara itu, Calista masih berlari sambil beberapa kali melompati pagar pembatas. Setelah dirinya hampir kehabisan nafas Calista menghentikan lari sambil menghirup dengan kuat oksigen yang ada.
Setelah dirinya sadar dari kelelahan, Calista melihat ke sekeliling sambil mengamati setiap sudut tempat ini, "Sangat indah!". Ucap batin Calista. Dengan perlahan dirinya berjalan menyusuri jalan setapak yang ada didepannya. Setelah beberapa langkah dia mendengar suara seluring yang yang amat merdu.
Hembusan angin begitu sejuk ditambah dengan pemandangan yang indah bak lukisan yang hidup. Bunga teratai menjulang dengan indahnya, dengan di tambah dengan sedikit suara kicauan burung malam yang mengikuti alunan suara seruling itu.
Di istana dingin kediaman selir Ihris, kamar yang dulunya tidak pernah terpakai sekarang sudah indah dengan dekorasi yang menyejukkan mata, tak lupa juga selir Ihris juga menyalahkan dupa yang ia bawa dari Kerajaannya. Raja Abran yang sedang melewati kediaman selir Ihris terbuai dengan wangi dupa yang keluar dari kamar selirnya.
Sudah sangat lama Raja Abran tidak menginjakkan kakinya di Istana dingin, tapi entah apa yang sedang merasukinya malam ini Raja Abran mengunjungi selir barunya.
Ketika hendak membuka pintu, Raja Abran mendengar lantunan lagu yang sangat merdu dari selir Ihris. Lagu yang sangat menyayat hati, seketika Raja Abran teringat dengan kenangan pahit yang pernah ia alami dulu.
Bagaikan tersihir oleh rayuan setan Raja Abran membuka paksa pintu kamar selir Ihris, sontak membuat selir Ihris kaget dan menghentikan nyanyiannya.
Tatapan mata Raja Abran kepada selir Ihris bagaikan binatang buas yang hendak memangsa buruannya.
Selir Ihris berdiri dan menyambut kedatangan Rajanya, dirinya cukup takut dengan kedatangan Rajanya yang tiba-tiba.
"Sungguh sebuah kehormatan atas kedatangan Yang Mulia!" ucap selir Ihris sambil tersenyum.
Tanpa menjawab Raja Abran langsung Menggapai tubuh mungil selir Ihris, mulutnya langsung melahap habis bibir kecil selirnya itu. Selir Ihris tidak berani menolak apa yang di lakukan oleh Raja Abran, sebab dirinya bukanlah apa-apa.
Merasa kehabisan napas, Raja Abran melepaskan pautan bibirnya dan mengirup kembali oksigen yang ada di ruangan itu.
Ditatapnya mata selir Ihris secara mendalam dan penuh arti, Raja Abran melanjutkan aksinya. Kini ciumannya turun ke leher selirnya, suara desahan yang sedari tadi di tahannya kini keluar dari mulut kecil selir Ihris.
Dirinya sudah tidak bisa lagi menahan gairah yang ada di benakknya.
Malam ini terjadilah pergulatan antara Raja Abran dan selir Ihris.
Sungguh ironis bagi selir Ihris, dirinya membenci Raja Abran yang sedang menyetubuhinya, tapi disisi lain dirinya juga sangat menikmati setiap perlakuan dari Rajanya.